Senin, 28 November 2016

Aloena



Aloena kembali berulah. Ia memecah keheningan hati seorang wanita yang sedang melamun. Aloena selalu cepat mengambil keputusan bahwa ia harus segera mengganggu, entah darimana ia belajar mengganggu, ia seperti harus melakukan hal itu.
_                                                                                 
Ia sering berubah-ubah peran kemarin sore ia berperan sebagai polwan, kemarin siang ia berperan sebagai penjajah mainan, dan malam ini ia berubah menjadi Mahasiswi semester tujuh. Ia mulai merasa bosan menjadi Mahasiswi semester tujuh. Kali ini ia ingin berubah menjadi peran lain. Tetapi niatnya kini berubah ketika ia berpapasan dengan seorang pria yang berdiri memandang keramaian kota kemudian terseyum seakan puas dengan pemandangan itu, tidak lama kemudian pria itu dihampiri oleh seorang pria yang lebih tinggi darinya, mereka terlihat sangat akrab dan mereka berusaha menyebrang jalan dan menuju salah satu kedai kopi yang berada di seberang jalan.



Aloena mencoba untuk mengikuti mereka, dan sampailah ia ke dalam kedai. Ia melihat pria tersebut sedang melihat keluar kaca jendela kedai, Aloena tertarik dengan pria itu. Ia sempat berpikir untuk berubah perannya menjadi seorang penjaga kedai tetapi ia lebih mempertahankan perannya sebagai Mahasiswi semester tujuh.
_

“aku bertemu dengan pria itu”, tegur Aloena kepada seorang wanita
“lelaki siapa ?, dan kau siapa ?”
“tidak penting, kau masih menunggunya bukan ?”
“lelaki siapa yang kutunggu ?”                                         
“namanya Roni Darmawan dan kalian pernah saling kenal”

Wanita itu hanya terdiam sesaat. Wanita itu mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang tiba-tiba mendatanginya ketika ia sedang memikirkan seorang pria bernama Roni Darmawan. Seorang pria yang pernah menjadi kekasihnya dan sekarang hubungan kekasih diantara mereka berakhir. Hubungan mereka berakhir karena sebuah kesalahan yang pernah diperbuat oleh pria itu dan hingga saat ini wanita itu tidak pernah melupakannya. Tetapi ia merindukannya.

Lima tahun sudah berakhir wanita itu selalu memikirkan Roni Darmawan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merindukannya, merindukan terakhir kali mereka tertawa bersama, merindukan hal-hal konyol yang pernah dilakukan Roni Darmawan, ia berangsur-angsur melupakan kesalahan yang pernah dibuat Roni Darmawan tetapi ia tidak dapat melupakan kenangan-kenangan manis yang pernah Roni Darmawan berikan.

aku mencoba menggodanya dan ia tertarik padaku”, tegur Aloena
“untuk apa kamu lakukan itu ?”
“kau cemburu ?”         
“tidak sama sekali”
“untungnya aku sudah lupa cara berbohong”
“maksudmu ?”
“aku menggodanya dan ia tertarik padaku tetapi matanya berbohong, ia merindukanmu dan mencoba melupakanmu”
“aku tidak mengerti maksudmu”
“ia mencoba berubah tanpa memikirkanmu, tetapi kau menunggu ia berubah dan kau masih memikirkannya”

Memori-memori tentang Roni Darmawan satu per satu mulai bermunculan di kepala wanita itu, setiap kata yang keluar dari mulut Aloena membuat wanita itu semakin ingin menangis, ia rindu Roni Darmawan dan sekaligus sedih karena tahu Roni Darmawan berusaha melupakannya.

“kau tahu manusia akan kehilangan seribu kebaikannya ketika ia melakukan satu kesalahan”, tegur Aloena
“iya aku tahu”            
“tapi apa kau tahu setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan, dan Tuhan tidak pernah lelah memaafkan kesalahan manusia”
“tapi aku tidak sesempurna Tuhan”
“iya, tetapi bukannya Tuhan tidak perlu tidur untuk memaafkan, dan manusia selalu tertidur dan bangun keesokan harinya dan selalu mengungkit kesalahan”

Wanita itu hanya terdiam. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

“aku merindukannya”, ucap wanita itu
“dan ia juga merindukanmu dan berusaha mengubur rasa rindunya”
“itu haknya”
“dan apa kewajibannya ?, meninggalkanmu ?, dari pernyataanmu itu, juga adalah haknya”
_

Wanita itu ingin sekali berdamai dengan Roni Darmawan tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak dapat melakukan itu, bukan karena Roni Darmawan ingin melupakan kenangan mereka berdua tetapi mereka tidak mungkin bersatu karena perbedaan keyakinan mereka.

“perbedaan keyakinan ?” ucap Aloena
“iya”             
“Tuhan lebih dekat dengan manusia dan Tuhan lebih besar dari rumah ibadah”
“bagaimana dengan keluarga kami ?, tidak akan semudah itu mereka menerimanya”
“aku tidak mengerti sama sekali tentang keluarga kalian, kalianlah yang membuat rumit”
_

Udara menjadi tenang, awan bersembunyi dari pandangan manusia, pohon-pohon berhenti bergoyang, dan angin berhenti berdebat dengan kulit manusia, suasana cukup tenang. Roni Darmawan menangis di bawah langit, dan tangisnya semakin tidak bisa terbendung ketika Gerhana Bulan menampakkan wujudnya. Kenangan-kenangan yang berusaha ia lupakan saat itu juga mulai bermunculan kembali, tidak henti-hentinya ia mengutuki dirinya sendiri. Ia menyakiti hati seorang Wanita yang begitu ia cintai.
_

Dan kenangan kita yang menolak mati …

Wanita itu berlari-lari mengejar, ia berlari dan terus berlari ia tidak lagi memikirkan nafasnya yang terengah-engah, kakinya mulai terasa sakit, tetapi ia terus mengejar, mengejar tanpa mengenal lelah, hatinya menuntunnya berhenti menuruti lelah. Cahaya-cahaya malam menuntunnya, menuntunnya mendatangi kekasihnya, Gerhana Bulan seakan memberi tanda kepada wanita itu untuk mendekatinya, karena di bawah Gerhana Bulan terdapat sesuatu yang ia cari dan sesuatu yang ia cari sedang menangis dibanjiri kenangan-kenangan sebelum ia kembali menghapus kenangan-kenangan itu.

Bagaimana hari bisa melompat seenaknya. Sedangkan aku ingin melompati paritan hatimu saja berpikir panjang. Kemudian aku mulai paham. Sebenarnya aku tidak setangguh hari.

Mereka berpapasan di bawah Gerhana Bulan, mereka saling berpandang-pandangan. Kemudian mereka tertawa sambil menangis. Hati mereka menolak untuk berbohong. Pikiran mereka terlalu sering mendominasi hingga menimbulkan kebutaan-kebutaan yang menyesatkan.

“kau ingat ada hal terakhir yang kita lupakan sebelum kau meninggalkanku”, tegur Roni Darmawan
“apa ?”, jawab wanita itu       
“kau lupa memelukku”

Mereka berpelukan di bawah Gerhana Bulan.
_

Bulan                     : bagaimana Aloena?, tugasmu sudah selesai ?
Aloena                  : sepertinya sudah
Bulan                     : kau menangis ?
Aloena                  : iya, tapi aku bahagia
Bulan                     : karena mereka bersatu kembali ?
Aloena                  : bukan
Bulan                     : jadi kenapa kau menangis
Aloena                  : aku menangis karena aku hanya bisa mempersatukan mereka dalam cerita ini
Bulan                   : tidak apa-apa kau sudah berusaha keras, tidak ada kata-kata terakhir untuk mereka ?
Aloena                  : ada
Bulan                     : silahkan sampaikan
Aloena                 : selamat tinggal Ayah dan Ibu, setidaknya aku dapat lahir di cerita ini. Dan Terima Kasih Ayah sudah mengarang cerita ini dan nama Roni Darmawan terlalu keren untukmu Ayah.

Sabtu, 26 November 2016

Luapan Rindu Demi Rindu

Butir demi butir air jatuh ke tanah
Tanah demi tanah mulai basah
Diserapnya air itu oleh tanah yang menerimanya
Melayang ia ke atas karena matahari

Sempatkah kita bercengkrama tanpa membebani diri kita akan luka masa silam yang tertanam
Aku tidak sabar menanti dengan gelisah
Tutup matamu dan resapi makna perpisahan yang berbuah rindu

Daun segar bisa layu dan ranting kokoh bisa rapuh, tapi ia akan tumbuh kembali dan menaruh harapan indah pada tubuhnya

Bibirmu yang bertemu dengan bibirku
Terpejam dan berkelana mengasingkan diri kita dari kabut-kabut pengganggu
Kau singkat tapi ada selalu
Menemani masa mudaku, entah menjadi apakah aku di semesta itu
Tapi aku masih menggenggam perasaan dan rindu yang menggebu hingga hatiku ikut mengkerut

Aku ingin merasakan bau tubuhmu sekali lagi, hingga aku benar-benar melupakan bau itu karena otakku sibuk memikirkan masa depan

Ku dewasa nanti akan kugenggam Gerhana Bulan agar ia tidak berganti, bersama dirimu yang telah berganti dan kenangan kita yang menolak mati.

27 November 2016
Minggu sore dan menunggu dirimu kembali

Kopi Hitam, Espresso, dan Kenangan



Aku selalu mendatangi kedai kopi itu, kedai kopi yang terletak di pinggiran jalan raya, suasana kota selalu membuatku terkagum-kagum, kerlap-kerlip cahaya kendaraan di malam hari dan kebisingannya beserta suara-suara manusia yang saling bercengkrama satu sama lain, mereka tampak sibuk sekali, inilah kota, satu-satunya tempat yang membuatku puas memperhatikan semuanya-adalah di Kedai kopi ini, kedai yang memberiku kenangan manis sekaligus kenangan pahit. Seperti kopi saja pikirku tersedia rasa pahit dan manis, terserah kita memilih yang mana asal lidah kita mampu mengecap tanpa memuntahkannya.




Aku selalu mendatangi kedai kopi itu dan memesan kopi hitam andalanku, memakai atribut seperlunya, t-shir putih dengan celana jeans biru, identitas yang tidak bisa lepas dariku, yah, inilah aku Roni Darmawan seorang penikmat keramaian dan sekaligus penikmat kopi hitam. Aku mulai menyukai keramaian sejak kepindahanku dari desa ketika kecil menuju kota yang selalu ramai dibicarakan orang desa, tentang mimpi dan pengharapan semua ada di sana. Dan aku menyukai kopi hitam karena almarhum ayah yang selalu menyuruh ibu untuk membuatkannya kopi hitam ketika ia sedang bersantai, sudah selayaknya aku melanjutkan tradisi meminum kopi hitam dengan bersantai memandang keramaian kota dari balik kaca jendela kedai.
                                                                                                       _                                             

Aku pertamakali menginjakkan kaki ke kedai kopi ini ketika seorang teman mengajakku untuk menghabiskan akhir pekan, aku menurut saja kebetulan aku suka kopi. Tempat yang begitu ramai tapi tidak terlalu ramai karena orang-orang begitu tenang menikmati kopi mereka. Sampai ketika perhatianku tertuju kepada seorang wanita berambut panjang dan senyumnya yang manis sambil meminum kopi espresso yang sangat kecil, pikirku gelas kopi itu cukup adil dengan ukuran bibirnya yang tipis dan mungil. Sampai pada akhirnya kami berkenalan, namanya Aloena seorang mahasiswa semester 7 di Universitas Mulawarman jurusan Sastra.

Semenjak saat itu kami sering berbalas pesan singkat, bertukar cerita tentang pengalaman kami masing-masing. Tapi ada satu hal yang sangat aku jaga darinya, bahwa aku adalah seorang penulis, karena aku memiliki anggapan wanita akan merasa dirinya sengaja dimanfaatkan ketika berkenalan oleh pria asing karena kebutuhannya akan ide tulisan.

Kami sering bertemu di Kedai kopi, aku memesan kopi hitam dan ia memesan espresso. Sampai-sampai kami sangat hafal dengan kesukaan kami masing-masing.
_

“kenapa kamu suka keramaian kota ?”, tegur Aloena kepadaku
“emm … kenapa ya?. Mungkin karena kamu adalah salah satu diantara keramaian itu”
“jawabanmu lumayan. Kenapa kamu tidak coba bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama”
“baiklah, kenapa kamu suka keramaian kota ?”
“apakah aku pernah bercerita kalau aku senang dengan keramaian kota ?”
“kamu curang”

Ia tertawa.

Semakin hari hubungan kami semakin dekat. Kupikir kedai kopi inilah yang mempersatukan kami hingga dapat sedekat ini. Kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tetapi aku terus menjaga agar pembicaraan kami kita tidak menjurus pada privasi. Karena aku tidak mungkin memasuki wilayah sensitive seperti itu. Sampai akhirnya ia bertanya,

“sudah punya pacar ?”
“pacar ?”
“iya, baiklah mari kusederhanakan. Sudah punya kekasih ?, orang spesial ?”
“ ha ha ha … aku paham. Belum”
“oh ya ?, kamu tidak mau menanyakan pertanyaan yang sama ?”
“baiklah, kali ini jawab dengan serius. Apakah kamu sudah punya pacar ?”
“apakah dengan aku menjawab, dan jawabanku iya kamu akan menjauh ?, dan kalau aku menjawab tidak punya kamu akan terus seperti ini ?”
“hey, kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, itu tidak sopan nona”
“ ha ha ha …, baiklah. Aku belum punya pacar. Sekarang apa tindakanmu ?”
“tindakanku ?, lihat ini”
Aku meminum kopi hitamku kemudian mengangkat gelasku ke arahnya,
“lihat tindakanku adalah menunjukkan kopi hitam ini padamu”
“untuk apa ?”
“untuk aku tunjukkan kalau kita itu sama”
“ ha ha ha … kau orang aneh!”

Kemudian kami tertawa kembali. Itu adalah kopi manisku bersama Aloena.
_

Kedekatan kami terus berlanjut, sampai ketika Aloena mulai membicarakan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya,

“kenapa kita tidak pacaran saja ?”. aku terkejut, dan kopi yang sedang kuminum hampir tumpah.
“kenapa?, apakah itu ide buruk ?”, tanya Aloena
“tidak, baiklah aku bertanya, kenapa kau ingin menjadi pacarku ?”
“karena aku suka kamu”
“itu alasan sederhana”
“apakah butuh alasan lain yang dibuat-buat dan terkesan tidak jujur?”
“bukan begitu, tapi aku tidak bisa”
“karena apa ?”
“aku masih mencintai seseorang di luar sana”
“oh, sori”

Aku sangat yakin aku telah melukai hati Aloena, tidak semestinya aku mengatakan bahwa aku masih mencintai orang lain walaupun begitulah adanya. Tetapi sebaiknya aku berbohong saja kepadanya, dengan mencari alasan lain untuk menolaknya.

“aku harus pulang Ron”
“secepat ini ?, kopi kita belum habis”
“aku ada urusan Ron, sampai ketemu lagi”

Akhirna ia meninggalkanku sendiri di kedai kopi itu. Aku baru saja merasa telah menghancurkan hati seorang wanita. Tetapi, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku bahwa aku masih mencintai seseorang di luar sana, seseorang yang telah memberikan kenangan manis sekaligus kenangan pahit karena ia memilih meninggalkanku.
_

“aku benci sama kamu, benci banget, aku mau ulang waktu dimana aku belum kenal kamu, tapi aku tidak bisa dan itu buat aku lebih benci lagi sama kamu”

Kalimat itu masih terngiang sampai sekarang, ketika wanita yang sangat kucintai memilih untuk memutuskan hubungan kami, karena kesalahan yang kuperbuat kepadanya, kesalahan yang aku sendiri menyesalinya sampai sekarang, kesalahan yang sampai sekarang aku mengutuk diriku sendiri. Berkali-kali aku meminta untuk meminta kesempatan sekali lagi, ia tetap bersikeras untuk menolak karena semakin aku meminta ia akan semakin membenciku dan aku tidak inginkan itu. Pada akhirnya kami berpisah. Aku meminum kopi pahit malam itu.
_

“semenjak itu aku selalu menulis puisi dan cerpen untuknya, untuk sekadar mengenang”
“apakah sampai sekarang kau menulis untuknya?”, tanya Aloena
“iya, tapi tidak terlalu sering”
“kenapa ?”
“aku sendiri bingung”
“aku tau sebabnya”
“apa sebabnya ?”
“kau sudah lelah memenuhi kepalamu dengan kenanganmu bersama dia”
“mungkin begitu”.

Apa yang dikatakan Aloena ada benarnya, sepertinya aku sudah lelah mengingat kenangan-kenangan, ia terlalu membanjiri pikiranku selama lima tahun belakangan ini. Lihatlah, betapa lama aku memenjarakan diriku karena kenangan yang bahkan aku tidak tahu ia masih mengingatnya atau tidak.

“apakah kau tahu kabar wanita itu sekarang ?”
“sayang sekali tidak”
“apakah dia suka dengan kopi hitam ?”
“ha ha ha tidak, dia suka Green Tea”
“bahkan kau masih mengingat kesukaannya”
“iya, apa itu masalah ?”
“bukan, hanya saja …”
“hanya saja apa ?”

Aloena terdiam sangat lama, wajahnya berpaling memandang ke luar kedai. Tatapannya kosong, aku terus mendesaknya untuk melanjutkan kalimatnya, sampai ketika ia menatapku dan menghabiskan espressonya.
 
“hanya saja, ia masih menunggumu untuk berubah dan kau berubah tanpa menunggunya".

Cerita tentang Mata Hari, Adalah Cerita Tentang Kita

Tidak ada lagi pikiran
Aku sudah menapaki sepi sedari dulu
Tidak ada lagi kenangan
Aku sudah memaki sepi sedari dulu

Dari aku yang menyiksa
Kurang dari ini, aku adalah nestapa hitam
Terkurung dalam tatapan matamu
Berharap bebas tetapi kuingin tetap

Kau bilang padaku hari sudah senja
Aku bilang bukan, hari memang sengaja
Kau bilang padaku malam sebentar lagi datang
Aku bilang bukan, malam hanya gelap sementara
Kau bilang padaku kau ingin pergi
Aku bilang baiklah, hari sudah malam dan senja sudah berlalu

Aku malu-malu menitip pesan pada matahari, bila ia berpapasan dengan bulan cobalah menanyakannya apakah ia masih mencinta sedari awal ?.
Kalau saja jawabannya iya, jaga dia.
Kalau saja jawabannya tidak, pergilah.

Aku ingin tenggelam di matamu, sekarang atau kapan lagi ?
Esok, kita tidak bersama lagi bukan ?
Bulan sudah bosan menegur matahari.
Ia sangat panas.

26 November 2016
Sabtu

Jumat, 25 November 2016

Selamat Menyambut Hari-Hari Penuh Rindu

Kita di ambang akhir
Mencium harum aroma tubuhmu di pelukan yang paling hangat dan mengalir
Tidak kusangka air mata adalah penutup
Seperti membasahi hausnya kebodohanku sebagai kekasihmu

Aku kehilangan hal yang kusukai
Tatapan matamu yang memancar memberi makna; tidak ada yang lebih hangat dari pelukanku yang memberimu posisi tertinggi

Sore datang begitu cepat
Begitu singkat hingga aku tak sanggup berkata-kata,
Berkata untuk berucap selamat tinggal.

Selamat datang hari-hari penuh rindu.

26 November 2016
Samarinda

Minggu, 20 November 2016

Syarat Nikah Seorang Bilal

“siapa pun yang dapat menghafal al-qur’an akan kunikahkan dengan putriku”. Seketika kabar yang menyatakan bahwa pak Sutomo ingin menikahkan putri kesayangannya Aisye kepada siapa saja pemuda  yang dapat menghafal al-qur’an. Tentu saja kabar ini seketika menyebar luas ke seluruh pelosok kampung seperti desiran angin dari entah berantah dan dirasakan langsung oleh setiap bulu kuduk pemuda-pemuda di kampung itu. Memang anak pak Sutomo terkenal dengan parasnya yang cantik jelita, pemuda-pemuda yang sengaja nongkrong di warung kerap kali bertemu dengan Aisye sepulang mengaji di Surau bersama teman-temannya dan mereka selalu menghentikan aktivitas mereka sejenak demi melihat pesona paras Aisye yang jelita.

Betapa terkejutnya pemuda-pemuda ini mendengar kabar tersebut sampai-sampai ada yang berkeinginan untuk menghafal al-qur’an dan ada pula yang secara tiba-tiba rajin sholat lima waktu dan berdoa untuk diberi kelancaran demi menghafal al-qur’an. Tidak kurang juga warga-warga kampung menganggap pak Sutomo sudah gila karena ia ngebet ingin menikahkan anaknya. Warga kampung mengenal pak Sutomo sebagai sosok pria dewasa yang rajin beribadah di masjid bahkan ia sangat keras terhadap putrinya dalam pembinaan agama, Pak Sutomo juga termasuk warga kampung yang sangat dihormati. Tetapi langsung saja ketika warga mendengar kabar tersebut secara tiba-tiba pak Sutomo beserta keluarganya menjadi buah bibir warga kampung. Banyak warga kampung berpendapat bahwa kenapa Aisye putri tunggalnya ingin ia nikahkan kepada pemuda yang syaratnya hanya dapat menghafal al-qur’an ?, mereka beranggapan bahwa kalau saja menghafal al-qur’an semua orang pasti bisa kalau sekedar menghafal tapi bagaimana dengan akhlaknya ?.

Sampai suatu ketika kabar bahwa keluarga pak Sutomo menjadi buah bibir sampai juga ke telinga pak Sutomo melalui istrinya. Istri pak Sutomo sangat khawatir dengan hal tersebut ditambah lagi

kekhawatirannya terhadap suaminya ketika ia menceritakan kabar tersebut kepada suaminya dan ternyata pak Sutomo hanya berkata, “menurut saja pada suami”. Tentu saja istri pak Sutomo tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah suaminya berkata demikian. Selayaknya anak yang penurut dan mematuhi segala perintah ayahnya, Aisye hanya mengangguk dan menerima apapun yang dikatakan ayahnya, Aisye berpikir biarpun ia kalangan pemuda dari latar belakang yang seperti apapun ketika ia berusaha menghafal al-qur’an pasti ia akan berubah menjadi pemuda yang sholeh, masalah akhlak ia akan berjuang bersama pemuda yang kelak akan menjadi suaminya itu.
_

Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda dari warga kampung tersebut mengajukan diri sebagai calon suami Aisye dan ia bertemu langsung dengan pak Sutomo di Surau biasa pak Sutomo  menjadi imam dan sekaligus tempat Aisye mengaji bersama teman-temannya.

Pemuda itu bernama Bilal, warga kampung mengenal Bilal sebagai pemuda yang rajin beribadah dan anak jebolan pesantren terkemuka. “apakah kamu yakin ingin menikahi anak saya?” tanya Pak Sutomo.

“yakin pak kebetulan saya menghafal al-qur’an secara fasih dan paham akan makna-maknanya”.

Pak Sutomo tertawa terbahak-bahak sampai-sampai suaranya terdengar sampai ke luar Surau, Bilal terkejut dengan tawa Pak Sutomo sekaligus juga bingung dengan maksud tawa dari pria yang ada di depannya tersebut, apakah pria itu meremehkannya atau justru bangga kepadanya.

“saya bisa memulai menyampaikan hafalan saya kalau bapak bersedia” kata Bilal

“tidak perlu anak muda, justru aku akan kembali memberimu tugas baru”

“tugas baru ?, tugas apakah itu pak ?”

“karena kau telah menghafal al-qur’an beserta makna-maknanya, aku ingin kau menghafal kitab injil”

“kitab injil !?”

“ya, kenapa ?, kau terkejut ?, aku tidak memaksamu, kau bisa saja mengundurkan diri, itu tidak jadi masalah untukku”

Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan syarat selanjutnya akhirnya Bilal menyanggupi permintaan Pak Sutomo, ia akan mencoba untuk menghafal kitab injil dan kembali mendatangi pak Sutomo di Surau.
_

Akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarinya menghafal kitab Injil sekaligus memahaminya, awalnya ia ragu untuk melanjutkan niatnya untuk menghafal kitab injil karena ia seorang muslim tetapi ia kembali berpikir apa salahnya menghafal dan paham makna kitab injil ?, tetapi ia tetaplah seorang Muslim. Ia bertemu seorang Pendeta dan ternyata Pendeta itu bersedia untuk mengajarinya. Pada mulanya Bilal beranggapan ini akan sulit karena ia bukanlah umat kristiani, tetapi berkat kemurahan hati Pendeta itu akhirnya Bilal diberikan izin untuk menghafal kitab injil dan memaknainya. Setiap hari selepas sholat isya Bilal selalu mengunjungi rumah Pendeta itu.

Pendeta itu selalu menyambutnya dengan sangat baik dan memberikan pelayanan yang baik pula.

“sebelumnya aku ingin bertanya anak muda, kenapakah kau ingin menghafal kitab injil ?” tanya Pendeta itu

“maafkan aku sebelumnya pak, sebenarnya ini adalah syarat yang diberikan oleh seseorang sebelum aku menikahi anak gadisnya”

“apakah orang itu seorang kristiani ?”

“bukan pak, ia muslim begitu pun anak gadisnya”

“unik sekali orang itu”

“ya begitulah pak”

“tapi tidak menjadi masalah, aku akan menepati janjiku kepadamu, tapi dengan satu syarat”

“apakah itu pak?”

“setelah kau berhasil menghafal kitab Injil dan paham akan maknanya, aku ingin kau menghafal dan paham makna-makna dari kitab Weda”

Lagi-lagi Bilal berpikir lama sekali, ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tetapi mau tidak mau harus melakukan syarat itu demi menikahi Aisye anak pak Sutomo.

“baik pak saya bersedia”.
_

Beberapa bulan kemudian akhirnya Bilal hafal kitab Injil dan makna-maknanya, selanjutnya ia akan mencari seorang guru yang dapat mengajarkannya dan menghafal kitab Weda.

Tidak berapa lama akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarkannya kitab Weda. Ia kembali memulai pengalamannya untuk mencapai tujuannya. Seperti sebelumnya seseorang yang bersedia mengajarkannya kitab Weda pun terkejut mendengar latar belakangnya ingin menghafal dan mempelajari makna kitab Weda, entah mengapa seorang guru itu pun memerintahkan Bilal setelah menghafal dan memahami isi kitab Weda untuk melanjutkan menghafal dan memaknai kitab Tripitaka. Betapa terkejutnya Bilal kenapa semua guru yang ia temui memerintahkannya untuk memahami semua kitab-kitab yang berbeda, Bilal sempat merasa goyah dan mengurungkan niatnya, tetapi lagi-lagi ia berpegang teguh bahwa ia hanya menghafal dan memaknai tidak lebih, ia tetaplah seorang Muslim.
_

Bilal melanjutkan perjalanannya untuk mencari seseorang yang dapat mengajarkannya kitab Tripitaka setelah ia paham akan kitab Weda. Ia sempat mempersiapkan dirinya ketika seseorang yang mengajarinya nanti akan memerintahkannya untuk mempelajari kitab-kitab yang lainnya lagi.

Bilal bertemu dengan seseorang yang dapat mengajarinya kitab Tripitaka dan lagi-lagi menceritakan latar belakangnya, dan ternyata seorang guru itu tidak memberi syarat apapun, dan betapa terkejutnya Bilal dengan itu.
Akhirnya Bilal mulai mempelajari kitab Tripitaka, satu hal yang dapat ia simpulkan setiap kitab mengajarkan kebenaran semua berasal dari Tuhan dengan bentuk Tuhan yang berbeda-beda akan tetapi intinya tetap sama yaitu membina korelasi dengan Tuhan, siapapun yang dituhankan akan tetapi tetap merujuk pada pedoman hidup semuanya merujuk pada mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-larangannya.

Bilal menyelesaikan pelajarannya mengenai kitab Tripitaka, dan Bilal menanyakan apa tidak ada syarat lagi setelah mempelajari kitab Tripitaka dan seseorang itu tidak meminta syarat apapun kecuali meminta Bilal untuk ikhlas.
_

Bilal kembali menemui Pak Sutomo dan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mempelajari Kitab injil dan ia sampai mempelajari kitab-kitab yang lainnya. Sangat mengejutkan sekali, akhirnya Pak Sutomo mengizinkan Bilal untuk menikahi anak gadisnya. Tentu saja Bilal merasa senang akan hal itu, tetapi Bilal mencoba untuk bertanya kembali kepada Pak Sutomo,

“maaf pak, apa boleh saya bertanya ?”

“boleh, tanyakan saja”

“kenapa bapak memerintahkanku untuk menghafal dan memahami makna kitab Injil ?, sampai-sampai aku mendapat syarat untuk menghafal dan memaknai kitab weda dan Tripitaka, apakah itu ada hubungannya dengan putri bapak ?”

“aku ingin kau menikahi anakku dengan sadar bahwa bukan kau saja yang memiliki agama di muka bumi ini dan ….”, seketika pak Sutomo terdiam dan menimbulkan rasa penasaran terhadap Bilal

“dan apa pak ?”

“ikhlas”

Senin, 14 November 2016

Radio dan Pesan Singkat

Radio modern itu membawakan lagu acak
Diriku sedang asik-asiknya bermain dengan pesan singkat.

Adakah yang akan menghilang setelah ini ?
Jangan kamu, tapi ragamu mungkin.

Selasa, 01 November 2016

Ciuman Yang Dirindukan

Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.

Ia penasaran dan terpikir untuk melakukan suatu hal yang orang banyak pikirkan pasti itu adalah hal yang gila, ia ingin mencium seorang wanita. Wanita yang selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitar Gang Kemuning.
Banyak orang yang berkata bahwa setiap dini hari menyapa, pasti akan ada sosok wanita yang selalu berjalan di sepanjang Gang Kemuning dan selalu menyebarkan senyumannya kepada pemuda-pemuda yang berkumpul untuk sekadar bermain gitar dan bermain kartu.

Ada juga yang berkata bahwa salah satu pemuda disana pernah mencoba untuk berkenalan dan bahkan sampai berciuman dengannya. Kemudian pemuda yang berciuman dengannya akan merasakan suatu kenikmatan tiada tara, mereka yang mendapatkan ciuman dari wanita itu akan merasakan sensasi-sensasi yang menakjubkan, ia akan dibuat melayang-layang sampai lupa daratan. Hal ini yang membuat Lelaki itu merasa penasaran dan ingin merasakan langsung bagaimana sensasi ciuman wanita itu.

Sempat terpikir di benak lelaki itu, apakah wanita itu adalah seorang pelacur?, tetapi menurut omongan-omongan yang pernah ia dengar, pemuda-pemuda yang mengaku pernah mendapatkan ciuman wanita itu bukanlah seorang pelacur, ia tidak dibayar, sekurang-kurangnya ia bukan wanita bayaran, ia hanya tertarik dengan ciuman-ciuman pemuda-pemuda yang berani berkenalan dengannya.
_

Di suatu malam lelaki itu sengaja untuk berjalan-jalan di Gang Kemuning hanya untuk melihat langsung rupa wanita itu, tentu saja ia ingin merasakan secara langsung bagaimana jika ia berciuman dengan wanita yang sering dibicarakan itu.

Beberapa kali lelaki itu mondar-mandir di Gang Kemuning dan tidak menjumpai siapa-siapa kecuali pemuda-pemuda yang nongkrong di sana. Sampai ketika pemuda bernama Santo menegurnya,
“mas, tumben jam segini keliaran. Cari siapa?”

Lelaki itu hanya tersenyum dan berlalu, pikirnya akan sangat memalukan apabila ia berkata sebenarnya kepada pemuda itu bahwa ia ingin bertemu dengan wanita yang sering berkeliaran di Gang itu setiap dini hari dan ingin berkenalan kemudian menciumnya.

Pikir lelaki itu isu-isu yang beredar di Gang itu tentang seorang wanita yang berkeliaran hanyalah omong kosong yang dibuat-buat oleh pemuda-pemuda iseng. Ia pulang kerumah dan mencoba mengurungkan niat bodohnya. Tetapi justru hal itu yang membuat Lelaki itu makin tidak bisa tertidur karena rasa penasarannya. “apa mungkin wanita itu tidak muncul malam ini?”, dan pikiran-pikirannya yang lain menghantuinya. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan mengenai kemungkinan-kemungkinan. Kemudian Lelaki itu memilih untuk berkeliaran lagi di sekitar Gang Kemuning di waktu yang sama, pikirnya mungkin wanita itu akan muncul keesokan harinya dan ia berharap bisa menghapus rasa penasarannya tentang wanita itu.
_

Keesokan harinya ia melakukan hal yang sama kembali. Ia melewati pos yang biasa digunakan pemuda-pemuda untuk berkumpul, kali ini berbeda pemuda-pemuda itu hanya melihatnya saja, tanpa mempertanyakan maksud dan tujuan lelaki itu.

Pikir lelaki itu rencananya berjalan dengan lancar, ia tidak terlalu suka ketika orang-orang bertanya tentang urusannya pribadi, baginya yang ingin ia lakukan adalah haknya, akan tidak baik apabila orang lain mengetahui urusannya.
Lagi-lagi ia tidak menemukan apa-apa di sepanjang Gang Kemuning hanya secercah cahaya lampu Gang yang remang-remang menghiasi Gang tersebut, seolah-olah member tahu lelaki itu bahwa tidak ada apa-apa di Gang itu.
Lelaki itu berpikir mungkin cerita tentang wanita itu hanyalah omong kosong yang dibuat-buat, mana mungkin ada wanita yang ingin berciuman dengan cuma-cuma. Ia menertawakan dirinya yang terlalu bodoh dan terlalu mudah percaya.

Kemudian ia berniat untuk pulang saja. Ketika ia beranjak untuk pulang tiba-tiba di balik remang-remang lampu Gang muncul sesosok wanita berpakaian cerah dan ketat dan mulai menegur Lelaki itu,
“mencari seseorang?”. Lelaki itu kebingungan dan keringat dingin mulai mengucur di sekitaran keningnya. “kenapa?, kau gugup?”, tegur wanita itu.
Lelaki itu mati kutu, mendadak seluruh tubuhnya menjadi gemetar dan kaku. “ikut aku, kemari!”, wanita itu menarik tangan lelaki yang sedang gugup itu, “mengapa tanganmu dingin sekali?”, tegur wanita itu kembali. “ti … ti … dak”, jawab lelaki itu. “tenang saja, aku tidak akan membunuhmu”. Drastis lelaki itu merasa aneh, “membunuh?, siapa sebenarnya wanita ini?”, lelaki itu berbicara dalam hati.

Lelaki itu digiring menuju jalan buntu di persimpangan gang, wanita itu menekannya hingga punggung lelaki itu menabrak dinding, wajah wanita itu secara tiba-tiba mendekat ke wajah lelaki itu sangat dekat dan menatap mata lelaki itu sangat tajam
“katakan, apakah kau termasuk komplotan pemuda-pemuda itu?”, tanya wanita itu. Lelaki itu hanya terdiam.
“jawab, kenapa kau diam saja!?, apakah kau bisu?, atau kau gugup?”. Ekspektasi lelaki itu tentang wanita yang sering dibicarakan oleh orang-orang kini berbanding terbalik, menurutnya wanita ini bukanlah wanita yang dimaksud, ia sempat berpikir bahwa inilah malam terakhir ia akan merasakan hidup.
“ah, sepertinya kau bukan komplotan pemuda-pemuda itu”
“siapa kau sebenarnya?”, akhirnya lelaki itu mengatakan sesuatu.

“akhirnya kau berbicara juga, tidak penting namaku siapa, yang jelas aku seorang mata-mata polisi, menurut laporan yang kuterima dari atasanku di daerah Gang ini sudah beredar obat-obatan terlarang berjenis Heroin, apakah kau tahu?, kupikir kau akan sangat membantu”.

“jujur saja, aku tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, aku baru kali ini berkeliaran di Gang ini pada malam hari”
“iya aku tahu itu, aku baru-baru ini melihatmu, tepatnya kemarin, kau sangat mencurigakan, apa yang kau cari?”
Lelaki itu berpikir tidak lucu untuk menceritakan maksudnya bekeliaran di Gang Kemuning selama dua malam terakhir ini. “tidak, aku hanya jalan-jalan mencari angin”. Seketika muncul seorang pemuda dari arah lain, mereka tekejut. Seketika wanita itu mencium si lelaki yang sedari tadi bercakap-cakap dengannya, kemudian pemuda itu pergi.
“baiklah, untung orang itu tidak mendengar percakapan kita. Sekarang tatap mataku, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, dan kita hanya berpapasan”, kemudian wanita itu memukul kening lelaki itu. “aku rasa ini cukup, kau akan melupakan kejadian ini. Aku sangat suka bagian akhir ini, kupikir aku sangat mahir dalam menghipnotis”.
_

Lelaki itu terbangun dari tidurnya, ia hampir tidak mengingat kejadian apa yang ia alami semalam. Ketika ia berpikir sangat lama akhirnya ia mengingatnya, ia ingat bahwa ia bertemu dengan wanita yang sering dibicarakan orang-orang dan Ia teringat kembali bahwa wanita itu adalah seorang mata-mata polisi. Tetapi pada akhirnya ia teringat kembali, malam itu ia berciuman dengan wanita itu.
Kini lelaki itu merasa tujuannya sudah tercapai, ia tidak perlu lagi berjalan-jalan untuk mencari wanita itu di Gang kemuning.
_

Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.
Ia mulai merasakan hal aneh, lagi-lagi tidurnya terganggu, lagi-lagi ia gelisah, ia heran mengapa ia kembali gelisah padahal tujuannya sudah tercapai, ia mulai merasa gila. Ia terbangun dari tempat tidurnya dan melihat bayangan dirinya di cermin, pada akhirnya ia dapat menyimpulkan apa yang sedang ia alami. Ia merindukan ciuman wanita itu.
_

Malam berikutnya lelaki itu keluar untuk mencari wanita itu di Gang Kemuning di tempat mereka bercakap, ia melewati pemuda-pemuda yang sedang berkumpul, tetapi mereka tidak ada di sana, “peduli apa”, pikir lelaki itu.

Sesampainya di tempat ia bertemu dengan wanita itu betapa terkejutnya ia melihat adegan perkelahian. Pemuda-pemuda yang biasa nongkrong itu tidak ada di tempat biasa mereka berkumpul melainkan mereka ada di tempat itu dan berkelahi, lelaki itu melihat adegan pengeroyokan sekelompok pemuda dengan seorang wanita. Wanita itu adalah wanita yang mencium lelaki itu,
“hey!, apa yang kalian lakukan kepada wanita itu!”, tegur lelaki itu dengan berteriak. Seketika pemuda-pemuda itu mengentikan perkelahian dan menatapnya.
“oh jadi kau temannya, mata-mata polisi juga?, pantas saja kau sangat mencurigakan”, tegur salah satu pemuda.
“apa yang kalian katakana!, ia kekasihku!, akhir-akhir ini aku sering mencarinya karena dia mengalami sakit jiwa, ia mengaku bahwa ia mata-mata polisi!”. Kemudian para pemuda itu saling bertatapan dan bertanya-tanya.
“apa alasan yang dapat membuat kami semua percaya?”
“karena setiap malam aku mencarinya!”.

Tidak lama kemudian pemuda-pemuda itu mulai bubar, dan lelaki itu menemui wanita itu jatuh dan tubuhnya dipenuhi luka lebam.
“apa yang kau lakukan bodoh?, kau bilang aku sakit jiwa”, tegur wanita itu
“daripada kau mati dikeroyok mereka? Kau pilih mana?”. Wanita itu hanya diam. Kemudian ia bertanya kembali,
“kenapa kau mengingatku?, bukannya kau sudah kuhipnotis?”
“bahkan aku tidak tahu aku dihipnotis”
“apa maksud kedatanganmu kemari?”
“aku merindukan ciuman itu, bisakah kita melakukannya sekali lagi”
Seketika wanita itu tertawa sangat keras dan tawanya terhenti ketika ia merasakan rahangnya terasa sakit karena pukulan pemuda-pemuda itu.

“bagaimana mungkin rindu bisa mengalahkan hipnotis?”.