Jalan menuju kotamu yang kusebut kepalamu kulalui dengan langkah mantap tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, aku hadapi semak-semak tak bersahabat seperti menghadapi anak laki-laki yang menghadangku ketika aku menolak memberikannya uang jajan dari Ibu.
Yang kutakutkan bukan isi kepalamu (sebenarnya), hanya saja mulutmu sudah berbaur dengan aroma penolakan, terhadap kenangan dan hujan, sedikitnya kutemui diriku dengan rantai yang kau rakit dengan isi kepalamu yang kusut, aku takluk dan tidak bisa apa-apa (sepertinya).
Aku teringat kisah anak perempuan yang tenggelam dalam tidur yang diceritakan oleh Ibu, dan aku tidak percaya waktu itu bahwa cerita itu adalah karangan Ibu yang sangat pintar, Ibu bukan pemarah atau pembenci dia hanya tidak suka anaknya mencicipi masakan paling rumit yaitu penderitaan.
Tapi sekarang, aku berada pada penderitaan yang membahagiakan, yaitu menuju kotamu yaitu kepalamu, kau adalah anak perempuan yang diceritakan Ibu atau bukan, yang kutahu kau adalah anak perempuan yang ditemui Ibu dalam setiap lagu-laguku di kamar mandi, atau yang muntah dalam tidurku dalam bentuk kata-kata, dan Ibu sadar anaknya sudah jatuh cinta, dengan keterbatasan dan nafsu yang sewaktu-waktu menjadi ratu atau candu.
Keesokannya harinya Ibu melarangku mencicipi obat-obatan, minuman keras, dan tidur larut, tapi tidak melarangku menuju kotamu yaitu kepalamu, mungkin Ibu sedang merangkai cerita barunya, bukan untukku, bukan untukmu, untuk cucunya mungkin, ya mungkin.