HARI itu perkuliahan kosong, tepat ketika aku mulai bangga
dengan keterlambatanku kemudian duduk di Kelas yang tidak begitu luas dan duduk
dideretan bangku paling belakang, ketua
tingkat memberi pengumuman bahwa perkuliahan hari ini libur karena dosen yang
mengampu matakuliah hari itu sedang diluar kota, tentu saja hal ini menjadi hal
yang paling membahagiakan bagi para Mahasiswa yang sudah datang dengan
bangganya sedari pagi kemudian bahagia muncul dari masing-masing merekadan tumpah seperti letusan gunung yang teramat
dahsyat, sedangkan aku ?, setengah mati memaki Dosen yang telah membatalkan
perkuliahan,sebenarnya bukan karena perkuliahan
dia batalkan seenaknya, hanya karena perkuliahan ditiadakan ketika aku sudah
sampai di Kampus dan membunuh aktifitas tidurku.

Kemudian aku memutuskan untuk pergi meninggalkan keriuhan
kelas dan beranjak menuju Cafe
Merah
Kuning Biru yang berada tepat di dekat gerbang masuk Universitas
Mulawarman, disana adalah tempat favorit mahasiswa berkumpul atau hanya sekedar
Nongkrong atau sebagian mengajak pasangannya untuk duduk bersama sekedar
berbicara seperlunya, sedangkan aku, datang dan duduk semauku, memesan salah
satu minuman kemudian duduk dengan tenang sambil menikmati minuman yang ku beli,
aku orang yang tidak suka berjalan atau berkumpul secara kelompok, bukan karena
aku tidak mempunya teman tapi aku adalah orang yang
introvert dan aku menyukai kesendirian dan sangat suka.
Setelah beberapa lama hanya sekedar duduk akhirnya aku
beranjak dari tempat dudukku dan kemudian membayar minuman yang kupesan di
kasir,
“berapa mbak semuanya ?”, tegurku kepada penjaga kasir
“mas yang duduk di meja nomor 7 yah ?”, seketika aku kaget
dan merasa seperti dicurigai oleh penjaga kasir
“iya mbak betul, ada apa ya mbak ?”, tegurku
“sudah di bayar sama mbak yang dibelakang mas tadi”, kata
penjaga kasir meyakinkan
“oh begitu ya mbak terimakasih”,
tegurku dengan keheranan
Aku meninggalkan cafe itu dan bertanya dalam hati tentang siapa
orang itu, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa, sekedar menegur saja tidak ada,
apakah dia temanku atau teman lama mungkin ?, tapi setauku aku tidak memiliki
banyak teman perempuan, atau fans ? pengagum rahasia ?, ah, kupikir siapa juga yang
mau menjadi pengagum rahasia laki-laki sepertiku ini ?, mengobrol lama dengan
wanita saja aku sudah tidak mampu, apalagi punya kenalan teman wanita ?. Aku
pergi sambil lalu dan aku anggap perempuan itu baru saja kejatuhan rezeki
kemudian melihat laki-laki sepertiku yang tampak seperti mahasiswa kere, kasarnya perempuan itu sedang
bersedekah.
-
Mampir
lagi di cafe Merah Kuning Biru
AKU mampir lagi ke
cafe itu dan sebenarnya aku berharap bertemu langsung dengan wanita itu,
seperti biasa aku membeli minuman yang sama kemudian duduk di meja nomor 7 lagi,
siang itu cukup ramai terlalu banyak wanita yang kulihat, dan aku sangat yakin
pasti wanita yang kemarin itu ada di antara mereka, karena penasaran aku
langung mendatangi penjaga kasir yag kemarin memberitahuku,
“Mbak, maaf nih mbak perempuan yang kemarin bayarin minuman
saya yang mana ya mbak ?”, tanyaku penasaran
“bentar ya mas, oh itu orangnya
mas pas dibelakang mas tadi”, menunjukkan dengan semangat
“oh terima kasih ya mbak”, aku menjauhi kasir kemudian aku
kembali menuju mejaku,
Dia tepat dibelakangku tapi aku sangat pemalu, aku tidak
berani menegurnya apalagi sekedar bertanya-tanya, aku sangatlah pemalu, lebih
pemalu dari daun putri malu yang ketika disentuh akan merunduk entah merunduk
tersanjung ataukah memang merunduk risih dengan keadaan. Bagiku wanita ini cukup menarik dengan rambut
panjangnya tidak terlalu cantik tapi manis, kulitnya yang cokelat eksotis
menambah penasaranku untuk berkenalan , sampai pada akhirnya aku memberanikan
diri untuk menengok dan bertanya langsung kepadanya, dan apa yang kulihat ? dia
tiba-tiba menghilang !, dan aku menyesali tingkahku yang malah kebanyakan
berperang dengan pikiranku sendiri untuk
sekedar menanyakan maksud perempuan itu membayarkan minumanku kemarin ?, ah
sungguh konyol !.
Kurasa aku gagal hari ini, akan aku coba besok pikirku, aku
sedikit merasa jengkel bukan pada perempuan itu tapi aku merasa jengkel kepada
diriku yang tidak mampu hanya untuk bertanya kepada seorang perempuan, baru
kali ini aku mengkhawatirkan masa depanku bagaimana nantinya bila masih terus
seperti ini, apakah aku akan menjadi perjaka tua dan tidak punya pasangan ?, ah
buang jauh-jauh dulu pikiran itu, kali ini aku hanya harus fokus menanyakan
maksud dari perempaun yang tiba-tiba menghilang itu.
Aku beranjak lagi dari meja nomor 7 dan menuju kasir untuk
membayar pesananku tadi,
“mbak saya mau bayar pesanan saya di meja nomor 7”, sambil
menyodorkan uang 45rb
“tidak usah mas, perempuan dibelakang mas tadi sudah
membayarnya”, tegur penjaga kasir itu
“apa !? lagi ?” tegurku dengan kesal
“ada apa mas ?”, tegur lagi penjaga kasir itu dengan cepat
“eh, tidak apa-apa mbak terimakasih”, segera aku
meninggalkan kasir itu.
Sekali lagi aku memaki diriku sendiri, siapa sebenarnya
perempuan itu dan apa maunya, oke dia mungkin bermaksud baik tapi kenapa
bermaksud baik dengan cara misterius seperti ini !?, aku juga butuh alasan
kenapa perempuan itu melakukan hal serupa ?.
KEESOKAN harinya lagi, aku sengaja datang agak cepat,
kebetulan perkuliahan hari ini cepat selesai, aku sudah berada di meja nomor 7
dan menengok kebelakang mengawasi pintu masuk ke dalam Café, barangkali
sewaktu-waktu perempuan itu masuk. Tapi ada yang aneh aku sudah lama sekali
mengawasi pintu tapi wanita itu tidak kelihatan juga, tiba-tiba dari depanku
ada suara wanita menegurku,
“cari siapa ?, hayoo siapa ?”, dengan maksud mencurigai
Betapa terkejutnya aku ternyata wanita yang dua hari ini ku
cari ada di depanku,
“ah, kamu !, pokoknya kali ini kamu tidak bisa kemana-mana
tolong jelaskan kenapa kamu seenaknya membayarkan pesananku dua hari ini tanpa
izin dari aku ?”, tegurku dengan sangat cepat
“kamu tidak berubah, masih suka berbicara lebih banyak dari
biasanya waktu panik, disana juga sama seperti ini”, tegur perempuan itu sambil
tertawa.
“apa maksudmu ?, apa yang kamu tertawakan ?”, tanyaku dengan
sangat penasaran
“aku senang melihatmu disini sehat-sehat saja ayah, kau
terlalu boros dan terlalu banyak berpikir, aku kira ayah sangat tampan waktu
muda”.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perempuan itu,
kenapa dia memanggil ayah dan sejak kapan aku memiliki anak ?, ketika aku ingin
melanjutkan perkataanku tiba-tiba perempuan itu menghilang dan ada catatan
kecil di mejaku,
“terimakasih sudah menjadi ayah yang baik, disana kami
selalu sayang ayah. Anakmu di masa
depan”.
Lama aku terdiam.
Oh, Putriku.