Di bawah sebuah sore yang malu, kubawa diri bersama kopi yang diseduh bersama ketiadaan, matahari mengganti sift, dan aku menjadi penyaksi di antaranya.
Puisi selalu menjadi teman yang berbelit-belit, membawa diriku terbaring setelah menuliskannya, diriku lagi-lagi menjadi pecundang kelas paling atas.
Bekerja untuk kata-kata adalah bekerja untuk menjadi orang yang melata, aku ingin pergi ke negeri entah berantah, bersama dirimu dan mengubur diri bila sudah tua.
Banyak hal yang kuinginkan, tapi tanganku tidak berhenti mengepal dan gemetar, titik jenuh akan selalu mengeluh, dan musim hujan akan cepat berlalu.
Samarinda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar