Kamis, 29 September 2016

Si Gonggong, Menggonggong

Pria itu duduk lagi di pinggir sungai itu sambil memeluk  gitar klasik yang ia pinjam dari seorang Pria bernama Asep Setiadi seorang pengamen yang sudah memilih untuk pensiun secara paksa oleh sang maha kuasa, sambil memetik senar gitar dan memainkan lagu-lagu yang sering ia nyanyikan dari Lampu merah ke Lampu merah, ia menggunakan jaket Levis dan Jelana Jeans robek yang sudah tidak terhitung berapa bulan belum dicucinya.

Pria itu menatap kejauhan dengan pandangan kosong, angin yang bertiup dari arah barat memaksa daun-daun dari pohon pinggiran sungai itu ikut bergoyang, suara bising kendaraan yang sedari tadi juga ikut meramaikan suasana sore itu semakin menjadi-jadi dan membuat permainan gitar Pria itu makin syahdu saja.

“coba aja aku punya duit banyak, pasti pelacur tidak mati bang”, Pria itu berbicara pada gitarnya, tidak ada yang tahu bagaimana ia bisa berkomunikasi dengan gitar itu kecuali dirinya sendiri, ia memanggil gitar itu dengan seubutan Bang Asep tidak lain adalah pemilik gitar itu sebelumnya, Pria itu bernama Si Gonggong, Si Gonggong mengenang Asep Setiadi dengan memberi nama gitarnya dengan nama yang sama untuk mengenang Asep Setiadi.

Si Gonggong seorang pengamen yang mempunyai keinginan untuk menikahi seorang pelacur bernama Rukmini, sebelumnya Si Gonggong bertemu dengan Rukmini di Terminal kota sewaktu Si Gonggong ngamen di salah satu Bis, Si Gonggong memainkan lagu dari Rhoma Irama berjudul “Bahtera Cinta”, tidak ada satu pun penumpang yang melirik Si Gonggong dan ia pun sudah biasa akan hal itu, yang terpenting bagi SI Gonggong setelah ia bernyanyi penumpang-penumpang itu memberikannya bayaran atas usahanya menghibur mereka. Ada seorang wanita yang memerhatikan Si Gonggong bernyanyi, usai bernyanyi Wanita itu bertepuk tangan. Seperti biasanya, setelah bernyanyi si Gonggong menguluarkan kaleng yang biasa ia gunakan untuk menerima bayaran dari penumpang, setelah ia sampai kepada Wanita yang memerhatikannya sedari tadi tiba-tiba wanita itu berkata: “kamu mainnya bagus mas, tapi aku tidak punya uang”, si Gonggong sudah biasa tidak diberi bayaran akan tetapi si Gonggong baru pertamakali mendengar seseorang meminta maaf karena tidak dapat memberinya uang.

“ga apa-apa mba’, jangan terlalu dipikirkan”, jawab Si Gonggong. Kemudian si Gonggong beranjak untuk menuruni Bis dan wanita itu menegur lagi,

“Mas, Mas orang sini?”

“iya Mba’, kenapa ya?”

“aku boleh ikut Mas turun?”, tanpa basa-basi wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi Si Gonggong,

“Ayo Mas kita turun, nanti kalau berdiri di situ orang gabisa lewat”, tegur wanita itu lagi

“eh, iya Mba’”

Setelah mereka turun dari Bis, mereka berdua duduk di Pinggir sungai tidak jauh dari Terminal itu sambil bercakap-cakap,

“oh, namamu Rukmini”, tegur Si Gonggong

“Mas tau alamat ini?”, tanya Wanita itu sambil memperlihatkan alamat di Kertas 

“ini …. Saya tau sih Mba’, tapi ini kan …”

“oh jadi mas tau!?”

Si Gonggong terkejut melihat alamat yang diberikan oleh wanita itu karena alamat yang diberikan adalah tempat lokalisasi yang cukup terkenal di Kota itu, Si Gonggong berpikir mungkin saja wanita itu bekerja di Tempat Lokalisasi itu, tetapi tidak mungkin wanita itu bekerja di tempat seperti itu karena tampilannya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia seorang PSK, setidaknya ia tidak menggunakan pakaian yang ketat-ketat apalagi menggunakan Rok di atas lutut.

 “Mba Rukmini asalnya dari mana?”, tanya si Gonggong

“panggilnya Rukmini saja Mas, aku asalnya dari Kampung Mas, baru sampe di sini tadi”

“lah kok naik Bis lagi?, kan tadi cari alamat?”

“iya Mas, habisnya saya putus asa orang-orang di sini ditanyain sibuk sama urusan masing-masing, jadi aku putus asa mas jadi mau pulang rasanya, maklum Mas baru ini ke Kota”

“oh gitu, terus yang kasi alamat ini siapa?”

“itu, tetangga di Kampung  Mas, tapi sekarang tinggal di Kota ini, sekarang dia kaya loh Mas gara-gara tinggal di sini, nah, Ibu nyuruh aku buat nyusul tetangga saya ini Mas katanya mau kasih kerjaan di sini”

“oh gitu toh”

“mas mau nganter aku ke sini kan?”

“boleh deh, kebetulan tempatnya engga jauh dari sini”

Si Gonggong mengantar wanita itu menuju alamat yang ia cari, betapa terkejutnya Wanita itu melihat tempat sebesar itu. Tidak lama kemudian muncul seorang wanita,

“Mini!, udah sampai! Uuh, cantiknya anak Bu Ati’!”

Wanita itu adalah tetangga yang Rukmini maksud dan Si Gonggong mengenal Wanita itu dari tampilannya, ia adalah salah satu pelacur!.

“Mas, makasih sudah ngantar aku ke sini, Mas bisa main-main ke sini ko, kita jalan-jalan”, tegur Rukmini

“eh iya kalau sempat, kalau gitu aku pamit dulu ya?”

“ko cepet mas?, ga masuk ke dalam Mas?”, tanya Rukmini

“engga, lain kali aja, mau ngamen lagi”

Tanpa berpikir panjang Si Gonggong meninggalkan tempat itu. Si Gonggong merasa sangat menyesal telah mengantar Rukmini ke tempat itu, pasti Rukmini dijebak dan dijanjikan pekerjaan tetapi kenyataannya ia dipekerjakan sebagai Pelacur, tetapi Si Gonggong juga merasa sebenarnya tidak perlu memikirkannya karena Rukmini bukan siapa-siapa. Si Gonggong mencoba tidak terlalu perduli dan berlalu.

***

Beberapa bulan kemudian Si Gonggong selalu memikirkan Rukmini, ia sangat menyesal, andai saja ia memberitahu Rukmini bahwa itu bukan tempat yang baik baginya dan sebenarnya ia telah dijebak, tetapi Nasi telah menjadi bubur.

“apa bang!?, aku harus menikahi Rukmini!?”, lagi-lagi ia berbicara dengan gitar itu dan gitar itu menyarankan agar ia menikahi Rukmini karena itu adalah jalan satu-satunya ia dapat menyelamatkan Rukmini.

Akhirnya Si Gonggong membulatkan tekadnya untuk datang mengunjungi Rukmini di Lokalisasi itu dan  langsung mengutarakan niatnya, masalah biaya pernikahan dan hidup sesudahnya tidak ia perdulikan yang terpenting ia dapat menyelamatkan nasib Rukmini, sesampainya di Lokalisasi tempat ia mengatar Rukmini sebulan yang lalu ia bertemu lagi dengan Wanita yang menjemput Rukmini,

“mana Rukmini!, aku mau menikahi dia!”, tegur Si  Gonggong

“Rukmini katamu?”, jawab wanita itu sambil menghembuskan asap dari rokoknya

“iya mana dia!”

“telat kamu, Rukmini sudah meninggal”

“meninggal katamu!”

“iya!, dia depresi ladenin pelanggan yang kebanyakan, memang dasarnya dia itu gada bakat buat jadi orang kaya, udah dikasi kerjaan malah ninggal, malang sekali pelacur itu ha .. ha .. ha…”

“Bajingan!”

“kamu yang bajingan!, gonggong aje lu!, sono gonggong di Kuburnya sono!”

“sial!”   

                              TAMAT

Senin, 26 September 2016

Sukma Sang Petarung

Sukma ku tak kunjung layu
Ketika aku dan gonggongan anjing-anjing pemalu itu beradu di belakangku
Tak sepatah kata pun mampu jatuh
Ketika aku mematahkan gerak-gerik sang pemutar waktu

Singgalah di dua puluh tahun lagi
Mereka akan jatuh pada tindak kata rugi
Menggonggong pilu tak bertepi
Hanyalah pengaduan yang ditemui

Sukmaku adalah sukma sang petarung
Bergema di sela-sela malam
Memekakkan ketenangan burung-burung
Menjatuhkan kesunyian malam

Sampai kau temui sajak-sajak ini
Aku yakin yang seyakin-yakinnya
Kau menemukan aku di masa kini

(2016)

Minggu, 25 September 2016

Hei!

Tidak seperti bunga pada umumnya
Kamu adalah pengecualian secara khususnya
Bagaimana mungkin kita asik mengunyah
Padahal yang kita kunyah adalah kenistaan itu sendiri

Aku tau kau belum tidur
Barangkali sekarang kau lagi ngelindur
Sibuk mencariku sambil menutup mata
Hei, alam bawah sadarmu tidak bisa berbohong ya ternyata

Setelah ini aku akan tidur panjang
Karena jarak kita sudah sangat teratur rapi
Biar pun aku mencoba telanjang
Bukannya itu semakin membuatmu menepi?

Aku sebisa mungkin menyadarkan diriku
Kalau sebenarnya kita hanya terjebak romantisme es krim
Manis dan dingin, tapi ekstrim!
Sampai-sampai kau tau?
Aku berselimutkan malam, beralaskan ilalang.

Kamis, 22 September 2016

Ah, Sialan

Asal kamu tau
Malamku sering kugunakan untuk memantau
Apakah dirimu masih sibuk dengan kemarau ?

Sepertinya baik-baik saja
Karena kebetulan aku penikmat senja
Jadi aku tidak akan terlalu manja
Menunggumu untuk memaksaku menjadi raja

Kalau misalkan rindu itu bisa dijadikan sebuah bisnis
Pasti setiap harinya aku akan tersenyum manis
Akan terus puasa senin kamis
Biar jarak kita tidak sering-sering menangis

Kira-kira kamu ingat tidak?, siapa yang mempertemukan kita sedetail itu?

Waktu?

Sendu?

Rindu?

Ah, aku bingung
Setiap malam ingatanku berdengung
Selalu ada bayanganmu yang agung
Sangat boros mengambil ruang ingatanku yang terus mendung

Akhir-akhir ini organ yang kusebut hati sudah tidak menerima tamu
Katanya, tidak ingin kembali semu
Padahal aku tau, sebenarnya aku rindu kamu.

(2014)
Untukmu yang mengenal 16 Februari 2014

Intermezo 1 : Senyuman Wanita

Kemarin kami berkumpul menatap senyuman dari seorang wanita, kami semua menatapnya, seakan senyumnya sengaja ia lemparkan sesukanya.

Kebetulan kami merasa senyum itu teruntuk masing-masing dari kami, tapi tidak ada yang bisa menebaknya kecuali dirinya sendiri.

Kira-kira itu untuk siapa ya?, kami pasti punya pendapat masing-masing. ah, sungguh senyum yang asing ketika kami mulai menerka-nerka.

Kemudian di antara kami sepakat untuk jatuh hati, sampai suatu ketika kami berusaha berkumpul kemudian memastikan kepada siapa sebenarnya senyuman itu dilemparkan.

Hasilnya bukan sesuatu yang memuaskan, ternyata kami bukan diberi senyuman karena ketertarikan, tetapi senyuman yang menandakan betapa bahagianya kami untuk sepakat berbagi rasa.

Satu-satunya hal bodoh yang pernah kami rasakan adalah, kepercayaan diri yang teramat tinggi.

Minggu, 18 September 2016

Pemeran Sesungguhnya

  Dia selalu menarik perhatianku, semenjak pertama kali aku duduk di kelas ini, orang yang paling mencuri perhatianku adalah dia, dia ada banyak dia bukan hanya satu, aku lebih suka menggunakan kata ‘dia’ dibanding ‘mereka’, bagiku dia-dia ini memiliki sifatnya masing-masing, berbeda ketika aku menggunakan ‘mereka’ seperti merujuk kepada sekumpulan makhluk yang memiliki sifat yang sama, padahal dia-dia disini memiliki sifat yang berbeda satu sama lain, sekurang-sekurangnya itu menurut pendapatku, aku pikir ketika aku berurusan dengan pikiranku sendiri aku bisa bebas memaknai apa saja.

   Aku adalah seorang penyendiri, sejak pertama kali berkuliah di Universitas Mulawarman ini, aku sudah merasa sendiri, aku merasa orang-orang tidak ingin berteman denganku, mereka seperti tidak merasakan hawa keberadaanku, aku sudah menyerah untuk berusaha menunjukkan diriku kepada mereka semua,  mereka adalah teman-teman Mahasiswa sama sepertiku, ini aneh dan tentu saja aku memilih untuk menyerah akan semua kesia-siaan ini. Sampai pada ketika aku bertemu dia yang pertama.

  Dia yang pertama adalah sosok yang sama sepertiku, tidak terlalu banyak bicara, selalu menyendiri, pertama kali aku melihatnya ketika Ospek Kampus FIB di lapangan Tennis Kampus kami dikumpulkan, semua nama disebutkan dan satu per satu seluruh Mahasiswa mengacungkan tangan ketika nama mereka disebutkan, tetapi aku dan dia yang pertama yang tersisa nama kami tidak disebutkan sama sekali, aku mencoba untuk berteriak dan mereka tidak mendengar sama sekali, satu-satunya yang memerhatikanku saat itu hanya dia yang pertama, aku balas melihatnya tapi tidak berapa lama, ia sudah memalingkan wajahnya dan menatap kedepan.

  Aku mencoba mendekati dia yang pertama, ia sedang duduk di Gazebo Kampus, aku duduk didepannya,
“hay”, tegurku mencoba akrab, tetapi ia hanya melihatku dan kembali menatap ke arah yang lain, “apa aku mengganggumu?”, aku mencoba menegurnya kembali dan hasilnya sama saja ia tetap terdiam dan menatap ke arah yang lain. Sampai ketika dia yang kedua muncul.

“dia memang seperti itu kawan, hahaha”, aku terkejut, pada akhirnya ada yang menegurku.

“dia temanmu?”, aku coba bertanya

“teman?, bisa dibilang seperti itu, lebih tepatnya dia sebelum aku”

“sebelum kamu?, apa maksudnya?”

“ceritanya rumit dan sedikit tidak masuk akal bagimu, tapi bagi kami pasti masuk akal”

“aku tidak mengerti”

“oh, kamu tidak mengerti, coba ikut aku”
Dia yang kedua mencoba mengajakku ke suatu tempat awalnya aku tidak ingin mengikutinya, tapi aku juga penasaran, dan hanya mereka berdua yang menegurku, tidak ada salahnya untuk mengikutinya pikirku,  aku mencoba mengikutinya dan ternyata Dia yang pertama juga ikut tanpa basa-basi dan lebih anehnya lagi, orang-orang tidak memerhatikan kami sama sekali, untuk sekedar melihat kami dan menyapa saja tidak ada, ah mereka benar-benar membuatku bingung, kenapa sebenarnya mereka. aku merasa hanya aku saja yang merasakan keanehan ini, mereka tampak biasa saja, atau mungkin mereka tidak dapat merasakan kami?, ah, itu tidak mungkin.

“kenapa?, merasa asing?”, tegur dia yang kedua

“iyaa, memang tapi sudah biasa”

“akhirnya kamu terbiasa juga, hahaha”

“maksudnya?”

“aku dan si bodoh ini sama sepertimu ko’”

“nah, sekarang kenapa mereka seperti itu ke kita?”, tanyaku penasaran

“nanti kamu tahu sendiri, ikut aja”
Ini semakin menambah rasa penasaranku, ia mengajakku ke lapangan tennis FIB dan menuju ke bangunan tua di samping Gedung, Gedung itu sudah berada di sana sejak lama kata dia yang kedua, ternyata kami kesana untuk menemui seseorang dan aku menyebutnya dia yang ketiga.

“nah, ini dia, dia sama seperti kita”, tegur dia yang kedua

“hey!, kau membawanya!”, tegur dia yang ketiga

“iya, ini dia, namanya Insania”

“kenapa kamu bisa tahu namaku!?”, tegurku kaget

“tidak usah kaget begitu, pastilah kami tahu namamu, kau sama seperti kami”, dia yang ketiga menjelaskan.

  Ini semakin membuatku bingung dan pada akhirnya aku mulai tahu siapa nama masing-masing mereka, dia yang pertama bernama Teo, dia yang kedua bernama Meta, dan dia yang ketiga bernama Posit. Masing-masing mereka memiliki sifat yang berbeda-beda, Teo adalah orang yang pendiam tetapi ia penurut, si Meta adalah orang yang banyak bicara dan sangat aktif dan menurutku dia agak payah dalam menjelaskan sesuatu, dan si Posit ia adalah orang yang unik dia juga banyak berbicara tapi ia sedikit lebih cerdas dibanding si Meta.

“dengan bergabungnya kamu bersama kami, akhirnya kita menjadi lengkap!”, tegur Posit

“iya, akhirnya kita bisa menjalankan tujuan kita dengan sempurna!”, lanjut Meta dan Teo hanya mengangguk

“maaf, aku tidak mengerti maksud kalian sama sekali dan ada satu hal yang mengganjal dipikiranku, kenapa hanya kalian saja yang bisa sadar dengan keberadaanku?, dan kenapa Mahasiswa-mahasiwa yang lain seperti tidak menyadari kita sama sekali?”

“Mahasiswa-mahasiswa itu?, bagaimana ya, biarkan si Posit saja yang menjelaskan, dia yang tahu lebih banyak”

“kau selalu begitu Met!”

“sudah jelaskan saja ah!”

“begini, Insania yang baik, sebelumnya aku ingin bertanya, apakah kamu punya keluarga atau teman?”, tanya Posit

“emm, kalau keluarga kurasa tidak, tapi teman aku rasa kalianlah teman-temanku saat ini”

“tentu saja kau tidak punya keluarga atau teman kecuali kami, kita berempat lahir di sini, dengan kata lain kita berempat lahir dari pikiran-pikiran mahasiswa itu, si Teo dia lahir dari pemikiran Mahasiswa-mahasiswa yang hanya manut-manut saja kerjanya, atau nama lain dari Teo adalah Teologis. Sedangkan si Meta ini, lahir dari pikiran Mahasiswa-mahasiswa yang tidak suka manut-manut lagi, tapi dia sendiri bingung apa yang sedang dia lakukan, atau nama lainnya adalah Metafisik”

“Sedangkan kamu sendiri?”

“aku lahir dari pikiran Mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan logikanya, aku lahir dari Mahasiswa-mahasiswa yang sudah menggunakan dasar intelektualnya yang diperoleh langsung dari penalaran dan pengamatannya, dengan kata lain aku bentuk akhir dari Teo dan Meta,nama lainku Positifistik, tapi itu belum sempurna, masih kurang”

“masih kurang?, kenapa?”

“ya, masih kurang tanpa kamu, namamu Insani, atau Insan yaitu Manusia itu sendiri, kamu adalah orang terakhir yang kami tunggu, kamu penyempurnaan dari kami bertiga, tanpa dirimu, Teologis, Metafisik, dan Positifistik dari pikiran Mahasiswa tidak ada artinya tanpa adanya nilai kemanusiaan itu sendiri”
Pada akhirnya aku mengerti, kenapa orang-orang itu tidak merasakan keberadaanku, karena mereka tidak merasakanku sama sekali, ralat, mereka tidak merasakan kami sama sekali!.
Kelas perkuliahan akhirnya akan segera dimulai.

“siap untuk menjalankan misi teman-teman?, jangan sampai kalian tidak siap sama sekali, itu akan sangat mengacau”, tegur Posit

“Siap!!!”, jawab Teo, Meta, dan Aku
Aku mulai mengerti siapa aku, akulah kemanusiaan itu sendiri, akulah peran terpenting dari pikiran Mahasiswa!.

Selasa, 13 September 2016

Tentang Rindu yang Enggan Bertemu

Akulah halusinasi dalam mimpimu
Menari-nari menghantui acuhmu
Akulah serpihan pikiranmu
Meminta kepada pencipta malam di setiap pagimu
Akulah senyum tidak sempurna itu
Bekerja ketika kau mulai terhibur

Di jendela ini, aku menatapmu jauh
Sangat terbatas pandang hingga kau enggan mau
Mengintip sisa-sisa percakapan kita senja itu
Tentang kalimatmu yang memekak langit

Mungkin ini terlalu pagi
Aku seharusnya masih tidur dan bermimpi
Tentang kau
Tentang kita yang saling menghampiri

(2013)

Senin, 12 September 2016

Pertemuan

Malam itu kita terlibat percakapan
Sangat tenang hingga senyap enggan berkawan
Terlalu rumit, hingga kita memutuskan untuk menjadi seperti sekarang
Terombang-ambing atas nama ketidak pastian

Hingga suatu malam yang baru, kita dipertemukan
Tidak ada satupun diantara kita pura-pura lupa
Hanya saja salah satu diantara kita seperti mengalihkan suasana
Terombang-ambing atas nama kebodohan

Kau bilang sedikit pun kau tidak merindu
Padahal hembusan angin memebelai sepasang ilalang terdengar sangat pilu
Lagi-lagi kita sedang berpura-pura

Aku tidak meminta apa-apa pada pertemuan kita selanjutnya
Hanya saja aku ingin kita sudah tidak dalam kepura-puraan
Bagaimana mungkin kita pernah bersama-sama, padahal sedikit pun kita tidak terjebak kebersamaan.

(2015)

Selasa, 06 September 2016

Alegori Halte

Di Halte,

Kau bilang, kau menunggu seseorang
Aku bilang, siapa gerang?
Kau jawab, orang.

Kau bilang, terlalu lama!
Aku bilang, kita sama-sama
Kau jawab, percuma!

Kemudian dia datang, aku menghilang
Marahmu menghilang, ragaku melayang

Aku kemana?
Kau tidak mau tau

Aku hilang di mana?
Kau memantau risau

Aku siapa?, kau bertanya
Sempatkah menjelaskan?, aku tidak disana

Kau siapa?, aku bertanya
Masihkah dijelaskan?, aku tidak di sana

Jadi untuk apa semuanya?
Untuk sekedar tampak dan menghilang, akulah sisa-sisa yang kau risaukan.

(2012)
Percakapan halte, sebuah alegori