Minggu, 28 Februari 2016

Lubang Langit

Pagi diusir Siang
Siang diusir Sore
Sore diusir Malam
Tapi tetap, lubang itu menyala

Jamanmu bilang, lubang itu dewa
Jamanku bilang, lubang itu fenomena
Jamanku jamanmu, kapan ?
Oh, beda sangat jauh

Tapi ini puisi bukan puisi pamer jaman
Puisi ini keselarasan jaman
Lubangku, lubang langit
Lubangmu, lubang langit

Sepertinya, kita sedang diamati lubang

Rabu, 24 Februari 2016

Lampu Taman



CERITA ini berawal dari benda mati, benda mati yang tidak begitu diperhatikan tetapi ketiadaannya menjadi pusat perhatian, benda mati yang tidak bisa berbicara tetapi ku buat ia mampu bernyawa layaknya manusia dengan segala suka dukanya, benda mati ini hidup karena memori yang dibangun dari pengalaman paling melankolis manusia, manusia yang pernah duduk di bawahnya kemudian menghilang begitu saja lantaran terbunuhnya suatu kisah di sana, terbunuh tepat di bawah sinarnya yang malu, ya ini cerita tentang Lampu Taman yang masih memandang remang dan hidup di bawah belaian kata-kata. Lampu Taman itu telah mengalami banyak hal, dia menyaksikan dan menerawang sesukanya, tidak ada kegiatan yang begitu menguras emosi dari benda mati selain aktifitasnya yang membunuh sunyi dan menikam zaman.

Sinarku yang pertamakali, kepada  teman pertamaku

AKU menyala malam itu, aku melihat, menerka, merasakan pun juga malam itu, menyentuh bagian-bagian tersulit dari kontur-kontur benda tempatku hidup hari itu, menurutku ini tempat yang bagus, dan cukup tenang, temanku satu-satunya adalah Bangku Taman,ia berada tepat di bawah sinarku, ia tampak bisu dan tidak tau menau prihal apa saja, aku terjebak di antara kematian atau kehidupan yang sesungguhnya, bahkan Bangku Taman itu enggan bercakap denganku, mungkin perbedaan kami yang sangat mencolok, aku bisa melihat luas dari atas sini sedangkan ia hanya mampu menatap dari bawah sana.

Suatu saat aku memberanikan diri untuk menyapanya,
“Maaf, aku tidak terbiasa menyapa, tapi bisakah kau menegurku sedikit saja kawan ?”
“aku tidak menyapamu, bukan berarti aku tidak bisa merasakanmu”, jawab Bangku Taman,
“sama sekali aku tidak beranggapan kau tidak bisa berbicara”, tegurku
“aku pikir kau sama saja seperti lelaki itu, ia datang menangis dan menggores tulisan yang sebelumnya pernah tertulis di tempat sandaran yang dikhususkan untuknya dan kekasihnya, sehingga membentuk goresan yang sangat perih”, ungkap langsung Bangku Taman
“ apa yang terjadi padanya ?”, tanyaku, Bangku Taman mulai bercerita kepadaku, menceritakan kisah yang telah dialami seorang lelaki itu, dulu ada sepasang kekasih yang selalu datang menghampirinya, duduk bersandar layaknya sepasang sejoli, membunuh waktu dan menguras banyak manisnya cinta, kalimat terakhir yang diucapkan oleh pasangan itu adalah mereka tidak akan berpisah apapun yang terjadi, dan menggores tulisan pengikat janji pada sandaran Bangku Taman yang bertuliskan “kau saksi, kau yang mendengar kami berjanji”, Bangku Taman merasa keberatan menerima amanah sepihak itu, bahkan dirinya belum sempat mengatakan apakah dia setuju atau tidak atas keputusan itu, sehingga dirinya juga membuat keputusan “Jangan duduk tanpa dia”, tetapi lelaki itu tidak mendengar keputusannya dan berlalu begitu saja
  
Suatu saat lelaki itu datang menangis dan menduduki Bangku Taman, tentu saja Bangku Taman sangat marah karena keputusannya tidak dipenuhi, lelaki itu hanya datang sendiri tanpa kekasihnya, tapi apalah daya Bangku Taman yang tidak bisa mengungkapkan secara langsung emosinya, hanya mampu marah dan memaki dalam kebisuannya, tidak lama kemudian lelaki itu berbicara, “aku tau kau melarangku mendudukimu tanpanya, aku sangat merasakan kemarahanmu, aku berharap kali ini kau mau mendengar penjelasanku, wanita itu juga menduduki Bangku lainnya dan menulis janji yang sama di sana, entah kita adalah makhluk keberapa yang sudah bergantung di hatinya yang paling penuh rahasia, dia berkhianat kepada kita kawan kita sudah lukai hatinya, jangan marah kawan kita hanya patut menangis dan menyesali langkah kita, aku harap kau sepaham denganku, maaf sudah mencoreti sandaranmu kawan, aku menyesal, sugguh!”.

Bangku Taman merasa terluka hatinya, seketika dirinya merasakan kecemburuan yang sangat sepi, kecemburuan yang sangat sunyi, dia menggigil dan ingin membunuh apa saja yang bisa ia akhiri hidupnya, kemudian lelaki itu duduk dalam lamunannya dan mendengar langsung keinginan Bangku Taman, ia berkata “Goreslah janji itu sebelumnya, biarkan menjadi simbol kehancuranku”, lelaki itu kaget dan merasa ada yang memberatkan hatinya untuk menggores janji yang sudah tercipta itu, “aku tau kesakitanmu lebih dari kesakitanku, maafkan aku kawan, maafkan!”. Seketika Lelaki itu menggores dan menghilangkan tulisan janjinya dengan kekasihnya, sehingga hanya tampak goresan yang berbekas luka yang sangat dalam dan perlahan rapuh dan memudar termakan cuaca nantinya.

Permintaan Bangku Taman

“hey kawan, bolehkah aku meminta sesuatu ?”, Tanya Bangku Taman
“Boleh, apa saja”, kataku
“Tolong kau sinari aku, buat aku mencolok, agar janji baru yang menghiasiku, tidak se Fana kemarin”.

Sampai sekarang dan seterusnya aku menyala untuk meneranginya, sampai suatu saat datang lelaki yang menulis cerita ini, tanpa dihiasi janji dan tanpa menggores ia tetap datang.

Selasa, 23 Februari 2016

Ku Titip Pesan di Jendelamu

Aku cahaya yang disampaikan pagi dari matahari
Sangat sederhana, hanya untuk mengetuk jendelamu yang rapuh
Aku diselanya, berharap dengan lembut kau buka dan perlahan kau peluk dengan gundahmu

Pernah kau merasakannya ?
Sedikit saja, tidak terlalu lama ?

Akulah warna putih terang itu, ketika disentuh selimut malam menjelma menjadi jingga tenggelam
Aku pun tau sadarpun usaha besar bagimu, seperti mengangkat malunya putri malu yang sudah terlanjur sendu di Taman sunyi

Senin, 22 Februari 2016

Menyapa Ayahku



Ayah marah lagi, hampir setiap hari yang terdengar di telingaku hanyalah nada suaranya yang meninggi merobek gendang telingaku, pelan menyinggung sarafku kemudian hanya emosi dan kebencian terhadap Ayah saja yang terasa, hampir setiap hari dan kalimatnya yang tampak manis hanya “Ayo makan sayang, nanti kamu sakit”, dan itupun masih terdengar seperti memarahi. Ah! Aku bosan!, kenapa dia tidak bisa seperti ayah-ayah normal lainnya ?, mungkin dia sudah terlahir sebagai sosok pemarah yang ditugasi Tuhan menjadi perobek telinga dengan amarahnya, aku paling membenci sifatnya yang gampang panik, selalu saja khawatir dan pasti ujung dari sifatnya itu hanya marah dan marah!, iya, hanya itu!.


Ayah seorang penulis, pekerjaannya hanya menghabiskan waktu dengan karya tulisnya sepanjang hari, bahkan, Ibu tidak berani menegur karena kebiasaannya itu, kata Ibu memang harus mengalah, karena ayah dan sifatnya sudah sekeras itu waktu dulu. kadang aku bertanya kepada Ibu, kenapa ayah bisa bertemu dan menikah dengan Laki-laki seperti aya. Dulu kata Ibu mereka di Kampus yang sama di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, dulu mereka sering singgah di Kafe Merah Kuning Biru tempat ayah sering mampir ketika muda dulu, Ibu sudah memerhatikan ayah sejak saat itu, Ibu sudah Tertarik dengan Ayah, selain tampan, katanya ayah sosok laki-laki yang tidak suka melirik wanita apalagi sekedar berbicara dengan wanita, katanya ayah adalah sosok lelaki cuek sehingga Ibu penasaran dengan Ayah, Ibu selalu mengikuti Ayah ketika mampir ke Kafe langganan Ayah, pernah suatu ketika Ayah sering berbincang dengan penjaga kasir Kafe itu dan menunjuk-nunjuk ke arah meja pengunjung hampir tiga hari begitu, sungguh aneh kata Ibu benar-benar kebiasaan yang aneh dari seorang Laki-laki cuek seperti ayah, kata Ibu tempat favorit ayah duduk di kafe Merah Kuning Biru adalah di Meja nomor 7 dan ternyata adalah tanggal lahir ayah, singkat cerita mereka pacaran dan menikah sampai sekarang. Tetap saja bagiku ayah adalah sosok laki-laki yang menyebalkan karena sifatnya sangat aku tidak senangi.

Sekarang aku juga kuliah di Universitas Mulawarman sama seperti ayah dan Ibu dan bahkan memilih Fakultas dan Jurusan yang sama seperti mereka, dan itu adalah paksaan ayah, lagi-lagi ayah dengan hak otoriternya dikeluargaku, aku tidak memiliki saudara, ingin rasanya aku memiliki saudara, mungkin saja ayah tidak akan se-Otoriter ini. Hari itu adalah malam Valentine, Rio pacarku mengajakku untuk merayakan malam Valentine bersamanya dan tentu saja Ayah tidak akan setuju, ayah sudah tidak merestui hubungan kami berdua karena menurutnya Rio anak yang tidak tahu sopan santun, bagiku ayah saja yang terlalu kolot dan ketinggalan zaman. Malam itu aku sudah mengatur rencana untuk pergi diam-diam dengan Rio dan akhirnya berhasil, aku sangat mencintai Rio bagiku dia adalah sosok lelaki idaman setidaknya dia tidak pemarah seperti Ayah.
Malam itu aku pulang pukul 02.00 dini hari, aku rasa aman karena ruang tamu gelap dan kurasa ayah sudah tidur, ketika aku menutup pintu rumah, lampu seketika menyala dan ternyata sudah ada Ayah di depanku, dengan wajahnya yang memerah dan matanya yang tajam seperti seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya di depan mata.
Malam itu berlalu dengan amarah ayah yang memekakkan telinga.
 Hanya saja ayah tidak pernah melakukan kontak fisik ketika marah padaku, tetap saja suaranya yang keras cukup membuatku sedih dan marah.

Pagi itu, Ibu meminta aku membantunya membersihkan Gudang di Samping Rumah, Gudang itu sudah cukup tua dan tidak pernah sekalipun aku mampir kesana, kecuali terakhir ketika kecil aku pernah menyimpan barang-barangku yang sudah tidak terpakai di sana, Ibu memerintahkanku untuk membersihkan gudang karena gudang itu akan digunakan sebagai ruang perpustakaan keluarga. Semua barang kukeluarkan tanpa terkecuali. ada yang aneh, aku baru mengetahui ada sebuah pintu selutut orang dewasa, pintu itu aneh dengan motif-motifnya yang juga cukup aneh dan asing, entah apa yang memaksaku untuk masuk ke sana, aku membukanya dengan sangat pelan dan apa yang kuperhatikan?, ramai sekali suara-suara orang berlalu lalang, dan akupun tertarik untuk masuk ke dalam sana, tepat di depanku suatu tempat yang mirip kafe dengan corak warnanya Merah Kuning Biru dan tiba-tiba seperti tempat yang pernah diceritakan Ibu, apakah mungkin ini adalah tempat favorit ayah dulu ?, tapi kenapa suasananya sangat asing dan seperti ketinggalan jaman sekali. Aku masuk kedalam kafe itu dan mataku langusng ke seorang lelaki yang duduk di meja nomor 7, cukup tampan dan kelihatan cuek, saat itu hanya aku dan lelaki itu yang duduk sendiri di meja berbeda, aku penasaran dengan laki-laki itu, aku mengambil posisi duduk tepat dibelakangnya, seketika aku mendengar  wanita yang duduk di Meja tidak jauh dari mejaku berbincang seperti ini,
“kamu tau cowok itu gak?, meja nomor 7, sekelasku, sekelas tidak ada yang berani negur dia, soalnya dia itu aneh, ngomong aja jarang, jadi satu kelas ogah dekat  dia”, kata perempuan itu.
Entah kenapa, aku sangat yakin lelaki itu adalah ayah, sangat mirip hanya saja tampak muda dan segar, aku merasa cukup jengkel dengan perkataan wanita yang sudah berbicara seperti itu tentang ayah, tapi tidak jadi soal menurutku, aku rasa aku harus kembali kegudang dan membereskan pekerjaanku aku takut ayah marah lagi, tapi aku harus ke kasir dan membayar pesanan lelaki yang mirip Ayah itu, hitung-hitung membantunya, setelah itu aku kembali ke Gudang. Hal itu kuulangi keesokan harinya dan lagi aku membayar pesanan lelaki yang mirip Ayah itu dan pergi lagi, begitulah terus yang kulakukan dan kurasa aku mulai menyukai lelaki itu.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke Kafe Merah Kuning Biru itu, dan anehnya Lelaki itu seperti mengawasi pintu masuk kafe, seperti mencari seseorang, aku yakin dia mencariku, sesekali dia lengah dan aku berhasil masuk dan duduk di depannya, aku menegurnya dengan mengatakan “cari siapa? Hayoo siapa ?”, aku mendengarnya menjawab dengan emosi tapi aku rasa aku sudah terbiasa dengan emosi ini sangat familiar, bahkan aku tidak merasa jengkel, bahkan  aku rindu dengan ayah, ketika lelaki itu sibuk dengan emosinya  kemudian aku menulis dikertas,
“Terima Kasih sudah menjadi ayah yang baik, di sana kami selalu sayang ayah. Anakmu di masa depan.”
Aku pulang dengan menangis, aku melihat ayah mencari-cariku dengan wajah sangat khawatir, kemudian aku menghampirinya dan memeluknya,
“maafkan aku ayah”, kataku
“kau kemana saja, ayo makan sayang nanti kamu sakit”, ucap ayah dengan lembut sekali.

Disapa Putriku



HARI itu perkuliahan kosong, tepat ketika aku mulai bangga dengan keterlambatanku kemudian duduk di Kelas yang tidak begitu luas dan duduk dideretan  bangku paling belakang, ketua tingkat memberi pengumuman bahwa perkuliahan hari ini libur karena dosen yang mengampu matakuliah hari itu sedang diluar kota, tentu saja hal ini menjadi hal yang paling membahagiakan bagi para Mahasiswa yang sudah datang dengan bangganya sedari pagi kemudian bahagia muncul dari masing-masing merekadan  tumpah seperti letusan gunung yang teramat dahsyat, sedangkan aku ?, setengah mati memaki Dosen yang telah membatalkan perkuliahan,sebenarnya  bukan karena perkuliahan dia batalkan seenaknya, hanya karena perkuliahan ditiadakan ketika aku sudah sampai di Kampus dan membunuh aktifitas tidurku.


Kemudian aku memutuskan untuk pergi meninggalkan keriuhan kelas dan beranjak menuju Cafe Merah Kuning Biru yang berada tepat di dekat gerbang masuk Universitas Mulawarman, disana adalah tempat favorit mahasiswa berkumpul atau hanya sekedar Nongkrong atau sebagian mengajak pasangannya untuk duduk bersama sekedar berbicara seperlunya, sedangkan aku, datang dan duduk semauku, memesan salah satu minuman kemudian duduk dengan tenang sambil menikmati minuman yang ku beli, aku orang yang tidak suka berjalan atau berkumpul secara kelompok, bukan karena aku tidak mempunya teman tapi aku adalah orang yang introvert dan aku menyukai kesendirian dan sangat suka.

Setelah beberapa lama hanya sekedar duduk akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku dan kemudian membayar minuman yang kupesan di kasir,
“berapa mbak semuanya ?”, tegurku kepada penjaga kasir
“mas yang duduk di meja nomor 7 yah ?”, seketika aku kaget dan merasa seperti dicurigai oleh penjaga kasir
“iya mbak betul, ada apa ya mbak ?”, tegurku
“sudah di bayar sama mbak yang dibelakang mas tadi”, kata penjaga kasir meyakinkan
“oh begitu ya mbak terimakasih”, tegurku dengan keheranan
Aku meninggalkan cafe itu dan bertanya dalam hati tentang siapa orang itu, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa, sekedar menegur saja tidak ada, apakah dia temanku atau teman lama mungkin ?, tapi setauku aku tidak memiliki banyak teman perempuan, atau fans ? pengagum rahasia ?, ah, kupikir siapa juga yang mau menjadi pengagum rahasia laki-laki sepertiku ini ?, mengobrol lama dengan wanita saja aku sudah tidak mampu, apalagi punya kenalan teman wanita ?. Aku pergi sambil lalu dan aku anggap perempuan itu baru saja kejatuhan rezeki kemudian melihat laki-laki sepertiku yang tampak seperti mahasiswa kere, kasarnya perempuan itu sedang bersedekah.

-          Mampir lagi di cafe Merah Kuning Biru

AKU mampir lagi ke  cafe itu dan sebenarnya aku berharap bertemu langsung dengan wanita itu, seperti biasa aku membeli minuman yang sama kemudian duduk di meja nomor 7 lagi, siang itu cukup ramai terlalu banyak wanita yang kulihat, dan aku sangat yakin pasti wanita yang kemarin itu ada di antara mereka, karena penasaran aku langung mendatangi penjaga kasir yag kemarin memberitahuku,
“Mbak, maaf nih mbak perempuan yang kemarin bayarin minuman saya yang mana ya mbak ?”, tanyaku penasaran
“bentar ya mas, oh itu orangnya mas pas dibelakang mas tadi”, menunjukkan dengan semangat
“oh terima kasih ya mbak”, aku menjauhi kasir kemudian aku kembali menuju mejaku,
Dia tepat dibelakangku tapi aku sangat pemalu, aku tidak berani menegurnya apalagi sekedar bertanya-tanya, aku sangatlah pemalu, lebih pemalu dari daun putri malu yang ketika disentuh akan merunduk entah merunduk tersanjung ataukah memang merunduk risih dengan keadaan. Bagiku  wanita ini cukup menarik dengan rambut panjangnya tidak terlalu cantik tapi manis, kulitnya yang cokelat eksotis menambah penasaranku untuk berkenalan , sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menengok dan bertanya langsung kepadanya, dan apa yang kulihat ? dia tiba-tiba menghilang !, dan aku menyesali tingkahku yang malah kebanyakan berperang dengan pikiranku sendiri  untuk sekedar menanyakan maksud perempuan itu membayarkan minumanku kemarin ?, ah sungguh konyol !.

Kurasa aku gagal hari ini, akan aku coba besok pikirku, aku sedikit merasa jengkel bukan pada perempuan itu tapi aku merasa jengkel kepada diriku yang tidak mampu hanya untuk bertanya kepada seorang perempuan, baru kali ini aku mengkhawatirkan masa depanku bagaimana nantinya bila masih terus seperti ini, apakah aku akan menjadi perjaka tua dan tidak punya pasangan ?, ah buang jauh-jauh dulu pikiran itu, kali ini aku hanya harus fokus menanyakan maksud dari perempaun yang tiba-tiba menghilang itu.
Aku beranjak lagi dari meja nomor 7 dan menuju kasir untuk membayar pesananku tadi,
“mbak saya mau bayar pesanan saya di meja nomor 7”, sambil menyodorkan uang 45rb
“tidak usah mas, perempuan dibelakang mas tadi sudah membayarnya”, tegur penjaga kasir itu
“apa !? lagi ?” tegurku dengan kesal
“ada apa mas ?”, tegur lagi penjaga kasir itu dengan cepat
“eh, tidak apa-apa mbak terimakasih”, segera aku meninggalkan kasir itu.

Sekali lagi aku memaki diriku sendiri, siapa sebenarnya perempuan itu dan apa maunya, oke dia mungkin bermaksud baik tapi kenapa bermaksud baik dengan cara misterius seperti ini !?, aku juga butuh alasan kenapa perempuan itu melakukan hal serupa ?.
KEESOKAN harinya lagi, aku sengaja datang agak cepat, kebetulan perkuliahan hari ini cepat selesai, aku sudah berada di meja nomor 7 dan menengok kebelakang mengawasi pintu masuk ke dalam Café, barangkali sewaktu-waktu perempuan itu masuk. Tapi ada yang aneh aku sudah lama sekali mengawasi pintu tapi wanita itu tidak kelihatan juga, tiba-tiba dari depanku ada suara wanita menegurku,
“cari siapa ?, hayoo siapa ?”, dengan maksud mencurigai
Betapa terkejutnya aku ternyata wanita yang dua hari ini ku cari ada di depanku,
“ah, kamu !, pokoknya kali ini kamu tidak bisa kemana-mana tolong jelaskan kenapa kamu seenaknya membayarkan pesananku dua hari ini tanpa izin dari aku ?”, tegurku dengan sangat cepat
“kamu tidak berubah, masih suka berbicara lebih banyak dari biasanya waktu panik, disana juga sama seperti ini”, tegur perempuan itu sambil tertawa.
“apa maksudmu ?, apa yang kamu tertawakan ?”, tanyaku dengan sangat penasaran
“aku senang melihatmu disini sehat-sehat saja ayah, kau terlalu boros dan terlalu banyak berpikir, aku kira ayah sangat tampan waktu muda”.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perempuan itu, kenapa dia memanggil ayah dan sejak kapan aku memiliki anak ?, ketika aku ingin melanjutkan perkataanku tiba-tiba perempuan itu menghilang dan ada catatan kecil di mejaku,
“terimakasih sudah menjadi ayah yang baik, disana kami selalu sayang ayah.  Anakmu di masa depan”.
Lama aku terdiam.
Oh, Putriku.

Senin, 15 Februari 2016

Embun pun Malu

Kayu tidak pernah mau patah di dahannya
Tua pun tidak memaksanya roboh terlalu jauh
Dia mencinta segenap nafsunya
Juga cinta pada daun keringnya

Anak manusia bersandar pada batangnya
Mengingat-ingat kebodohan hari ini
Tersenyum sebaris dengan bibirnya, sepertinya dia menangis

Raut wajahnya pilu, karena berkata senang ketika ditinggal pergi bahagianya
Embun pun malu jatuh di pipinya
Karena dia sedang berbohong, embun itu murni tidak menyentuh keruh hidupnya.

Jumat, 12 Februari 2016

Untuk Lelaki yang dilupa Hidupnya

Tidak usah menjadi jauh kalau kau sudah dekat
Seolah-olah cinta sekedar pemanis di Teh manis yang membuatnya disenangi.
Mulutku sudah kering dirundung pilu dan pelan tidak punya arah
Untuk bertahan saja mengikuti alunanmu yang cepat

Aku tau kau suka ditemani, kemana saja
Tapi aku masih tidak tau, dikepalamu ada apa
Bukan, pilihanmu bukan badutmu
Yang melucu saat kau butuh lucu, yang menangis saat kau ingin menyiksa sesekali

Aku tidak  bisa terjaga ketika malam, karena lelah juga masih senang kepadaku
Aku ini remang, masih memandang gelap. Aku hidup di bawah belaian kata-kata

Begitu juga kau kekasihku, kau gelap masih memandang mentah kata-kata

(Untuk kekasihku, Si gadis kecilku)

Kamis, 11 Februari 2016

Rinduku dibawah Hujan

Pernah kita mengharapkan hujan disaat tidak masuk akal, merasa cukup hina karena meminta yang tidak-tidak kepadaNya

Pernah kita memaki karena jalanan kasar dan ramai itu, basah dan mengotori, lebih memilih larut lebih dalam ke dasar lelap

Pernah juga kita merindu hujan seperti menunggu ibu membawa bahagianya, padahal kita tau dia sudah menyerah dengan dingin seperti itu

Kuharap kau tidak terlalu lama disana kasih, aku bisa datang sesukaku padamu, berdirilah tenang ditemani gelisahmu, karena aku akan muncul seperti rindu kepada mentari setelah hujan

Akulah rindu yang menjadi candu, nikmat dipikit sakit ditahan.

Rabu, 10 Februari 2016

Untuk kekasihku yang lucu

Selamat pagi sayang, aku tau ucapanku ini sudah biasa masuk ke telingamu, bersama dengan angin yang terbawa oleh getaran suaraku perlahan menepis pelan gendang telingamu.

Adakah bahagia yang melebihi bahagiamu pagi ini sayang ?, ketika ku sapa kau lebih pagi dari biasanya ?

Atau adakah bahagia yang bersembunyi dibalik senyum indahmu ?, dibelakang rona manis warna bibirmu yang lucu ?

Aku kadang menjadi penjahat yang unik dan penuh kejutan, membuatmu menangis karena ulahku yang pahit dan usil, dan aku tidak tau menau deritamu, sungguh.

Aku kadang menjadi pahlawan yang bodoh dengan gagahnya menolongmu saat kau mampu menahan beratnya masalahmu, dan aku tidak tau menau deritaku, sungguh.

Aku itu sebenarnya iri dengan masa depan yang kubicarakan bersamamu, mereka terlalu berakhir bahagia sayang, berbeda dengan yang kita jalani sekarang, yang ada kubuat kau sebentar menangis dan sebentar tertawa.

Aku hanya bagian kecil dari masa depanmu, yang akan menjadi besar dengan suatu insan yang kita hasilkan nanti, biarlah wajahnya wajahmu, tapi aku mau tuturnya tuturku.

11 Februari 2016