Senin, 21 Mei 2018

Kotamu Yaitu Kepalamu

Jalan menuju kotamu yang kusebut kepalamu kulalui dengan langkah mantap tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, aku hadapi semak-semak tak bersahabat seperti menghadapi anak laki-laki yang menghadangku ketika aku menolak memberikannya uang jajan dari Ibu.

Yang kutakutkan bukan isi kepalamu (sebenarnya), hanya saja mulutmu sudah berbaur dengan aroma penolakan, terhadap kenangan dan hujan, sedikitnya kutemui diriku dengan rantai yang kau rakit dengan isi kepalamu yang kusut, aku takluk dan tidak bisa apa-apa (sepertinya).

Aku teringat kisah anak perempuan yang tenggelam dalam tidur yang diceritakan oleh Ibu, dan aku tidak percaya waktu itu bahwa cerita itu adalah karangan Ibu yang sangat pintar, Ibu bukan pemarah atau pembenci dia hanya tidak suka anaknya mencicipi masakan paling rumit yaitu penderitaan.

Tapi sekarang, aku berada pada penderitaan yang membahagiakan, yaitu menuju kotamu yaitu kepalamu, kau adalah anak perempuan yang diceritakan Ibu atau bukan, yang kutahu kau adalah anak perempuan yang ditemui Ibu dalam setiap lagu-laguku di kamar mandi, atau yang muntah dalam tidurku dalam bentuk kata-kata, dan Ibu sadar anaknya sudah jatuh cinta, dengan keterbatasan dan nafsu yang sewaktu-waktu menjadi ratu atau candu.

Keesokannya harinya Ibu melarangku mencicipi obat-obatan, minuman keras, dan tidur larut, tapi tidak melarangku menuju kotamu yaitu kepalamu, mungkin Ibu sedang merangkai cerita barunya, bukan untukku, bukan untukmu, untuk cucunya mungkin, ya mungkin.

Jumat, 18 Mei 2018

Menghadapi Hawa Yang Marah

Tidak ada sore yang jatuh, atau angin semilir menerpa rambutmu, tidak ada embun yang menguap, hanya amarahmu yang menguap, pada angin malam kau titipkan rasa marah sambil mengendap-endap mengetuk pintu rumahku.

Aku bangun dengan rambut acak-acakan dan kau tidak akan menyukainya, kau tarik tanganku membawaku tepat di bawah lampu jalan kemuning dan keluarlah kebun binatang di mulutmu.

Ada satu hal yang kupelajari dari perempuan yang sedang marah: dia sedang mencintaimu dengan ragu-ragu, dengan rindu-rindu, dan sedikit malu malu, tentu.

Kamis, 17 Mei 2018

Puisi Kepada Amoral Terkasih

Jatuh cinta pada kesunyian
Adalah menjadi ufuk barat
Tenggelam seperti menyelam
Temaram dan terjadi malam

Menggigil aku dalam sentuhan tangan mudamu yang gerimis, dalam hatimu yang teriris. dalam gelap kau gadis kecil yang mengendap-endap sangat manis

Yang paling sunyi di sini; matamu
Yang paling senyap di sini; suaramu
Setelah itu diriku tertiup di wajahmu menjadi sebuah gelas minuman yang tak berteman.

Jatuh cinta pada kesunyian adalah mereka yang kehilangan keberanian, tapi tetap berkeinginan. Jatuh cinta pada kemauan adalah kekalahan pada kemaluan.