Sudah dua tahun lebih lamanya Rani tinggal di kota yang berseberangan dengan kota tempat tinggalnya, untuk menempuh bangku kuliah, sebagai seorang anak perempuan satu-satunya dari Ibunya yang ditinggal mati oleh ayahnya, Rani menjadi anak kesayangannya, selain itu Rani tidak mempunya saudara, pernah ada keinginan, waktu Ibunya kawin dulu, untuk memberikan Rani seorang adik laki-laki, tapi itu semua tinggal keinginan saja, semenjak Ayah Rina menderita kanker paru-paru dan beberapa bulan kemudian Ayahnya meninggal dunia dan tinggallah Rina bersama dengan Ibunya, untung saja Ibu Rina adalah seorang wanita yang mampu membaca keadaan dan mampu menemukan solusi untuk keuangan keluarga mereka, dengan bermodalkan keterampilan sebagai mantan juru masak di Restoran sewaktu masih muda menjadi modal keterampilan satu-satunya yang dimiliki oleh Ibu Rina untuk membuat usaha warung makan, dari situlah Ibu Rina sebagai singgle mom dapat menafkahi biaya rumah yang ia sewa dan biaya pendidikan Rina hingga sekarang Rina menempuh bangku kuliah.
Kemarin lusa Ibu Rina menghubungi Rina dan bercerita tentang anak gadis tetangganya yang hamil di luar nikah, padahal anak gadis itu adalah anak gadis baik-baik yang tidak pernah melanggar perintah orang tuanya, untuk melawan saja, juga adalah hal mustahil bagi anak gadis itu, tapi hal itu tidak menjadi jaminan anak Gadis itu akan hidup tanpa adanya lika-liku dan serentetan masalah yang akan menimpanya, dan masalah baru saja menimpanya, kata Ibu Rina orang tua Gadis itu sangat malu akan peristiwa yang menimpa anaknya padahal anak Gadisnya baru saja menempuh bangku SMA. Tentu saja hal ini menjadi sebuah kekhawatiran bagi Ibu Rina terhadap Rina yang sekarang tinggal di luar kota, Ibu Rina khawatir anak gadis satu-satunya yang ia miliki juga tertimpa hal yang sama. Rina berusaha untuk menenangkan Ibunya, Rina berkata bahwa ia akan menempuh bangku kuliah dengan sungguh-sungguh dan tidak berani untuk menjalin hubungan dengan anak laki-laki dan itu ia lakukan hanya untuk menjaga diri, akhirnya Ibu Rina merasa tenang mendengar pernyataan anaknya, Rina sangat paham apa yang di rasakan oleh Ibunya, terlebih lagi karena ia adalah anak gadis satu-satunya di keluarga timpang tindih itu.
Semenjak Ayah Rina meninggal dunia Ibu Rina selalu mengawasi secara teliti perkembangan anak gadisnya, Ibu Rina sangat melarang keras anaknya untuk bergaul dengan laki-laki, Rina hanya diperbolehkan untuk berteman dengan anak perempuan dan juga Ibunya sangat teliti mengawasi perkembangan belajar anaknya, ia sangat berharap anaknya kelak menjadi wanita yang cerdas dan berwawasan luas, Ibu Rina sadar sebagai seorang lulusan Sekolah Dasar ia hanya mampu membantu Rina mengerjakan tugas-tugas sekolahnya ketika Sekolah Dasar saja, setelah Rina menempuh sekolah menengah pertama Ibunya telah berhenti membantu Rina menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, dan Rina mau tidak mau berusaha untuk belajar mandiri, dan hal itu membuahkan hasil, Rina mampu menjadi juara kelas berturut-turut hingga ia menempuh sekolah menengah atas, sampai untuk melanjutkan ke bangku kuliah Rina mendapatkan beasiswa, karena kecerdasannya yang tidak bisa di pandang sebelah mata.
_
Di bangku kuliah Rina berteman dekat dengan Dewi, Dewi adalah teman satu kelas dan satu prodi Rina di bangku kuliah, di kalangan teman-temannya RIna dan Dewi adalah sepasang sahabat yang sangat solid, mereka selalu mendapatkan nilai yang bagus bersama-sama, ikut kegiatan kemahasiswaan yang sama dan juga melakukan segala kegiatan sama-sama juga, bagi Rina Dewi adalah satu-satunya sahabatnya yang sangat mengerti keadaan Rina begitu juga sebaliknya dengan Dewi, Rina kerap kali menceritakan keadaan keluarganya hingga keadaan Ibunya yang sekarang hidup sendiri membiayai pendidikan Rina, walaupun Rina mendapatkan beasiswa tetapi itu tidak cukup untuk membiayai hidupnya yang kompleks sebagai mahasiswi.
Rina dan Dewi sama-sama memiliki kemiripan yaitu tidak terlalu suka berteman dengan anak laki-laki, Rina sadar bahwa Dewi adalah benar-benar sosok seorang wanita yang ia butuhkan karena disamping kemiripan-kemiripan sifat mereka, mereka sama-sama di latar bekalangi oleh keluarga yang sama-sama kurang mampu, bedanya hanya orang tua Dewi masih utuh dua-duanya hanya saja mereka telah lama berpisah.
_
Akhirnya tiba masanya Rina dan Dewi lulus kuliah dan menyandang status sebagai sarjana, mereka sangat senang karena mereka dapat menyelesaikan bangku kuliah bersama-sama.
Pada akhirnya Rina melanjutkan masa depannya bekerja di suatu perusahaan ternama di Kota tempat ia menempuh bangku kuliah, sedangkan Dewi bekerja sebagai Sekertaris Dosen di kampus awalnya ia menempuh bangku kuliah, semenjak itu mereka jarang berkomunikasi satu sama lain seperti ketika masa-masa kuliah.
Karena rindu yang tidak tertahankan Rina berinisiatif untuk mendatangi Dewi ke Kampus dimana Dewi bekerja sebagai sekertaris Dosen, satu-satunya hal yang Rina ketahui bahwa Dewi menjadi sekertaris Dosen pria yang seusia mereka, walaupun merasa sedikit khawatir karena merasa Dewi pasti sangat terpaksa menjadi sekertaris seorang Dosen pria, karena sebelumnya Rina sadar mereka sama-sama tidak menyukai seorang anak laki-laki, biarpun untuk dekat atau terlibat dalam suatu tim.
_
Sampailah Rina di kampus yang dulu menjadi tempatnya menempuh kuliah, kampus itu sangat banyak berubah dan perubahannya tidak menghilangkan kenangan-kenangan ketika Rina dulu menempuh bangku kuliah bersama Dewi, baginya kenangan-kenangan itu tidak akan mungkin ia lupakan, dan ia sangat yakin pasti Rina merasakan hal yang sama.
Ketika Rina mendatangi bagian Resepsionis dan meminta izin untuk bertemu dengan Dewi, Rina dipersilahkan untuk menunggu beberapa saat, Rina tidak sabar untuk bertemu dengan Dewi, ia telah merencanakan untuk menceritakan banyak hal kepada Dewi ketika ia bertemu nanti. Tidak lama kemudian, akhirnya Resepsionis menyampaikan permintaan maafnya karena Ibu Dewi sapaan akrab Dewi sebagai Dosen tidak sedang berada di tempat baru-baru saja Dewi pergi bersama dengan Dosen pria yang menjadi atasannya Dosen pria itu bernama Niko. Akhirnya Rina meninggalkan tempat itu dengan sedikit kecewa, tetapi Rina tetap berpikiran positif pasti karena Dewi sedang menjalankan tugasnya sebagai sekertaris. Akhirnya Rina pulang ke rumahnya.
_
Dewi terlibat suatu percakapan penting dengan Niko, Niko dan Dewi sedang membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka bulan depan, segala sesuatu telah dipersiapkan, dan beberapa minggu yang lalu prosesi lamaran telah usai terlaksana dan menghasilkan suatu kesepakatan masing-masing keluarga sepakat dan merestui pernikahan mereka dua bulan lagi.
Ketika sampai pada pembahasan tamu-tamu yang akan mereka undang di pernikahan mereka nanti, tiba-tiba Dewi teringat oleh Rina, ia berencana akan memberitahu Rina secara langsung tentang kabar bahagia itu, Dewi berpikiran Rina adalah satu-satunya teman dekatnya yang akan mengetahuinya lebih dulu.
Sesampainya di rumah, Dewi menelepon Rina, dan akhirnya RIna mengangkat telepon,
“Halo”, tegur Dewi
“Halo wi!, kamu kemana aja!, aku tadi ke kampus, tapi kamu engga ada!”, jawab Rina
“oh iya?, kenapa kamu engga ngabarin Rin?”
“aku rencana mau kasi Surprize, tapi engga jadi deh, kamu engga ada sih”
“aduh maaf ya Rin, lain kali kalau mau ketemu kamu hubungin aku aja”
“iyaa deh iyaa”
“Rin aku ada kabar bahagia”
“wow, kabar bahagia apa wi?”
“Bulan depan aku menikah dengan Niko Rin, atasanku!, dan kamu adalah teman aku yang duluan tau loh!”
Tiba-tiba Dewi tidak mendengar respon apa-apa dari Dewi,
“Halo .. Halo … RIn, kamu masih di sana?”, tanya Dewi penasaran
“iya wi, aku masih di sini, selamat ya Rin, aku ada kerjaan nih, sori ya aku matikan dulu”
“oh iya Rin, nanti aku antar undangannya, entar aku Line aja kita ketemuan dimana”
“oke”
Tut… tut… tut…, terdengar suara telepon terputus dari handphone Dewi, akhirnya Dewi merasa legah karena sudah menyampaikan kabar bahagianya kepada Rina.
_
Rina mematikan telepon dari Dewi, mendengar kabar bahwa Dewi akan menikah membuat Rina merasa kecewa, dengan sangat terpaksa Rina mematikan telepon dari Dewi, padahal ia tahu ia sangat merindukan Dewi, mendegar suaranya ketika di telepon saja membuat Dewi sangat bahagia, tetapi kebahagiaan itu hanya terjadi sangat singkat mengetahui Dewi akan menikah dengan atasannya, entah apa yang membuatnya kecewa, seharusnya ia merasa senang mengetahui Dewi akan segera menikah dengan lelaki pilihannya.
_
Keesokan harinya Rina menelepon Dewi,
“Halo wi”, tegur Rina
“Halo Rin!, gimana? Kita ketemu dimana nih?, lama engga ketemu juga”
“iya wi, kayaknya aku engga bisa datang ke nikahan kamu”
“loh kenapa Rin?, kamu ada keperluan lain?”
“engga ada”
“loh terus kenapa Rin?, kamu kan tau aku nikah”
“justru itu wi”
“kenapa cerita dong?”
“begini wi, aku engga bisa datang ke nikahan kamu karena aku engga tau apa aku masih bisa santai melihat kamu duduk bersama suamimu di pelaminan”
“kenapa begitu?, kamu engga mau aku bahagia Rin?”
“bukan, aku senang kamu bahagia wi”
“atau kamu suka dengan Niko?”
“aku sama sekali engga kenal dengan Niko, justru aku engga suka dengan dia sama sekali!”
“loh, kenapa!?”
“hati aku sakit wi, aku ngerasa kamu udah ngelupain semuanya, ngelupain kenangan-kenangan kita dulu”
“sori Rin aku engga ngerti, bisa kamu perjelas?”
“Aku suka sama kamu wi, bahkan aku selalu nyaman dekat kamu, dari dulu aku udah cinta sama kamu wi!”.
Lama mereka terdiam satu sama lain dalam keadaan telepon yang masih tersambung, tidak lama kemudian Dewi mengatakan sesuatu kepada Rina,
“sori Rin, selama ini kamu salah, kamu sakit Rin!, jangan pernah hubungin aku lagi!”
Dewi mematikan telepon.
_
Menjelang hari bahagianya Dewi mendapatkan suatu hal yang membuat dirinya terkejut, sahabat dekatnya selama ini yang ia sangat banggakan ternyata memiliki perasaan yang tidak biasa dengannya, Dewi merasa bersalah atas takdir yang menimpanya dan sahabatnya, cinta menurut Dewi kepada Rina adalah cinta sejati kepada sahabatnya, sahabat sejati yang ia sangat junjung tinggi, tetapi akhirnya Dewi memutuskan untuk mengakhiri persahabatannya dengan Rina.
_
Rina merasa terpukul, ia merasa hancur, merasa tidak ada lagi artinya ia hidup ketika cinta sejatinya telah meninggalkannya dengan mentah, Rina tidak merasakan suatu kesalahan terhadap apa yang ia rasakan terhadap Dewi, sepanjang malam setelah pernikahan Dewi, Rina selalu merasa kasihan terhadap dirinya dan juga merasa kasihan terhadap kisah cintanya.
_
Beberapa tahun kemudian terdengar kabar bahwa Dewi terlibat suatu kasus penipuan dan di seret masalahnya ke kantor polisi, Niko suami Dewi melaporkan Dewi ke kantor polisi atas tuduhan penipuan yang membuat keluarga Niko malu dan tidak tahu lagi dimana harus menaruh muka, Dewi wanita yang selama ini menjadi istri Niko ternyata seorang pria menyamar sebagai wanita.
Top
BalasHapusTop
BalasHapus