Senin, 22 Februari 2016

Menyapa Ayahku



Ayah marah lagi, hampir setiap hari yang terdengar di telingaku hanyalah nada suaranya yang meninggi merobek gendang telingaku, pelan menyinggung sarafku kemudian hanya emosi dan kebencian terhadap Ayah saja yang terasa, hampir setiap hari dan kalimatnya yang tampak manis hanya “Ayo makan sayang, nanti kamu sakit”, dan itupun masih terdengar seperti memarahi. Ah! Aku bosan!, kenapa dia tidak bisa seperti ayah-ayah normal lainnya ?, mungkin dia sudah terlahir sebagai sosok pemarah yang ditugasi Tuhan menjadi perobek telinga dengan amarahnya, aku paling membenci sifatnya yang gampang panik, selalu saja khawatir dan pasti ujung dari sifatnya itu hanya marah dan marah!, iya, hanya itu!.


Ayah seorang penulis, pekerjaannya hanya menghabiskan waktu dengan karya tulisnya sepanjang hari, bahkan, Ibu tidak berani menegur karena kebiasaannya itu, kata Ibu memang harus mengalah, karena ayah dan sifatnya sudah sekeras itu waktu dulu. kadang aku bertanya kepada Ibu, kenapa ayah bisa bertemu dan menikah dengan Laki-laki seperti aya. Dulu kata Ibu mereka di Kampus yang sama di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, dulu mereka sering singgah di Kafe Merah Kuning Biru tempat ayah sering mampir ketika muda dulu, Ibu sudah memerhatikan ayah sejak saat itu, Ibu sudah Tertarik dengan Ayah, selain tampan, katanya ayah sosok laki-laki yang tidak suka melirik wanita apalagi sekedar berbicara dengan wanita, katanya ayah adalah sosok lelaki cuek sehingga Ibu penasaran dengan Ayah, Ibu selalu mengikuti Ayah ketika mampir ke Kafe langganan Ayah, pernah suatu ketika Ayah sering berbincang dengan penjaga kasir Kafe itu dan menunjuk-nunjuk ke arah meja pengunjung hampir tiga hari begitu, sungguh aneh kata Ibu benar-benar kebiasaan yang aneh dari seorang Laki-laki cuek seperti ayah, kata Ibu tempat favorit ayah duduk di kafe Merah Kuning Biru adalah di Meja nomor 7 dan ternyata adalah tanggal lahir ayah, singkat cerita mereka pacaran dan menikah sampai sekarang. Tetap saja bagiku ayah adalah sosok laki-laki yang menyebalkan karena sifatnya sangat aku tidak senangi.

Sekarang aku juga kuliah di Universitas Mulawarman sama seperti ayah dan Ibu dan bahkan memilih Fakultas dan Jurusan yang sama seperti mereka, dan itu adalah paksaan ayah, lagi-lagi ayah dengan hak otoriternya dikeluargaku, aku tidak memiliki saudara, ingin rasanya aku memiliki saudara, mungkin saja ayah tidak akan se-Otoriter ini. Hari itu adalah malam Valentine, Rio pacarku mengajakku untuk merayakan malam Valentine bersamanya dan tentu saja Ayah tidak akan setuju, ayah sudah tidak merestui hubungan kami berdua karena menurutnya Rio anak yang tidak tahu sopan santun, bagiku ayah saja yang terlalu kolot dan ketinggalan zaman. Malam itu aku sudah mengatur rencana untuk pergi diam-diam dengan Rio dan akhirnya berhasil, aku sangat mencintai Rio bagiku dia adalah sosok lelaki idaman setidaknya dia tidak pemarah seperti Ayah.
Malam itu aku pulang pukul 02.00 dini hari, aku rasa aman karena ruang tamu gelap dan kurasa ayah sudah tidur, ketika aku menutup pintu rumah, lampu seketika menyala dan ternyata sudah ada Ayah di depanku, dengan wajahnya yang memerah dan matanya yang tajam seperti seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya di depan mata.
Malam itu berlalu dengan amarah ayah yang memekakkan telinga.
 Hanya saja ayah tidak pernah melakukan kontak fisik ketika marah padaku, tetap saja suaranya yang keras cukup membuatku sedih dan marah.

Pagi itu, Ibu meminta aku membantunya membersihkan Gudang di Samping Rumah, Gudang itu sudah cukup tua dan tidak pernah sekalipun aku mampir kesana, kecuali terakhir ketika kecil aku pernah menyimpan barang-barangku yang sudah tidak terpakai di sana, Ibu memerintahkanku untuk membersihkan gudang karena gudang itu akan digunakan sebagai ruang perpustakaan keluarga. Semua barang kukeluarkan tanpa terkecuali. ada yang aneh, aku baru mengetahui ada sebuah pintu selutut orang dewasa, pintu itu aneh dengan motif-motifnya yang juga cukup aneh dan asing, entah apa yang memaksaku untuk masuk ke sana, aku membukanya dengan sangat pelan dan apa yang kuperhatikan?, ramai sekali suara-suara orang berlalu lalang, dan akupun tertarik untuk masuk ke dalam sana, tepat di depanku suatu tempat yang mirip kafe dengan corak warnanya Merah Kuning Biru dan tiba-tiba seperti tempat yang pernah diceritakan Ibu, apakah mungkin ini adalah tempat favorit ayah dulu ?, tapi kenapa suasananya sangat asing dan seperti ketinggalan jaman sekali. Aku masuk kedalam kafe itu dan mataku langusng ke seorang lelaki yang duduk di meja nomor 7, cukup tampan dan kelihatan cuek, saat itu hanya aku dan lelaki itu yang duduk sendiri di meja berbeda, aku penasaran dengan laki-laki itu, aku mengambil posisi duduk tepat dibelakangnya, seketika aku mendengar  wanita yang duduk di Meja tidak jauh dari mejaku berbincang seperti ini,
“kamu tau cowok itu gak?, meja nomor 7, sekelasku, sekelas tidak ada yang berani negur dia, soalnya dia itu aneh, ngomong aja jarang, jadi satu kelas ogah dekat  dia”, kata perempuan itu.
Entah kenapa, aku sangat yakin lelaki itu adalah ayah, sangat mirip hanya saja tampak muda dan segar, aku merasa cukup jengkel dengan perkataan wanita yang sudah berbicara seperti itu tentang ayah, tapi tidak jadi soal menurutku, aku rasa aku harus kembali kegudang dan membereskan pekerjaanku aku takut ayah marah lagi, tapi aku harus ke kasir dan membayar pesanan lelaki yang mirip Ayah itu, hitung-hitung membantunya, setelah itu aku kembali ke Gudang. Hal itu kuulangi keesokan harinya dan lagi aku membayar pesanan lelaki yang mirip Ayah itu dan pergi lagi, begitulah terus yang kulakukan dan kurasa aku mulai menyukai lelaki itu.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke Kafe Merah Kuning Biru itu, dan anehnya Lelaki itu seperti mengawasi pintu masuk kafe, seperti mencari seseorang, aku yakin dia mencariku, sesekali dia lengah dan aku berhasil masuk dan duduk di depannya, aku menegurnya dengan mengatakan “cari siapa? Hayoo siapa ?”, aku mendengarnya menjawab dengan emosi tapi aku rasa aku sudah terbiasa dengan emosi ini sangat familiar, bahkan aku tidak merasa jengkel, bahkan  aku rindu dengan ayah, ketika lelaki itu sibuk dengan emosinya  kemudian aku menulis dikertas,
“Terima Kasih sudah menjadi ayah yang baik, di sana kami selalu sayang ayah. Anakmu di masa depan.”
Aku pulang dengan menangis, aku melihat ayah mencari-cariku dengan wajah sangat khawatir, kemudian aku menghampirinya dan memeluknya,
“maafkan aku ayah”, kataku
“kau kemana saja, ayo makan sayang nanti kamu sakit”, ucap ayah dengan lembut sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar