Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.
Ia penasaran dan terpikir untuk melakukan suatu hal yang orang banyak pikirkan pasti itu adalah hal yang gila, ia ingin mencium seorang wanita. Wanita yang selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekitar Gang Kemuning.
Banyak orang yang berkata bahwa setiap dini hari menyapa, pasti akan ada sosok wanita yang selalu berjalan di sepanjang Gang Kemuning dan selalu menyebarkan senyumannya kepada pemuda-pemuda yang berkumpul untuk sekadar bermain gitar dan bermain kartu.
Ada juga yang berkata bahwa salah satu pemuda disana pernah mencoba untuk berkenalan dan bahkan sampai berciuman dengannya. Kemudian pemuda yang berciuman dengannya akan merasakan suatu kenikmatan tiada tara, mereka yang mendapatkan ciuman dari wanita itu akan merasakan sensasi-sensasi yang menakjubkan, ia akan dibuat melayang-layang sampai lupa daratan. Hal ini yang membuat Lelaki itu merasa penasaran dan ingin merasakan langsung bagaimana sensasi ciuman wanita itu.
Sempat terpikir di benak lelaki itu, apakah wanita itu adalah seorang pelacur?, tetapi menurut omongan-omongan yang pernah ia dengar, pemuda-pemuda yang mengaku pernah mendapatkan ciuman wanita itu bukanlah seorang pelacur, ia tidak dibayar, sekurang-kurangnya ia bukan wanita bayaran, ia hanya tertarik dengan ciuman-ciuman pemuda-pemuda yang berani berkenalan dengannya.
_
Di suatu malam lelaki itu sengaja untuk berjalan-jalan di Gang Kemuning hanya untuk melihat langsung rupa wanita itu, tentu saja ia ingin merasakan secara langsung bagaimana jika ia berciuman dengan wanita yang sering dibicarakan itu.
Beberapa kali lelaki itu mondar-mandir di Gang Kemuning dan tidak menjumpai siapa-siapa kecuali pemuda-pemuda yang nongkrong di sana. Sampai ketika pemuda bernama Santo menegurnya,
“mas, tumben jam segini keliaran. Cari siapa?”
Lelaki itu hanya tersenyum dan berlalu, pikirnya akan sangat memalukan apabila ia berkata sebenarnya kepada pemuda itu bahwa ia ingin bertemu dengan wanita yang sering berkeliaran di Gang itu setiap dini hari dan ingin berkenalan kemudian menciumnya.
Pikir lelaki itu isu-isu yang beredar di Gang itu tentang seorang wanita yang berkeliaran hanyalah omong kosong yang dibuat-buat oleh pemuda-pemuda iseng. Ia pulang kerumah dan mencoba mengurungkan niat bodohnya. Tetapi justru hal itu yang membuat Lelaki itu makin tidak bisa tertidur karena rasa penasarannya. “apa mungkin wanita itu tidak muncul malam ini?”, dan pikiran-pikirannya yang lain menghantuinya. Kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan mengenai kemungkinan-kemungkinan. Kemudian Lelaki itu memilih untuk berkeliaran lagi di sekitar Gang Kemuning di waktu yang sama, pikirnya mungkin wanita itu akan muncul keesokan harinya dan ia berharap bisa menghapus rasa penasarannya tentang wanita itu.
_
Keesokan harinya ia melakukan hal yang sama kembali. Ia melewati pos yang biasa digunakan pemuda-pemuda untuk berkumpul, kali ini berbeda pemuda-pemuda itu hanya melihatnya saja, tanpa mempertanyakan maksud dan tujuan lelaki itu.
Pikir lelaki itu rencananya berjalan dengan lancar, ia tidak terlalu suka ketika orang-orang bertanya tentang urusannya pribadi, baginya yang ingin ia lakukan adalah haknya, akan tidak baik apabila orang lain mengetahui urusannya.
Lagi-lagi ia tidak menemukan apa-apa di sepanjang Gang Kemuning hanya secercah cahaya lampu Gang yang remang-remang menghiasi Gang tersebut, seolah-olah member tahu lelaki itu bahwa tidak ada apa-apa di Gang itu.
Lelaki itu berpikir mungkin cerita tentang wanita itu hanyalah omong kosong yang dibuat-buat, mana mungkin ada wanita yang ingin berciuman dengan cuma-cuma. Ia menertawakan dirinya yang terlalu bodoh dan terlalu mudah percaya.
Kemudian ia berniat untuk pulang saja. Ketika ia beranjak untuk pulang tiba-tiba di balik remang-remang lampu Gang muncul sesosok wanita berpakaian cerah dan ketat dan mulai menegur Lelaki itu,
“mencari seseorang?”. Lelaki itu kebingungan dan keringat dingin mulai mengucur di sekitaran keningnya. “kenapa?, kau gugup?”, tegur wanita itu.
Lelaki itu mati kutu, mendadak seluruh tubuhnya menjadi gemetar dan kaku. “ikut aku, kemari!”, wanita itu menarik tangan lelaki yang sedang gugup itu, “mengapa tanganmu dingin sekali?”, tegur wanita itu kembali. “ti … ti … dak”, jawab lelaki itu. “tenang saja, aku tidak akan membunuhmu”. Drastis lelaki itu merasa aneh, “membunuh?, siapa sebenarnya wanita ini?”, lelaki itu berbicara dalam hati.
Lelaki itu digiring menuju jalan buntu di persimpangan gang, wanita itu menekannya hingga punggung lelaki itu menabrak dinding, wajah wanita itu secara tiba-tiba mendekat ke wajah lelaki itu sangat dekat dan menatap mata lelaki itu sangat tajam
“katakan, apakah kau termasuk komplotan pemuda-pemuda itu?”, tanya wanita itu. Lelaki itu hanya terdiam.
“jawab, kenapa kau diam saja!?, apakah kau bisu?, atau kau gugup?”. Ekspektasi lelaki itu tentang wanita yang sering dibicarakan oleh orang-orang kini berbanding terbalik, menurutnya wanita ini bukanlah wanita yang dimaksud, ia sempat berpikir bahwa inilah malam terakhir ia akan merasakan hidup.
“ah, sepertinya kau bukan komplotan pemuda-pemuda itu”
“siapa kau sebenarnya?”, akhirnya lelaki itu mengatakan sesuatu.
“akhirnya kau berbicara juga, tidak penting namaku siapa, yang jelas aku seorang mata-mata polisi, menurut laporan yang kuterima dari atasanku di daerah Gang ini sudah beredar obat-obatan terlarang berjenis Heroin, apakah kau tahu?, kupikir kau akan sangat membantu”.
“jujur saja, aku tidak tahu apa-apa tentang masalah itu, aku baru kali ini berkeliaran di Gang ini pada malam hari”
“iya aku tahu itu, aku baru-baru ini melihatmu, tepatnya kemarin, kau sangat mencurigakan, apa yang kau cari?”
Lelaki itu berpikir tidak lucu untuk menceritakan maksudnya bekeliaran di Gang Kemuning selama dua malam terakhir ini. “tidak, aku hanya jalan-jalan mencari angin”. Seketika muncul seorang pemuda dari arah lain, mereka tekejut. Seketika wanita itu mencium si lelaki yang sedari tadi bercakap-cakap dengannya, kemudian pemuda itu pergi.
“baiklah, untung orang itu tidak mendengar percakapan kita. Sekarang tatap mataku, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, dan kita hanya berpapasan”, kemudian wanita itu memukul kening lelaki itu. “aku rasa ini cukup, kau akan melupakan kejadian ini. Aku sangat suka bagian akhir ini, kupikir aku sangat mahir dalam menghipnotis”.
_
Lelaki itu terbangun dari tidurnya, ia hampir tidak mengingat kejadian apa yang ia alami semalam. Ketika ia berpikir sangat lama akhirnya ia mengingatnya, ia ingat bahwa ia bertemu dengan wanita yang sering dibicarakan orang-orang dan Ia teringat kembali bahwa wanita itu adalah seorang mata-mata polisi. Tetapi pada akhirnya ia teringat kembali, malam itu ia berciuman dengan wanita itu.
Kini lelaki itu merasa tujuannya sudah tercapai, ia tidak perlu lagi berjalan-jalan untuk mencari wanita itu di Gang kemuning.
_
Lelaki itu tidak bisa tidur pulas beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganggunya hampir setiap malam sebelum dia tidur dengan berani, ia terbayang rupa seorang wanita yang selalu hinggap dipikirannya, melayang-layang dan menari-menari melahirkan imajinasi-imajinasi mengagumkan.
Ia mulai merasakan hal aneh, lagi-lagi tidurnya terganggu, lagi-lagi ia gelisah, ia heran mengapa ia kembali gelisah padahal tujuannya sudah tercapai, ia mulai merasa gila. Ia terbangun dari tempat tidurnya dan melihat bayangan dirinya di cermin, pada akhirnya ia dapat menyimpulkan apa yang sedang ia alami. Ia merindukan ciuman wanita itu.
_
Malam berikutnya lelaki itu keluar untuk mencari wanita itu di Gang Kemuning di tempat mereka bercakap, ia melewati pemuda-pemuda yang sedang berkumpul, tetapi mereka tidak ada di sana, “peduli apa”, pikir lelaki itu.
Sesampainya di tempat ia bertemu dengan wanita itu betapa terkejutnya ia melihat adegan perkelahian. Pemuda-pemuda yang biasa nongkrong itu tidak ada di tempat biasa mereka berkumpul melainkan mereka ada di tempat itu dan berkelahi, lelaki itu melihat adegan pengeroyokan sekelompok pemuda dengan seorang wanita. Wanita itu adalah wanita yang mencium lelaki itu,
“hey!, apa yang kalian lakukan kepada wanita itu!”, tegur lelaki itu dengan berteriak. Seketika pemuda-pemuda itu mengentikan perkelahian dan menatapnya.
“oh jadi kau temannya, mata-mata polisi juga?, pantas saja kau sangat mencurigakan”, tegur salah satu pemuda.
“apa yang kalian katakana!, ia kekasihku!, akhir-akhir ini aku sering mencarinya karena dia mengalami sakit jiwa, ia mengaku bahwa ia mata-mata polisi!”. Kemudian para pemuda itu saling bertatapan dan bertanya-tanya.
“apa alasan yang dapat membuat kami semua percaya?”
“karena setiap malam aku mencarinya!”.
Tidak lama kemudian pemuda-pemuda itu mulai bubar, dan lelaki itu menemui wanita itu jatuh dan tubuhnya dipenuhi luka lebam.
“apa yang kau lakukan bodoh?, kau bilang aku sakit jiwa”, tegur wanita itu
“daripada kau mati dikeroyok mereka? Kau pilih mana?”. Wanita itu hanya diam. Kemudian ia bertanya kembali,
“kenapa kau mengingatku?, bukannya kau sudah kuhipnotis?”
“bahkan aku tidak tahu aku dihipnotis”
“apa maksud kedatanganmu kemari?”
“aku merindukan ciuman itu, bisakah kita melakukannya sekali lagi”
Seketika wanita itu tertawa sangat keras dan tawanya terhenti ketika ia merasakan rahangnya terasa sakit karena pukulan pemuda-pemuda itu.
“bagaimana mungkin rindu bisa mengalahkan hipnotis?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar