Mereka berdebat.
“yang abadi itu apa yang aku pikirkan, dan yang akan terealisasi dari pikiranku itu pasti sifatnya sementara!”
“kau ini tolol!, aku tidak mengerti, pikiranmu itu pasti bisa berubah, apa yang akan kau realisasikan nantinya yang akan abadi!”
“aku mengerti kamu orangnya terlalu realistis, justru karena kamu terlalu realistis pikiran-pikiran dikepalamu mati!”
“kamu yang terlalu banyak berpikir!, kau terlalu bangga dengan imajinasi-imajinasimu yang mengepul di dalam kepalamu, apa kamu tidak berpikir sudah berapa banyak waktu sudah kau habiskan untuk menyelesaikan tugas berpikirmu itu”
Begitulah, perdebatan diantara dua Mahasiswa yang memiliki pendirian yang berbeda, mereka adalah Herman dan Misno mahasiswa semester empat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, dikalangan teman-temannya mereka adalah dua sosok manusia yang sangat berbeda satu sama lain, dan spontan saja setiap mereka berdebat tidak ada teman-teman bahkan siapa saja yang mampu menghentikan perdebatan-perdebatan mereka, kemudian Herman melanjutkan perkataannya,
“kau bilang aku terlalu banyak berpikir?, baik, mari kita rundingkan sekarang, kau lihat kenapa bangunan itu bisa hancur?”, sambil menunjuk suatu bangunan tua
“ya karena bangunan itu termakan cuaca, dan perlahan-lahan bangunan itu menjadi hancur”
“nah, sekarang aku bertanya lagi, awal tukang bangunan membuat bangunan itu apa yang mereka pikirkan?”
“ya pastinya mereka mikirkan suatu tempat yang dapat digunakan sebagai tempat bernaung”
“dan apa kau sempat berpikir, tukang bangunan yang membuat bangunan itu memprediksikan bangunan itu akan bertahan berapa lama?”
“untuk apa aku berpikiran sampai kesana, tentu saja tukang bangunan itu membuat bangunan itu karena diperintah oleh pihak kampus, dan langsung saja tukang bangunan itu membuat bangunan itu, maksudku apa pedulinya tukang bangunan itu dengan usianya?”
“kau sangat dangkal sobat, coba kau telaah lagi pertanyaanku barusan, apakah tukang bangunan itu membuat bangunan itu sempat berpikir berapa lama bangunan itu akan bertahan?”
“aku rasa tidak”
“aku tidak mempermasalahkan bangunan itu bisa bertahan berapa lama atau bagaimana, sebelum tukang bangunan membuat bangunan itu, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya membuat suatu bangunan yang dapat melindungi dari panas dan hujan serta dapat memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan dan kesibukan”
“nah, terus?”
“nah disitulah letak keunggulan ide tau pikiran, kau lihat bangunan itu sekarang?, hancur dan bahkan sudah tidak dapat lagi dipergunakan sebagaimana mestinya si tukang bangunan merencanakan kegunaan bangunan itu, betul?”
“iya betul”
“gedung hancur itu adalah kau, maksudku itu adalah realitas ide sang tukang bangunan, lihat sekarang ketika ide si tukang bangunan terealisasi kamu bisa melihat bentuk bangunan itu hancur dan bahkan tidak abadi, maksudku rusak!, jadi bisa disimpulkan yang abadi adalah ide si tukang bangunan setelah terealisasi kau bisa bayangkan betapa abadinya ide itu tidak hancur dan tidak mudah hilang!”
Misno bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke arah bangunan hancur itu, tidak lama kemudian ia kembali menghampiri Herman yang sedari tadi memerhatikannya dari kejauhan sambil melihat gedung tua
“ada satu pertanyaan untukmu sobat”
“apa?”
“semisal bangunan itu tidak pernah dibuat, bagaimana menurutmu?”
“nah, apakah kau sudah agak melunak sobat kecil?”
“jawab saja, kau terlalu banyak mengalihkan pembicaraan”
“baiklah, semisal bangunan itu tidak pernah dibuat maka tidak akan ada bangunan ditempat itu”
“kemudian, apa kabar ide si Tukang bangunan yang kau bangga-banggakan itu?”
“ya tentu saja, ide tukang bangunan itu akan selalu ada”
“nah, disinilah letak keganjalannya, kau bilang ide tukang bangunan itu akan tetap ada dan abadi?, begitu?”
“tentu saja”
“menurutku, disanalah letak kekurangan ide dan pikiran yang kau bangga-banggakan itu, kenapa?, begini, walaupun ide tentang suatu konsep bangunan yang akan dibuat itu tetap abadi dan tidak dibuat atau direalisasikan, maka apalah guna ide itu, selama tidak ada realisasi terhadap bangunan itu maka bisa dikatakan ide itu tidak ada dan bahkan tidak akan pernah ada, bisa ditarik kesimpulan idea tau pikiran si tukang bangunan mati dan menghilang apabila ia tidak merealisasikan bangunan itu, sebaliknya apabila si tukang bangunan merealisasikan bangunannya maka bangunan gedung itu akan Nampak dan dikenal, lebih sederhananya bangunan itu ada!, walaupun ia hancur sekalipun!”
“ow, ow, ow, kau terlalu jauh kawan, bagaimana kau bisa menganggap hasil realisasi ide bangunan itu abadi !?, sedangkan gedung itu hancur begitu, dan bahkan orang awam yang masuk ke kampus kita pun tidak akan mengenali gedung itu sama sekali, kalau itu adalah gedung?”
“oke, aku akan membuktikanya!, kau lihat orang itu?”
“maksudmu, orang Balai Bahasa itu?”
“ahh, bukan!, penjual bakso itu, aku baru melihatnya hari ini, dan kita bisa menjadikannya sebagai orang awam, maksudku orang yang tidak mengenal kampus kita sama sekali”
“oke, terus?”
“aku akan mendatanginya, kau ikut aku”
Kemudian Herman mengikuti Misno mendatangi tukang Bakso, ketika tukang Bakso menyadarinya tukang Bakso langsung berbalik dan menegur Herman dan Misno,
“mau pesan bakso dek?”
“tidak pak, kami tidak punya uang”, tegur Herman
“begini pak, maksud kedatangan kami kesini ingin menanyakan kalau …”
“kalau harga bakso berapa?”
“Bukan !!!”, tegur Herman dan Misno, kemudian Misno melanjutkan
“bapak tahu bangunan tua hancur lebur itu?, itu bangunan apa pak?”
“ya itu pasti gedung dek”, jawab si penjual Bakso
“kenapa bapak bisa tahu?”, Misno lanjut bertanya
“ya siapapun tahu lah dek itu gedung, cuman hancur, tapi ya tetap gedung”
“oke terima kasih pak, oke Herman tampan mari kita kembali duduk di Gazebo”
Kemudian Misno dan Herman kembali menuju gazebo tempat awal mereka berdebat.
“nah Herman tampan yang baik dan budiman, dapat disimpulkan sekacau apapun bangunan itu bahkan sehancur-hancurnya gedung itu hingga tak berbentuk, orang awam pun pasti tahu bahwa itu adalah gedung!, bahkan bentuknya yang tua dan hancur begitu pun penglihatan orang awam pun tahu kalau itu gedung, sekarang kalau kau menanyakan konsep idemu kepada orang awam itu pasti ia tidak akan mengerti”
Mereka lama terdiam dan Misno tampak merasa kemenangan ada dipihaknya, sementara Herman terdiam, tidak lama kemudian Herman angkat berbicara,
“hey, kau masih ingat filsuf Yunani bernama Socrates?”
“kenapa?, kau ingin berkata kalau ia membangun gedung tua itu?”
“bukan!”
“ya terus apa? Coba katakan kenapa dia?”
“kau masih ingat bagaimana akhir hidup filsuf itu?”
“karena minum racun?”
“Socrates meninggal karena sengaja meminum racun, kau tau?”
“tentu aku tahu, dia mempertahankan gagasannya kan?”
“nah!, akupun akan mempertahankan gagasanku sama dengannya”
“maksudmu kau mau minum racun?”
“ya tidak lah!, aku mengibaratkan racun itu adalah ketidak setujuanmu”
“ha ha ha”, kemudian Herman dan Misno tertawa bersama-sama.