Di bahu aliran penuh kehidupan aku terduduk sunyi. Aku menghargai, menghormati, dan terbawa kedalam bahasa tanpa aksara, hanya kesunyian sembari aliran ini memberikan lantunan indah. Membisu adalah anugrah yang paling kuhargai atas kuasa-Nya terhadap dunia ini, ya, membisu itu indah. Tapi aku terduduk di bahu ini bukan karena tanpa alasan. Aku hanya ingin bersandar sebentar atas perlakuan hidup yang semena-mena. Aku hanya ingin mendengar nasihat, cerita, dan apapun itu sebutannya disini, ya, tanpa aksara, tanpa suara yang lantang, hanya lantunan kecil. Aku, aku, dan aku, ya, aku ingin sesekali egois, bersandar pada bahu yang tak ingin lagi bebannya bertambah. Cukup sudah ia melewata aral yang memberikannya arus hingga sampai pada muara yang menjadikannya entah apa. Namun ia melewatinya dengan gemulai, meskipun ia tidak mengetahui apa yang ada disana, dan menjadikannya apa kelak. Sekali lagi izinkan aku, saya, apapun itu sebutannya untuk menghargai kuasa-Nya, bahwa membisu itu anugrah. Bukankah sangat indah menghargai bahasa tanpa aksara satupun didalamnya, hanya kesunyian dengan sedikit lantunan didalamnya, tapi kita saling mengerti satu sama lain. Mengerti akan apa yang sedang dilalui dan berbagi bahu bersama tanpa aksara, tanpa bertukar bahasa, hanya kebisuan.
Sudah cukup keegoisanku dengan segala bahasa apapun itu dalam hati dan pikiran ini. kini saatnya aku membisu dan mendengar apa yang dialami oleh aliran penuh aral ini. Terlalu sulit mungkin, sebut saja ia sungai. Sungai yang telah mengalir dari kelahiranku hingga entah sampai kapan ia akan terus mengalir. Batu-batu kecil di bahunya maupun di jantungnya memberikan dinamika atas kehidupannya. Namun, ia terus mengalir tak kenal aral, justru semakin memperindah wajahnya untuk terus dipandangi dalam kebisuan. Ia tidak pernah menolak kehadiranku di bahunya yang sudah penuh beban ini. Justru, mungkin semakin memperindahnya sesekali jemari kakiku memasuki tubuhnya. Menukar kebisuanku dengan entah apa itu sebutan yang membuat jiwaku tenang. Namun, siapakah aku berani menyetubuhinya, aliran yang suci ini terkotori oleh badan dan jiwa ini. Sesekali aku meminta izin untuk membasuh wajah ini sewajarnya. Sesekali aku kurang ajar dengannya dengan sengaja menambah aral di jantungnya dengan melempar batu berharap akan diberi ceramah olehnya. Namun balasan yang kudapat hanyalah kebisuan tanpa jamahan tangan. Sesekali juga aku memberikan setetes kehidupanku melalui aliran di pipi.
Bahasanya tidak ber-aksara, tidak juga lantang, dan tidak bisa diartikan dengan aksara ataupun suara, hanya kebisuan yang bisa memahaminya. Keabadian menjadi sebuah pengukuhan keagungannya, keperkasaannya. Perkasa atas tak kenal aral, perkasa atas menopangku di bahunya, dan abadi akan jati dirinya yang tak ingin bersatu dengan lautan yang menjadi muaranya.
Hingga suatu saat, ketika kutelusuri tubuhnya, ada suatu hal yang membuatku tersadar bahwa ada yang lebih perkasa darinya, yaitu batu besar yang tertanam di jantungnya, membelah aliran arusnya. Sejak saat itu, aku bisa menjamahnya, memeluknya, menyentuh jantungnya tanpa harus kusetubuhi, melalu batu ini aku terduduk diatasnya. Banyak kisah dan asa yang kuceritakan kepadanya, ya, tanpa bahasa, tanpa aksara, hanya dengan kebisuan aku menyampaikannya. Aku yakin, ia tau dan dapat merasakan semuanya, karena aku telah bersatu dengannya dan dengan batu ini. Sesekali terlintas di pikiran, apakah keperkasan batu ini abadi, ataukan hanya aral dalam aliran ini yang suatu saat akan hilang.
Hingga suatu saat, ketika aku ingin menemuinya, kudapati keperkasaan batu itu telah sirna. Disirnakan oleh pahatan retak yang ada di kulitnya. Entah dikarenakan aliran yang tidak mampu dikuasai oleh keperkasaannya atau ada seseorang yang dengan sengaja menyingkirkannya dari kehidupan sungai ini. Entah juga sampai kapan ia mampu bertahan lagi berada di jantung sungai ini. Dan kini, aku kembali berada di bahunya, tidak mampu untuk lebih menyirnakan aral yang ada di jantungnya.
Sesekali terlintas dalam pikiran, apakah batu itu tidak abadi, ataukah hanya aliran ini yang abadi, kekuatan apa yang mematahkan keperkasaannya dan menjadikannya dua buah yang kini memiliki kehidupannya masing-masing. Yang nantinya, entah ia tetap berada di tempat itu ataupun terbawa arus aliran sungai ini dan terdampar entah dimana ataupun terbawa hingga ke muaranya.
Kusadari, batu itu sisa setengah dan yang setengahnya lagi telah terbawa aliran, atau batu itu telah mempunyai kehidupannya masing-masing di tubuh sungai ini. Hingga aku beranikan diri untuk menjadi pengganti sebagian tubuh batu itu di jantung sungai ini. Meskipun aku tau, aku tidaklah seperkasa batu ini dan seabadi sungai ini. Aku hanya ingin melengkapi mereka, melengkapi kebisuan ini.
Hingga sekarang umurku yang sudah tidak lama lagi bisa bersandar pada bahu aliran ini. Dan kedua batu itu telah hilang dari pandanganku. Entah apa yang terjadi pada mereka kelak dan sungai ini. Yang aku yakini, sungai ini abadi selama hidupku, meskipun entah nantinya keabadiannya telah sirna. Bukan karena aku meninggalkan dunia ini, karena aku harus berhadapan langsung dengan aliran kehidupan yang sebenarnya. Aku tidak bisa selamanya berbagi kisah dengannya, tapi mungkin suatu saat nanti, ketika aku telah menjelma seperti dirinya, yang menjadi sandaran bagi jiwa-jiwa rapuh lainnya. Aku berharap keperkasan batu itu dan keabadian sungai ini bisa kuteruskan pada jiwa-jiwa yang tidak sempat bertemu dengan mereka. Dan pada saat itu, aku ingin dengan bangga membagi cerita dengan kalian, sekali lagi.
Sudah berapa kali bumi ini telah mengitari matahari dan sudah berapa purnama terlewatkan, aku telah menerjemahkan kebisuan yang membasuh jiwaku dengan kalian menjadi bahasa yang bisa dipahami oleh jiwa-jiwa yang membutuhkan kalian, dengan aksara, dan dengan suara yang lembut tidak kalah dengan kelembutan lantunanmu dulu. Kini aku ingin bertemu denganmu sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya juga, sebelum aliran kehidupan yang sesungguhnya membawaku ke muara akhir hidup ini.
Aku menyusuri jalan yang sudah samar-samar dalam ingatanku, menuju salah satu hal yang abadi dalam kehidupan ini. Batu-batu kecil di bahu alirannya kini sudah banyak tidak kukenali. Dan keabadiannya yang kukenali juga sudah tidak nampak pada ujung mataku, sungai yang begitu perkasa dan abadi sudah tidak ada lagi. Kutelurusi bekas tubuhnya hingga ke muara terakhirnya.
Di akhir hidupnya ia masih sempat memberikan pesannya padaku, pada diri yang sudah tidak mengakui adanya keperkasaan dan keabadian. Di ujung muaranya, aku mendapati batu yang telah kukenal lama, meskipun tubuhnya sudah tergerus dan menjadi lebih kecil. Batu yang telah menemani diriku dan sungai ini di masa dulu berbagi kebisuan. Kembali bersanding antar pungung keduanya. Dan kini, mereka benar-benar abadi, tanpa aliran, tanpa arus, memeluk erat tanpa bisa bersatu kembali.
Fafa,
Bontang, Sabtu 18 Juni 2016 2:20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar