Senin, 09 Mei 2016

Cerita Dongeng dari Dosenku

pelan-pelan kubuka mataku dan terdiam, sangat lama terdiam, kemudian mulutku bungkam dan mulai memikirkan, “Oh, aku bangun pagi dan ini jam 7 pagi, di bulan januari”, gerutuku dalam hati, tidak lama kemudian aku berpikir lagi “eh, kuliah! Sial!”, buru-buru aku lompat dari kasur kecilku yang hanya cukup untuk satu orang saja kemudian bergegas menuju kamar mandi, “aku terlambat! Aku terlambat!”, begitulah kebiasaanku di hari senin yang menurutku sangat tidak adil rasanya bangun pagi hari ini, aku mahasiswa Universitas Mulawarman jurusan sastra Indonesia semester 4, aku terburu-buru sekali pagi ini karena perkuliahan dimulai tepat pukul 7.30 pagi dan lebih sialnya lagi hanya butuh waktu tiga puluh menit untukku mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah, tepat pukul 7.25 aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus dan apabila dihitung-hitung butuh waktu 5 menit untuk sampai ke kampus, tepat pukul 8.00 aku sudah tiba di depan kelas, dan yah, Ibu Mus Dosenku memang sangat baik beliau memperbolehkanku masuk ke dalam kelas, beliau hanya memperlihatkan senyumnya dan memperbolehkanku duduk dimana saja yang aku sukai dalam keterlambatanku, jujur saja Dosen tipe seperti ini akan sangat jarang untuk dijumpai!.

Hari ini adalah perkuliahan dari Ibu Mus, beliau adalah Dosen yang bisa dikatakan sangat friendly, dia sangat jauh dari tipe dosen yang sangat tidak bersahabat dengan Mahasiswa. Kuliah hari itu berjalan dan seperti biasanya Ibu Mus sangat suka bercerita, bercerita tentang apa saja, kali ini cerita tentang suatu negeri yang aneh, entah itu fiksi atau kenyataan, tetapi kalau mendengar Ibu Mus bercerita aku sangat tertarik entah kenapa, mungkin karena dia Dosen yang baik.

Negeri-negeri yang pernah ada

Kira-kira ceritanya seperti ini, dulu sekali ada sebuah negeri yang penduduknya terdiri dari dua golongan, pertama adalah golongan orang atas yang isinya adalah orang-orang kaya dan memiliki jabatan dan rata-rata mereka mempunyai fisik yang sama yaitu memiliki bentuk perut yang buncit. kedua, golongan orang bawah terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki jabatan-jabatan khusus di negeri itu, profesinya hanya sebagai petani, buruh, dan para pekerja borongan, dan anehnya lagi, mereka memiliki fisik yang sama pula, yaitu bertubuh kurus sekali. Ada sebuah kebudayaan yang aneh di negeri ini, golongan orang atas seperti yang diketahui adalah orang-orang yang kaya raya dan memiliki penghasilan yang banyak, mereka mempunyai keinginan kuat untuk menjadi orang golongan bawah, sedangkan golongan orang-orang bawah sangatlah bangga dengan golongan mereka karena di negeri ini pencapaian tertinggi dan mempunyai kehormatan adalah orang-orang yang berada di golongan bawah. Dalam sistem kebudayaan mereka orang-orang yang menempati golongan atas adalah orang-orang yang bernasib tidak beruntung, walaupun mereka memiliki kekayaan yang berlimpah ruah. Hal itu dikarenakan orang-orang digolongan ini di anggap sebagai orang-orang yang sangat tidak bisa diandalkan dalam mengerjakan sesuatu, mereka hanya mampu berpikir dan berpikir tanpa melakukan suatu bahasa pembuktian, sedangkan orang-orang yang berada pada golongan bawah adalah orang-orang yang menjadi penggerak segala sistem penghasilan di negeri itu.

Pada suatu ketika orang-orang yang termasuk golongan atas melakukan demo besar-besaran yaitu menuntut adanya keadilan status, suatu keadilan yang mereka harapkan adalah mereka memerlukan suatu citra terhormat dengan jabatan yang mereka jabat sekarang ini, mereka haus dengan bentuk yang seperti itu, mereka bahkan sangat ingin dihormati layaknya orang-orang dari golongan bawah, tentu saja hal ini juga membawa dampak terhadap orang-orang bawah mereka juga menginginkan hal yang sama mereka menginginkan suatu penghormatan dengan cara memiliki jabatan sebagai orang-orang golongan atas, masing-masing golongan mempunyai keinginan yang sama, yaitu menginginkan suatu kehormatan dengan cara bertukar golongan, awalnya pemimpin masing-masing golongan mau tidak mau mengabulkan permohonan mereka dan pada akhirnya mereka bertukar golongan sesuai dengan kemauan mereka.

Pada akhirnya masing-masing golongan telah menjalan kesehariannya, golongan atas yang biasanya bekerja di kantor dan di dalam ruangan yang dingin serta makan-makanan yang enak sekarang bekerja di bawah sinar terik matahari yang menyengat kulit mereka dan makan-makanan seadanya dan bahkan terbilang sangat sedikit, dan golongan bawah bekerja di ruangan dengan suhu yang dingin jauh dari sinar matahari dan mereka mendapatkan makanan yang sangat lezat dan jumlahnya cukup banyak.

Awal malapetaka

Di sinilah muncul masalah baru, masing-masing golongan kembali berdemo lantaran golongan atas sangat tidak menerima kehidupannya yang mengambil peran golongan bawah karena kebanyakan mereka jadi jatuh sakit-sakitan mereka berangsur-angsur sangat kurus dan tidak bertenaga, begitu juga sebaliknya golongan bawah, mereka juga menolak habis-habisan kehidupannya saat ini, mereka jadi terlalu gemuk dan susah bergerak untuk berjalan pun mereka sangat susah, kulit mereka menjadi sangat pucat dan bahkan kehilangan warna kulit mereka karena jarang bertemu langsung dengan sinar matahari, sedemikian parahnya bukan itu saja permasalahan yang terjadi, penghasilan negeri itupun menjadi merosot dan masing-masing golongan tidak mampu lagi membiayai hidup mereka dan negeri itu menjadi negeri yang tidak stabil dan berangsur-angsur menjadi negeri yang dipenuhi oleh orang-orang yang miskin, mati kelaparan, dan terserang penyakit-penyakit yang menular dan ganas, berangsur-angsur negeri itu kehilangan penduduknya satu persatu, malapetaka telah menimpa negeri ini, karena tidak adanya lagi rakyat yang sehat sampai-sampai mereka tumbang dan mati satu per satu tanpa adanya pemakaman dan negeri itu bagaikan medan perang yang meninggalkan bangkai-bangkai mayat yang berserakan, dan akhirnya negeri itu menjadi negeri mati, dan sampai sekarang negeri itu terkenal dengan sebutannya “Negeri Orang Mati”.

Begitulah Ibu Mus bercerita tentang negeri orang mati itu, aku sampai tidak menyangka sampai bisa terjadi sesuatu seperti itu, aku jadi berpikiran mereka mendapatkan malapetakan itu karena kemauan mereka sendiri, merekalah yang menggiring diri mereka hingga menjadi seperti itu, sangat mengenaskan menurutku.

Perkuliahan selesai

Perkuliahan pun selesai dan aku masih saja kepikiran dengan kisah yang siampaikan oleh Ibu Mus, karena penasaran aku langsung menemui Ibu Mus setelah perkuliahan itu selesai dan Ibu Mus keluar dari kelas kami, “maaf bu, boleh saya bertanya sebentar?”, mendatangi Ibu Mus dengan sangat buru-buru, “bertanya tentang apa ?”, jawab Bu Mus dengan sangat sabar, “apa betul negeri itu ada bu?”, Tanyaku dengan sangat penasaran, “apa kamu percaya negeri itu ada?”, Tanya Ibu Mus kembali, “sepertinya iya bu, tapi …”, seketika menjelaskan kemudian Bu mus memotong jawabanku, “negeri itu ada di sini, dalam dirimu, sebuah ketidak seimbangan yang tidak kamu sadari dampaknya”, mendengar perkataan Bu mus aku pulang dengan tersenyum dan berbicara dalam hati “ah, ampun! Kau benar-benar dosen super yang sangat ajaib, bu!".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar