Senin, 28 November 2016
Aloena
Sabtu, 26 November 2016
Luapan Rindu Demi Rindu
Butir demi butir air jatuh ke tanah
Tanah demi tanah mulai basah
Diserapnya air itu oleh tanah yang menerimanya
Melayang ia ke atas karena matahari
Sempatkah kita bercengkrama tanpa membebani diri kita akan luka masa silam yang tertanam
Aku tidak sabar menanti dengan gelisah
Tutup matamu dan resapi makna perpisahan yang berbuah rindu
Daun segar bisa layu dan ranting kokoh bisa rapuh, tapi ia akan tumbuh kembali dan menaruh harapan indah pada tubuhnya
Bibirmu yang bertemu dengan bibirku
Terpejam dan berkelana mengasingkan diri kita dari kabut-kabut pengganggu
Kau singkat tapi ada selalu
Menemani masa mudaku, entah menjadi apakah aku di semesta itu
Tapi aku masih menggenggam perasaan dan rindu yang menggebu hingga hatiku ikut mengkerut
Aku ingin merasakan bau tubuhmu sekali lagi, hingga aku benar-benar melupakan bau itu karena otakku sibuk memikirkan masa depan
Ku dewasa nanti akan kugenggam Gerhana Bulan agar ia tidak berganti, bersama dirimu yang telah berganti dan kenangan kita yang menolak mati.
27 November 2016
Minggu sore dan menunggu dirimu kembali
Kopi Hitam, Espresso, dan Kenangan
“hanya saja, ia masih menunggumu untuk berubah dan kau berubah tanpa menunggunya".
Cerita tentang Mata Hari, Adalah Cerita Tentang Kita
Tidak ada lagi pikiran
Aku sudah menapaki sepi sedari dulu
Tidak ada lagi kenangan
Aku sudah memaki sepi sedari dulu
Dari aku yang menyiksa
Kurang dari ini, aku adalah nestapa hitam
Terkurung dalam tatapan matamu
Berharap bebas tetapi kuingin tetap
Kau bilang padaku hari sudah senja
Aku bilang bukan, hari memang sengaja
Kau bilang padaku malam sebentar lagi datang
Aku bilang bukan, malam hanya gelap sementara
Kau bilang padaku kau ingin pergi
Aku bilang baiklah, hari sudah malam dan senja sudah berlalu
Aku malu-malu menitip pesan pada matahari, bila ia berpapasan dengan bulan cobalah menanyakannya apakah ia masih mencinta sedari awal ?.
Kalau saja jawabannya iya, jaga dia.
Kalau saja jawabannya tidak, pergilah.
Aku ingin tenggelam di matamu, sekarang atau kapan lagi ?
Esok, kita tidak bersama lagi bukan ?
Bulan sudah bosan menegur matahari.
Ia sangat panas.
26 November 2016
Sabtu
Jumat, 25 November 2016
Selamat Menyambut Hari-Hari Penuh Rindu
Kita di ambang akhir
Mencium harum aroma tubuhmu di pelukan yang paling hangat dan mengalir
Tidak kusangka air mata adalah penutup
Seperti membasahi hausnya kebodohanku sebagai kekasihmu
Aku kehilangan hal yang kusukai
Tatapan matamu yang memancar memberi makna; tidak ada yang lebih hangat dari pelukanku yang memberimu posisi tertinggi
Sore datang begitu cepat
Begitu singkat hingga aku tak sanggup berkata-kata,
Berkata untuk berucap selamat tinggal.
Selamat datang hari-hari penuh rindu.
26 November 2016
Samarinda
Minggu, 20 November 2016
Syarat Nikah Seorang Bilal
“siapa pun yang dapat menghafal al-qur’an akan kunikahkan dengan putriku”. Seketika kabar yang menyatakan bahwa pak Sutomo ingin menikahkan putri kesayangannya Aisye kepada siapa saja pemuda yang dapat menghafal al-qur’an. Tentu saja kabar ini seketika menyebar luas ke seluruh pelosok kampung seperti desiran angin dari entah berantah dan dirasakan langsung oleh setiap bulu kuduk pemuda-pemuda di kampung itu. Memang anak pak Sutomo terkenal dengan parasnya yang cantik jelita, pemuda-pemuda yang sengaja nongkrong di warung kerap kali bertemu dengan Aisye sepulang mengaji di Surau bersama teman-temannya dan mereka selalu menghentikan aktivitas mereka sejenak demi melihat pesona paras Aisye yang jelita.
Betapa terkejutnya pemuda-pemuda ini mendengar kabar tersebut sampai-sampai ada yang berkeinginan untuk menghafal al-qur’an dan ada pula yang secara tiba-tiba rajin sholat lima waktu dan berdoa untuk diberi kelancaran demi menghafal al-qur’an. Tidak kurang juga warga-warga kampung menganggap pak Sutomo sudah gila karena ia ngebet ingin menikahkan anaknya. Warga kampung mengenal pak Sutomo sebagai sosok pria dewasa yang rajin beribadah di masjid bahkan ia sangat keras terhadap putrinya dalam pembinaan agama, Pak Sutomo juga termasuk warga kampung yang sangat dihormati. Tetapi langsung saja ketika warga mendengar kabar tersebut secara tiba-tiba pak Sutomo beserta keluarganya menjadi buah bibir warga kampung. Banyak warga kampung berpendapat bahwa kenapa Aisye putri tunggalnya ingin ia nikahkan kepada pemuda yang syaratnya hanya dapat menghafal al-qur’an ?, mereka beranggapan bahwa kalau saja menghafal al-qur’an semua orang pasti bisa kalau sekedar menghafal tapi bagaimana dengan akhlaknya ?.
Sampai suatu ketika kabar bahwa keluarga pak Sutomo menjadi buah bibir sampai juga ke telinga pak Sutomo melalui istrinya. Istri pak Sutomo sangat khawatir dengan hal tersebut ditambah lagi
kekhawatirannya terhadap suaminya ketika ia menceritakan kabar tersebut kepada suaminya dan ternyata pak Sutomo hanya berkata, “menurut saja pada suami”. Tentu saja istri pak Sutomo tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah suaminya berkata demikian. Selayaknya anak yang penurut dan mematuhi segala perintah ayahnya, Aisye hanya mengangguk dan menerima apapun yang dikatakan ayahnya, Aisye berpikir biarpun ia kalangan pemuda dari latar belakang yang seperti apapun ketika ia berusaha menghafal al-qur’an pasti ia akan berubah menjadi pemuda yang sholeh, masalah akhlak ia akan berjuang bersama pemuda yang kelak akan menjadi suaminya itu.
_
Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda dari warga kampung tersebut mengajukan diri sebagai calon suami Aisye dan ia bertemu langsung dengan pak Sutomo di Surau biasa pak Sutomo menjadi imam dan sekaligus tempat Aisye mengaji bersama teman-temannya.
Pemuda itu bernama Bilal, warga kampung mengenal Bilal sebagai pemuda yang rajin beribadah dan anak jebolan pesantren terkemuka. “apakah kamu yakin ingin menikahi anak saya?” tanya Pak Sutomo.
“yakin pak kebetulan saya menghafal al-qur’an secara fasih dan paham akan makna-maknanya”.
Pak Sutomo tertawa terbahak-bahak sampai-sampai suaranya terdengar sampai ke luar Surau, Bilal terkejut dengan tawa Pak Sutomo sekaligus juga bingung dengan maksud tawa dari pria yang ada di depannya tersebut, apakah pria itu meremehkannya atau justru bangga kepadanya.
“saya bisa memulai menyampaikan hafalan saya kalau bapak bersedia” kata Bilal
“tidak perlu anak muda, justru aku akan kembali memberimu tugas baru”
“tugas baru ?, tugas apakah itu pak ?”
“karena kau telah menghafal al-qur’an beserta makna-maknanya, aku ingin kau menghafal kitab injil”
“kitab injil !?”
“ya, kenapa ?, kau terkejut ?, aku tidak memaksamu, kau bisa saja mengundurkan diri, itu tidak jadi masalah untukku”
Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan syarat selanjutnya akhirnya Bilal menyanggupi permintaan Pak Sutomo, ia akan mencoba untuk menghafal kitab injil dan kembali mendatangi pak Sutomo di Surau.
_
Akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarinya menghafal kitab Injil sekaligus memahaminya, awalnya ia ragu untuk melanjutkan niatnya untuk menghafal kitab injil karena ia seorang muslim tetapi ia kembali berpikir apa salahnya menghafal dan paham makna kitab injil ?, tetapi ia tetaplah seorang Muslim. Ia bertemu seorang Pendeta dan ternyata Pendeta itu bersedia untuk mengajarinya. Pada mulanya Bilal beranggapan ini akan sulit karena ia bukanlah umat kristiani, tetapi berkat kemurahan hati Pendeta itu akhirnya Bilal diberikan izin untuk menghafal kitab injil dan memaknainya. Setiap hari selepas sholat isya Bilal selalu mengunjungi rumah Pendeta itu.
Pendeta itu selalu menyambutnya dengan sangat baik dan memberikan pelayanan yang baik pula.
“sebelumnya aku ingin bertanya anak muda, kenapakah kau ingin menghafal kitab injil ?” tanya Pendeta itu
“maafkan aku sebelumnya pak, sebenarnya ini adalah syarat yang diberikan oleh seseorang sebelum aku menikahi anak gadisnya”
“apakah orang itu seorang kristiani ?”
“bukan pak, ia muslim begitu pun anak gadisnya”
“unik sekali orang itu”
“ya begitulah pak”
“tapi tidak menjadi masalah, aku akan menepati janjiku kepadamu, tapi dengan satu syarat”
“apakah itu pak?”
“setelah kau berhasil menghafal kitab Injil dan paham akan maknanya, aku ingin kau menghafal dan paham makna-makna dari kitab Weda”
Lagi-lagi Bilal berpikir lama sekali, ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tetapi mau tidak mau harus melakukan syarat itu demi menikahi Aisye anak pak Sutomo.
“baik pak saya bersedia”.
_
Beberapa bulan kemudian akhirnya Bilal hafal kitab Injil dan makna-maknanya, selanjutnya ia akan mencari seorang guru yang dapat mengajarkannya dan menghafal kitab Weda.
Tidak berapa lama akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarkannya kitab Weda. Ia kembali memulai pengalamannya untuk mencapai tujuannya. Seperti sebelumnya seseorang yang bersedia mengajarkannya kitab Weda pun terkejut mendengar latar belakangnya ingin menghafal dan mempelajari makna kitab Weda, entah mengapa seorang guru itu pun memerintahkan Bilal setelah menghafal dan memahami isi kitab Weda untuk melanjutkan menghafal dan memaknai kitab Tripitaka. Betapa terkejutnya Bilal kenapa semua guru yang ia temui memerintahkannya untuk memahami semua kitab-kitab yang berbeda, Bilal sempat merasa goyah dan mengurungkan niatnya, tetapi lagi-lagi ia berpegang teguh bahwa ia hanya menghafal dan memaknai tidak lebih, ia tetaplah seorang Muslim.
_
Bilal melanjutkan perjalanannya untuk mencari seseorang yang dapat mengajarkannya kitab Tripitaka setelah ia paham akan kitab Weda. Ia sempat mempersiapkan dirinya ketika seseorang yang mengajarinya nanti akan memerintahkannya untuk mempelajari kitab-kitab yang lainnya lagi.
Bilal bertemu dengan seseorang yang dapat mengajarinya kitab Tripitaka dan lagi-lagi menceritakan latar belakangnya, dan ternyata seorang guru itu tidak memberi syarat apapun, dan betapa terkejutnya Bilal dengan itu.
Akhirnya Bilal mulai mempelajari kitab Tripitaka, satu hal yang dapat ia simpulkan setiap kitab mengajarkan kebenaran semua berasal dari Tuhan dengan bentuk Tuhan yang berbeda-beda akan tetapi intinya tetap sama yaitu membina korelasi dengan Tuhan, siapapun yang dituhankan akan tetapi tetap merujuk pada pedoman hidup semuanya merujuk pada mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-larangannya.
Bilal menyelesaikan pelajarannya mengenai kitab Tripitaka, dan Bilal menanyakan apa tidak ada syarat lagi setelah mempelajari kitab Tripitaka dan seseorang itu tidak meminta syarat apapun kecuali meminta Bilal untuk ikhlas.
_
Bilal kembali menemui Pak Sutomo dan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mempelajari Kitab injil dan ia sampai mempelajari kitab-kitab yang lainnya. Sangat mengejutkan sekali, akhirnya Pak Sutomo mengizinkan Bilal untuk menikahi anak gadisnya. Tentu saja Bilal merasa senang akan hal itu, tetapi Bilal mencoba untuk bertanya kembali kepada Pak Sutomo,
“maaf pak, apa boleh saya bertanya ?”
“boleh, tanyakan saja”
“kenapa bapak memerintahkanku untuk menghafal dan memahami makna kitab Injil ?, sampai-sampai aku mendapat syarat untuk menghafal dan memaknai kitab weda dan Tripitaka, apakah itu ada hubungannya dengan putri bapak ?”
“aku ingin kau menikahi anakku dengan sadar bahwa bukan kau saja yang memiliki agama di muka bumi ini dan ….”, seketika pak Sutomo terdiam dan menimbulkan rasa penasaran terhadap Bilal
“dan apa pak ?”
“ikhlas”
Senin, 14 November 2016
Radio dan Pesan Singkat
Radio modern itu membawakan lagu acak
Diriku sedang asik-asiknya bermain dengan pesan singkat.
Adakah yang akan menghilang setelah ini ?
Jangan kamu, tapi ragamu mungkin.
Selasa, 01 November 2016
Ciuman Yang Dirindukan
Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.
Ia penasaran dan terpikir untuk melakukan suatu hal yang orang banyak pikirkan pasti itu adalah hal yang gila, ia ingin mencium seorang wanita. Wanita yang selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitar Gang Kemuning.
Banyak orang yang berkata bahwa setiap dini hari menyapa, pasti akan ada sosok wanita yang selalu berjalan di sepanjang Gang Kemuning dan selalu menyebarkan senyumannya kepada pemuda-pemuda yang berkumpul untuk sekadar bermain gitar dan bermain kartu.
Ada juga yang berkata bahwa salah satu pemuda disana pernah mencoba untuk berkenalan dan bahkan sampai berciuman dengannya. Kemudian pemuda yang berciuman dengannya akan merasakan suatu kenikmatan tiada tara, mereka yang mendapatkan ciuman dari wanita itu akan merasakan sensasi-sensasi yang menakjubkan, ia akan dibuat melayang-layang sampai lupa daratan. Hal ini yang membuat Lelaki itu merasa penasaran dan ingin merasakan langsung bagaimana sensasi ciuman wanita itu.
Sempat terpikir di benak lelaki itu, apakah wanita itu adalah seorang pelacur?, tetapi menurut omongan-omongan yang pernah ia dengar, pemuda-pemuda yang mengaku pernah mendapatkan ciuman wanita itu bukanlah seorang pelacur, ia tidak dibayar, sekurang-kurangnya ia bukan wanita bayaran, ia hanya tertarik dengan ciuman-ciuman pemuda-pemuda yang berani berkenalan dengannya.
_
Di suatu malam lelaki itu sengaja untuk berjalan-jalan di Gang Kemuning hanya untuk melihat langsung rupa wanita itu, tentu saja ia ingin merasakan secara langsung bagaimana jika ia berciuman dengan wanita yang sering dibicarakan itu.
Beberapa kali lelaki itu mondar-mandir di Gang Kemuning dan tidak menjumpai siapa-siapa kecuali pemuda-pemuda yang nongkrong di sana. Sampai ketika pemuda bernama Santo menegurnya,
“mas, tumben jam segini keliaran. Cari siapa?”
Lelaki itu hanya tersenyum dan berlalu, pikirnya akan sangat memalukan apabila ia berkata sebenarnya kepada pemuda itu bahwa ia ingin bertemu dengan wanita yang sering berkeliaran di Gang itu setiap dini hari dan ingin berkenalan kemudian menciumnya.
Pikir lelaki itu isu-isu yang beredar di Gang itu tentang seorang wanita yang berkeliaran hanyalah omong kosong yang dibuat-buat oleh pemuda-pemuda iseng. Ia pulang kerumah dan mencoba mengurungkan niat bodohnya. Tetapi justru hal itu yang membuat Lelaki itu makin tidak bisa tertidur karena rasa penasarannya. “apa mungkin wanita itu tidak muncul malam ini?”, dan pikiran-pikirannya yang lain menghantuinya. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan mengenai kemungkinan-kemungkinan. Kemudian Lelaki itu memilih untuk berkeliaran lagi di sekitar Gang Kemuning di waktu yang sama, pikirnya mungkin wanita itu akan muncul keesokan harinya dan ia berharap bisa menghapus rasa penasarannya tentang wanita itu.
_
Keesokan harinya ia melakukan hal yang sama kembali. Ia melewati pos yang biasa digunakan pemuda-pemuda untuk berkumpul, kali ini berbeda pemuda-pemuda itu hanya melihatnya saja, tanpa mempertanyakan maksud dan tujuan lelaki itu.
Pikir lelaki itu rencananya berjalan dengan lancar, ia tidak terlalu suka ketika orang-orang bertanya tentang urusannya pribadi, baginya yang ingin ia lakukan adalah haknya, akan tidak baik apabila orang lain mengetahui urusannya.
Lagi-lagi ia tidak menemukan apa-apa di sepanjang Gang Kemuning hanya secercah cahaya lampu Gang yang remang-remang menghiasi Gang tersebut, seolah-olah member tahu lelaki itu bahwa tidak ada apa-apa di Gang itu.
Lelaki itu berpikir mungkin cerita tentang wanita itu hanyalah omong kosong yang dibuat-buat, mana mungkin ada wanita yang ingin berciuman dengan cuma-cuma. Ia menertawakan dirinya yang terlalu bodoh dan terlalu mudah percaya.
Kemudian ia berniat untuk pulang saja. Ketika ia beranjak untuk pulang tiba-tiba di balik remang-remang lampu Gang muncul sesosok wanita berpakaian cerah dan ketat dan mulai menegur Lelaki itu,
“mencari seseorang?”. Lelaki itu kebingungan dan keringat dingin mulai mengucur di sekitaran keningnya. “kenapa?, kau gugup?”, tegur wanita itu.
Lelaki itu mati kutu, mendadak seluruh tubuhnya menjadi gemetar dan kaku. “ikut aku, kemari!”, wanita itu menarik tangan lelaki yang sedang gugup itu, “mengapa tanganmu dingin sekali?”, tegur wanita itu kembali. “ti … ti … dak”, jawab lelaki itu. “tenang saja, aku tidak akan membunuhmu”. Drastis lelaki itu merasa aneh, “membunuh?, siapa sebenarnya wanita ini?”, lelaki itu berbicara dalam hati.
Lelaki itu digiring menuju jalan buntu di persimpangan gang, wanita itu menekannya hingga punggung lelaki itu menabrak dinding, wajah wanita itu secara tiba-tiba mendekat ke wajah lelaki itu sangat dekat dan menatap mata lelaki itu sangat tajam
“katakan, apakah kau termasuk komplotan pemuda-pemuda itu?”, tanya wanita itu. Lelaki itu hanya terdiam.
“jawab, kenapa kau diam saja!?, apakah kau bisu?, atau kau gugup?”. Ekspektasi lelaki itu tentang wanita yang sering dibicarakan oleh orang-orang kini berbanding terbalik, menurutnya wanita ini bukanlah wanita yang dimaksud, ia sempat berpikir bahwa inilah malam terakhir ia akan merasakan hidup.
“ah, sepertinya kau bukan komplotan pemuda-pemuda itu”
“siapa kau sebenarnya?”, akhirnya lelaki itu mengatakan sesuatu.
“akhirnya kau berbicara juga, tidak penting namaku siapa, yang jelas aku seorang mata-mata polisi, menurut laporan yang kuterima dari atasanku di daerah Gang ini sudah beredar obat-obatan terlarang berjenis Heroin, apakah kau tahu?, kupikir kau akan sangat membantu”.
“jujur saja, aku tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, aku baru kali ini berkeliaran di Gang ini pada malam hari”
“iya aku tahu itu, aku baru-baru ini melihatmu, tepatnya kemarin, kau sangat mencurigakan, apa yang kau cari?”
Lelaki itu berpikir tidak lucu untuk menceritakan maksudnya bekeliaran di Gang Kemuning selama dua malam terakhir ini. “tidak, aku hanya jalan-jalan mencari angin”. Seketika muncul seorang pemuda dari arah lain, mereka tekejut. Seketika wanita itu mencium si lelaki yang sedari tadi bercakap-cakap dengannya, kemudian pemuda itu pergi.
“baiklah, untung orang itu tidak mendengar percakapan kita. Sekarang tatap mataku, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, dan kita hanya berpapasan”, kemudian wanita itu memukul kening lelaki itu. “aku rasa ini cukup, kau akan melupakan kejadian ini. Aku sangat suka bagian akhir ini, kupikir aku sangat mahir dalam menghipnotis”.
_
Lelaki itu terbangun dari tidurnya, ia hampir tidak mengingat kejadian apa yang ia alami semalam. Ketika ia berpikir sangat lama akhirnya ia mengingatnya, ia ingat bahwa ia bertemu dengan wanita yang sering dibicarakan orang-orang dan Ia teringat kembali bahwa wanita itu adalah seorang mata-mata polisi. Tetapi pada akhirnya ia teringat kembali, malam itu ia berciuman dengan wanita itu.
Kini lelaki itu merasa tujuannya sudah tercapai, ia tidak perlu lagi berjalan-jalan untuk mencari wanita itu di Gang kemuning.
_
Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.
Ia mulai merasakan hal aneh, lagi-lagi tidurnya terganggu, lagi-lagi ia gelisah, ia heran mengapa ia kembali gelisah padahal tujuannya sudah tercapai, ia mulai merasa gila. Ia terbangun dari tempat tidurnya dan melihat bayangan dirinya di cermin, pada akhirnya ia dapat menyimpulkan apa yang sedang ia alami. Ia merindukan ciuman wanita itu.
_
Malam berikutnya lelaki itu keluar untuk mencari wanita itu di Gang Kemuning di tempat mereka bercakap, ia melewati pemuda-pemuda yang sedang berkumpul, tetapi mereka tidak ada di sana, “peduli apa”, pikir lelaki itu.
Sesampainya di tempat ia bertemu dengan wanita itu betapa terkejutnya ia melihat adegan perkelahian. Pemuda-pemuda yang biasa nongkrong itu tidak ada di tempat biasa mereka berkumpul melainkan mereka ada di tempat itu dan berkelahi, lelaki itu melihat adegan pengeroyokan sekelompok pemuda dengan seorang wanita. Wanita itu adalah wanita yang mencium lelaki itu,
“hey!, apa yang kalian lakukan kepada wanita itu!”, tegur lelaki itu dengan berteriak. Seketika pemuda-pemuda itu mengentikan perkelahian dan menatapnya.
“oh jadi kau temannya, mata-mata polisi juga?, pantas saja kau sangat mencurigakan”, tegur salah satu pemuda.
“apa yang kalian katakana!, ia kekasihku!, akhir-akhir ini aku sering mencarinya karena dia mengalami sakit jiwa, ia mengaku bahwa ia mata-mata polisi!”. Kemudian para pemuda itu saling bertatapan dan bertanya-tanya.
“apa alasan yang dapat membuat kami semua percaya?”
“karena setiap malam aku mencarinya!”.
Tidak lama kemudian pemuda-pemuda itu mulai bubar, dan lelaki itu menemui wanita itu jatuh dan tubuhnya dipenuhi luka lebam.
“apa yang kau lakukan bodoh?, kau bilang aku sakit jiwa”, tegur wanita itu
“daripada kau mati dikeroyok mereka? Kau pilih mana?”. Wanita itu hanya diam. Kemudian ia bertanya kembali,
“kenapa kau mengingatku?, bukannya kau sudah kuhipnotis?”
“bahkan aku tidak tahu aku dihipnotis”
“apa maksud kedatanganmu kemari?”
“aku merindukan ciuman itu, bisakah kita melakukannya sekali lagi”
Seketika wanita itu tertawa sangat keras dan tawanya terhenti ketika ia merasakan rahangnya terasa sakit karena pukulan pemuda-pemuda itu.
“bagaimana mungkin rindu bisa mengalahkan hipnotis?”.

