Akhir-akhir ini kau lebih mirip dengan angan-angan, tidak jelas apakah akan terjadi atau akan hilang.
Kediamanmu membingungkanku, seperti isyarat: "Tolong, berhenti menatapku".
Justru akulah yang paling setia menatapmu hingga fajar enggan memerah.
Akhir-akhir ini kau lebih mirip dengan angan-angan, tidak jelas apakah akan terjadi atau akan hilang.
Kediamanmu membingungkanku, seperti isyarat: "Tolong, berhenti menatapku".
Justru akulah yang paling setia menatapmu hingga fajar enggan memerah.
Hay gadis dengan biolanya, aku tidak mengerti kenapa kamu memainkannya dengan raut wajah yang kesulitan, gesekkan saja pasti ia akan menurut, sekurang-kurangnya ia akan berbunyi.
Atau mungkin kau mengharapkan ia bersuara merdu?, mungkin saja, raut wajahmu mengisyaratkannya.
Kamu tahu? Aku di sana, tepat di bawahmu, menunggu dengan penasaran lantunan musik seperti apa yang akan kau bunyikan.
Mungkin itu lantunan duka? Atau suka?.
Ah, aku tidak bisa menyimpulkannya, suaranya sangat pilu.
Tapi bukan itu yang sedari tadi mengganguku, yang menggangguku adalah raut wajahmu yang kebingungan, mata yang kosong dan sesekali asik sendiri.
Ah, sungguh sial aku jatuh cinta kepadamu waktu itu, ini akan terus berlanjut.
April 2015
Si Gadis Biola
Lelaki itu, lelaki yang selalu menghiasi keramaian Kampusku, Fakultas Ilmu Budaya unmul yang letaknya terbilang strategis di tengah-tengah kota Samarinda. Semenjak aku menempuh perkuliahan di Kampus ini, lelaki itu selalu saja menjadi pemandangan yang menghiasi kampus, sosok lelaki ini bukan Mahasiswa maupun dosen apalagi seorang yang ditugaskan pihak Kampus untuk membersihkan kampus ketika seluruh kegiatan perkuliahan akan usai seperti biasanya.
Lelaki ini memiliki gangguan kejiwaan, bisa dibilang sebagai orang gila, tetapi sepertinya tidak gila, mungkin setres atau mungkin apapun itu yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan, kupikir lelaki ini hanya datang sesekali di Kampusku tapi ternyata cukup sering!, lelaki ini tidak mengganggu, kegiatannya hanya duduk dan tertidur di samping ruangan kelas, pernah sesekali aku melihat seseorang memberikannya uang, kupikir lelaki ini akan mempergunakannya untuk membeli kebutuhannya, ternyata tidak! Aku sempat melihatnya duduk sambil menguliti uang, uang yang tadinya sangat berguna digunakan sebagai alat pembayaran kini uang itu hanya selembar kertas biasa yang telah dirobek-robek, untuk menjadi pengganjal lemari saja tidak akan bisa, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, kenapa!?, ya kupikir pertanyaanku barusan adalah pertanyaan yang bodoh, orang yang memiliki gangguan kejiwaan mana mungkin akan berpikir sampai kesitu.
Pernah aku menanyakan ke senior-senior di Kampusku, tentang latar belakang lelaki itu, jawabannya berbeda-beda ada yang berkata lelaki itu dulunya adalah mahasiswa yang gagal di ujian skripsi kemudian menjadi tidak waras dan juga ada juga yang berkata lelaki itu dulunya adalah lelaki yang ditolak cintanya oleh seorang gadis kemudian menjadi seperti itu, menjadi orang yang memiliki gangguan kejiwaan.
Aku pernah berpikir menanyakan hal itu langsung ke lelaki itu, aku memang orang yang sangat kurang kerjaan, tapi rasa penasaran sering menggangguku. Akhirnya aku menemukan kesempatan yang sangat pas untuk bertanya,
“pak, sedang apa ?”, tanyaku basa basi
“saya bisa main gitar, mau lihat saya main gitar ?”, jawabnya dengan tenang.
Aku salah, aku sangat salah bertanya kepada lelaki yang memiliki gangguan jiwa, aku khawatir setelah aku bertanya lagi aku pelan-pelan akan menjadi manusia dengan gangguan kejiwaan juga!, tapi aku penasaran, kadang aku berpikir sifat penasaran yang kumiliki sewaktu-waktu pasti akan mencelakakanku, tapi aku tidak peduli, aku mencoba bertanya kembali
“sudah berapa lama tinggal disini ?”, bertanya lagi dengan sabar
“lebih lama dari pohon kelapa itu, disini kotor, banyak sampah, mereka seenaknya, aku kemarin bicara sama dinding kelas katanya dia sedih”, jawabnya dengan penuh perhatian
Baiklah, kali ini jawaban yang kuterima cukup memuaskanku karena pertanyaanku terjawab dengan benar, tapi ada yang mengganjal pikiranku, bagaiamana lelaki ini bisa berbicara dengan dinding dan bahkan melakukan percakapan!, ah, benar-benar kalau saja aku masih melanjutkan pertanyaanku mungkin aku juga akan ikut-ikutan jadi gangguan jiwa, karena aku merasa akan sia-sia apabila terus bertanya, maka aku memilih untuk meninggalkannya,
“pak saya pergi dulu”, dengan nada yang sopan akhirnya aku pergi
“kenapa tidak dari tadi”, jawabnya sambil tertawa
Sial!, ternyata dari tadi lelaki ini mengharapkan aku pergi,” tenang pak aku akan pergi dan ini mungkin kali terakhir aku berbicara dengan bapak”, sambil menggerutu dalam hati.
Masuk ke dalam kelas aku masih saja kepikiran dengan jawaban lelaki itu “dinding sedih”, ucapku secara tidak sengaja, apa iya dinding itu merasa sedih, tapikan dinding itu benda mati, mana mungkin!, oke aku khawatir sepertinya aku akan mulai gila.
Keesokan harinya
Hari ini perkuliahan dimulai agak pagi, dengan wajah yang masih mengantuk aku datang ke kampus, tapi ada pemandangan yang aneh sekali pagi itu, tepat di samping kelas ada sesuatu yang kurang, dan benar lelaki dengan gangguan kejiwaan itu, kemana dia?, baru hari itu aku tidak melihatnya, biasanya dia akan duduk sambil menguliti uang-uang pemberian orang-orang yang merasa iba dengannya, paling tidak dia akan tertidur di samping kelas dengan santainya seperti tidur di kamar sendiri, walaupun hal ini kuanggap tidak cukup penting, tapi ini aneh, atau lelaki itu diusir!, ah, tidak mungki, lelaki itu tidak pernah mengganggu, bahkan dia sesekali membersihkan sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh mahasiswa-mahasiwa yang tidak tahu sama sekali makna slogan “Jagalah kebersihan sekitar”.
Tetap saja hal ini menjadi pemandangan yang aneh, tiba-tiba aku berpikiran positif mungkin lelaki itu pergi menjelajah entah kemana dan kemudian merasa nyama dengan tempat yang ia jelajahi sekarang, paling-paling dia akan kembali kemari duduk dan tertidur di tempat favoritnya itu.
Aku masuk ke dalam kelas, perkuliahan menurutku sangat tidak menarik, kadang-kadang aku megutuk jadwal kuliah pagi yang seenaknya ini dan disitulah aku kadang-kadang iri dengan teman-teman kelas lain yang mendapat giliran kuliah siang hari. Hari itu aku tidak fokus, semua kalimat-kalimat yang terucap di mulut dosenku seperti berita radioa yang sangat membosankan.
Perkuliahan selesai
Akhirnya perkuliahan selesai tepat pukul 10.00 WITA, ketika aku ingin pulang tiba-tiba teman sekelasku bernama Ennu menegurku,
“mau kemana?, jangan pulang dulu, ayo ke akademik, ada film monoton tapi seru”, ajaknya dengan tidak sabar
“apaan?, monoton mana ada yang seru”, jawabku dengan heran
“sudah, ikut aja”, ajaknya dengan sedikit memaksa
Mau tidak mau aku ikut, ya minimal aku bisa cepat tahu apa yang ia maksud dengan “film monoton tapi seru!”. Sesampainya di akademik tiba-tiba rasanya aku ingin tertawa keras-keras tapi aku menahannya karena tentu saja tidak nyaman tertawa keras-keras di ruang akademik dengan keramaian mahasiswa seperti itu, ternyata yang ia maksud dengan “film monoton tapi seru!” itu adalah rekaman CCTV kampus yang benar-benar menampilkan adegan-adegan monoton sepanjang masa, mahasiswa datang kemudian berkaca dan kemudian pergi entah kemana.
Tapi ada yang aneh, rekaman CCTV di samping kelas persis si Lelaki gangguan jiwa itu sering duduk dan tertidur, sekilas hanya biasa saja, lelaki itu duduk dan bersantai, tapi tiba-tiba datang seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dan buang air kecil ke dinding!, dalam rekaman itu Lelaki gangguan jiwa itu tiba-tiba marah dan terjadi perkelahian, lelaki itu terlihat melawan dengan sekuat tenaga, tetap menghalangi pria yang tiba-tiba datang dan buang air kecil tadi, aku sempat kaget, kenapa dia berani sekali, bagaimana kalau dia celaka!?, dan benar lelaki gangguan jiwa itu celaka, dia babak belur demi melindungi gedung kampus agar tidak di kotori oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Semenjak saat itu aku sadar, lelaki itu pasti sedang kesakitan atau mungkin dia sekarat!, aku sangat menyesal mengabaikannya, padahal dia mempunyai niat baik, dia hanya ingin kampus kami tetap bersih!.
Malam ini dingin menusuk pelan-pelan
Seolah sengaja karena ia jengkel
Sedangkan aku yang pelan-pelan terbaring
Di bawah selimut malam, yang sedari tadi telah mencoba menulis puisi di pangkuan langit
Aku merindukan hangat, dari seseorang di seberang sana yang kusebut kekasih,
Mungkin ia sekarang sangat sedih mungkin ia sekarang sangat senang
Sungguh, aku tidak peduli dengan rasa-rasanya malam ini
Di bawah selimut malam dan dingin yang menusuk pelan ini, aku mengirim maaf dari tenggorokanku yang mengering ke bibir yang menggigil dan di antarkannya ke udara, biarkan tuhan bekerja dan menyuruh reaksi ini mengubahnya menjadi sebuah kata sederhana yang menghiasi gelisah malam ini
Inilah rindu, suatu zat yang tidak bisa dilihat mata, dirasa kulit, dan dicium wanginya
Inilah aku, suatu zat yang tidak bisa bertahan atas kemauan-kemauanmu
Semua semu sayang, hanya ada rasa dan rindu yang memaksakan dirinya menjadi nyata
Biar kupikir-kupikir lagi, pasti kau mengucapkan selamat malam dan selamat tidur untukku
Baiklah, selamat malam dan selamat tidur juga sayang, semoga hujan esok, lusa, atau malam ini menghapus perasaan kita masing-masing, biar jarum jam yang sedari dulu berdetak itu mencapai tujuannya,
Untuk mengubah rindu kita menjadi acuh.
Untuk seseorang yang dulu kekasih
Samarinda, 23 Mei 2016
pelan-pelan kubuka mataku dan terdiam, sangat lama terdiam, kemudian mulutku bungkam dan mulai memikirkan, “Oh, aku bangun pagi dan ini jam 7 pagi, di bulan januari”, gerutuku dalam hati, tidak lama kemudian aku berpikir lagi “eh, kuliah! Sial!”, buru-buru aku lompat dari kasur kecilku yang hanya cukup untuk satu orang saja kemudian bergegas menuju kamar mandi, “aku terlambat! Aku terlambat!”, begitulah kebiasaanku di hari senin yang menurutku sangat tidak adil rasanya bangun pagi hari ini, aku mahasiswa Universitas Mulawarman jurusan sastra Indonesia semester 4, aku terburu-buru sekali pagi ini karena perkuliahan dimulai tepat pukul 7.30 pagi dan lebih sialnya lagi hanya butuh waktu tiga puluh menit untukku mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah, tepat pukul 7.25 aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus dan apabila dihitung-hitung butuh waktu 5 menit untuk sampai ke kampus, tepat pukul 8.00 aku sudah tiba di depan kelas, dan yah, Ibu Mus Dosenku memang sangat baik beliau memperbolehkanku masuk ke dalam kelas, beliau hanya memperlihatkan senyumnya dan memperbolehkanku duduk dimana saja yang aku sukai dalam keterlambatanku, jujur saja Dosen tipe seperti ini akan sangat jarang untuk dijumpai!.
Hari ini adalah perkuliahan dari Ibu Mus, beliau adalah Dosen yang bisa dikatakan sangat friendly, dia sangat jauh dari tipe dosen yang sangat tidak bersahabat dengan Mahasiswa. Kuliah hari itu berjalan dan seperti biasanya Ibu Mus sangat suka bercerita, bercerita tentang apa saja, kali ini cerita tentang suatu negeri yang aneh, entah itu fiksi atau kenyataan, tetapi kalau mendengar Ibu Mus bercerita aku sangat tertarik entah kenapa, mungkin karena dia Dosen yang baik.
Negeri-negeri yang pernah ada
Kira-kira ceritanya seperti ini, dulu sekali ada sebuah negeri yang penduduknya terdiri dari dua golongan, pertama adalah golongan orang atas yang isinya adalah orang-orang kaya dan memiliki jabatan dan rata-rata mereka mempunyai fisik yang sama yaitu memiliki bentuk perut yang buncit. kedua, golongan orang bawah terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki jabatan-jabatan khusus di negeri itu, profesinya hanya sebagai petani, buruh, dan para pekerja borongan, dan anehnya lagi, mereka memiliki fisik yang sama pula, yaitu bertubuh kurus sekali. Ada sebuah kebudayaan yang aneh di negeri ini, golongan orang atas seperti yang diketahui adalah orang-orang yang kaya raya dan memiliki penghasilan yang banyak, mereka mempunyai keinginan kuat untuk menjadi orang golongan bawah, sedangkan golongan orang-orang bawah sangatlah bangga dengan golongan mereka karena di negeri ini pencapaian tertinggi dan mempunyai kehormatan adalah orang-orang yang berada di golongan bawah. Dalam sistem kebudayaan mereka orang-orang yang menempati golongan atas adalah orang-orang yang bernasib tidak beruntung, walaupun mereka memiliki kekayaan yang berlimpah ruah. Hal itu dikarenakan orang-orang digolongan ini di anggap sebagai orang-orang yang sangat tidak bisa diandalkan dalam mengerjakan sesuatu, mereka hanya mampu berpikir dan berpikir tanpa melakukan suatu bahasa pembuktian, sedangkan orang-orang yang berada pada golongan bawah adalah orang-orang yang menjadi penggerak segala sistem penghasilan di negeri itu.
Pada suatu ketika orang-orang yang termasuk golongan atas melakukan demo besar-besaran yaitu menuntut adanya keadilan status, suatu keadilan yang mereka harapkan adalah mereka memerlukan suatu citra terhormat dengan jabatan yang mereka jabat sekarang ini, mereka haus dengan bentuk yang seperti itu, mereka bahkan sangat ingin dihormati layaknya orang-orang dari golongan bawah, tentu saja hal ini juga membawa dampak terhadap orang-orang bawah mereka juga menginginkan hal yang sama mereka menginginkan suatu penghormatan dengan cara memiliki jabatan sebagai orang-orang golongan atas, masing-masing golongan mempunyai keinginan yang sama, yaitu menginginkan suatu kehormatan dengan cara bertukar golongan, awalnya pemimpin masing-masing golongan mau tidak mau mengabulkan permohonan mereka dan pada akhirnya mereka bertukar golongan sesuai dengan kemauan mereka.
Pada akhirnya masing-masing golongan telah menjalan kesehariannya, golongan atas yang biasanya bekerja di kantor dan di dalam ruangan yang dingin serta makan-makanan yang enak sekarang bekerja di bawah sinar terik matahari yang menyengat kulit mereka dan makan-makanan seadanya dan bahkan terbilang sangat sedikit, dan golongan bawah bekerja di ruangan dengan suhu yang dingin jauh dari sinar matahari dan mereka mendapatkan makanan yang sangat lezat dan jumlahnya cukup banyak.
Awal malapetaka
Di sinilah muncul masalah baru, masing-masing golongan kembali berdemo lantaran golongan atas sangat tidak menerima kehidupannya yang mengambil peran golongan bawah karena kebanyakan mereka jadi jatuh sakit-sakitan mereka berangsur-angsur sangat kurus dan tidak bertenaga, begitu juga sebaliknya golongan bawah, mereka juga menolak habis-habisan kehidupannya saat ini, mereka jadi terlalu gemuk dan susah bergerak untuk berjalan pun mereka sangat susah, kulit mereka menjadi sangat pucat dan bahkan kehilangan warna kulit mereka karena jarang bertemu langsung dengan sinar matahari, sedemikian parahnya bukan itu saja permasalahan yang terjadi, penghasilan negeri itupun menjadi merosot dan masing-masing golongan tidak mampu lagi membiayai hidup mereka dan negeri itu menjadi negeri yang tidak stabil dan berangsur-angsur menjadi negeri yang dipenuhi oleh orang-orang yang miskin, mati kelaparan, dan terserang penyakit-penyakit yang menular dan ganas, berangsur-angsur negeri itu kehilangan penduduknya satu persatu, malapetaka telah menimpa negeri ini, karena tidak adanya lagi rakyat yang sehat sampai-sampai mereka tumbang dan mati satu per satu tanpa adanya pemakaman dan negeri itu bagaikan medan perang yang meninggalkan bangkai-bangkai mayat yang berserakan, dan akhirnya negeri itu menjadi negeri mati, dan sampai sekarang negeri itu terkenal dengan sebutannya “Negeri Orang Mati”.
Begitulah Ibu Mus bercerita tentang negeri orang mati itu, aku sampai tidak menyangka sampai bisa terjadi sesuatu seperti itu, aku jadi berpikiran mereka mendapatkan malapetakan itu karena kemauan mereka sendiri, merekalah yang menggiring diri mereka hingga menjadi seperti itu, sangat mengenaskan menurutku.
Perkuliahan selesai
Perkuliahan pun selesai dan aku masih saja kepikiran dengan kisah yang siampaikan oleh Ibu Mus, karena penasaran aku langsung menemui Ibu Mus setelah perkuliahan itu selesai dan Ibu Mus keluar dari kelas kami, “maaf bu, boleh saya bertanya sebentar?”, mendatangi Ibu Mus dengan sangat buru-buru, “bertanya tentang apa ?”, jawab Bu Mus dengan sangat sabar, “apa betul negeri itu ada bu?”, Tanyaku dengan sangat penasaran, “apa kamu percaya negeri itu ada?”, Tanya Ibu Mus kembali, “sepertinya iya bu, tapi …”, seketika menjelaskan kemudian Bu mus memotong jawabanku, “negeri itu ada di sini, dalam dirimu, sebuah ketidak seimbangan yang tidak kamu sadari dampaknya”, mendengar perkataan Bu mus aku pulang dengan tersenyum dan berbicara dalam hati “ah, ampun! Kau benar-benar dosen super yang sangat ajaib, bu!".
Sudah beribu waktu dan jarak kita langkahi
Tidak sedikitpun kita ditelanjangi
Sampai pada gunung kebisuan dari setumpuk rindu
Pada setitik garis yang menarikan goresan pilu
Seandainya sudi, ku ingin melirik waktu ke waktu
Di sebuah laci kecil kenangan kita dulu
Ada secarik kertas digores bisu
Tentang malu-malu aku ragu
Tentang malu-malu aku mau
Karena sendu memaksa tangan tuk mematuk
Satu demi satu tulisan kaku nan pilu
Di sana ada goresan janji, untuk saling memikul rindu
Janji-janji yang patah dan tersembunyi
Di balik laci kecilmu
Ada surat kecilku
Tentang kita, tentang ketidak mampuan kita mewujudkan yang seharusnya terwujud