Pria itu duduk lagi di pinggir sungai itu sambil memeluk gitar klasik yang ia pinjam dari seorang Pria bernama Asep Setiadi seorang pengamen yang sudah memilih untuk pensiun secara paksa oleh sang maha kuasa, sambil memetik senar gitar dan memainkan lagu-lagu yang sering ia nyanyikan dari Lampu merah ke Lampu merah, ia menggunakan jaket Levis dan Jelana Jeans robek yang sudah tidak terhitung berapa bulan belum dicucinya.
Pria itu menatap kejauhan dengan pandangan kosong, angin yang bertiup dari arah barat memaksa daun-daun dari pohon pinggiran sungai itu ikut bergoyang, suara bising kendaraan yang sedari tadi juga ikut meramaikan suasana sore itu semakin menjadi-jadi dan membuat permainan gitar Pria itu makin syahdu saja.
“coba aja aku punya duit banyak, pasti pelacur tidak mati bang”, Pria itu berbicara pada gitarnya, tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa berkomunikasi dengan gitar itu kecuali dirinya sendiri, ia memanggil gitar itu dengan seubutan Bang Asep tidak lain adalah pemilik gitar itu sebelumnya, Pria itu bernama Si Gonggong, Si Gonggong mengenang Asep Setiadi dengan memberi nama gitarnya dengan nama yang sama untuk mengenang Asep Setiadi.
Si Gonggong seorang pengamen yang mempunyai keinginan untuk menikahi seorang pelacur bernama Rukmini, sebelumnya Si Gonggong bertemu dengan Rukmini di Terminal kota sewaktu Si Gonggong ngamen di salah satu Bis, Si Gonggong memainkan lagu dari Rhoma Irama berjudul “Bahtera Cinta”, tidak ada satu pun penumpang yang melirik Si Gonggong dan ia pun sudah biasa akan hal itu, yang terpenting bagi SI Gonggong setelah ia bernyanyi penumpang-penumpang itu memberikannya bayaran atas usahanya menghibur mereka. Ada seorang wanita yang memerhatikan Si Gonggong bernyanyi, usai bernyanyi Wanita itu bertepuk tangan. Seperti biasanya, setelah bernyanyi si Gonggong menguluarkan kaleng yang biasa ia gunakan untuk menerima bayaran dari penumpang, setelah ia sampai kepada Wanita yang memerhatikannya sedari tadi tiba-tiba wanita itu berkata: “kamu mainnya bagus mas, tapi aku tidak punya uang”, si Gonggong sudah biasa tidak diberi bayaran akan tetapi si Gonggong baru pertamakali mendengar seseorang meminta maaf karena tidak dapat memberinya uang.
“ga apa-apa mba’, jangan terlalu dipikirkan”, jawab Si Gonggong. Kemudian si Gonggong beranjak untuk menuruni Bis dan wanita itu menegur lagi,
“Mas, Mas orang sini?”
“iya Mba’, kenapa ya?”
“aku boleh ikut Mas turun?”, tanpa basa-basi wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi Si Gonggong,
“Ayo Mas kita turun, nanti kalau berdiri di situ orang gabisa lewat”, tegur wanita itu lagi
“eh, iya Mba’”
Setelah mereka turun dari Bis, mereka berdua duduk di Pinggir sungai tidak jauh dari Terminal itu sambil bercakap-cakap,
“oh, namamu Rukmini”, tegur Si Gonggong
“Mas tau alamat ini?”, tanya Wanita itu sambil memperlihatkan alamat di Kertas
“ini …. Saya tau sih Mba’, tapi ini kan …”
“oh jadi mas tau!?”
Si Gonggong terkejut melihat alamat yang diberikan oleh wanita itu karena alamat yang diberikan adalah tempat lokalisasi yang cukup terkenal di Kota itu, Si Gonggong berpikir mungkin saja wanita itu bekerja di Tempat Lokalisasi itu, tetapi tidak mungkin wanita itu bekerja di tempat seperti itu karena tampilannya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia seorang PSK, setidaknya ia tidak menggunakan pakaian yang ketat-ketat apalagi menggunakan Rok di atas lutut.
“Mba Rukmini asalnya dari mana?”, tanya si Gonggong
“panggilnya Rukmini saja Mas, aku asalnya dari Kampung Mas, baru sampe di sini tadi”
“lah kok naik Bis lagi?, kan tadi cari alamat?”
“iya Mas, habisnya saya putus asa orang-orang di sini ditanyain sibuk sama urusan masing-masing, jadi aku putus asa mas jadi mau pulang rasanya, maklum Mas baru ini ke Kota”
“oh gitu, terus yang kasi alamat ini siapa?”
“itu, tetangga di Kampung Mas, tapi sekarang tinggal di Kota ini, sekarang dia kaya loh Mas gara-gara tinggal di sini, nah, Ibu nyuruh aku buat nyusul tetangga saya ini Mas katanya mau kasih kerjaan di sini”
“oh gitu toh”
“mas mau nganter aku ke sini kan?”
“boleh deh, kebetulan tempatnya engga jauh dari sini”
Si Gonggong mengantar wanita itu menuju alamat yang ia cari, betapa terkejutnya Wanita itu melihat tempat sebesar itu. Tidak lama kemudian muncul seorang wanita,
“Mini!, udah sampai! Uuh, cantiknya anak Bu Ati’!”
Wanita itu adalah tetangga yang Rukmini maksud dan Si Gonggong mengenal Wanita itu dari tampilannya, ia adalah salah satu pelacur!.
“Mas, makasih sudah ngantar aku ke sini, Mas bisa main-main ke sini ko, kita jalan-jalan”, tegur Rukmini
“eh iya kalau sempat, kalau gitu aku pamit dulu ya?”
“ko cepet mas?, ga masuk ke dalam Mas?”, tanya Rukmini
“engga, lain kali aja, mau ngamen lagi”
Tanpa berpikir panjang Si Gonggong meninggalkan tempat itu. Si Gonggong merasa sangat menyesal telah mengantar Rukmini ke tempat itu, pasti Rukmini dijebak dan dijanjikan pekerjaan tetapi kenyataannya ia dipekerjakan sebagai Pelacur, tetapi Si Gonggong juga merasa sebenarnya tidak perlu memikirkannya karena Rukmini bukan siapa-siapa. Si Gonggong mencoba tidak terlalu perduli dan berlalu.
***
Beberapa bulan kemudian Si Gonggong selalu memikirkan Rukmini, ia sangat menyesal, andai saja ia memberitahu Rukmini bahwa itu bukan tempat yang baik baginya dan sebenarnya ia telah dijebak, tetapi Nasi telah menjadi bubur.
“apa bang!?, aku harus menikahi Rukmini!?”, lagi-lagi ia berbicara dengan gitar itu dan gitar itu menyarankan agar ia menikahi Rukmini karena itu adalah jalan satu-satunya ia dapat menyelamatkan Rukmini.
Akhirnya Si Gonggong membulatkan tekadnya untuk datang mengunjungi Rukmini di Lokalisasi itu dan langsung mengutarakan niatnya, masalah biaya pernikahan dan hidup sesudahnya tidak ia perdulikan yang terpenting ia dapat menyelamatkan nasib Rukmini, sesampainya di Lokalisasi tempat ia mengatar Rukmini sebulan yang lalu ia bertemu lagi dengan Wanita yang menjemput Rukmini,
“mana Rukmini!, aku mau menikahi dia!”, tegur Si Gonggong
“Rukmini katamu?”, jawab wanita itu sambil menghembuskan asap dari rokoknya
“iya mana dia!”
“telat kamu, Rukmini sudah meninggal”
“meninggal katamu!”
“iya!, dia depresi ladenin pelanggan yang kebanyakan, memang dasarnya dia itu gada bakat buat jadi orang kaya, udah dikasi kerjaan malah ninggal, malang sekali pelacur itu ha .. ha .. ha…”
“Bajingan!”
“kamu yang bajingan!, gonggong aje lu!, sono gonggong di Kuburnya sono!”
“sial!”
TAMAT