Sabtu, 26 November 2016

Luapan Rindu Demi Rindu

Butir demi butir air jatuh ke tanah
Tanah demi tanah mulai basah
Diserapnya air itu oleh tanah yang menerimanya
Melayang ia ke atas karena matahari

Sempatkah kita bercengkrama tanpa membebani diri kita akan luka masa silam yang tertanam
Aku tidak sabar menanti dengan gelisah
Tutup matamu dan resapi makna perpisahan yang berbuah rindu

Daun segar bisa layu dan ranting kokoh bisa rapuh, tapi ia akan tumbuh kembali dan menaruh harapan indah pada tubuhnya

Bibirmu yang bertemu dengan bibirku
Terpejam dan berkelana mengasingkan diri kita dari kabut-kabut pengganggu
Kau singkat tapi ada selalu
Menemani masa mudaku, entah menjadi apakah aku di semesta itu
Tapi aku masih menggenggam perasaan dan rindu yang menggebu hingga hatiku ikut mengkerut

Aku ingin merasakan bau tubuhmu sekali lagi, hingga aku benar-benar melupakan bau itu karena otakku sibuk memikirkan masa depan

Ku dewasa nanti akan kugenggam Gerhana Bulan agar ia tidak berganti, bersama dirimu yang telah berganti dan kenangan kita yang menolak mati.

27 November 2016
Minggu sore dan menunggu dirimu kembali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar