Rabu, 31 Agustus 2016

Motivator dan Si Pemalas

Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian mahasiswa kampusku, karena kuliah umum, kampus mengundang tokoh terkemuka yang sering muncul di stasiun televisi karena kata-kata inspiratifnya, dosen juga memerintahkan, kami wajib mengikuti kuliah umum tersebut, aku satu-satunya mahasiswa yang tidak tertarik dengan kuliah umum ini, bukan karena aku tidak menyukai tokoh yang akan mengisi kuliah umum tersebut, juga bukannya aku tidak menyukai dosen yang mewajibkan kami semua untuk mengikuti perkuliahan itu, aku memiliki alasan tersendiri untuk tidak tertarik.

Aku mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, kampusku dapat dikatakan sebagai kampus yang masih sangat muda dengan usianya kurang dari sepuluh tahun, jadi tidak jarang kampusku mendatangkan tokoh-tokoh yang dianggap cukup untuk menjadi pengisi kuliah umum bagi mahasiswa.

Semua nampak antusias, bahkan ada yang sudah membicarakan hal ini jauh hari, tapi tetap saja, ini adalah aku, lelaki pemalas yang sama sekali tidak bersemangat. “aku tidak ikut kuliah umum hari ini” kataku kepada teman kelasku lewat handphone.

“sayangnya, jarang-jarang loh orang ini bisa datang ke kampus”

“aku engga kepikiran sampai kesitu, jadi kupikir aku punya alasan ”, balasku

“ah, engga asik kamu”

Inilah yang membuat anak-anak jaman sekarang cukup berbeda pikirku, bagaimana mungkin mereka sangat antusias untuk mengikuti sesuatu karena mereka sangat mengidolakan seorang tokoh yang mereka tidak kenali secara langsung?.

***

Aku terbangun, dan kali ini aku berada di kota yang berbeda lagi, kali ini aku berada di Guest House Universitas Mulawarman, walaupun sangat membosankan dan melelahkan tapi kupikir ini bisa kusebut sebagai liburan walaupun secara tekhnis aku juga bekerja, hari ini aku harus mengisi materi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman siang nanti, aku bekerja sebagai Motivator, bermodalkan pengalaman empiris membuatku memiliki kemampuan untuk terus membantu orang-orang untuk terus bersemangat menjalankan hidup yang penuh dengan lika-liku ini, penghasilan yang kudapatkan lumayan untuk menghidupi keluargaku. Aku dikontrak oleh salah satu acara stasiun televisi untuk mengisi program acara yang isinya aku bercengkrama langsung dengan orang-orang yang sangat haus dengan inspirasi-inspirasi.

Ada yang berbeda kali ini, aku sama sekali tidak memiliki bahan untuk aku sampaikan nantinya di Kampus yang akan aku datangi, tapi hal ini sudah sangat sering terjadi, biasanya aku hanya berbicara spontan di depan para mahasiswa dan pasti mahasiswa-mahasiswa itu medengarkannya, asal aku masih menyampaikan hal-hal yang memang inspiratif, mereka biasanya bertanya, tetapi pertanyaan mahasiswa sangat mudah untuk dijawab bahkan aku cukup cerdas dalam mengolah kata-kata.

Akhirnya aku sampai juga di Fakultas Ilmu Budaya, aku datang bersama manager, kami bersalaman dengan Dekan FIB dan juga staf serta dosen-dosen, aku medapatkan banyak pujian dari mereka semua karena kemampuanku menginspirasi orang-orang.

Sebelum memasuki ruangan perkuliahan, aku meminta izin kepada manager untuk berjalan-jalan mengelilingi kampus sendirian, hanya untuk melihat-lihat, tidak lama kemudian aku melihat seorang yang sepertinya mahasiswa, tertidur di bangku yang tepat berada di bawah pohon, karena penasaran aku mendatanginya, paling-paling ia akan kaget melihatku, siapa yang tidak mengenalku sama sekali?.

***

Karena paksaan dari dosenku, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke kampus, aku sangat tidak suka dengan kuliah umum kali ini, sangat membosankan. Sesampainya di Kampus aku bukannya masuk ke dalam ruangan kuliah, aku malah memilih untuk kabur, aku memiliki tempat yang cukup bagus untuk bermalas-malasan di Kampus, sebuah bangku sederhana di bawah pohon adalah tempat favoritku untuk sekedar tidur-tiduran, sempurna!.

Seseorang tiba-tiba datang menghampiriku, aku mencoba untuk tidak peduli, kalau ia ingin duduk aku persilahkan saja, karena aku sadar ini adalah tempat umum,

“permisi dik, boleh saya duduk disini?”, tegur seseorang itu

“boleh, siapapun boleh duduk disini”

“baik, terima kasih”

“iya, sama-sama”, jawabku seadanya sambil melanjutkan tidur

“boleh saya bertanya dik?”

Aku menatapnya sebentar, aku sama sekali tidak mengenalinya, bagaimana mungkin orang yang baru aku lihat dan berkenalan saja tidak ada, sudah berani bertanya padaku,

“boleh, tanyakan saja”

***

Aku melakukan beberapa percakapan kecil dengan Mahasiswa pemalas ini, aku melakukan percakapan hanya sekedar untuk meminta izin untuk duduk, tapi kesan apa yang aku dapatkan, anak ini sepertinya selain pemalas dia juga tidak memiliki sopan santun sama sekali, tapi ada hal yang membuatku makin tertarik, dia mirip denganku waktu muda dulu, suka bermalas-malasan dan bahkan tidak memiliki semangat sama sekali,

“dik, kamu tidak ikut kuliah umum?”, tanyaku

“kuliah umum itu?, aku tidak tertarik”

“kenapa?, bukannya kuliah umum hari ini mendatangkan tokoh inspiratif terkenal?”, tanyaku kembali

Si Mahasiswa pemalas ini pun mulai bangkit, tampilannya yang urak-urakan ini malah membuatku makin tertarik untuk terus bertanya lebih jauh lagi,

“apa yang ingin tokoh inspiratif itu lakukan di Kuliah umum itu?”, tanya si mahasiswa pemalas

“ya, menyampaikan hal-hal inspiratif untuk para mahasiswa pastinya”, jawabku spontan

Si Mahasiswa pemalas ini kemudian mengusap-usap wajahnya kemudian menatapku,

“satu hal yang aku yakini, hal-hal inspiratif atau semacamnya itu, bukan datang dari orang lain, tapi dari diri kita sendiri, hal inspiratif tidak seremeh itu, satu-satunya hal yang bisa mengangkat manusia dari keterpurukan adalah dirinya sendiri, bukan orang lain!”

Aku terdiam, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku tersadar selama ini aku melakukan pekerjaan ini karena aku ingin meraup keuntungan, bahkan niat sekalipun tidak aku pikirkan untuk menginspirasi, sedangkan Mahasiswa pemalas yang kegiatannya hanya tidur-tiduran mampu berpikir seperti itu, baru kali ini aku merasa sangat malu.

***

Aku memasuki ruangan perkuliahan, suasana yang cukup ramai dan ketika aku masuk aku mendengar suara sorakan dan tepuk tangan dari mahasiswa yang sudah menunggu sedari tadi, seorang MC mempersilahkan aku duduk dan memulai pembicaraan dan seketika suasana ruangan perkuliahan menjadi cukup hening, aku mulai berbicara menggunakan pengeras suara,

“selamat siang semuanya …, aku tahu ini adalah hal yang kalian tunggu-tunggu, aku tidak akan berlama-lama disini, satu-satunya yang bisa mengubah diri kalian adalah tidak lain kalianlah sendiri, inspirasi sejati lahir dari diri kalian sendiri!, terima kasih”

Aku mengakhiri perkuliahan dan bergegas keluar dari ruangan, semua nampak terkejut dan beberapa dari mereka mulai berbicara aneh-aneh, tapi aku tidak peduli, aku melihat si Mahasiswa Pemalas masih tertidur di bawah pohon itu, tidak lama kemudian aku mencoba bertanya kepada seorang mahasiswa yang lewat di hadapanku,

“siapa nama anak yang tidur di bawah pohon itu?”, tanyaku penasaran

“oh itu, namanya Fajar Tri Kurniawan”, jawab Mahasiswa itu

Aku terdiam kembali, sekaligus terkejut, bagaimana mungkin namanya mirip dengan nama lengkapku ketika kecil?.   

Senin, 29 Agustus 2016

Secangkir Kopi & Cita-cita

  Seperti malam-malam biasanya, aku pasti kesulitan mencari kegiatan malam yang pas ketika liburan kuliah, jadi aku putuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah untuk mengunjungi salah satu tempat hanya sekedar untuk 'ngopi' dengan teman-teman dan biasanya dibarengi dengan diskusi-diskusi kecil-kecilan atau sekedar bertukar pengalaman hidup selama kuliah.

  Beberapa teman menempuh kuliah di Jawa, sedangkan sebagian lagi menempuh kuliah di ibu kota saja, kami sepakat dimanapun kami kuliah itu sama sekali tidak memiliki pengaruh, yang berpengaruh adalah bagaimana kita menyesuaikan diri dengan ilmu yang kita dapatkan.

  Menginjak usia dua puluh tahun memang bisa terbilang sangat cepat sekali, sampai-sampai aku juga merasa heran karena aku merasa baru saja beberapa waktu lalu kami semua masih anak-anak SMA yang suka bertingkah aneh-aneh di sekolah, sekarang menjelma menjadi mahasiswa-mahasiswa dan kami semua sudah cukup berubah, yang biasanya kerjaannya bahas hal-hal konyol-konyolan, sekarang sudah beralih ke yang lebih serius, kami berdiskusi tentang banyak hal, hidup, budaya, politik, sampai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

  Yang membuat diskusi kami semakin unik adalah ketika kami sepakat untuk mendiskusikan suatu pokok bahasan tetapi dikaji mendalam menurut konsentrasi kuliah kami, alhasil banyak sekali pendapat-pendapat yang beragam dan biasanya makin asik untuk didiskusikan, kadang juga karena kami tidak menemukan titik tengah untuk menyelesaikan diskusi, biasanya kami mencoba untuk menertawakan apa hal yang kami diskusikan saat itu juga.

  Sebagian dari kami memiliki satu pemikiran yang sama, aku dan beberapa teman sepakat ketika lulus kuliah nanti tidak akan menjadi pegawai atau bawahan suatu perusahaan, karena merasa rugi berkuliah mahal-malah hanya untuk menjadi bawahan orang, inj semua mengenai mindset, maka dari itu beberapa dari kami mengambil keputusan setelah lulus nanti akan membangun kafe yang isinya adalah tempat-tempat untuk berdiskusi, berbeda dengan konsep-konsep kafe lainnya.

  Aku mengusulkan konsep kafe dipadukan dengan konsep interior perpustakaan biar kelihatan beda dan terlebih lagi karena aku secara pribadi kuliah di jurusan sastra dan teman-teman setuju. Misi utama dari konsep kafe ini adalah untuk menumbuhkan budaya diskusi dan membaca bagi orang-orang di kota kami.

  Memang ini cuma sekedar konsep, akan tetapi aku berharap suatu saat pasti akan terwujud. Aamiin.

  Aku coba mengakhiri tulisan ini, tulisan ini sekedar untuk mencatat dan sebagai pengingatku di kemudian hari nanti. Teman-temanku sekalian, semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT sehingga kita bisa mewujudkan impian kita. Aamiin.

Jumat, 26 Agustus 2016

Dongeng Tanpa Akhir

Di tempat yang sunyi ini
Aku berbaring pada alas-alas sepi
Kurasakan dingin memeluk hati yang sangat lama telah menanti musim-musim keramaian

Kudengar radio di tengah-tengah suara jangkrik di luar sana
Seketika, suaranya menyerupai paduan suara yang tidak bernyanyi, menertawakanku yang sedari tadi merasa sendiri

Kurindukan pelukan-pelukanmu malam itu sayang, setelah kita berpelukan dan bercinta sepanjang malam kita bercerita tentang dongeng-dongeng yang ada pada imajinasi otak kita

Dan kau pergi meninggalkanku bersama dengan dongengmu itu, kau tau sayang? Kerap kali aku mencoba menceritakan ulang dongeng itu, tapi aku selalu gagal untuk mengakhirinya, karena cerita akhirnya membuatku seperti bercermin pada sisa puing-puing kenangan kita, tentang seorang wanita muda yang pulang membawa kekecewaannya karena dibunuhnya impiannya oleh kekasihnya yang menginginkannya tetap tinggal dan menangis tersedu-sedu.

Hidup memang kadang memaksa kita untuk berimprovisasi tentang skenario perjalanan, padahal kita sudah mengatur jalan cerita sendiri.

Aku tidak ingin terlalu melankolis lagi, yang kuiginkan hanya sederhana: pulanglah, bawa kembali dongengmu yang tidak bisa ku akhiri itu.

16 Februari 2015
Herman Mansa & Dongeng tanpa akhir.

Kamis, 25 Agustus 2016

Self Reminder

Tidak pernah aku merasa takut dari biasanya, ketakutan kali ini terlalu mengganggu otakku untuk berpikir lebih jernih, ketika kau mungkin merasa senang apabila dapat dengan mudah memahami sesuatu hal dan ternyata pemahamanmu terhadap hal tersebut benar adanya, disinilah letak ketakutanku.

Aku mengakui, aku adalah orang yang paling cepat menangkap suatu pemahaman, bukan karena sombong atau apapun itu, tetapi ini adalah hal yang aku rasakan, aku pikir aku memiliki kebebasan untuk merasakan sesuatu.

Justru disinilah letaknya, yang membuat aku takut adalah gejolak yang terjadi sekarang di dalam diriku ini dengan kemampuan pemahamanku yang sangat aneh, membuatku semakin takut untuk terus memahami sesuatu. Apakah cuma aku yg merasakan hal seperti ini, tapi ini bukan suatu pemakluman. Aku hanya berusaha sedini mungkin mengakui semuanya, anugerah tuhan yang satu ini sangat membuatku gelisah.

Aku tidak jenius apalagi serba bisa, aku hanya terlalu peka terhadap sesuatu hal yang memancing otakku untuk berpikir.

Semua begitu terasa menakutkan.

Rabu, 24 Agustus 2016

Daun Putra Malu

   Pria muda itu memarkir kendaraannya di lapangan parkir sekolah, dia adalah seorang pria muda yang saat itu menempuh pendidikan tingkat SMA di salah satu kota yang penduduknya tidak seberapa akan tetapi orang-orang yang tinggal di kota itu senang akan hal itu karena memang mereka adalah orang-orang yang sangat menyukai sepi, mungkin mereka adalah orang-orang yang penyendiri, terbawa suasana sepi kota itu pada akhirnya membuat pria muda itu juga ikut merasakan sepi itu, lebih tepatnya sepi di hatinya, karena usianya yang menginjak remaja, selain mengenal kasih sayang orang tuanya, ternyata ia juga menginginkan kasih sayang lawan jenisnya, dia ingin punya pacar.

    Pria muda yang akrab dipanggil oleh teman-temannya Ical ini menyukai wanita satu sekolah dengannya dia adik kelasnya sendiri namanya Karisma, Ical mulai menyukai Karisma ketika pertamakali melihatnya di lorong sekolah sedang berjalan bersama teman-temannya dan saling bercanda satu sama lain, Ical memang adalah seorang pria yang terlalu gampang tertarik dengan lawan jenisnya, tapi justru disinilah letak masalahnya Ical adalah orang yang pemalu, terlebih lagi ketika ia tertarik dengan seorang wanita dia akan menjelma menjadi daun putri malu tersentuh sedikit akan menciut, malang sekali.

   Gosip ini pun terdengar oleh salah satu temannya dan tidak bisa dipungkiri lagi akhirnya tersebarlah kabar bahwa Ical menyukai karisma dan tidak menutup kemungkinan lagi, Ical sangat malu dan bahkan menyesal telah bercerita kepada temannya, Ical merasa ia akan mengalami tahun yang buruk karena hal ini.

   Setiap kali Ical berpapasan dengan Karisma, Ical selalu tidak berani menatap matanya, sungguh bagi Ical ini adalah hal yang sangat memalukan baginya.

_

    Wanita muda itu akhirnya menginjak remaja dan masuk SMA, lambat laun akhirnya ia mulai berbaur dan memiliki teman, ada hal lain yang membuat wanita muda ini sangat bersemangat menuju sekolah, ternyata ia menyukai seniornya di sekolah, ia sengaja setiap istirahat sekolah berjalan menyusuri lorong sekolah untuk mengintip ke dalam kelas hanya untuk sekedar melirik senior yang ia sukai itu, ketika berjalan pelan di depan kelas seniornya tiba-tiba salah satu teman menegurnya, “Ris, ngapain nunduk kaka itu?”, wanita muda itu meliriknya kemudian tertawa, “keberatan kepala kali”, jawab Karisma. Kemudian wanita muda itu tersenyum sambil lalu.

    Keesokan harinya wanita muda itu mendapat berita bahwa senior yang ia sukai ternyata menyukai orang lain, dan wanita muda itu beranggapan bahwa orang lain yang disukai oleh seniornya itu adalah teman akrabnya sendiri, tentu saja hal ini membuat wanita muda itu menjadi tidak bersemangat.

    Setiap harinya wanita muda itu tidak bersemangat sama sekali, bahkan kebiasaannya berjalan menyusuri lorong sekolah hanya terasa kosong setiap kali ditegur oleh teman-temannya dia hanya berkata, “tidak apa-apa ko”, hari-harinya mulai kacau.

_

     Ical berpapasan lagi dengan Karisma, alangkah terkejutnya Ical melihat wajah karisma yang tidak tampak riang seperti biasanya, Ical beranggapan mungkin karisma marah karena mengetahui bahwa Ical suka dengannya, Ical juga beranggapan pasti Karisma sangat malu, sampai-sampai Ical tidak lagi menemui raut wajah yang ceria dari Karisma, Ical merasa sangat bersalah. Akhirnya, Ical berencana untuk meminta maaf kepada karisma dan Ical berencana untuk berbohong kepada Karisma bahwa sebenarnya Ical tidak menyukainya sama sekali.

     Akhirnya saatnya tiba, ical berpapasan dengan karisma, Ical sempat berpikiran untuk tidak melakukan hal itu karena tidak berani melihat wajah Karisma yang sudah sangat menakutkan, tapi Ical berpikir lagi kalau ia tidak melakukannya sekarang maka ia akan sangat menyesal, akhirnya Ical memberanikan diri menegur Karisma.

“Eh, Ris”, tegur Ical

Tiba-tiba Karisma menengok ke arah Ical,

“kenapa kak?”, Jawab Karisma

“anu, begini …, sebenarnya gosip kalau aku suka sama kamu itu sebenarnya engga bener sama sekali, aku cuma bercanda, aku cuma main-main”

“hah?, maksudnya?”, tanya Karisma dengan heran

“ah, tidak aku tadi lagi hafalin dialog soalnya sebentar lagi aku syuting film pendek, begitu”

    Wajah Karisma bertambah heran, tentu saja hal ini makin membuat Ical tidak enak hati, akhirnya Ical memutuskan untuk meninggalkan karisma dan teman-temannya.

_

“loh Ris kenapa kaka itu?”, tegur salah satu teman Karisma

“hah, aku gatau kenapa dia”, Jawab Karisma

“tapikan ada untungnya Ris”

“apaan untungnya?”

“akhirnya kamu ditegur sama kaka itu, cieeeee…”

“ah, kalian!”

    Hari itu perasaan Karisma campur aduk, antara dia senang karena barusan orang yang ia taksir menegurnya, atau merasa sedih karena orang ia sukai berkata bahwa ia tidak menyukainya sama sekali, tetapi yang Karisma ingat bahwa pria yang ia sukai itu hanya bercanda karena sedang melafalkan dialog.  Tapi, Karisma masih bertanya-tanya dalam hati,

“apa benar kak Ical suka sama aku?, sial!, aku mimpi apa!”.

Selasa, 23 Agustus 2016

Ironi Waktu dan Kenangan

Kurasa waktu begitu cepat diputar, dasar pemutar yang cerdik, ia memutar sekaligus mengatur, aku diatur untuk bertemu denganmu kemudian diatur lagi untuk berpisah. Sungguh, itu bukanlah suatu masalah andai saja perkenalan kita tidak di anugerahi rasa.

Kurasa waktu begitu cepat diputar, baru kemarin kuantar kau berkeliling kota, menyusuri kerlap-kerlipnya cahaya dan bisingnya mereka yang merasa punya dunia, ternyata kini kudengar kau telah diantar oleh salah satu dari mereka.

Kurasa waktu begitu cepat diputar, kemarin masih sempat kita menertawakan hal-hal kecil yang sengaja kita besar-besarkan, kini kita menertawakan satu sama lain karena merindukan itu semua.

Kurasa waktu begitu cepat diputar, kemarin kita masih bisa mencuri pandang ketika kita berjalan di lorong sekolah kemudian tersenyum malu-malu, kini kita hanya bisa melirik secara sembunyi padahal kita sedang rindu.

Kurasa waktu begitu cepat diputar, memaksaku untuk melupakan sementara pelukan dan ciumanmu masih terasa begitu hangat.

Kurasa waktu memang harus berputar cepat, agar kita tau betapa merindunya kita pada sisa-sisa kenangan itu.

Kenangan semasa SMA
16 Februari 2014

Senin, 22 Agustus 2016

Dulu Kita Masih

Dulu kita masih sepasang kekasih, pada terang hari kita didapati sedang malu-malu sambil menghitung langkah kaki dan pada akhirnya kita mengunci langkah untuk melempar senyum yang paling manis.

Dulu kita masih serasi, terbilang cocok dengan gelar kekasih yang tiada hari tanpa mengadu kasih.

Sekarang kita terasing, tak saling mengenali tapi pernah saling mengetahui. Langkah-langkah pasti yang pernah kita geluti kini seperti khayalan mati.

Yang aku tau cinta itu begitu, datang semaunya pergi semaunya juga, lalu meninggalkan hal yang paling kita benci yaitu; kenangan.

Kenangan semasa SMA
16 Februari 2014

Senin, 01 Agustus 2016

Seperti Biasanya

Pagi ini aku bangun sangat terlambat dari biasanya. Aku merapikan tempat tidur seperti biasanya. Membuat segelas kopi untuk menemaniku menapaki terang seperti biasanya.

Kudengarkan musik dari seorang seniman besar abad romantisisme, kala itu apa yang dia pikirkan untuk mencipta?, pertanyaan yang bahkan tidak bisa kujawab hanya terngiang hampa di kepalaku.

Akulah lelaki yang paling sering bertanya dan menolak pergi untuk jawaban, kadang aku begitu ingin mengupas pertanyaanku hingga kuhinggapi sebuah jawaban, tapi aku menolak.

Ini bukan ketidakpercayaan diri, ini hanyalah caraku untuk menemukan jawabanku di tengah-tengah perjalanan hidupku.

2 Agustus 2016