Rabu, 29 Juni 2016

Relasi dan Korelasi Hidup

Malam ini aku jadi saksi hidup
ketika suasana terbangun
menjadi serpihan-serpihan memori,
Merembet secara paksa relung-relung ingatan.
Banyak tawa yang menjadi sekedar omong kosong, dulu sekali. Sekarang menjelma menjadi gurauan menikam alam pikir. Beginilah fenomena manusia menjadi-jadi, jadi apa saja yang penting tidak lepas dari apa yang diperintahkanNya. Dialah sang maha pemaksa, tetapi ada maksudnya.

Herman Mansa
30 Juni 2016

Selasa, 28 Juni 2016

Derai Hujan di Halte itu

Ada hari yang paling suka
Ketika langit perlahan-lahan runtuh
Dan hitam di atasnya,
Mencoba merakit memori demi memori

Gusar di kepalamu
Mencari tempat paling teduh
Di bawah halte pinggir kota
Dan kita dipertemukan di dingin yang sama

Kala itu bibir ini mampu merangkai beragam warna kata
Dengan mesra memecah kebisingan derai hujan
Menusuk celah demi celah bagian terkecil keheningan
Kita terlibat permainan klise tentang cinta dan pertemuan

Ada hari paling menyedihkan
Ketika langit perlahan-lahan cerah
Dan putih di atasnya,
Isyaratkan runtuhnya memori-memori klasik

Perih di hatimu
Mencari tempat yang paling sunyi
Di bawah halte pinggir kota
Kita kembali bertemu

Takdir bermain dengan cerdik
Kita terjebak oleh hujan
Tanpa kata, tanpa pusara aksara
Dan kemudian hilang di telan derai hujan yang memerah

Sebuah perpisahan di Tahun 2015
Teringat kembali, dibawah hujan halte itu

29 Juni 2016

Minggu, 26 Juni 2016

Ketika Sang Hawa Jatuh Cinta

  Sudah dua tahun lebih lamanya Rani tinggal di kota yang berseberangan dengan kota tempat tinggalnya, untuk menempuh bangku kuliah, sebagai seorang anak perempuan satu-satunya dari Ibunya yang ditinggal mati oleh ayahnya, Rani menjadi anak kesayangannya, selain itu Rani tidak mempunya saudara, pernah ada keinginan, waktu Ibunya kawin dulu, untuk memberikan Rani seorang adik laki-laki, tapi itu semua tinggal keinginan saja, semenjak Ayah Rina menderita kanker paru-paru dan beberapa bulan kemudian Ayahnya meninggal dunia dan tinggallah Rina bersama dengan Ibunya, untung saja Ibu Rina adalah seorang wanita yang mampu membaca keadaan dan mampu menemukan solusi untuk keuangan keluarga mereka, dengan bermodalkan keterampilan sebagai mantan juru masak di Restoran sewaktu masih muda menjadi modal keterampilan satu-satunya yang dimiliki oleh Ibu Rina untuk membuat usaha warung makan, dari situlah Ibu Rina sebagai singgle mom dapat menafkahi biaya rumah yang ia sewa dan biaya pendidikan Rina hingga sekarang Rina menempuh bangku kuliah.

  Kemarin lusa Ibu Rina menghubungi Rina dan bercerita tentang anak gadis tetangganya yang hamil di luar nikah, padahal anak gadis itu adalah anak gadis baik-baik yang tidak pernah melanggar perintah orang tuanya, untuk melawan saja, juga adalah hal mustahil bagi anak gadis itu, tapi hal itu tidak menjadi jaminan anak Gadis itu akan hidup tanpa adanya lika-liku dan serentetan masalah yang akan menimpanya, dan masalah baru saja menimpanya, kata Ibu Rina orang tua Gadis itu sangat malu akan peristiwa yang menimpa anaknya padahal anak Gadisnya baru saja menempuh bangku SMA. Tentu saja hal ini menjadi sebuah kekhawatiran bagi Ibu Rina terhadap Rina yang sekarang tinggal di luar kota, Ibu Rina khawatir anak gadis satu-satunya yang ia miliki juga tertimpa hal yang sama. Rina berusaha untuk menenangkan Ibunya, Rina berkata bahwa ia akan menempuh bangku kuliah dengan sungguh-sungguh dan tidak berani untuk menjalin hubungan dengan anak laki-laki dan itu ia lakukan hanya untuk menjaga diri, akhirnya Ibu Rina merasa tenang mendengar pernyataan anaknya, Rina sangat paham apa yang di rasakan oleh Ibunya, terlebih lagi karena ia adalah anak gadis satu-satunya di keluarga timpang tindih itu.

  Semenjak Ayah Rina meninggal dunia Ibu Rina selalu mengawasi secara teliti perkembangan anak gadisnya, Ibu Rina sangat melarang keras anaknya untuk bergaul dengan laki-laki, Rina hanya diperbolehkan untuk berteman dengan anak perempuan dan juga Ibunya sangat teliti mengawasi perkembangan belajar anaknya, ia sangat berharap anaknya kelak menjadi wanita yang cerdas dan berwawasan luas, Ibu Rina sadar sebagai seorang lulusan Sekolah Dasar ia hanya mampu membantu Rina mengerjakan tugas-tugas sekolahnya ketika Sekolah Dasar saja, setelah Rina menempuh sekolah menengah pertama Ibunya telah berhenti membantu Rina menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, dan Rina mau tidak mau berusaha untuk belajar mandiri, dan hal itu membuahkan hasil, Rina mampu menjadi juara kelas berturut-turut hingga ia menempuh sekolah menengah atas, sampai untuk melanjutkan ke bangku kuliah Rina mendapatkan beasiswa, karena kecerdasannya yang tidak bisa di pandang sebelah mata.
_

  Di bangku kuliah Rina berteman dekat dengan Dewi, Dewi adalah teman satu kelas dan satu prodi Rina di bangku kuliah, di kalangan teman-temannya RIna dan Dewi adalah sepasang sahabat yang sangat solid, mereka selalu mendapatkan nilai yang bagus bersama-sama, ikut kegiatan kemahasiswaan yang sama dan juga melakukan segala kegiatan sama-sama juga, bagi Rina Dewi adalah satu-satunya sahabatnya yang sangat mengerti keadaan Rina begitu juga sebaliknya dengan Dewi, Rina kerap kali menceritakan keadaan keluarganya hingga keadaan Ibunya yang sekarang hidup sendiri membiayai pendidikan Rina, walaupun Rina mendapatkan beasiswa tetapi itu tidak cukup untuk membiayai hidupnya yang kompleks sebagai mahasiswi.

  Rina dan Dewi sama-sama memiliki kemiripan yaitu tidak terlalu suka berteman dengan anak laki-laki, Rina sadar bahwa Dewi adalah benar-benar sosok seorang wanita yang ia butuhkan karena disamping kemiripan-kemiripan sifat mereka, mereka sama-sama di latar bekalangi oleh keluarga yang sama-sama kurang mampu, bedanya hanya orang tua Dewi masih utuh dua-duanya hanya saja mereka telah lama berpisah.
_

  Akhirnya tiba masanya Rina dan Dewi lulus kuliah dan menyandang status sebagai sarjana, mereka sangat senang karena mereka dapat menyelesaikan bangku kuliah bersama-sama.

  Pada akhirnya Rina melanjutkan masa depannya bekerja di suatu perusahaan ternama di Kota tempat ia menempuh bangku kuliah, sedangkan Dewi bekerja sebagai Sekertaris Dosen di kampus awalnya ia menempuh bangku kuliah, semenjak itu mereka jarang berkomunikasi satu sama lain seperti ketika masa-masa kuliah.

  Karena rindu yang tidak tertahankan Rina berinisiatif untuk mendatangi Dewi ke Kampus dimana Dewi bekerja sebagai sekertaris Dosen, satu-satunya hal yang Rina ketahui bahwa Dewi menjadi sekertaris Dosen pria yang seusia mereka, walaupun merasa sedikit khawatir karena merasa Dewi pasti sangat terpaksa menjadi sekertaris seorang Dosen pria, karena sebelumnya Rina sadar mereka sama-sama tidak menyukai seorang anak laki-laki, biarpun untuk dekat atau terlibat dalam suatu tim.
_

  Sampailah Rina di kampus yang dulu menjadi tempatnya menempuh kuliah, kampus itu sangat banyak berubah dan perubahannya tidak menghilangkan kenangan-kenangan ketika Rina dulu menempuh bangku kuliah bersama Dewi, baginya kenangan-kenangan itu tidak akan mungkin ia lupakan, dan ia sangat yakin pasti Rina merasakan hal yang sama.

  Ketika Rina mendatangi bagian Resepsionis dan meminta izin untuk bertemu dengan Dewi, Rina dipersilahkan untuk menunggu beberapa saat, Rina tidak sabar untuk bertemu dengan Dewi, ia telah merencanakan untuk menceritakan banyak hal kepada Dewi ketika ia bertemu nanti. Tidak lama kemudian, akhirnya Resepsionis menyampaikan permintaan maafnya karena Ibu Dewi sapaan akrab Dewi sebagai Dosen tidak sedang berada di tempat baru-baru saja Dewi pergi bersama dengan Dosen pria yang menjadi atasannya Dosen pria itu bernama Niko. Akhirnya Rina meninggalkan tempat itu dengan sedikit kecewa, tetapi Rina tetap berpikiran positif pasti karena Dewi sedang menjalankan tugasnya sebagai sekertaris. Akhirnya Rina pulang ke rumahnya.
_

  Dewi terlibat suatu percakapan penting dengan Niko, Niko dan Dewi sedang membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka bulan depan, segala sesuatu telah dipersiapkan, dan beberapa minggu yang lalu prosesi lamaran telah usai terlaksana dan menghasilkan suatu kesepakatan masing-masing keluarga sepakat dan merestui pernikahan mereka dua bulan lagi.

  Ketika sampai pada pembahasan tamu-tamu yang akan mereka undang di pernikahan mereka nanti, tiba-tiba Dewi teringat oleh Rina, ia berencana akan memberitahu Rina secara langsung tentang kabar bahagia itu, Dewi berpikiran Rina adalah satu-satunya teman dekatnya yang akan mengetahuinya lebih dulu.

  Sesampainya di rumah, Dewi menelepon Rina, dan akhirnya RIna mengangkat telepon,
“Halo”, tegur Dewi
“Halo wi!, kamu kemana aja!, aku tadi ke kampus, tapi kamu engga ada!”, jawab Rina
“oh iya?, kenapa kamu engga ngabarin Rin?”
“aku rencana mau kasi Surprize, tapi engga jadi deh, kamu engga ada sih”
“aduh maaf ya Rin, lain kali kalau mau ketemu kamu hubungin aku aja”
“iyaa deh iyaa”
“Rin aku ada kabar bahagia”
“wow, kabar bahagia apa wi?”
“Bulan depan aku menikah dengan Niko Rin, atasanku!, dan kamu adalah teman aku yang duluan tau loh!”
Tiba-tiba Dewi tidak mendengar respon apa-apa dari Dewi,
“Halo .. Halo … RIn, kamu masih di sana?”, tanya Dewi penasaran
“iya wi, aku masih di sini, selamat ya Rin, aku ada kerjaan nih, sori ya aku matikan dulu”
“oh iya Rin, nanti aku antar undangannya, entar aku Line aja kita ketemuan dimana”
“oke”
Tut… tut… tut…, terdengar suara telepon terputus dari handphone Dewi, akhirnya Dewi merasa legah karena sudah menyampaikan kabar bahagianya kepada Rina.
_

  Rina mematikan telepon dari Dewi, mendengar kabar bahwa Dewi akan menikah membuat Rina merasa kecewa, dengan sangat terpaksa Rina mematikan telepon dari Dewi, padahal ia tahu ia sangat merindukan Dewi, mendegar suaranya ketika di telepon saja membuat Dewi sangat bahagia, tetapi kebahagiaan itu hanya terjadi sangat singkat mengetahui Dewi akan menikah dengan atasannya, entah apa yang membuatnya kecewa, seharusnya ia merasa senang mengetahui Dewi akan segera menikah dengan lelaki pilihannya.
_

  Keesokan harinya Rina menelepon Dewi,
“Halo wi”, tegur Rina
“Halo Rin!, gimana? Kita ketemu dimana nih?, lama engga ketemu juga”
“iya wi, kayaknya aku engga bisa datang ke nikahan kamu”
“loh kenapa Rin?, kamu ada keperluan lain?”
“engga ada”
“loh terus kenapa Rin?, kamu kan tau aku nikah”
“justru itu wi”
“kenapa cerita dong?”
“begini wi, aku engga bisa datang ke nikahan kamu karena aku engga tau apa aku masih bisa santai melihat kamu duduk bersama suamimu di pelaminan”
“kenapa begitu?, kamu engga mau aku bahagia Rin?”
“bukan, aku senang kamu bahagia wi”
“atau kamu suka dengan Niko?”
“aku sama sekali engga kenal dengan Niko, justru aku engga suka dengan dia sama sekali!”
“loh, kenapa!?”
“hati aku sakit wi, aku ngerasa kamu udah ngelupain semuanya, ngelupain kenangan-kenangan kita dulu”
“sori Rin aku engga ngerti, bisa kamu perjelas?”
“Aku suka sama kamu wi, bahkan aku selalu nyaman dekat kamu, dari dulu aku udah cinta sama kamu wi!”.

  Lama mereka terdiam satu sama lain dalam keadaan telepon yang masih tersambung, tidak lama kemudian Dewi mengatakan sesuatu kepada Rina,
“sori Rin, selama ini kamu salah, kamu sakit Rin!, jangan pernah hubungin aku lagi!”
Dewi mematikan telepon.
_

  Menjelang hari bahagianya Dewi mendapatkan suatu hal yang membuat dirinya terkejut, sahabat dekatnya selama ini yang ia sangat banggakan ternyata memiliki perasaan yang tidak biasa dengannya, Dewi merasa bersalah atas takdir yang menimpanya dan sahabatnya, cinta menurut Dewi kepada Rina adalah cinta sejati kepada sahabatnya, sahabat sejati yang ia sangat junjung tinggi, tetapi akhirnya Dewi memutuskan untuk mengakhiri persahabatannya dengan Rina.
_

  Rina merasa terpukul, ia merasa hancur, merasa tidak ada lagi artinya ia hidup ketika cinta sejatinya telah meninggalkannya dengan mentah, Rina tidak merasakan suatu kesalahan terhadap apa yang ia rasakan terhadap Dewi, sepanjang malam setelah pernikahan Dewi, Rina selalu merasa kasihan terhadap dirinya dan juga merasa kasihan terhadap kisah cintanya.
_

  Beberapa tahun kemudian terdengar kabar bahwa Dewi terlibat suatu kasus penipuan dan di seret masalahnya ke kantor polisi, Niko suami Dewi melaporkan Dewi ke kantor polisi atas tuduhan penipuan yang membuat keluarga Niko malu dan tidak tahu lagi dimana harus menaruh muka, Dewi wanita yang selama ini menjadi istri Niko ternyata seorang pria menyamar sebagai wanita.

Sabtu, 25 Juni 2016

Untuk Wanita Yang Kusebut Emak.

Aku dan emak sedari pagi berdebat tentang masa depan, aku bilang semua sudah di atur dan sudah dibukakan jalan oleh gusti allah, tapi emak berkata kalau kita hidup santai tanpa usaha hanya berharap dengan jalan gusti allah sama saja kita bermain-main dengan takdir.

Aku dan emak selalu berbeda pendapat, pendapatnya kadang bagus, tapi perlawananku tidak kalah bagus.

Mak, aku sangat paham kita sedang berada pada garis kesulitan, aku sangat paham akulah si anak laki-lakimu yang kau banggakan, pasti kau tidak menyangka aku memilih jalan yang menurutmu aneh, jalan menjadi seorang sarjana sastra.

Kita sering berdebat masalah masa depanku, kupikir semua ada jalan, tapi kau selalu memberi banyak alasan di setiap pembelaanku.

Satu hal yang aku pahami, di balik semua gelisahmu di hari senja, akan menjadi kebahagiaanmu di hari senja. Sayangnya, aku belum menyentuh senja mak, aku masih dini hari, aku masih ingin melihat-lihat dunia.

Semenjak laki-laki yang akrab ku panggil bapak meninggalkan kita, aku belajar untuk tidak sebajingan dia, dengan meninggalkanmu seperti ini.

Aku laki-laki dan dia juga laki-laki, di darahku mengalir darahnya, tapi jangan lupa di darahku juga ada darahmu. Darahmu yang akan terus mendominasi, selamanya akan terus begitu. Kau cukup memberikan kasih sayangmu, maka hal itu yang akan mendorongku untuk memberikan hal serupa kepadamu.

Aku tidak tahu kapan inti hidupmu redup, setidaknya kau harus tahu mak, kau sudah berhasil karena aku menulis ini untuk kita, sekurang-kurangnya aku sudah memikirkan kita.

Dari anakmu yang membingungkanmu

Minggu, 26 Juni 2016

Jumat, 24 Juni 2016

Kita di Kesunyian Masing-masing

Kita di kesunyian masing-masing
Berharap ada kata yang menjuntai tiba-tiba
Di lorong waktu kita berbicara
Dalam diam pun kita sering memaki

Kita di kesunyian masing-masing
Mencoba sedikitpun tidak bergerak
Menatap jam dinding yang diam-diam kosong
Menunggu kita mengeluarkan kata

Kita di kesunyian masing-masing
Mengulur waktu hingga pagi
Menabur rasa hingga memuncak
Memupuk satu demi satu gelisah

Kita di kesunyian masing-masing
Hilang dan musnah semaunya

Kita di kesunyian masing-masing
Berhenti dan berharap, hujan akan turun sebentar lagi

Membasahi hati kita yang kering

Rabu, 22 Juni 2016

Kita dan 'Kita'

     Kemarin hujan dan kau mengeluh
        Kemarin panas dan kau mengeluh
        Kemarin hilang dan kau suruh datang
     Kemarin datang dan kau suruh pulang

Hari ini aku menjadi pawang hujan
Hari esok aku menjadi payung
Hari kemarin aku menjadi angin sepoi
Hari lusa aku menjadi-jadi

      Maumu seperti desiran angin
         Datang terasa, pergi pun terasa
         Maumu seperti hembusan nafas
      Datang tersiksa, pergi pun tersiksa

Aku seperti partikel kecil
Hanya mampu menjadi bagian terkecil
Selamanya akan menjadi kecil
Hingga mati pun akan tetap kecil

           Kita seperti embun dang daun kering
           Terjatuh di tempat yang salah
    Kau berharap sentuhan dingin
    Kuberikan kau sentuhan kasar

          Pada masanya kau jatuh
             Dan aku melepas,
        Kau nampak kesal dari bawah
    Kau tidak melihatku menangis di atas

  Kau adalah mau dan aku adalah keinginan            yang tidak kau inginkan

Kitalah tidak adil sesungguhnya.

Senin, 20 Juni 2016

Ada Pintu yang Terbuka, dan Kita di Depannya

Kita punya tempat yang kita sebut rumah,
Dia punya pintu dan tuas untuk membukanya
Kita punya rasa dan penat untuk dibawa kerumah,
Dia punya jalan keluar dan keinginan untuk membukanya

Kita ketuk ketika sabar, dan kita dorong dengan paksa ketika tidak sabar.

Sabar sedikit kenapa?, kalau misalnya dia bisa ngomong,
Sayangnya kita manusia kosong yang maunya ngomong tapi tidak pikir asal bolong

Kita berdiri tepat di depannya, kalau-kalau di dalam sana kita menunggu, kita kadang tertidur di depannya kalau-kalau dia tidak mau terbuka.

Ketuk tiga kali, sepertinya dia sedang tidur, atau dia melupakanmu dengan simbol-simbol buta.

Selas, 21 Juni 2016
02.18

Sabtu, 18 Juni 2016

Sebenarnya Jatuh Cinta itu Bagaimana?

Ada seseorang pernah berkata begini, “cinta itu original dan cinta itu abadi. Yang membuatnya tidak original dan tidak abadi adalah orang yang sedang menjalankan cinta itu sediri”. Sebagian kita pasti akan setuju dengan kalimat ini, dan sebagian lagi pasti tidak akan setuju begitu saja terhadap kalimat ini, kali ini aku akan menguji secara langsung apa benar statement ini benar atau tidak, tentu saja aku akan mengujinya dengan pengalaman empirisku secara pribadi dan kutekankan sekali lagi ini adalah sudut pandangku.

Banyak orang yang datang di kehidupan kita tentu saja banyak juga yang pergi dalam hidup kita, ini adalah fenomena yang wajar, hidup ini seperti roda dan roda selalu berputar, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan kedatangan seseorang yang spesial menurut kita dan orang itu juga pastinya akan pergi begitu saja, tidak menurut kemauan kita.

Berbicara tentang cinta, banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu begini dan cinta itu begitu, sebenarnya apa pernah kita benar-benar merasa jatuh cinta?, apa tidak sempat terpikir oleh kita bahwa sebenarnya cinta itu adalah produk perasaan rekayasa manusia itu sendiri?, memang rumit, sekurang-kurangnya kita pernah mengalami hal ini.

Ketika ada seseorang yang datang di kehidupan kita tanpa kita inginkan, dan tanpa kita inginkan juga orang ini mulai merembet masuk ke dalam sela-sela kehidupan kita, membuat kita merasa nyaman, membuat kita merasa aman, dan bahkan berangsur-angsur membuat kita tidak dapat terlepas olehnya begitu saja, apakah ini dapat dikategorikan sebagai cinta?, mungkin sebagian dari kita akan mengatakan bahwa hal ini adalah cinta, bisa juga sebagian kita mengatakan hal ini adalah hal biasa dan sering terjadi. Aku tertarik membahas yang terakhir yaitu, “hal itu biasa dan sering terjadi”, aku sangat yakin banyak orang yang menjadikan kalimat itu sebagai kalimat pembelaan dan menggunakan kalimat itu sebagai kalimat untuk membuat diri merasa terhibur dikala kehilangan sebuah cinta.

Satu-satunya masalah dari kalimat barusan adalah, kalau kita merasa hal itu biasa terjadi, kenapa kita sering mengalaminya berulang-ulang kali?, mungkin sebagian pernah dan sebagian lagi tidak, tapi aku lebih tertarik untuk membahas dari yang sebagian pernah mengalaminya.

Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai entah bagaimana caranya, entah orang yang kita cintai merasa bosan, entah orang yang kita cintai merasa kita sudah tidak berguna baginya, entah apapun itu, di sinilah cinta menjadi sesuatu yang bernilai ‘jahat’. Semua hal akan menjadi penjahat pada waktunya, tidak terkecuali cinta itu sendiri.

Kapan cinta itu menjadi menyenangkan?

Jawabannya adalah ketika cinta itu memberikan apa yang kita inginkan, lebih tepatnya ketika cinta memberikan kita suatu ketergantungan dan kita merasa ketergantungan ini sangat membahagiakan. Kita mengenal seseorang dan seseorang ini menjadi begitu spesial, kita akan merasakan kebahagiaan dari produk cinta apabila seseorang ini membalas cinta kita. Dan ketahuilah semua orang bisa berubah, suatu saat orang itu akan meninggalkan kita begitu saja, begitu mudahnya tanpa rasa bersalah, dan secara tiba-tiba kita akan berubah menjadi orang yang sangat egois, kita tidak merelakan kepergiannya, kita marah, kita ingin berontak, dan kita merasakan keinginan yang sangat kuat untuk mempertahankan seseorang itu tanpa memikirkan perasaannya kepada kita, apakah kita sadar?, pelan-pelan kita sudah menjadi penjahat. Yang awalnya kita merasa bahwa penjahat yang sebenarnya adalah dia yang meinggalkan kita dan kita adalah korban dari kejahatannya, kemudian secara tiba-tiba kita memiliki hasrat untuk mempertahankannya. Ketahuilah, apabila hasrat itu kita teruskan maka kita sudah menjadi penjahat yang sesungguhnya, bahkan bisa menjadi penjahat yang lebih jahat dari orang yang awalnya meninggalkan kita.

Aku

Aku pernah jatuh cinta kepada seseorang, usianya lebih tua dariku, tapi itu bukan hal yang menghalangi sebuah cinta, cinta itu buta. Kami sama-sama berusaha saling membahagiakan, kami sama-sama mencoba untuk melengkapi satu sama lain, sampai kami lupa ternyata diantara kami sedang terikat pada sesuatu yang lain, lebih jelasnya salah satu dari kami terikat oleh cinta yang lain, dan hasrat berkata “kita juga memiliki cinta yang lain”, yang lain disini adalah cinta antara aku dan dia saat itu juga. Ironis.

Pertanyaan terbesarnya adalah : apakah cinta memiliki batasan untuk mencinta?. Sebagian orang akan berpikir apabila kita dicintai oleh seseorang, maka orang itu sepenuhnya adalah milik kita, jadi bagaimana kalau kita juga mencintai orang lain selain dia?, apakah masih bisakah kita dikatakan memiliki hak sepenuhnya terhadap orang yang awalnya kita cinta sebelum kita mencintai orang lain?, lihat!, batapa egoisnya kita memainkan cinta.

Melepas, merelakan, meninggalkan, mengubur dalam-dalam adalah hasil dari cinta yang egois, cinta yang menggunakan hasrat utama dalam memulainya.

Aku belajar sesuatu yang penting, setiap kita pasti memiliki cinta dan perasaan kepada satu orang saja dan selamanya adalah orang itu saja, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan mencoba membuka hati kepada orang-orang yang datang di kehidupan kita, bagaiamana dengan orang yang benar-benar kita cinta di awal tadi?, aku menjadikannya sebuah tujuan, memang jahat, tapi tidak selamanya jahat apabila kita mengatasnamakan itu sebagai proses menuju bahagia.

Cinta adalah reaksi, cinta adalah candu, kita adalah yang bereaksi dan kita yang menjadi pecandu.

Yang cinta ketahui hanyalah : dia murni, dan dia suci.

Yang cinta ketahui tentang kita adalah : kita manusia, kita manusiawi, kita dengan gampang dapat meminjam konsep cinta, tapi seenaknya dapat menodai kemurnian cinta itu sendiri.

Kita adalah penjahat yang sebenarnya, kit adalah masalah yang sebenarnya. Kita bebas memiliki cinta, tapi apakah kita berdosa telah menghilangkan kemurnian cinta itu sendiri?. Jawabannya tentu ada di diri kalian sendiri.

Open your mind and fix your heart.

Sebenarnya Jatuh Cinta itu Bagaimana?

Ada seseorang pernah berkata begini, “cinta itu original dan cinta itu abadi. Yang membuatnya tidak original dan tidak abadi adalah orang yang sedang menjalankan cinta itu sediri”. Sebagian kita pasti akan setuju dengan kalimat ini, dan sebagian lagi pasti tidak akan setuju begitu saja terhadap kalimat ini, kali ini aku akan menguji secara langsung apa benar statement ini benar atau tidak, tentu saja aku akan mengujinya dengan pengalaman empirisku secara pribadi dan kutekankan sekali lagi ini adalah sudut pandangku.

Banyak orang yang datang di kehidupan kita tentu saja banyak juga yang pergi dalam hidup kita, ini adalah fenomena yang wajar, hidup ini seperti roda dan roda selalu berputar, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan kedatangan seseorang yang spesial menurut kita dan orang itu juga pastinya akan pergi begitu saja, tidak menurut kemauan kita.

Berbicara tentang cinta, banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu begini dan cinta itu begitu, sebenarnya apa pernah kita benar-benar merasa jatuh cinta?, apa tidak sempat terpikir oleh kita bahwa sebenarnya cinta itu adalah produk perasaan rekayasa manusia itu sendiri?, memang rumit, sekurang-kurangnya kita pernah mengalami hal ini.

Ketika ada seseorang yang datang di kehidupan kita tanpa kita inginkan, dan tanpa kita inginkan juga orang ini mulai merembet masuk ke dalam sela-sela kehidupan kita, membuat kita merasa nyaman, membuat kita merasa aman, dan bahkan berangsur-angsur membuat kita tidak dapat terlepas olehnya begitu saja, apakah ini dapat dikategorikan sebagai cinta?, mungkin sebagian dari kita akan mengatakan bahwa hal ini adalah cinta, bisa juga sebagian kita mengatakan hal ini adalah hal biasa dan sering terjadi. Aku tertarik membahas yang terakhir yaitu, “hal itu biasa dan sering terjadi”, aku sangat yakin banyak orang yang menjadikan kalimat itu sebagai kalimat pembelaan dan menggunakan kalimat itu sebagai kalimat untuk membuat diri merasa terhibur dikala kehilangan sebuah cinta.

Satu-satunya masalah dari kalimat barusan adalah, kalau kita merasa hal itu biasa terjadi, kenapa kita sering mengalaminya berulang-ulang kali?, mungkin sebagian pernah dan sebagian lagi tidak, tapi aku lebih tertarik untuk membahas dari yang sebagian pernah mengalaminya.

Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai entah bagaimana caranya, entah orang yang kita cintai merasa bosan, entah orang yang kita cintai merasa kita sudah tidak berguna baginya, entah apapun itu, di sinilah cinta menjadi sesuatu yang bernilai ‘jahat’. Semua hal akan menjadi penjahat pada waktunya, tidak terkecuali cinta itu sendiri.

Kapan cinta itu menjadi menyenangkan?

Jawabannya adalah ketika cinta itu memberikan apa yang kita inginkan, lebih tepatnya ketika cinta memberikan kita suatu ketergantungan dan kita merasa ketergantungan ini sangat membahagiakan. Kita mengenal seseorang dan seseorang ini menjadi begitu spesial, kita akan merasakan kebahagiaan dari produk cinta apabila seseorang ini membalas cinta kita. Dan ketahuilah semua orang bisa berubah, suatu saat orang itu akan meninggalkan kita begitu saja, begitu mudahnya tanpa rasa bersalah, dan secara tiba-tiba kita akan berubah menjadi orang yang sangat egois, kita tidak merelakan kepergiannya, kita marah, kita ingin berontak, dan kita merasakan keinginan yang sangat kuat untuk mempertahankan seseorang itu tanpa memikirkan perasaannya kepada kita, apakah kita sadar?, pelan-pelan kita sudah menjadi penjahat. Yang awalnya kita merasa bahwa penjahat yang sebenarnya adalah dia yang meinggalkan kita dan kita adalah korban dari kejahatannya, kemudian secara tiba-tiba kita memiliki hasrat untuk mempertahankannya. Ketahuilah, apabila hasrat itu kita teruskan maka kita sudah menjadi penjahat yang sesungguhnya, bahkan bisa menjadi penjahat yang lebih jahat dari orang yang awalnya meninggalkan kita.

Aku

Aku pernah jatuh cinta kepada seseorang, usianya lebih tua dariku, tapi itu bukan hal yang menghalangi sebuah cinta, cinta itu buta. Kami sama-sama berusaha saling membahagiakan, kami sama-sama mencoba untuk melengkapi satu sama lain, sampai kami lupa ternyata diantara kami sedang terikat pada sesuatu yang lain, lebih jelasnya salah satu dari kami terikat oleh cinta yang lain, dan hasrat berkata “kita juga memiliki cinta yang lain”, yang lain disini adalah cinta antara aku dan dia saat itu juga. Ironis.

Pertanyaan terbesarnya adalah : apakah cinta memiliki batasan untuk mencinta?. Sebagian orang akan berpikir apabila kita dicintai oleh seseorang, maka orang itu sepenuhnya adalah milik kita, jadi bagaimana kalau kita juga mencintai orang lain selain dia?, apakah masih bisakah kita dikatakan memiliki hak sepenuhnya terhadap orang yang awalnya kita cinta sebelum kita mencintai orang lain?, lihat!, batapa egoisnya kita memainkan cinta.

Melepas, merelakan, meninggalkan, mengubur dalam-dalam adalah hasil dari cinta yang egois, cinta yang menggunakan hasrat utama dalam memulainya.

Aku belajar sesuatu yang penting, setiap kita pasti memiliki cinta dan perasaan kepada satu orang saja dan selamanya adalah orang itu saja, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan mencoba membuka hati kepada orang-orang yang datang di kehidupan kita, bagaiamana dengan orang yang benar-benar kita cinta di awal tadi?, aku menjadikannya sebuah tujuan, memang jahat, tapi tidak selamanya jahat apabila kita mengatasnamakan itu sebagai proses menuju bahagia.

Cinta adalah reaksi, cinta adalah candu, kita adalah yang bereaksi dan kita yang menjadi pecandu.

Yang cinta ketahui hanyalah : dia murni, dan dia suci.

Yang cinta ketahui tentang kita adalah : kita manusia, kita manusiawi, kita dengan gampang dapat meminjam konsep cinta, tapi seenaknya dapat menodai kemurnian cinta itu sendiri.

Kita adalah penjahat yang sebenarnya, kit adalah masalah yang sebenarnya. Kita bebas memiliki cinta, tapi apakah kita berdosa telah menghilangkan kemurnian cinta itu sendiri?. Jawabannya tentu ada di diri kalian sendiri.

Open your mind and fix your heart.

Jumat, 17 Juni 2016

Keabadian

Di bahu aliran penuh kehidupan aku terduduk sunyi. Aku menghargai, menghormati, dan terbawa kedalam bahasa tanpa aksara, hanya kesunyian sembari aliran ini memberikan lantunan indah. Membisu adalah anugrah yang paling kuhargai atas kuasa-Nya terhadap dunia ini, ya, membisu itu indah. Tapi aku terduduk di bahu ini bukan karena tanpa alasan. Aku hanya ingin bersandar sebentar atas perlakuan hidup yang semena-mena. Aku hanya ingin mendengar nasihat, cerita, dan apapun itu sebutannya disini, ya, tanpa aksara, tanpa suara yang lantang, hanya lantunan kecil. Aku, aku, dan aku, ya, aku ingin sesekali egois, bersandar pada bahu yang tak ingin lagi bebannya bertambah. Cukup sudah ia melewata aral yang memberikannya arus hingga sampai pada muara yang menjadikannya entah apa. Namun ia melewatinya dengan gemulai, meskipun ia tidak mengetahui apa yang ada disana, dan menjadikannya apa kelak. Sekali lagi izinkan aku, saya, apapun itu sebutannya untuk menghargai kuasa-Nya, bahwa membisu itu anugrah. Bukankah sangat indah menghargai bahasa tanpa aksara satupun didalamnya, hanya kesunyian dengan sedikit lantunan didalamnya, tapi kita saling mengerti satu sama lain. Mengerti akan apa yang sedang dilalui dan berbagi bahu bersama tanpa aksara, tanpa bertukar bahasa, hanya kebisuan.

Sudah cukup keegoisanku dengan segala bahasa apapun itu dalam hati dan pikiran ini. kini saatnya aku membisu dan mendengar apa yang dialami oleh aliran penuh aral ini. Terlalu sulit mungkin, sebut saja ia sungai. Sungai yang telah mengalir dari kelahiranku hingga entah sampai kapan ia akan terus mengalir. Batu-batu kecil di bahunya maupun di jantungnya memberikan dinamika atas kehidupannya. Namun, ia terus mengalir tak kenal aral, justru semakin memperindah wajahnya untuk terus dipandangi dalam kebisuan. Ia tidak pernah menolak kehadiranku di bahunya yang sudah penuh beban ini. Justru, mungkin semakin memperindahnya sesekali jemari kakiku memasuki tubuhnya. Menukar kebisuanku dengan entah apa itu sebutan yang membuat jiwaku tenang. Namun, siapakah aku berani menyetubuhinya, aliran yang suci ini terkotori oleh badan dan jiwa ini. Sesekali aku meminta izin untuk membasuh wajah ini sewajarnya. Sesekali aku kurang ajar dengannya dengan sengaja menambah aral di jantungnya dengan melempar batu berharap akan diberi ceramah olehnya. Namun balasan yang kudapat hanyalah kebisuan tanpa jamahan tangan. Sesekali juga aku memberikan setetes kehidupanku melalui aliran di pipi.

Bahasanya tidak ber-aksara, tidak juga lantang, dan tidak bisa diartikan dengan aksara ataupun suara, hanya kebisuan yang bisa memahaminya. Keabadian menjadi sebuah pengukuhan keagungannya, keperkasaannya. Perkasa atas tak kenal aral, perkasa atas menopangku di bahunya, dan abadi akan jati dirinya yang tak ingin bersatu dengan lautan yang menjadi muaranya.

Hingga suatu saat, ketika kutelusuri tubuhnya, ada suatu hal yang membuatku tersadar bahwa ada yang lebih perkasa darinya, yaitu batu besar yang tertanam di jantungnya, membelah aliran arusnya. Sejak saat itu, aku bisa menjamahnya, memeluknya, menyentuh jantungnya tanpa harus kusetubuhi, melalu batu ini aku terduduk diatasnya. Banyak kisah dan asa yang kuceritakan kepadanya, ya, tanpa bahasa, tanpa aksara, hanya dengan kebisuan aku menyampaikannya. Aku yakin, ia tau dan dapat merasakan semuanya, karena aku telah bersatu dengannya dan dengan batu ini. Sesekali terlintas di pikiran, apakah keperkasan batu ini abadi, ataukan hanya aral dalam aliran ini yang suatu saat akan hilang.

Hingga suatu saat, ketika aku ingin menemuinya, kudapati keperkasaan batu itu telah sirna. Disirnakan oleh pahatan retak yang ada di kulitnya. Entah dikarenakan aliran yang tidak mampu dikuasai oleh keperkasaannya atau ada seseorang yang dengan sengaja menyingkirkannya dari kehidupan sungai ini. Entah juga sampai kapan ia mampu bertahan lagi berada di jantung sungai ini. Dan kini, aku kembali berada di bahunya, tidak mampu untuk lebih menyirnakan aral yang ada di jantungnya.

Sesekali terlintas dalam pikiran, apakah batu itu tidak abadi, ataukah hanya aliran ini yang abadi, kekuatan apa yang mematahkan keperkasaannya dan menjadikannya dua buah yang kini memiliki kehidupannya masing-masing. Yang nantinya, entah ia tetap berada di tempat itu ataupun terbawa arus aliran sungai ini dan terdampar entah dimana ataupun terbawa hingga ke muaranya.

Kusadari, batu itu sisa setengah dan yang setengahnya lagi telah terbawa aliran, atau batu itu telah mempunyai kehidupannya masing-masing di tubuh sungai ini. Hingga aku beranikan diri untuk menjadi pengganti sebagian tubuh batu itu di jantung sungai ini. Meskipun aku tau, aku tidaklah seperkasa batu ini dan seabadi sungai ini. Aku hanya ingin melengkapi mereka, melengkapi kebisuan ini.

Hingga sekarang umurku yang sudah tidak lama lagi bisa bersandar pada bahu aliran ini. Dan kedua batu itu telah hilang dari pandanganku. Entah apa yang terjadi pada mereka kelak dan sungai ini. Yang aku yakini, sungai ini abadi selama hidupku, meskipun entah nantinya keabadiannya telah sirna. Bukan karena aku meninggalkan dunia ini, karena aku harus berhadapan langsung dengan aliran kehidupan yang sebenarnya. Aku tidak bisa selamanya berbagi kisah dengannya, tapi mungkin suatu saat nanti, ketika aku telah menjelma seperti dirinya, yang menjadi sandaran bagi jiwa-jiwa rapuh lainnya. Aku berharap keperkasan batu itu dan keabadian sungai ini bisa kuteruskan pada jiwa-jiwa yang tidak sempat bertemu dengan mereka. Dan pada saat itu, aku ingin dengan bangga membagi cerita dengan kalian, sekali lagi.

Sudah berapa kali bumi ini telah mengitari matahari dan sudah berapa purnama terlewatkan, aku telah menerjemahkan kebisuan yang membasuh jiwaku dengan kalian menjadi bahasa yang bisa dipahami oleh jiwa-jiwa yang membutuhkan kalian, dengan aksara, dan dengan suara yang lembut tidak kalah dengan kelembutan lantunanmu dulu. Kini aku ingin bertemu denganmu sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya juga, sebelum aliran kehidupan yang sesungguhnya membawaku ke muara akhir hidup ini.

Aku menyusuri jalan yang sudah samar-samar dalam ingatanku, menuju salah satu hal yang abadi dalam kehidupan ini. Batu-batu kecil di bahu alirannya kini sudah banyak tidak kukenali. Dan keabadiannya yang kukenali juga sudah tidak nampak pada ujung mataku, sungai yang begitu perkasa dan abadi sudah tidak ada lagi. Kutelurusi bekas tubuhnya hingga ke muara terakhirnya.
Di akhir hidupnya ia masih sempat memberikan pesannya padaku, pada diri yang sudah tidak mengakui adanya keperkasaan dan keabadian. Di ujung muaranya, aku mendapati batu yang telah kukenal lama, meskipun tubuhnya sudah tergerus dan menjadi lebih kecil. Batu yang telah menemani diriku dan sungai ini di masa dulu berbagi kebisuan. Kembali bersanding antar pungung keduanya. Dan kini, mereka benar-benar abadi, tanpa aliran, tanpa arus, memeluk erat tanpa bisa bersatu kembali.

 

Fafa,

Bontang, Sabtu 18 Juni 2016 2:20

Rabu, 15 Juni 2016

Matahari dan Segelas Kopi Pagi

Kamu tau apa yang paling aku tunggu di pagi hari?
Sederhana saja, aku menunggu matahari yang malu-malu mengintip dunia, mengendap-ngendap kemudian menetap di celah gunung

Kamu tau apa yang paling aku tunggu di pagi hari?
Sederhana saja, aku menunggu segelas kopi yang mau tidak mau menemaniku menunggu pagi

Mereka teman yang akrab denganku, karena aku cukup setia menunggu mereka

Menunggu matahari yang mengintip dan menunggu segelas kopi untuk menjadi pemantik

Kamu tau, apa yang paling sering ditanyakan oleh matahari pagi kepadaku?, apa kamu ingin tau apa yang paling sering ditanyakan oleh segelas kopi pagi kepadaku?

Sangat sederhana, tetapi sangat membingungkan

Mereka menanyakan,

"kemana wanita yang menemanimu, menikmati pagi?"

Aku menjawab,

"Ia sedang menemani seorang lelaki yang juga menunggu kalian sedari malam"

Malang sekali.

Herman Mansa
16 Juni 2016

Senin, 13 Juni 2016

Kota Kecil yang disebut Rumah

Kota kecil yang disebut rumah

Kota kecil penuh perjuangan, meniti awalan hidup disini.
Kota kecil penuh kenangan, merajut kisah suka-duka disini.
Kota kecil penuh pengembangan, mencari jati diri disini.
Kota kecil penuh warna, merasakan cinta hingga persahabatan disini.

Tetaplah menjadi rumah, tempat pertemuan sebuah momen nanti.
Tetaplah menjadi rumah, tempat bertukar kisah nanti.
Tetaplah menjadi rumah, tempat mencari kehangatan di dinginnya angin hidup nanti.
Tetaplah menjadi rumah, tempat mengingat jati diri sebenarnya nanti.

Rumah yang memberikan ruang bertemu rindu hingga berbagi kisah.
Rumah yang tak berdinding beratap langit beralaskan darah.
Rumah yang berpondasi segala kenikmatan dan kebangsatan kisah.
Rumah yang gagah berdiri tanpa bentuk

Lihat huruf 'i' itu, menjadi elemen penting dalam hidup, kisah, cerita, cinta, jati diri, dan rindu.
Lihat huruf 'i' itu, dengan titik diatas mengharap tidak pernah berhenti menjadi tempat momen kebersamaan.
Lihat huruf 'i' itu, arti penting dari sebuah kita.
Lihat huruf 'i' itu, tempat semua berawal, dari diri sendiri menjadi kita bukan?

Tetaplah menjadi alasan hidup bagi kami.
Tetaplah menjadi tujuan kepulangan kami.
Tetaplah menjadi kehangatan bagi kami, dan
Tetaplah menjadi kota kecil yang kami sebut rumah.

Fafa,
Bontang, Selasa 14 Juni 201600:28

Kami dan Cerita yang berserakan

Di bawah remang-remang lampu jalan cahaya-cahaya kendaraaan menjadi teman yang hangat menemani kami berempat untuk duduk di samping jalan sambil menikmati segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok akhirnya kami berkumpul kembali, anak-anak yang mengantongi pengalamannya masing-masing, pengalaman yang sengaja kami kemas menjadi sebuah cerita yang manarik untuk mereka suguhkan menjadi pelengkap kopi, rokok dan keramaian jalan.

Dulunya kami anak-anak yang menempuh sekolah menengah atas di kota kecil ini, kota Bontang namanya sebuah kota industri yang cukup ramai ketika jam kerja saja, ketika malam hari juga tidak kalah ramai, para warga-warga kota menjelma menjadi pasukan-pasukan pengincar kenikmatan malam dengan duduk bersantai di sebuah angkringan hanya untuk bertukar cerita di sana, kami berada pada suasana itu.

Ini adalah agenda rutin kami, biasanya kami memanfaatkan waktu liburan dengan bertemu satu sama lain, secara kebetulan kami adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di luar kota, aku pribadi menempuh kuliah di Samarinda, mereka adalah Fafa, Taqin, dan sebenarnya masih banyak lagi, tetapi secara kebetulan mereka belum bisa bergabung malam itu karena mereka masih memiliki urusan di kota rantauan mereka masing-masing, tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk menciptakan momen pertemuan dan saling tukar cerita.

Fafa adalah teman seangkatanku waktu SMA dan sekarang ia menempuh kuliah di Kota Balikpapan, dan Taqin adalah teman yang satu tingkat di bawah aku dan Fafa, Taqin juga menempuh kuliah di Balikpapan. Malam itu hanya aku sendiri yang berkuliah di Samarinda, jarak antara kota Samarinda dan Balikpapan kira-kira 3 jam perjalanan menggunakan transportasi umum ataupun pribadi.

Malam ini kami bertukar cerita, mulai dari aku, aku menceritakan pengalamanku di Kampusku, mulai dari aku aktif di suatu kegiatan Teater dan kegiatan-kegiatan yang telah aku laksanakan selama perkuliahan, aku juga bercerita tentang kegiatanku yang suka menulis cerita-cerita, apapun itu, asalkan aku bisa melampiaskan kegelisahanku melalui cerita, dan tentu saja mereka mendengarkan dengan seksama, karena kami mulai terbiasa bercerita ketika SMA, menurut kami cerita itu mahal, dengan adanya orang yang bercerita maka itu adalah suatu hal yang tidak boleh terlewatkan sama sekali, mumpung gratis.

Kemudian giliran Fafa yang bercerita, ia bercerita seputaran kegiatannya di kampusnya, ia aktif pada kegiatan-kegiatan di kampusnya, khususnya ia selalu menjadi bagian dari tim dokumentasi acara-acara kegiatan, ia bercerita tentang proyek-proyek yang sedang ia kerjakan, dan bahkan ada proyek yang sangat terpaksa ia harus bawa pulang ke Bontang untuk dikerjakan, baginya itu tidak masalah karena ia menyukainya, ia tipe orang yang sangat menyukai dunia yang berhubungan dengan multimedia, dan uniknya karena hobinya membuat video, ia sering ditunjuk untuk membuat suatu proyek video dokumentasi setiap kampunya mengadakan acara, menutuku ia cukup sibuk tetapi aku yakin ia sangat menyukai itu, aku mengenalnya dari SMA, memang kegiatan-kegiatan seperti itu yang menjadi makanannya.

Terakhir adalah Taqin, karena ia yang paling muda di antara kami, tentu saja ia juga mempunyai pengalaman yang tidak kalah seru, selain bercerita tentang pengalaman pertamanya mengenal dunia perkuliahan, ia juga bercerita bahwa kini ia aktif di sebuah proyek bengkel di kampusnya, dan aku rasa ia sangat menikmati hal itu, tidak pula aku lewatkan pertanyaan-pertanyaan tentang otomotif dan semua hal yang berkenaan tentang kendaraan bermotor.

Setelah bertukar pengalaman tentang dunia kampus dari masing-masing kami, kami beralih kee topic yang lain, tapi entah mengapa pengalihan topik ini sungguh tidak sengaja, kami beralih pada topik tentang problematika dan suka duka ketika kami berkegiatan di masing-masing kampus kami, pertama-pertama aku bercerita bahwa kampusku adalah kampus yang sangat muda, usianya belum mencapai sepuluh tahun, masih berjalan enam tahun, dan kampusku mulai ramai dipadati oleh kegiatan-kegiatan organisasi, begitu juga dengan Fafa dan Taqin, kampus mereka sama-sama kampus yang juga baru-baru berdiri, dan kampus mereka masih dalam tahap perkembangan dan secara kebetulan suka duka kampus kami masing-masing memiliki kemiripan, yaitu sama-sama masih tahap peerkembangan dan juga seringnya terjadi sentiment-sentimen dari masing-masing organisasi serta sentiment-sentimen masing-masing mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jati diri masing-masing.

Aku sampai dapat menarik kesimpulan sederhana, sepertinya kami sebagai anak-anak yang menyandang status sebagai mahasiswa cukup di untungkan karena sedari dini,  kami sudah dihadapkan pada masalah-masalah dan dijauhkan pada zona nyaman, dan kami sangat sepakat bahwa hal inilah nantinya akan menjadi pemicu kami untuk berkembang, pada momen-momen seperti ini, kami selalu terjun pada percakapan-percakapan serius, hal ini sangat bermanfaatkan menurutku, setidaknya, kami telah menyesuaikan usia kami sekarang ini, kini kami bukanlah seorang siswa SMA lagi yang masih suka dengan bersantai dan tidak serius menanggapi dunia luar, kini, kami pelan-pelan terbuka, bahwa di luar sana, ada banyak sekali pengalaman-pengalaman yang menunggu untuk kami cicipi, aku sangat berharap kami akan menjadi manusia-manusia yang dapat menempatkan diri di era manusia modern ini, kami sebisa mungkin sangat menjunjung tinggi apa arti sebuah makhluk sosial, karena pada jaman kekinian ini, sangat jarang sekali kami menemukan komunikasi-komunikasi verbal antar manusia satu dengan yang lainnya yang berjalan secara langsung, kini, komunikasi-komunikasi verbal telah berganti media menggunakan sosial media. Sebisa mungkin kami menghindari hal-hal itu, jaman boleh berubah tetapi, cerita tetaplah cerita tidak asik sekiranya cerita hanya disampaikan melalu media sosial.

Kami mempunyai kebiasaan unik, setiap kami berkumpul sebisa mungkin kami menyimpan gadget-gadget kami, sangat dilarang keras berkumpul dan sesekali melirik gadget kami. Setidaknya mereka belum berubah, merka masih dan akan selalu menjadi teman-teman yang tetap menjunjung tinggi ap arti makhluk sosial yang sebenarnya.

Teruntuk teman-temanku yang masih memiliki urusan di kota rantauan kalian masing-masing, segerakan diri untuk pulang, karena cerita kalian sangat kami nanti, cerita kalian bernilai mahal, kami sangat membutuhkannya.

Hati-hati sampai kerumah sobat!.

Minggu, 12 Juni 2016

Tim Sukses Dadakan!

Hari ini aku kehabisan duit, kalau anak muda jaman sekarang yang masih belum bekerja pasti minta duit ke orang tua, hal ini sangat berbeda dengan aku pribadi, kalau bisa hal-hal yang seperti itu akan aku hindari, karena apa?, karena kalau minta duit ke orang tua apa jawabannya?, jawabannya akan kira-kira seperti ini, “anak laki-laki kan?, bisa cari duit sendiri kan?”, oke jawaban ini sebenarnya jawaban yang sangat-sangat bisa menjawab semua keresahanku sebagai anak laki-laki yang sedang berjuang untuk kuliah, bukan bekerja!. Karena harapan minta duit ke orang tua kemungkinanya adalah 0,00% mau tidak mau aku harus memutar otak, buat kamu yang tidak megerti maksudnya memutar otak itu apa, sini aku kasi tau, memutar otak itu artinya “mencari jalan lain”, nah jalan lain apa yang aku cari?, nah begini, aku punya saudara perempuan dia lebih tua dari aku, kenapa bisa lebih tua?, Tanya sendiri ke orangnya kenapa bisa lebih tua, secara biologis dia keluar dari rahim emak lebih dulu dari aku, makanya dia lebih tua. Namanya sebut saja Irma (walaupun memang namanya ya itu), ya tidak apa-apa biar panjang aja paragrafnya. Saudara perempuanku yang bernama Irma ini berjenis kelamin perempuan dan sudah punya suami serta sudah punya anak laki-laki, besarnya kira-kira segini, ya segini, kamu kira-kira aja sendiri. Kebetulan hari ini suaminya gajian nah aku berencana kerumahnya dan minta duit, sebenarnya sifat orang tuaku agak mirip dengan saudara perempuanku ini, mereka sama-sama agak sedikit susah kalau dimintain duit, tapi bedanya saudara perempuanku ini kalau dimintain duit harus ada mukadimahnya dulu baru dikasi duit, nah kalau kamu tidak tahu lagi apa itu mukadimah kamu keterlaluan!.

Mukadimah itu kuanggap sebagai pembukaan, lebih kasarnya bertele-bertele, nah, saudara perempuanku ini orangnya begitu, suka bertele-tele, kalau dimintain duit pasti banyak ceramahnya, tapi ujung-ujungnya dikasi duit juga. Menurutku, orang yang suka bertele-tele seperti saudara perempuanku ini adalah tipe orang yang sangat-sangat tidak efektif, ya sederhana sebenarnya, kalau ujung-ujungnya ngasi duit kenapa perlu bertele-tele dulu?, tapi sifat orang pasti beda-beda, termasuk orang tuaku dan saudara perempuanku ini, memang sifatnya agak sedikit sama kalau masalah keuangan, tapi mereka punya cara yang berbeda-beda.
Hari itu sedang sore, kira-kira warna langit sedang jingga, gatau kenapa, dari dulu sih gitu kalau sore warnanya jingga, pernah aku komplain kenapa warnanya jingga, dan aku komplainnya ke penjual bakso yang sering lewat depan rumah, mau tau apa jawabannya waktu aku komplain ke penjual bakso itu? Jawabannya gini, “ya kalau hitam berarti malam mas”, ya betul juga, semua orang berhak memberikan pendapatnya, tinggal kita saja yang kuat-kuatan menerima pendapat mereka. Aku menuju kontrakan saudara perempuanku, pakai motorku, kira-kira kecepatanku waktu naik motor itu 40 km/jam, lambat yah?, tidak apa-apa biar dramatis saja. Nah, sampailah aku di depan pintu kontrakan saudara perempuanku, aku ketuk pintunya sambil ngomong gini, “assalamualaikum!”, kemudian terdengar dari dalam ada suara, begini suaranya, “ga ada duit, datang besok aja!”, eh buset, bener kata orang-orang namanya ikatan persaudaraan itu memang kuat, aku belum menyampaikan maksud kedatanganku dia sudah tau maksudku, aku engga mau kalah, aku nyahut lagi, “tidak ko, ini ada berita”, terus dijawabnya, “berita apa?”, ku jawab lagi, “sekarang Jokowi jadi presiden!”, di jawab lagi, “sudah tau!”, ku jawab lagi, “ini beda, sekarang wakilnya Jusuf kalla”, kedengaran lagi suara dari dalam, “memang dia dari kemaren!”, tidak kehabisan akal ku jawab lagi,

“tapi dia ini beda, buka pintu napa!”

“apanya lagi yang beda!”

“beda ini, Jusuf Kalla yang ini dulunya partai Golkar!”

“memang dari dulu Golkar!”

“tapi ini Golkarnya, warnanya Hijau!”

“warnanya dari dulu kuning!”

Karena menyerah, aku langsung masuk ke tujuan utamaku datang kesana,

“ir, aku minta duit!”

“sudah kubilang, ga ada duit!”

“ini penting Ir!”

“penting apa lagi?”

“penting ir, aku butuh duit jadi Tim sukses Jusuf Kalla”, sambil tetap di tutupin pintu
“tim sukses itu di kasi duit, bukan minta duit!”

Karena hampir menyerah, tiba-tiba aku punya akal lagi, aku ambil HP di kantongku dan pura-pura nelpon,

“Haloo !, maaf pak Jusuf, saya tidak bisa dapat duit sekarang ini! // karena yang punya duit tidak kasi duit pak // apa pak?, tembak mati yang tidak kasi duit pak? // waduh saya tidak bisa pak! // ya karena dia saudara saya satu-satunya pak, saya sayang dia, dia adalah satu-satunya malaikat penolong saya! // aku harap bapak paham! // dia adalah darah daging emak dan bapak yang melahirkan saya dan …., tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata saudara perempuanku muncul dari dalam dan merebut HPku, terus dia ngomongnya gini,

“halo pak jusuf // iya pak ini saya saudaranya dia // begini pak // saya mau bertanya, kalau ada saudara mengunjungi rumah kalau ada maunya saja di apakan pak? // apa bunuh !? // iya pak sebentar saya ngomong dulu ke dia orang”,

“pak Jusuf suruh aku bunuh kamu nih”

“matiin saja telponnya ir, dia mungkin setress ngurusin Negara, kan yang ngurus dia tuh setauku”

“oke kalau gitu”, kemudian saudaraku ngomong lagi ke HP

“Maaf pak Jusuf!, saya tidak tega membunuh saudara saya, dia miskin belum bekerja dan juga masih kuliah pak !”, kurebut Hpku dan bertanya ke saudaraku.

“gimana? Dia bilang apa?”

“aman katanya tidak apa-apa”

Aku coba buat ngomong lagi sama Pak Jusuf di HP

“yasudah pak, bapak tenang saja yang disini biar saya saja urus!”, sambil mematikan HP.
Kemudian aku melirik saudaraku,

“jadi bagaimana ir?”

“INI DUIT!”, sambil menyerahkan duit dan raut wajahnya nampak terpaksa sekali, sangat terpaksa!

“semoga amal ibadah Ibu, diterima di sisi Allah SWT, karena sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang seperti ibu ini”, sambil menggombal
“kamu pulang atau  ! ……”
“atau apa?”
“kutelpon Jokowi !”
“ogah, pamit aku ah, Assalamualaikum!”
“waalaikum salam!”, dia jawab.

Begitulah repotnya kalau minta duit ke saudara perempuanku, sampai bawa-bawa pemimpin Negara, aku yakin pemimpin Negara juga mana peduli aku punya duit apa tidak, yakali!.

Rabu, 08 Juni 2016

Kisah Kopi dan Permen

Biasanya malam hari itu aku selalu tidak ada kerjaan, mau kerja tapi kerja apa malam-malam, mungkin nanti ketika aku sudah lulus kuliah baru aku bisa ada kerjaan, tapi aku juga punya teman yang sudah kerja sambil kuliah, tapi ribet menurutku, aku tipe orang yang harus fokus dengan satu kerjaan yaitu kuliah, eh ternyata aku sudah punya kerjaan, yasudah syukurin aja.

Karena malam hari aku sering tidak ada kerjaan, jadi malam hari itu aku sering pakai waktuku untuk tulis cerita, apa saja ceritanya yang penting itu, dia berbentuk cerita. Malam itu, aku sempatkan jalan keluar dulu buat beli kopi, kopi sachet tapi, bukan kopi yang langsung dari bijinya, nanti ribet aku buatnya, coba kamu pikirkan, misal aku malam-malam berangkat pergi beli kopi yang bijian, terus aku berangkat lagi pergi ke pabrik penggilingan biji kopi supaya jadi bubuk kopi, nah kebayang kan ribetnya?, karena itu aku sangat suka dengan konsep manusia modern sekarang yang menciptakan kopi yang bentuknya sachetan, ya, karena enak aja nanti habis beli, bayar, kemudian aku pulang terus aku buat, terus selesai aku buat aku minum, nah lebih simpel. Eh, sampai mana tadi?, oh iya kamu tidak usah kasi  tau, aku sudah ingat aku berangkat pergi beli kopi, pertama aku ambil kunci kamar dulu, setelah itu aku kunci kamarku, setelah aku kunci kamarku, aku keluar kost untuk berangkat beli kopi sachet, eh dan ternyata setelah sampai di tempat parkiran kos-kosan, aku lupa bawa kunci motor, jadi aku berniat untuk ambil kunci motor, aku tidak usah ceritakan prosesku untuk kembali ke kamar untuk mengambil kunci motor, nanti kamu jenuh.

Setelah aku kembali ke parkiran kos-kosan dengan kunci motor di tangan kananku, akhirnya aku berangkat ke warung depan gang untuk beli kopi sachetan. Akhirnya sampai juga di warung depan gang, yang jualan di warung itu orang tua, mukanya serem, tapi tidak punya tato, tapi itu ide bagus untuk menanyakan langsung ke yang punya warung begini, “pak, mukanya serem tapi ko gapunya tato?”, tapi aku tidak sampai hati begitukan orang tua, karena aku takut nanti yang punya warung salah paham, soalnya dia orang tua dan kamu tau sendiri kalau orang tua itu pasti suka salah paham, jadi kalau kamu punya teman terus dia suka salah paham, mungkin dia itu orang tua, atau mungkin dia sedang menuju masa penuaan. Bisa jadi!.

Kira-kira dialogku sama yang punya warung itu begini, “pak, saya mau beli kopi uang saya ada enam ribu rupiah, kira-kira dapat berapa?”, sebelumnya aku sudah tau kalau harga kopi sachetannya itu dua ribu-an satu sachet, tapi tidak apa-apa namanya penjual ya harus siap untuk ditanya-tanya, siapa suruh jualan!.  Kemudian yang punya warung jawab, “kalau lima ribu dapat dua bungkus angsul seribu”, langsung ku jawab begini, “saya ambil kalau begitu pak”, terus dia Tanya, “dua bungkus?”, ku jawab lagi, “kalau bapak mau kasi saya satu lagi tidak apa-apa”, di jawab lagi sama bapaknya, “tidak usah, jadi dua aja”, waktu yang punya warung ngomong gitu, aku bilang gini, “emangnya yang mau beli tiga siapa?”, tapi dalam hati, takut tidak sopan kalau bicaranya di luar hati. Tidak lama kemudia yang punya warung kasi dua bungkus kopi sachet, aku tidak langsung pulang soalnya yang punya warung belum kasi duit angsulannya seribu, dan tidak lama kemudian yang punya warung kasi sesuatu, tapi bukan uang seribu, malah permen, langsung aku bilang gini, “pak, saya tidak beli permen, saya Cuma beli kopi”, kemudian bapaknya jawab, “itu permen harganya sama dengan seribu, sama aja”, kemudian kujawab, “jadi sama aja?, oh baru tau, peraturan dari pemerintah kah pak?”, dijawab sama bapaknya, “bukan!, ya peraturan saya”, tanpa basa-basi aku terima permennya tapi tidak aku makan, soalnya aku Cuma mau minum kopi bukan makan permen!.

Aku pulang ke kosan, aku simpan kopi di atas meja kamar, kemudian permen yang diberikan oleh yang punya warung aku kantongin, aku ambil uang di dompet senilai tiga ribu rupiah, kemudian aku keluar kosan lagi aku menuju warung yang berbeda, warung yang sekarang yang jualan ibu-ibu, “bu, beli permen tiga ribu”, tidak lama kemudian ibu itu memberikan permen cukup banyak dan aku kantongin, kemudian aku kayuh motorku, eh maaf, maksudku aku gas motorku ke warung tempatku beli kopi tadi. Sesampainya di warung itu, aku turun dari motor, datangin si penjual, “pak, saya beli kopi lagi, beli dua”, kemudian yang punya warung kulihat sibuk menggunting kopi sachetnya, “semuanya empat ribu”, kata yang punya warung, kemudia aku berikan yang punya warung permen yang aku beli di warung sebelumnya dengan tambahan angsulan permen yang di berikan bapaknya tadi, “ini pak, ini harga semuanya empat ribu, cukup dua bungkus kopi sachetan”, kemudian kamu tau apa yang terjadi?, marah dia. aneh, menurutku. Terus dia bilang begini, “engga bisa, beli ko bayarnya permen!”, karena kaget langsung kujawab begini, “loh, tadi bapak angsulin saya permen harganya seribu!, ini coba dihitung permennya pak, semua harganya empar ribu pas!”, jawabku sambil menjelaskan. Terus apa kata bapaknya?, dia bilang begini, “mana permen yang saya kasikan tadi!”, kemudian aku berikan permen yang nilanya seribu rupiah tadi, dan di ambilnya, mukanya seperti marah-marah, tapi aku tidak peduli, karena sejauh ini aku benar. Kemudian dia jalan, dia perintahkan aku untuk menunggu, sambil raut mukanya kesal, tidak lama kemudian dia kembali dan memberikan saya uang seribu rupiah, “ini kembalianmu yang tadi!”, nah, tambah kaget aku, kenapa dari tadi tidak dikasikan uang seribu rupiah?.

Kemudian aku pergi meninggalkan bapak itu sambil bilang begini, “terima kasih pak!”, dan dijawabnya begini, “iya!, sama-sama!”, mukanya nampak kesal, tapi aku tidak peduli, sekurang-kurangnya aku benar.

Besok-besoknya, teman satu kosanku habis beli sesuatu di warung depan gang, katanya begini, “aku heran sama bapak yang jualan di warung depan”, ku jawab, “lah, kenapa?”, dia lanjut begini, “duitku lima ribu, terus aku beli permen tiga ribu, terus di angsulin kopi sachet sebiji, senang aku!, ha ha ha”, nah, tambah kaget aku!. 

Kamis, 02 Juni 2016

Gedung Tua

Mereka berdebat.

“yang abadi itu apa yang aku pikirkan, dan yang akan terealisasi dari pikiranku itu pasti sifatnya sementara!”

“kau ini tolol!, aku tidak mengerti, pikiranmu itu pasti bisa berubah, apa yang akan kau realisasikan nantinya yang akan abadi!”

“aku mengerti kamu orangnya terlalu realistis, justru karena kamu terlalu realistis pikiran-pikiran dikepalamu mati!”

“kamu yang terlalu banyak berpikir!, kau terlalu bangga dengan imajinasi-imajinasimu yang mengepul di dalam kepalamu, apa kamu tidak berpikir sudah berapa banyak waktu sudah kau habiskan untuk menyelesaikan tugas berpikirmu itu”

Begitulah, perdebatan diantara dua Mahasiswa yang memiliki pendirian yang berbeda, mereka adalah Herman dan Misno mahasiswa semester empat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, dikalangan teman-temannya mereka adalah dua sosok manusia yang sangat berbeda satu sama lain, dan spontan saja setiap mereka berdebat tidak ada teman-teman bahkan siapa saja yang mampu menghentikan perdebatan-perdebatan mereka, kemudian Herman melanjutkan perkataannya,

“kau bilang aku terlalu banyak berpikir?, baik, mari kita rundingkan sekarang, kau lihat kenapa bangunan itu bisa hancur?”, sambil menunjuk suatu bangunan tua

“ya karena bangunan itu termakan cuaca, dan perlahan-lahan bangunan itu menjadi hancur”

“nah, sekarang aku bertanya lagi, awal tukang bangunan membuat bangunan itu apa yang mereka pikirkan?”

“ya pastinya mereka mikirkan suatu tempat yang dapat digunakan sebagai tempat bernaung”

“dan apa kau sempat berpikir, tukang bangunan yang membuat bangunan itu memprediksikan bangunan itu akan bertahan berapa lama?”

“untuk apa aku berpikiran sampai kesana, tentu saja tukang bangunan itu membuat bangunan itu karena diperintah oleh pihak kampus, dan langsung saja tukang bangunan itu membuat bangunan itu, maksudku apa pedulinya tukang bangunan itu dengan usianya?”

“kau sangat dangkal sobat, coba kau telaah lagi pertanyaanku barusan, apakah tukang bangunan itu membuat bangunan itu sempat berpikir berapa lama bangunan itu akan bertahan?”

“aku rasa tidak”

“aku tidak mempermasalahkan bangunan itu bisa bertahan berapa lama atau bagaimana, sebelum tukang bangunan membuat bangunan itu, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya membuat suatu bangunan yang dapat melindungi dari panas dan hujan serta dapat memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan dan kesibukan”

“nah, terus?”

“nah disitulah letak keunggulan ide tau pikiran, kau lihat bangunan itu sekarang?, hancur dan bahkan sudah tidak dapat lagi dipergunakan sebagaimana mestinya si tukang bangunan merencanakan kegunaan bangunan itu, betul?”

“iya betul”

“gedung hancur itu adalah kau, maksudku itu adalah realitas ide sang tukang bangunan, lihat sekarang ketika ide si tukang bangunan terealisasi kamu bisa melihat bentuk bangunan itu hancur dan bahkan tidak abadi, maksudku rusak!, jadi bisa disimpulkan yang abadi adalah ide si tukang bangunan setelah terealisasi kau bisa bayangkan betapa abadinya ide itu tidak hancur dan tidak mudah hilang!”

Misno bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke arah bangunan hancur itu, tidak lama kemudian ia kembali menghampiri Herman yang sedari tadi memerhatikannya dari kejauhan sambil melihat gedung tua

“ada satu pertanyaan untukmu sobat”

“apa?”

“semisal bangunan itu tidak pernah dibuat, bagaimana menurutmu?”

“nah, apakah kau sudah agak melunak sobat kecil?”

“jawab saja, kau terlalu banyak mengalihkan pembicaraan”

“baiklah, semisal bangunan itu tidak pernah dibuat maka tidak akan ada bangunan ditempat itu”

“kemudian, apa kabar ide si Tukang bangunan yang kau bangga-banggakan itu?”

“ya tentu saja, ide tukang bangunan itu akan selalu ada”

“nah, disinilah letak keganjalannya, kau bilang ide tukang bangunan itu akan tetap ada dan abadi?, begitu?”

“tentu saja”

“menurutku, disanalah letak kekurangan ide dan pikiran yang kau bangga-banggakan itu, kenapa?, begini, walaupun ide tentang suatu konsep bangunan yang akan dibuat itu tetap abadi dan tidak dibuat atau direalisasikan, maka apalah guna ide itu, selama tidak ada realisasi terhadap bangunan itu maka bisa dikatakan ide itu tidak ada dan bahkan tidak akan pernah ada, bisa ditarik kesimpulan idea tau pikiran si tukang bangunan mati dan menghilang apabila ia tidak merealisasikan bangunan itu, sebaliknya apabila si tukang bangunan merealisasikan bangunannya maka bangunan gedung itu akan Nampak dan dikenal, lebih sederhananya bangunan itu ada!, walaupun ia hancur sekalipun!”

“ow, ow, ow, kau terlalu jauh kawan, bagaimana kau bisa menganggap hasil realisasi ide bangunan itu abadi !?, sedangkan gedung itu hancur begitu, dan bahkan orang awam yang masuk ke kampus kita pun tidak akan mengenali gedung itu sama sekali, kalau itu adalah gedung?”

“oke, aku akan membuktikanya!, kau lihat orang itu?”

“maksudmu, orang Balai Bahasa itu?”

“ahh, bukan!, penjual bakso itu, aku baru melihatnya hari ini, dan kita bisa menjadikannya sebagai orang awam, maksudku orang yang tidak mengenal kampus kita sama sekali”

“oke, terus?”

“aku akan mendatanginya, kau ikut aku”

Kemudian Herman mengikuti Misno mendatangi tukang Bakso, ketika tukang Bakso menyadarinya tukang Bakso langsung berbalik dan menegur Herman dan Misno,

“mau pesan bakso dek?”

“tidak pak, kami tidak punya uang”, tegur Herman

“begini pak, maksud kedatangan kami kesini ingin menanyakan kalau …”

“kalau harga bakso berapa?”

“Bukan !!!”, tegur Herman dan Misno, kemudian Misno melanjutkan

“bapak tahu bangunan tua hancur lebur itu?, itu bangunan apa pak?”

“ya itu pasti gedung dek”, jawab si penjual Bakso

“kenapa bapak bisa tahu?”, Misno lanjut bertanya

“ya siapapun tahu lah dek itu gedung, cuman hancur, tapi ya tetap gedung”

“oke terima kasih pak, oke Herman tampan mari kita kembali duduk di Gazebo”

Kemudian Misno dan Herman kembali menuju gazebo tempat awal mereka berdebat.

“nah Herman tampan yang baik dan budiman, dapat disimpulkan sekacau apapun bangunan itu bahkan sehancur-hancurnya gedung itu hingga tak berbentuk, orang awam pun pasti tahu bahwa itu adalah gedung!, bahkan bentuknya yang tua dan hancur begitu pun penglihatan orang awam pun tahu kalau itu gedung, sekarang kalau kau menanyakan konsep idemu kepada orang awam itu pasti ia tidak akan mengerti”

Mereka lama terdiam dan Misno tampak merasa kemenangan ada dipihaknya, sementara Herman terdiam, tidak lama kemudian Herman angkat berbicara,

“hey, kau masih ingat filsuf Yunani bernama Socrates?”

“kenapa?, kau ingin berkata kalau ia membangun gedung tua itu?”

“bukan!”

“ya terus apa? Coba katakan kenapa dia?”

“kau masih ingat bagaimana akhir hidup filsuf itu?”

“karena minum racun?”

“Socrates meninggal karena sengaja meminum racun, kau tau?”

“tentu aku tahu, dia mempertahankan gagasannya kan?”

“nah!, akupun akan mempertahankan gagasanku sama dengannya”

“maksudmu kau mau minum racun?”

“ya tidak lah!, aku mengibaratkan racun itu adalah ketidak setujuanmu”

“ha ha ha”, kemudian Herman dan Misno tertawa bersama-sama.