Senin, 22 Februari 2016

Disapa Putriku



HARI itu perkuliahan kosong, tepat ketika aku mulai bangga dengan keterlambatanku kemudian duduk di Kelas yang tidak begitu luas dan duduk dideretan  bangku paling belakang, ketua tingkat memberi pengumuman bahwa perkuliahan hari ini libur karena dosen yang mengampu matakuliah hari itu sedang diluar kota, tentu saja hal ini menjadi hal yang paling membahagiakan bagi para Mahasiswa yang sudah datang dengan bangganya sedari pagi kemudian bahagia muncul dari masing-masing merekadan  tumpah seperti letusan gunung yang teramat dahsyat, sedangkan aku ?, setengah mati memaki Dosen yang telah membatalkan perkuliahan,sebenarnya  bukan karena perkuliahan dia batalkan seenaknya, hanya karena perkuliahan ditiadakan ketika aku sudah sampai di Kampus dan membunuh aktifitas tidurku.


Kemudian aku memutuskan untuk pergi meninggalkan keriuhan kelas dan beranjak menuju Cafe Merah Kuning Biru yang berada tepat di dekat gerbang masuk Universitas Mulawarman, disana adalah tempat favorit mahasiswa berkumpul atau hanya sekedar Nongkrong atau sebagian mengajak pasangannya untuk duduk bersama sekedar berbicara seperlunya, sedangkan aku, datang dan duduk semauku, memesan salah satu minuman kemudian duduk dengan tenang sambil menikmati minuman yang ku beli, aku orang yang tidak suka berjalan atau berkumpul secara kelompok, bukan karena aku tidak mempunya teman tapi aku adalah orang yang introvert dan aku menyukai kesendirian dan sangat suka.

Setelah beberapa lama hanya sekedar duduk akhirnya aku beranjak dari tempat dudukku dan kemudian membayar minuman yang kupesan di kasir,
“berapa mbak semuanya ?”, tegurku kepada penjaga kasir
“mas yang duduk di meja nomor 7 yah ?”, seketika aku kaget dan merasa seperti dicurigai oleh penjaga kasir
“iya mbak betul, ada apa ya mbak ?”, tegurku
“sudah di bayar sama mbak yang dibelakang mas tadi”, kata penjaga kasir meyakinkan
“oh begitu ya mbak terimakasih”, tegurku dengan keheranan
Aku meninggalkan cafe itu dan bertanya dalam hati tentang siapa orang itu, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa, sekedar menegur saja tidak ada, apakah dia temanku atau teman lama mungkin ?, tapi setauku aku tidak memiliki banyak teman perempuan, atau fans ? pengagum rahasia ?, ah, kupikir siapa juga yang mau menjadi pengagum rahasia laki-laki sepertiku ini ?, mengobrol lama dengan wanita saja aku sudah tidak mampu, apalagi punya kenalan teman wanita ?. Aku pergi sambil lalu dan aku anggap perempuan itu baru saja kejatuhan rezeki kemudian melihat laki-laki sepertiku yang tampak seperti mahasiswa kere, kasarnya perempuan itu sedang bersedekah.

-          Mampir lagi di cafe Merah Kuning Biru

AKU mampir lagi ke  cafe itu dan sebenarnya aku berharap bertemu langsung dengan wanita itu, seperti biasa aku membeli minuman yang sama kemudian duduk di meja nomor 7 lagi, siang itu cukup ramai terlalu banyak wanita yang kulihat, dan aku sangat yakin pasti wanita yang kemarin itu ada di antara mereka, karena penasaran aku langung mendatangi penjaga kasir yag kemarin memberitahuku,
“Mbak, maaf nih mbak perempuan yang kemarin bayarin minuman saya yang mana ya mbak ?”, tanyaku penasaran
“bentar ya mas, oh itu orangnya mas pas dibelakang mas tadi”, menunjukkan dengan semangat
“oh terima kasih ya mbak”, aku menjauhi kasir kemudian aku kembali menuju mejaku,
Dia tepat dibelakangku tapi aku sangat pemalu, aku tidak berani menegurnya apalagi sekedar bertanya-tanya, aku sangatlah pemalu, lebih pemalu dari daun putri malu yang ketika disentuh akan merunduk entah merunduk tersanjung ataukah memang merunduk risih dengan keadaan. Bagiku  wanita ini cukup menarik dengan rambut panjangnya tidak terlalu cantik tapi manis, kulitnya yang cokelat eksotis menambah penasaranku untuk berkenalan , sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menengok dan bertanya langsung kepadanya, dan apa yang kulihat ? dia tiba-tiba menghilang !, dan aku menyesali tingkahku yang malah kebanyakan berperang dengan pikiranku sendiri  untuk sekedar menanyakan maksud perempuan itu membayarkan minumanku kemarin ?, ah sungguh konyol !.

Kurasa aku gagal hari ini, akan aku coba besok pikirku, aku sedikit merasa jengkel bukan pada perempuan itu tapi aku merasa jengkel kepada diriku yang tidak mampu hanya untuk bertanya kepada seorang perempuan, baru kali ini aku mengkhawatirkan masa depanku bagaimana nantinya bila masih terus seperti ini, apakah aku akan menjadi perjaka tua dan tidak punya pasangan ?, ah buang jauh-jauh dulu pikiran itu, kali ini aku hanya harus fokus menanyakan maksud dari perempaun yang tiba-tiba menghilang itu.
Aku beranjak lagi dari meja nomor 7 dan menuju kasir untuk membayar pesananku tadi,
“mbak saya mau bayar pesanan saya di meja nomor 7”, sambil menyodorkan uang 45rb
“tidak usah mas, perempuan dibelakang mas tadi sudah membayarnya”, tegur penjaga kasir itu
“apa !? lagi ?” tegurku dengan kesal
“ada apa mas ?”, tegur lagi penjaga kasir itu dengan cepat
“eh, tidak apa-apa mbak terimakasih”, segera aku meninggalkan kasir itu.

Sekali lagi aku memaki diriku sendiri, siapa sebenarnya perempuan itu dan apa maunya, oke dia mungkin bermaksud baik tapi kenapa bermaksud baik dengan cara misterius seperti ini !?, aku juga butuh alasan kenapa perempuan itu melakukan hal serupa ?.
KEESOKAN harinya lagi, aku sengaja datang agak cepat, kebetulan perkuliahan hari ini cepat selesai, aku sudah berada di meja nomor 7 dan menengok kebelakang mengawasi pintu masuk ke dalam Café, barangkali sewaktu-waktu perempuan itu masuk. Tapi ada yang aneh aku sudah lama sekali mengawasi pintu tapi wanita itu tidak kelihatan juga, tiba-tiba dari depanku ada suara wanita menegurku,
“cari siapa ?, hayoo siapa ?”, dengan maksud mencurigai
Betapa terkejutnya aku ternyata wanita yang dua hari ini ku cari ada di depanku,
“ah, kamu !, pokoknya kali ini kamu tidak bisa kemana-mana tolong jelaskan kenapa kamu seenaknya membayarkan pesananku dua hari ini tanpa izin dari aku ?”, tegurku dengan sangat cepat
“kamu tidak berubah, masih suka berbicara lebih banyak dari biasanya waktu panik, disana juga sama seperti ini”, tegur perempuan itu sambil tertawa.
“apa maksudmu ?, apa yang kamu tertawakan ?”, tanyaku dengan sangat penasaran
“aku senang melihatmu disini sehat-sehat saja ayah, kau terlalu boros dan terlalu banyak berpikir, aku kira ayah sangat tampan waktu muda”.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perempuan itu, kenapa dia memanggil ayah dan sejak kapan aku memiliki anak ?, ketika aku ingin melanjutkan perkataanku tiba-tiba perempuan itu menghilang dan ada catatan kecil di mejaku,
“terimakasih sudah menjadi ayah yang baik, disana kami selalu sayang ayah.  Anakmu di masa depan”.
Lama aku terdiam.
Oh, Putriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar