Selasa, 21 November 2017

Di bawah sebuah sore yang malu, kubawa diri bersama kopi yang diseduh bersama ketiadaan, matahari mengganti sift, dan aku menjadi penyaksi di antaranya.

Puisi selalu menjadi teman yang berbelit-belit, membawa diriku terbaring setelah menuliskannya, diriku lagi-lagi menjadi pecundang kelas paling atas.

Bekerja untuk kata-kata adalah bekerja untuk menjadi orang yang melata, aku ingin pergi ke negeri entah berantah, bersama dirimu dan mengubur diri bila sudah tua.

Banyak hal yang kuinginkan, tapi tanganku tidak berhenti mengepal dan gemetar, titik jenuh akan selalu mengeluh, dan musim hujan akan cepat berlalu.

Samarinda

Sabtu, 18 November 2017

Matinya Pikiran

Rasa adalah sebuah pergolakan besar-besaran. Membuat mataku menerawang jauh menatap setiap jarak dari bintang-bintang, ada malam yang kita lewatkan di pelataran rumah.

Jarak membawaku melewati pahitnya menanggalkan kaki di bumi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hatiku kusembunyikan dalam-dalam hingga merasakan ruang kedap suara.

Kerinduan menjadi sebatas rasa egois yang memakan banyak korban; pikiranku menangis memerintah tangan untuk selalu berpegangan.

Puisi sudah menjadi arketipe, ditulis menggunakan benda paling tajam pada batu yang kita sebut pikiran.

Aku mati, sebentar lagi. Sungguh akan mati dalam nanti.

2017

Tepian buah

Tepian Buah selalu pada kerinduan
Berjalan kaki dan tertawa
Pada suatu sore melebihi sore
Anak-anak masuk ke rumah
Menceritakan hari pada mereka
Dan menangis ketika hati tersakiti oleh hal remeh temeh

Aku menyimpan rindu.  Pada kopi dan diskusi berujung tawa, aku rindu pada siang terik yang menyengat. Aku rindu pada bayanganku sendiri.

Kubangun pada suatu pagi
Melihat-lihat kemudian kutidur lagi.
Kita sudah dewasa, tapi rumah itu masih melihat kita sebagai anak-anak yang menangis.

Sarapan yang disiapkan ibu tidak kita habiskan, mulut mengecap alasan penolakan mencipta kenangan, berharap sebuah kebenaran.

Kita kembali menjadi dewasa, masih menangis dan memanggil kenangan merangkai lamunan.

2017
Merindukan Kampung Tepian Buah & tawa di sana.