Tidak pernah aku menyapa dengan melankolis
apalagi disuruh menghadap kepada sang realistis
tidak juga aku merasa terlalu apatis
karena kurasa aku masih berjalan logis
kita ini kurasa sudah cukup merdeka
karena kita bebas menerka-nerka
aku juga tidak tahu apa bisa masuk neraka
kalau saja jalan kita sama seperti mereka
semakin tinggi semakin menyendiri
memelihara rasa nikmat yang disebut iri
ya jatuhnya palingan dibawa menari-nari
terus makin kesini, makin tidak tahu diri
satu pucuk
dua pucuk
ah jancuk
rasa-rasa seperti kehilangan emosi
melihat merpati sudah tidak setia lagi
meniduri merpati lain dengan lambang setianya
aku rasa kita sudah di akhir pekan
akhir pekan zaman tiada garis ...
Rabu, 30 Desember 2015
Minggu, 27 Desember 2015
Desaparecer
Kurangkai satu demi satu gelisah malam ini
Tidak ada satupun gelisah yang benar gelisah
Dengan bangganya bercanda dengan bunga
Cuma sakit yang bisa merasa dengan serius
Kubuat bintang menjadi jalan setapak
Kuinjak satu persatu cahaya yang didamba orang
Mungkin mereka berpikiran aku sudah tidak waras
Bukan aku yang tidak waras, tapi imajinasiku yang terlalu
lepas
Anak dibalik usianya yang belia, sudah memainkan peran
dewasa
Bersetubuh dengan rindu dan menjalarkan nafsu dengan amarah
Anakmu kah ?, saudaramu kah ?, atau siapakah ?
Berani-beraninya memerankan diri menjadi pemberontak ?
Padahal baru kemarin sore dia belajar menikam dirinya
Sadar atau tidak sadar kita ini sudah mati
Cuma peran hidup butuh orang hidup
Betul-betul dihidupkannya kita dengan santun
Kemudian dipaksanya kita merasa, padahal sudah tidak ada rasa
di jasad mati.
Sabtu, 26 Desember 2015
Pelara
aku terlalu sibuk mengalah dengan keadaan yang mendominasi sekarang ini
seperti rumput yang diinjak karena ada bunga cantik di atasnya.
sewaktu-waktu aku bisa menengok jam tanganku tidak untuk melihat pukul berapa sekarang ?
tapi untuk mendengarkan nada gesekan jarum jam yang mencipta musik monoton paling indah dari harmoni klasik sekalipun.
semua terjadi begitu saja ketika bulan menunjuk perwakilannya sang Desember,
kebetulan saja aku sangat memfavoritkan Desember ini
banyak gelisah di dalamnya sungguh,
gelisah yang bisa saja secara perlahan menikam pelan ditiap minggunya, aku keliru barangkali ?,
cemas
gusar
galau
dan segala tetek bengeknya
apa saja yang melambangkan kehinaan manusiawi sudahlah aku sudah khatam sepertinya.
seperti rumput yang diinjak karena ada bunga cantik di atasnya.
sewaktu-waktu aku bisa menengok jam tanganku tidak untuk melihat pukul berapa sekarang ?
tapi untuk mendengarkan nada gesekan jarum jam yang mencipta musik monoton paling indah dari harmoni klasik sekalipun.
semua terjadi begitu saja ketika bulan menunjuk perwakilannya sang Desember,
kebetulan saja aku sangat memfavoritkan Desember ini
banyak gelisah di dalamnya sungguh,
gelisah yang bisa saja secara perlahan menikam pelan ditiap minggunya, aku keliru barangkali ?,
cemas
gusar
galau
dan segala tetek bengeknya
apa saja yang melambangkan kehinaan manusiawi sudahlah aku sudah khatam sepertinya.
Rabu, 16 Desember 2015
Relung Malam
Pernah ku dengar anak tangga itu meringis
bersamaan dengan suara pintu pun ikut meringis
kudapati wajah lelah itu, raut jelas tampak gelisahnya
tidak ku dapati bahagia akan hari ini kepadanya
dia yang katanya tidak mengenal lelahnya hari
tadi sumpah, aku melihatnya menangis
bukan karena hatinya pelan di gores
tapi karena hatinya iba dengan nasibnya
sekitarnya mana tahu tentang derita, apalagi deritanya
Tuhan pun kutemui sedang menonton permainannya
"sebentar, akhirnya belum kubentuk maaf ya"
mati rasa, yang mencipta sedang bermain dengannya
aku masih merangkak waktu itu
kalimat yang terucap cuma deretan tangis
kadang aku merasa berdosa
ku kira tangisku mengalihkan perhatiannya, tidak dia ikutan menangis
malam itu aku tidak mau tau
lebih baik menguras air mati bersama
daripada kulihat dia menangis sendiri
aku kesal waktu itu
sangat kesal ...
"Untuk Ayah yang meninggalkan kami"
bersamaan dengan suara pintu pun ikut meringis
kudapati wajah lelah itu, raut jelas tampak gelisahnya
tidak ku dapati bahagia akan hari ini kepadanya
dia yang katanya tidak mengenal lelahnya hari
tadi sumpah, aku melihatnya menangis
bukan karena hatinya pelan di gores
tapi karena hatinya iba dengan nasibnya
sekitarnya mana tahu tentang derita, apalagi deritanya
Tuhan pun kutemui sedang menonton permainannya
"sebentar, akhirnya belum kubentuk maaf ya"
mati rasa, yang mencipta sedang bermain dengannya
aku masih merangkak waktu itu
kalimat yang terucap cuma deretan tangis
kadang aku merasa berdosa
ku kira tangisku mengalihkan perhatiannya, tidak dia ikutan menangis
malam itu aku tidak mau tau
lebih baik menguras air mati bersama
daripada kulihat dia menangis sendiri
aku kesal waktu itu
sangat kesal ...
"Untuk Ayah yang meninggalkan kami"
Senin, 14 Desember 2015
Lampu Taman
Kira-kira mauku sederhana
kalau aku punya sesuatu yang jatuhnya lebih
akan kusahkan kau dengan membuat sihir lisan
membuat mulut-mulut orang bersuara "Syah!"
Bagiku tidak berlebihan
ku ajak kau ke negeri orang
dengan sombongnya, bahagia dua insan baru
kita berkata pada zaman itu
Mereka yang mencipta jalanku dan jalanmu
akan mengalah dengan bahagia aku dan kamu
mereka cuma beda pada keyakinan percaya itu dan ini
tapi mereka akan tunduk pada kesenangan aku dan kamu
pada akhirnya, mengkhayalku kita dibawah lampu taman
meninggalkan bangku yang baru hangat kita duduki
pohon warna warni itu iri jua nampaknya
aku melebarkan payung dan berjalan perlahan
menggandeng tanganmu kemudian kugandeng bahumu
imajinasiku terlalu bahagia
doakan saja sebahagia aku sekarang
memimpikan masa depan baru-baru saja.
12 Desember 2015
untukmu cinta akhir tahun
kalau aku punya sesuatu yang jatuhnya lebih
akan kusahkan kau dengan membuat sihir lisan
membuat mulut-mulut orang bersuara "Syah!"
Bagiku tidak berlebihan
ku ajak kau ke negeri orang
dengan sombongnya, bahagia dua insan baru
kita berkata pada zaman itu
Mereka yang mencipta jalanku dan jalanmu
akan mengalah dengan bahagia aku dan kamu
mereka cuma beda pada keyakinan percaya itu dan ini
tapi mereka akan tunduk pada kesenangan aku dan kamu
pada akhirnya, mengkhayalku kita dibawah lampu taman
meninggalkan bangku yang baru hangat kita duduki
pohon warna warni itu iri jua nampaknya
aku melebarkan payung dan berjalan perlahan
menggandeng tanganmu kemudian kugandeng bahumu
imajinasiku terlalu bahagia
doakan saja sebahagia aku sekarang
memimpikan masa depan baru-baru saja.
12 Desember 2015
untukmu cinta akhir tahun
Jumat, 11 Desember 2015
Ketakutan - ketakutan
Manusia mempunyai ketakutan-ketakutannya tersendiri, tapi tidak ada ketakutan yang tidak bisa dilawan, ketakutan memiliki obatnya tersendiri dan aku pikir aku sudah masuk ke dalam fase takut, bukan dalam konteks takut dalam artian sesuatu yang mengerikan atau menakutkan, aku rasa aku takut terhadap sesuatu yang akan hilang, seperti sebelum-sebelumnya.
Aku rasa, aku sudah sangat sering mengalami kehilangan, kehilangan pertamaku adalah kehilangan atau hilang rasa cinta dari kedua orang tuaku karena hubungan mereka yang tidak harmonis, awalnya aku rasa itu tidak akan berdampak apa - apa untukku dikemudian hari, tapi ternyata hal itu sangat berdampak, belakangan ini aku menyadari bahwa inilah yang membuatku sangat over terhadap hubungan, aku sangat menginginkan hubungan yang sempurna, hubungan dengan seseorang tanpa memerhatikan dia menginginkan apa, dan mungkin juga karena itulah aku kehilangan kepercayaanku untuk memiliki seseorang, karena pasti mereka akan pergi cepat atau lambat.
Tapi akhir-akhir ini ada seorang wanita yang berhasil mencuri perhatianku kembali, wanita itu adalah orang yang sekarang ini sudah menjadi bagian dari hidupku, hubungan kami memasuki usia yang sangat masih sangat muda, akan tetapi aku masih terbayang-bayang dengan ketakutan-ketakutan akan kehilangan, aku merasa tidak bisa seperti ini, satu sisi aku sudah membiarkan dan membebaskan dia karena aku yakin cinta itu bukan membatasi, aku banyak belajar dari pengalaman - penglamanku, tapi aku rasa sebaik apapun kita belajar dari pengalaman, pasti kesalahan dari pengalaman itu masih terngiang.
Contoh kecil, memasuki hubungan kami yang hampir menginjak 1 minggu ini, seperti umumnya orang pasti hubungan akan berjalan dengan harmonis dan masih sangat hangat, aku sudah berusaha mengusahakan upaya terbaikku untuk membuat si dia tetep merasa nyaman denganku, tapi sepertinya aku merasa kurang walaupun dia sudah tampak bahagia, lagi - lagi kenangan dari kesalahan - kesalahanku sebelumnya masih juga terngiang yang membuat aku hampir mengambil keputusan gila dengan sangat over dengan hubunganku yang baru. jujur saja ibaratkan fase, di hubungan kami yang hampir menginjak usianya yang hampir 1 minggu aku sudah masuk ke dalam fase sayang, yang seperti umumnya hubungan fase ini adalah fase dimana kamu akan merasa nyaman dengan pasangan kita dan akan terasa sulit apabila kehilangan perhatiannya sedikit saja, dan mungkin saja fase ini yang membuatku agak sedikit takut dalam mengalami kesalahan dan aku selalu mengusahakan tindakan apapun untuk mengurangi kesalahan, tapi aku rasa aku sangat berlebihan.
Aku takut hal yang tidak seharusnya terulang akan terulang, aku tidak akan mau hubungan yang kali ini akan akan gagal lagi, sejauh ini aku tidak pernah meminta nasihat orang lain karena aku rasa nasihat terbaik datangnya dari diri kita sendiri, karena yang menjalani adalah diri kita sendiri, hanya doa dan semangat yang bisa mengurangi sisa-sisa ketakutan, semisal akan tercipta kesalahan - kesalahan terbaru, akan ku koleksi dalam daftar pembelajaranku.
Mungkin juga ini kekhawatiranku untuk kehilangan lagi. aku harap aku tetap seperti Lampu Taman yang redup dan menyala tetap ditempat yang indah. sekian bacotan malam ini selalu berdoa yang terbaik untuk kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
