Ayah marah lagi, hampir setiap hari yang terdengar di telingaku
hanyalah nada suaranya yang meninggi merobek gendang telingaku, pelan
menyinggung sarafku kemudian hanya emosi dan kebencian terhadap Ayah saja yang
terasa, hampir setiap hari dan kalimatnya yang tampak manis hanya “Ayo makan
sayang, nanti kamu sakit”, dan itupun masih terdengar seperti memarahi. Ah! Aku
bosan!, kenapa dia tidak bisa seperti ayah-ayah normal lainnya ?, mungkin dia
sudah terlahir sebagai sosok pemarah yang ditugasi Tuhan menjadi perobek
telinga dengan amarahnya, aku paling membenci sifatnya yang gampang panik,
selalu saja khawatir dan pasti ujung dari sifatnya itu hanya marah dan marah!,
iya, hanya itu!.
Ayah seorang penulis, pekerjaannya hanya menghabiskan waktu
dengan karya tulisnya sepanjang hari, bahkan, Ibu tidak berani menegur karena
kebiasaannya itu, kata Ibu memang harus mengalah, karena ayah dan sifatnya
sudah sekeras itu waktu dulu. kadang aku bertanya kepada Ibu, kenapa ayah bisa
bertemu dan menikah dengan Laki-laki seperti aya. Dulu kata Ibu mereka di
Kampus yang sama di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia Universitas
Mulawarman, dulu mereka sering singgah di Kafe Merah Kuning Biru tempat ayah
sering mampir ketika muda dulu, Ibu sudah memerhatikan ayah sejak saat itu, Ibu
sudah Tertarik dengan Ayah, selain tampan, katanya ayah sosok laki-laki yang
tidak suka melirik wanita apalagi sekedar berbicara dengan wanita, katanya ayah
adalah sosok lelaki cuek sehingga Ibu penasaran dengan Ayah, Ibu selalu
mengikuti Ayah ketika mampir ke Kafe langganan Ayah, pernah suatu ketika Ayah
sering berbincang dengan penjaga kasir Kafe itu dan menunjuk-nunjuk ke arah
meja pengunjung hampir tiga hari begitu, sungguh aneh kata Ibu benar-benar
kebiasaan yang aneh dari seorang Laki-laki cuek seperti ayah, kata Ibu tempat
favorit ayah duduk di kafe Merah Kuning Biru adalah di Meja nomor 7 dan
ternyata adalah tanggal lahir ayah, singkat cerita mereka pacaran dan menikah
sampai sekarang. Tetap saja bagiku ayah adalah sosok laki-laki yang menyebalkan
karena sifatnya sangat aku tidak senangi.
Sekarang aku juga kuliah di Universitas Mulawarman sama
seperti ayah dan Ibu dan bahkan memilih Fakultas dan Jurusan yang sama seperti
mereka, dan itu adalah paksaan ayah, lagi-lagi ayah dengan hak otoriternya
dikeluargaku, aku tidak memiliki saudara, ingin rasanya aku memiliki saudara,
mungkin saja ayah tidak akan se-Otoriter ini. Hari itu adalah malam Valentine,
Rio pacarku mengajakku untuk merayakan malam Valentine bersamanya dan tentu
saja Ayah tidak akan setuju, ayah sudah tidak merestui hubungan kami berdua
karena menurutnya Rio anak yang tidak tahu sopan santun, bagiku ayah saja yang
terlalu kolot dan ketinggalan zaman. Malam itu aku sudah mengatur rencana untuk
pergi diam-diam dengan Rio dan akhirnya berhasil, aku sangat mencintai Rio
bagiku dia adalah sosok lelaki idaman setidaknya dia tidak pemarah seperti
Ayah.
Malam itu aku pulang pukul 02.00 dini hari, aku rasa aman
karena ruang tamu gelap dan kurasa ayah sudah tidur, ketika aku menutup pintu
rumah, lampu seketika menyala dan ternyata sudah ada Ayah di depanku, dengan
wajahnya yang memerah dan matanya yang tajam seperti seekor harimau yang ingin
menerkam mangsanya di depan mata.
Malam itu berlalu
dengan amarah ayah yang memekakkan telinga.
Hanya saja ayah tidak
pernah melakukan kontak fisik ketika marah padaku, tetap saja suaranya yang
keras cukup membuatku sedih dan marah.
Pagi itu, Ibu meminta aku membantunya membersihkan Gudang di
Samping Rumah, Gudang itu sudah cukup tua dan tidak pernah sekalipun aku mampir
kesana, kecuali terakhir ketika kecil aku pernah menyimpan barang-barangku yang
sudah tidak terpakai di sana, Ibu memerintahkanku untuk membersihkan gudang
karena gudang itu akan digunakan sebagai ruang perpustakaan keluarga. Semua
barang kukeluarkan tanpa terkecuali. ada yang aneh, aku baru mengetahui ada
sebuah pintu selutut orang dewasa, pintu itu aneh dengan motif-motifnya yang
juga cukup aneh dan asing, entah apa yang memaksaku untuk masuk ke sana, aku
membukanya dengan sangat pelan dan apa yang kuperhatikan?, ramai sekali
suara-suara orang berlalu lalang, dan akupun tertarik untuk masuk ke dalam sana,
tepat di depanku suatu tempat yang mirip kafe dengan corak warnanya Merah
Kuning Biru dan tiba-tiba seperti tempat yang pernah diceritakan Ibu, apakah
mungkin ini adalah tempat favorit ayah dulu ?, tapi kenapa suasananya sangat
asing dan seperti ketinggalan jaman sekali. Aku masuk kedalam kafe itu dan mataku
langusng ke seorang lelaki yang duduk di meja nomor 7, cukup tampan dan
kelihatan cuek, saat itu hanya aku dan lelaki itu yang duduk sendiri di meja
berbeda, aku penasaran dengan laki-laki itu, aku mengambil posisi duduk tepat
dibelakangnya, seketika aku mendengar wanita yang duduk di Meja tidak jauh dari
mejaku berbincang seperti ini,
“kamu tau cowok itu gak?, meja nomor 7, sekelasku, sekelas
tidak ada yang berani negur dia, soalnya dia itu aneh, ngomong aja jarang, jadi
satu kelas ogah dekat dia”, kata
perempuan itu.
Entah kenapa, aku sangat yakin lelaki itu adalah ayah, sangat
mirip hanya saja tampak muda dan segar, aku merasa cukup jengkel dengan
perkataan wanita yang sudah berbicara seperti itu tentang ayah, tapi tidak jadi
soal menurutku, aku rasa aku harus kembali kegudang dan membereskan pekerjaanku
aku takut ayah marah lagi, tapi aku harus ke kasir dan membayar pesanan lelaki
yang mirip Ayah itu, hitung-hitung membantunya, setelah itu aku kembali ke
Gudang. Hal itu kuulangi keesokan harinya dan lagi aku membayar pesanan lelaki
yang mirip Ayah itu dan pergi lagi, begitulah terus yang kulakukan dan kurasa
aku mulai menyukai lelaki itu.
Keesokan harinya aku kembali lagi ke Kafe Merah Kuning Biru
itu, dan anehnya Lelaki itu seperti mengawasi pintu masuk kafe, seperti mencari
seseorang, aku yakin dia mencariku, sesekali dia lengah dan aku berhasil masuk
dan duduk di depannya, aku menegurnya dengan mengatakan “cari siapa? Hayoo
siapa ?”, aku mendengarnya menjawab dengan emosi tapi aku rasa aku sudah
terbiasa dengan emosi ini sangat familiar, bahkan aku tidak merasa jengkel,
bahkan aku rindu dengan ayah, ketika
lelaki itu sibuk dengan emosinya
kemudian aku menulis dikertas,
“Terima Kasih sudah menjadi ayah yang baik, di sana kami
selalu sayang ayah. Anakmu di masa depan.”
Aku pulang dengan menangis, aku melihat ayah mencari-cariku
dengan wajah sangat khawatir, kemudian aku menghampirinya dan memeluknya,
“maafkan aku ayah”, kataku
“kau kemana saja, ayo makan sayang nanti kamu sakit”, ucap
ayah dengan lembut sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar