Selasa, 26 April 2016

51 HARI

Rabu, 27 April 2016

Malam ini sangat sepi, tidak ada angin yang mengganggu, cukup aneh, yang aku tahu di kota ini hal-hal seperti itu sangat jarang aku temui baru kali ini dan aku merasa hal ini harus dinikmati aku harap untuk keesokan harinya malam ini terulang lagi, tapi aku tidak berharap banyak karena memang malam punya identitasnya sendiri, begitu juga malam ini, entah apa yang akan terjadi kemudian, bencana ?, kurasa tidak, bencana juga akan terasa begitu tiba-tiba dengan anehnya tapi bukan bencana yang akan datang, tapi sesuatu yang lain dan penandanya adalah suasana aneh malam ini.

Aku tidak langsung pulang kerumah kupikir terlalu cepat, lebih baik aku menikmati malam ini, lebih bijak menurutku, aku berjalan menyusuri jalan-jalan di kota seperti biasa, pemandangan umum di kota-kota, lampu-lampu jalan yang kerlap-kerlip, suara kendaraan, suara canda tawa, suara teriakan sampai dengan suara-suara yang sangat tidak ada maknanya dari kejauhan, tapi entah kenapa malam itu sangat harmonis, hening malam dan nada-nada kota yang mengalun secara bersamaan, seperti musik yang pelan-pelan menjadi musik pengantar, pikirku dalam hati “mungkin malam ini mengujiku”.

Tidak asik rasanya pulang cepat seperti yang aku katakan tadi, aku memilih singgah di sebuah kafe dipinggir jalan semata-mata hanya untuk menikmati suasana aneh ini, aku masuk ke dalam kafe sambil memesan salah satu minuman favoritku, kopi cappuccino khas kafe itu, suasana kafe tidak terlalu ramai bahkan, aku sanggup menghitung berapa orang yang datang mengunjungi kafe itu, tapi tidak secara detail, aku hanya memerhatikan beberapa saja yang ku anggap memang khas dan menyita perhatian, pasangan kekasih yang sambil bertukar cerita di meja yang berlainan denganku, dan seseorang yang sama sepertiku yang membedakan hanya dia sibuk bermain dengan laptop miliknya, mungkin dia penulis pikirku, apakah orang-orang ini merasakan hal yang sama denganku ?, ikut merasakan keheningan malam yang aneh ini, tapi itu bukan urusanku, itu urusan mereka pikirku.

Tidak berapa lama datang seseorang menghampiriku, seorang wanita dengan rambut panjang memakai kaos putih dan rompi khas wanita dan menegurku, “mas, sendirian ?, boleh duduk di sini ?”, cukup aneh pikirku, orang asing tiba-tiba ingin duduk bersamaku, sedangkan masih banyak tempat yang lain masih kosong, “jangan khawatir mas saya orang baik-baik”, tegur perempuan itu meyakinkanku, “oh, tidak apa-apa mba, ga masalah, di sini juga milik umum”, tegurku, “ha ha ha, iya mas, saya ga yakin aja duduk sendiri sedangkan yang lain berpasang-pasangan”, tegurnya meyakinkanku, “saya pikir laki-laki di sana sendirian juga mba ?”, sambil menunjuk pria yang sedang menarikan jari-jarinya di atas laptopnya, “dia tidak sendiri, lihat dia sedang asyik dengan laptopnya, saya rasa dia penulis”, tegur perempuan itu. Aku merasa heran kenapa pikiran gadis itu sama denganku, atau mungkin kebetulan saja, bukan aku saja yang bisa menerka-nerka manusia lain juga. “malam ini aneh ya mas, semua hening”, tegur perempuan itu.

Anehnya lagi dia berpikir sama denganku, sungguh lucu, “iya mba, saya juga berpikir begitu, makanya saya singgah ke kafe ini, buat menikmati sekadarnya”, tegurku, “oh iya, kenalin namaku Meiria, panggil Mei aja”, tegur perempuan itu, “oh iya, nama saya Derian, panggil Dede aja”, tegurku sambil berkenalan, “Dede ?, lucu, tampak seperti anak-anak, tapi cocok sih”, tegur perempuan itu, kupikir kata-kata ini tidak asing seperti kata-kata seorang wanita yang dua tahun lalu aku temui tapi tidak terlalu jelas siapa perempuan itu, atau hanya ingatan semu, “udah biasa keluar malam-malam gini mas ?”, tegur perempuan itu, menggangguku berpikir tentangnya “oh, iya mba tapi malam ini cukup beda aja mba, mba juga  ngerasa kan ?”, tegurku, “ ga usah panggil mba panggil Mei aja”, tegur perempuan itu, “oh iya mei, maaf  saya lupa ha ha ha”, tegurku, “kamu memang sering begini De”, tegur perempuan itu. “sering ?, kamu tau darimana ?, kita kan baru ketemu sekarang “, tegurku, “besok juga dan besok-besoknya akan terus begini De”, tegur perempuan itu. “ha ha ha, kenapa begitu yakin ?”, tegurku, “itu urusanku De, ha ha ha”, tegur wanita itu sambil tertawa yang sengaja dibuat-buat, “aku bisa minta kertas kuning yang ada di dalam tas kamu ga ?”, tegurnya sambil meminta, “kertas ?, sebentar aku lihat”, sambil membuka tas dan ternyata benar ada kertas kuning bahkan aku tidak tahu sejak kapan aku menyimpannya, “sini De aku mau absen hi hi hi”, tegur perempuan itu sambil menulis, kemudian perempuan itu pergi begitu saja sambil meninggalkan tulisan di atas kertas yang bunyinya “hari ke 50, kau masih tidak ingat, aku tidak menyerah, cepat sembuh sayang”. Aku terperanjat, apa maksud perempuan itu, menulis kemudian pergi seenaknya, mungkin ini hal aneh di malam ini, aku anggap lalu saja, ku anggap ini bagian dari ke anehan malam ini, “unik”, ucapku sambil tertawa yang kubuat-buat dan beranjak pulang.

Kamis, 28 April 2016

Malam ini hening dan sepi menurutku, ada baiknya malam ini kunikmati saja, aku singgah ke suatu kafe di pinggir jalan, kemudian aku masuk memesan minuman favoritku, kopi cappuccino. Aku duduk dan tiba-tiba datang seorang perempuan duduk di depanku dan menegurku “mas, sendirian ?, boleh duduk di sini ?”, tegur perempuan itu. Sebentar !, ini cukup aneh wanita di depanku ini, aku mengingatnya tapi dimana ?, “kenapa mas ?, mas sakit !?, mas .. mas ..”, tegur wanita itu tampak sangat khawatir, sangat aneh tiba-tiba di kepalaku terlintas banyak sekali bayangan-bayangan aneh tapi tidak terlalu asing, seperti kecelakaan dan aku bersama seorang perempuan dan perempuan itu sangat familiar, kenapa ?, ada apa ?, cukup aneh dan, “Mei, sayang ?”, tegurku secara tidak sadar, wanita di depanku tiba-tiba menangis dan sangat mengherankan aku mulai ingat, “kau sudah ingat sayang ?, aku Mei pacarmu, kau sudah ingat kau sembuh !?”, aku mengingat semuanya, wanita di depanku ini adalah pacarku sendiri Mei, Meiria, jangan-jangan !, aku sudah ingat apa selama ini aku hilang ingatan !, iya aku yakin semenjak saat itu, aku kecelakaan dan aku lupa semuanya, “sayang, selama ini kamu ?”, tegurku kaget. “iya, aku perempuan yang setiap harinya menyempatkan diri ke sini, untuk ketemu kamu sayang, untuk membuat kamu ingat semuanya, sudah lama sekali sayang !”, aku mulai mengingatnya selama melupakannya, Meiria, pacarku yang kulupakan karena kecelakaan saat itu, terima kasih atas usahamu sayang, aku sembuh.

Rabu, 20 April 2016

Darah-darah yang Menggerutu

Melepas rindu di balik semu cerah wajahmu
Terlepas syahdu menukik benalu hatimu
Terpapas kaku menarik gerak-gerik dagumu

Ragu-ragu aku mengganggu
Malu-malu kau merayu
Tak seorangpun tamu, kau jadikan ratu
Tidak juga candu tentang sendu malam itu

Setiamu, setia kepada langit
Tidak sampai hingga sakit kau rakit
Maafkan aku yang terlalu naif

Bukan, bukan begitu
Satu-satu putih abu telah tumbuh
Tidak seorangpun kau anggap jendelamu

Hanya aku, raja dari imaninasi ratumu
Menanti seenak mematahkan ranting kayu
Menangis senyaman hati dibasahi sendu

Tapi ini bukan tentang kau
Tentang darahmu, manusia tanpa mendung

Untuk darahku, si tua yang menggerutu.