Senin, 31 Oktober 2016

Siloloque Gerhana

Aku tidak berjodoh dengan purnama
Ia datang tak kenal siapa kita
Aku tidak sebodoh yang pertama
Yang akan hilang ketika disapa cinta

Aku akan datang pada Gerhana
Yang dinanti dengan sangat lama
Seperti hilang entah kemana
Yang kita pernah dibawanya bersama-sama
Mengarungi bahagianya burung-burung pagi, bersemangat memberi tanda
Bahwa matahari telah datang.

Berpikir tentang akhir, bukanlah jalan keluar untuk memimpikan aku terbangun di pagi hari dan mencium keningmu ketika kau masih terlelap

Tidak ada bahagia sesungguhnya selain berjalan bersamamu di keriuhan kota, di bawah lampu jalan, dan kita menertawakan kebodohan satu sama lain.

Ini akan berakhir, aku paham. Tapi biarkan aku menemanimu semampuku bertahan. Tidak ada embun pagi yang tidak menguap, tidak ada suara gesekan daun-daun pohon setelah mereka kering di tanah, dan tidak ada angin yang bertahan di satu tempat.

Tidak ada
Tidak akan ada

Tapi, aku mencintaimu lebih tabah dari menunggumu, seperti matahari pada bulan, mereka punya Gerhana, tapi aku dan kau punya kenangan.

Kurasa itu cukup.

Samarinda, 31 Oktober 2016

Sabtu, 29 Oktober 2016

Gerhana, Apakah Kau Akan Datang Kembali?

Bagi sebagian orang Gerhana Bulan adalah hal yang biasa, tetapi tidak menutup kemungkinan ada juga sebagian orang yang sangat antusias terhadap kedatangan momentum langkah ini. Dari sisi  lain, ada yang sangat menyukai Gerhana Bulan, mereka mengartikan Gerhana Bulan itu berbeda dari artian yang lain, fenomena alam yang sangat menakjubkan dan mereka berada di sana, menunggu dan menunggu.

  “Apa tidak terlalu kekanakan kita berdua berada di lapangan ini menunggu gerhana bulan?”. Pertanyaan yang seketika muncul dari mulut Pandep. Pertanyaan itu ditujukan langsung kepada seorang lelaki yang sudah lama ia kenal, lelaki itu sudah menunggu lama momentum langkah tersebut, ia sampai rela meninggalkan kafe Book n’ Coffee yang ia kelola dan masih dalam jam kerja. “aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu turuti saja mauku”. Pandep hanya manut-manut saja, ia sangat mengenal orang yang ada di hadapannya itu adalah lelaki yang berbeda dari yang lainnya, ia tidak suka berkomentar banyak ketika itu tidak perlu, bagi Pandep ia sangat misterius dan air mukanya seperti menyimpan banyak rahasia, Pandep hanya mampu menebaknya tetapi tidak pernah ada keinginan untuk menanyakannya. “baiklah, mari kita tunggu Gerhana Bulan sialan itu”. 

  Tempat mereka menunggu Gerhana Bulan sangat ramai, banyak orang-orang yang sedari tadi berdiri dan mempersiapkan kamera dan Hanphone mereka masing-masing hanya untuk mengabadikan moment langkah tersebut. Berbeda dengan Pandep dan temannya, mereka berdua hanya berdiri dan menunggu dan tidak ada tanda-tanda mempersiapkan satu alat pun untuk mendokumentasikan moment tersebut.

  Pandep mencoba untuk memecah keheningan dan bertanya kepada temannya,

“setelah Gerhana Bulan itu muncul apa yang akan kau lakukan?”

“tidak ada, aku hanya ingin melihatnya, ada yang ingin aku pastikan”

“seberapa penting Gerhana Bulan itu untukmu?”

“kenapa memangnya?”

“bukan maksudku untuk merememehkanmu, tetapi aku merasakan maksud tersembunyi”

“oh iya?” 

  Pandep tahu akan sia-sia menanyakan apapun kepada temannya, rasa penasaran tetaplah rasa penasaran, selamanya akan menghasilkan rasa heran yang berkepanjangan. Tidak lama kemudian tiupan angin tidak terasa, cuaca begitu tenang dan bahkan pohon-pohon yang berada ditempat itu tidak menari-nari, awan menyingkir seolah-seolah sedang mempersilahkan sesuatu yang menakjubkan untuk muncul. benar, tidak lama kemudian Gerhana Bulan terjadi, Bulan terasa begitu terang, Bulan sedang memamerkan keagungannya, tepat di atas kepala manusia-manusia penasaran itu Bulan sedang cantik-cantiknya.

  Semua orang menatap takjub akan kedatangan Gerhana Bulan itu, Pandep seperti dipertontonkan suatu pertunjukan yang sangat luar biasa, berbeda persis ketika ia menonton konser Cold Play  membawakan lagu yang berjudul Fix You yang merupakan juga lagu kesukaan orang yang sedang bersamanya menatap Gerhana bulan, yaitu temannya yang tidak kalah terpesona dengan kemunculan Gerhana Bulan di atasnya. 

“menakjubkan bukan?”, tanya lelaki itu ke Pandep

“memang sangat menakjubkan!”

“sudah kubilang kan?”

“tetapi tunggu, apakah kau tadi bertanya?”, sambil menatap ke atas

“iya” 

“hahaha, tumben!”

_

  Teman Pandep itu bernama Man, ia memiliki kenangan yang tidak bisa ia lupakan berhubungan dengan Gerhana Bulan, ia tidak bisa melupakan pertemuannya dengan seorang wanita pada saat Gerhana Bulan di waktu yang sama ketika Pandep dan Mansa terpesona dengan Gerhana Bulan yang barusan terjadi.

  Gerhana Bulan mengantarkannya pada suatu perkenalan yang tidak bisa ia lupakan sampai saat ini, wanita itu bernama Nom, seorang wanita yang tiba-tiba muncul dikehidupannya yang biasa-biasa saja hingga mampu merubah hidupnya menjadi sangat luar biasa.

  Ia sangat mengingat kejadian itu, setelah ia melihat Gerhana Bulan tidak lama kemudian Hanphone yang berada di kantong celananya berdering, ia sangat hafal dering Handphone itu berasal dari Handphonenya sendiri, dan ternyata benar seorang wanita bernama Nom tertera disana, tertera pesan singkat disana,

“Masih indah kamu daripada Gerhana Bulan malam ini”

  Berawal dari pesan singkat itu, akhirnya mereka menjadi dekat satu sama lain, tetapi tidak terikat oleh hubungan sepasang kekasih, bagi Mansa hal itu tidak menjadi masalah. Seiring perjalanan waktu kedekatan mereka sudah melebihi dari hubungan sepasang kekasih, ini adalah suatu kebetulan yang memang benar-benar betul terjadi.

  Ia tidak pernah berpikir hubungan yang terjadi tanpa sengaja dan dapat memberinya semangat di setiap hari itu akan berakhir. Tetapi dibalik pertemuan pasti ada perpisahan seperti Gerhana Bulan. Ada kalanya Bulan dan Matahari dapat sejajar dan ada kalanya mereka akan terpisah sangat jauh. pada dasarnya mereka memang berbeda, tetapi bukannya perbedaan adalah syarat utama untuk menyatukan sedikit demi sedikit hingga menjadi sama dalam satu perasaan?. Berbeda ketika hal yang membedakannya kali ini adalah perbedaan kepercayaan, dan ini adalah haru hal baru bagi mereka berdua.

  Semakin mereka melanjutkan semakin mereka merasa khawatir bagaimana nantinya ketika benar-benar mereka menemukan jalan buntu, bagaimana ketika mereka dihadapkan pada dampak yang lebih besar, ketika sebagian orang menganggap bahwa hubungan jarak jauh adalah hubungan yang sangat berat, tetapi ada hal yang lebih berat ketika hubungan diberi jarak oleh kepercayaan.

_

  Malam sebelum mereka sepakat untuk berpisah, mereka sepakat untuk bertemu. Banyak hal yang mereka sampaikan, mulai dari larangan-larangan, saling menjaga diri, sampai Man membacakan puisi perpisahan,

Dialog Subuh

Dialog subuh ini tidak lagi seramai kemarin Nom,

Tidak ada lagi embun yang jatuh menunggu ucapan selamat pagimu

Tidak ada lagi burung-burung yang siap sedia bernyanyi setelah aku terbangun

Semua sepi

Semua sibuk sendiri-sendiri

Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini?

Tidak ada, bahkan aku ingin menyalahkan waktu yang mempertemukan kita dan kemudian memisahkan kita, tapi waktu juga ada benarnya.

Hari-hari kedepan akan terasa hambar Nom, kau tau kenapa? Karena kita akan mulai berpura-pura seolah-olah tidak pernah ada sesuatu sebelumnya terjadi diantara kita.

Padahal kita sedang dalam rindu-rindunya.

 

  Kemudian mereka menangis, menangisi ketidakberdayaan menghadapi nasib percintaan mereka yang begitu naas. Mereka beradu tatap, mata mereka sama-sama memandang kedalam perasaan mereka masing-masing, “maafkan aku, ini yang terakhir”, kata Nom kepada Man dan mereka terjatuh dalam suasana haru dan saling berpelukan, mereka berpelukan sangat erat satu sama lain, bibir mereka bertemu dalam tangis, waktu berjalan lambat dan mereka tersadar inilah ciuman terakhir yang bisa mereka lakukan.

  Nom bergegas untuk pergi, dan Man tiba-tiba menarik tangannya dan menegurnya, “jika suatu saat nanti kau melihat Gerhana Bulan, sempatkan untuk menatapnya, aku tidak tahu dimana kita nanti, dengan siapa kita saat itu, bagaimana kehidupan kita, tapi percayalah aku ada di sana tersenyum dan memikirkanmu, aku berjanji”. Lagi-lagi mereka berpelukan dan terjebak dalam tangis.

_

“apakah kau barusan menangis?”, tegur Pandep

“apakah ada larangan pria untuk menangis?”

Pandep hanya diam.  

  Mereka beranjak menuju Kafe, sesampainya di kafe tiba-tiba seorang pegawai kafe menegur mereka, “maaf mas Man, ada perempuan yang mencari mas sudah dari tadi menunggu, dia ada di lantai dua”. Secara tiba-tiba Man berlari menuju lantai dua, firasatnya berkata Nom di sana. Sesampainya di lantai dua seorang wanita dengan senyuman yang sangat akrab itu menegurnya,

“Gerhana datang lagi, dan aku masih di sini, kau kemana saja?”

 

TAMAT

 

 

Nom

Tentang cinta, aku tidak pernah mempermasalahkan kedepannya
Jujur saja, aku sedang berada dalam permainan yang paling jahat
Ketika kita khawatir kita tidak dapat bersama di suatu hari,
Tapi aku selalu berpikir kita terlalu muda untuk menerka takdirNya.

Asalkan hati kita masih berjalan di jalan yang sama, di sanalah kita tidak mengindahkan aturan yang sudah ada.
Jangan bilang kita jahat kepada diri sendiri, bukan begitu, kita hanya mencoba meneruskan hidup.

Kau tau?, hidup itu singkat, tapi cinta itu panjang dan melelahkan.
Aku pernah bermimpi kita terbangun di pagi yang sama dan mengucapkan selamat pagi di dingin yang sama.

Saat Televisi mengumumkan perubahan cuaca, perubahan nasib, perubahan kondisi politik, bahkan perubahan yang jahat menjadi baik dan bahkan sebaliknya.

Aku sama sekali tidak khawatir, karena kau tidak berubah, kita tidak berubah, hanya menua. Hanya itu, masih kurang?

Itu lebih dari cukup.
Dan aku sanggup
Apakah kau mau untuk sanggup?

Samarinda, 29 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Dialog Subuh

Dialog subuh ini tidak lagi seramai kemarin nom,
Tidak ada lagi embun yang jatuh menunggu ucapan selamat pagimu
Tidak ada lagi burung-burung yang siap sedia bernyanyi setelah aku terbangun

Semua sepi
Semua sibuk sendiri-sendiri

Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini
Tidak ada, bahkan aku ingin menyalahkan waktu yang mempertemukan kita dan kemudian memisahkan kita, tapi waktu juga ada benarnya.

Hari-hari kedepan akan terasa hambar nom, kau tau kenapa?
Karena kita akan mulai berpura-pura seolah-olah tidak pernah ada sesuatu sebelumnya terjadi diantara kita.

Padahal kita sedang dalam rindu-rindunya.

Samarinda, 27 Oktober 2016
Untuk wanita yang akan selalu kuanggap kekasih.

Rindu

Tidak ada yang pernah tau sedang apa kita di kediaman masing-masing
Kecuali kita, kita sangat tau kita sedang melalukan sesuatu
Melakukan pekerjaan yang sangat berat
Hanya sekedar merindu

Nom, aku rindu.

Aku rindu sapaan disetiap pagi
Aku rindu melihatmu tertawa
Aku rindu membuatmu marah
Aku rindu kita tertawa lepas
Aku rindu mencubit kedua pipi itu
Aku rindu semua hal tentang kamu

Sungguh sial, kita mau tidak mau harus menunggu Gerhana selanjutnya, yang disana kita tidak tau apa kita masih bisa saling sapa atau tidak, ini terlalu mengintimidasi.

Aku sempat menertawakan orang-orang yang dilanda rindu, kini aku menertawakan diriku, ternyata rindu itu seperti ini semua pikiran tertuju pada satu titik kemustahilan.

Nom, aku rindu, aku rindu kamu, apakah kamu rindu juga ?

Samarinda, 26 Oktober 2016
Untuk wanita yang akan selalu menjadi kekasih

Senin, 24 Oktober 2016

Lebih

Kita ingin lebih
Tapi diberi seadanya
Kita mungkin iri
Pada mereka yang berpegangan tangan semaunya

Aku iri, kadang-kadang frustasi
Cinta itu kadang suci, tapi kadang aku memaki
Ketika tidak ada bekas-bekas kenangan dan rindu yang ia pertahankan

Bagaimana kalau sudah begini, aku akan selalu duduk di kejauhan dan memandangimu bahagia sendiri
Dan lagi, Pidi Baiq memang benar,

"Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu".

Itu pasti, dan sudah terasa.

Senin, 24 Oktober 2016

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hai Pacarku

Hai pacarku,
Yang kuresmikan lewat kesepakatan
Tidak lewat pesan singkat ataupun ungkapan bak kilat
Suatu saat kita akan berbalik badan dan menjauh

Bukan karena tidak cinta
Bukan karena tidak ada cerita

Tetapi,
Kita dipisah oleh kepercayaan kita

Aku sangat sepakat hal itu akan terjadi
Aku sudah memikirkan solusi

Bukan kawin lari
Bukan kawin lirih

Tetapi,
Aku akan menikmati waktu seperti ini, mencintai tak pandang bulu
Bukan salah kita, salahkan ia yang mencipta kepercayaan

Tetapi,
Kita ya kita
Persetan dengan sisa-sisanya

Kita berdosa?
Tidak, kita tidak berhak menilainya, itu sudah tugasNya

Kita hanya berhak dan harus menjalani, siapa suruh ia seenaknya memberi kita cinta.

Bontang, 23 Oktober 2016

Ah, kamu

Ah, senyummu
Sebentar-bentar mengganggu
Sebentar-sebentar dirindu

Ah, perhatianku
Sebentar-sebentar diganggu
Sebentar-sebentar dibelenggu

Kamu.

Bontang, 23 Oktober 2016

Malam Hujan

Malam hujan
Ada sesuatu yang akan tersampaikan
Lewat tetes demi tetes yang jatuh ke permukaan
Dia adalah tanah yang basah dan berbekas

Malam ia terduduk
Memeluk kedua kakinya, isyarat dingin memakinya
Menyelimuti setiap pori-pori tubuhnya
Menggigit bibirnya sedari pucat menjadi terciprat darah-darah kesalnya

Hiruk pikuk kota bukan lagi dirinya
Ia adalah sisa-sisa yang ia banggakan
Tentang keramaian yang ia cipta
Kemudian menghilang setelahnya

Ada cahaya di ujung matanya
Cahaya yang begitu basah
Ia tidak merasakannya,
Karena perih di jiwanya lebih basah dan lebih gelisah

Ia adalah yang terbuang
Dari lingkungan caci maki, iri dengki, dan arogansi
Sudah, aku tidak ingin lagi membuatnya menjadi puisi
Karena aku tau dia sedang mengungsi dari wajah palsunya yang bukan miliknya

Bontang, Minggu 23 Oktober 2016

Jumat, 21 Oktober 2016

Gerhana Kembali

Gerhana kita kembali lagi
Kali ini dia kembali karena situasi pasti
Karena ada yang sedang diberkahi
Yaitu kita yang harus bersama lagi

Kalau Gerhana hilang
Maka aku akan berteriak lantang
"Hey, kau pasti tau cara kembali lagi!"

Kemudian Gerhana akan kembali dan terang kembali

(2016)

Minggu, 16 Oktober 2016

Ketika Perempuan Menangis

Ketika perempuan menangis
Maka langit seperti berduka
Memberi tanda dari murka semesta
Kusimpulkan semesta itu cengeng

Perempuan menangis

Ketika perempuan menangis
Maka ia menjadi aktor terbaik
Dibalik sedih yang dibuat-buat
Ia memang bersedih

Perempuan menangis

Ketika perempuan menangis
Ada hidup yang bersalah
Ada nasib yang payah
Ada hati yang salah

Perempuan menangis

Ketika perempuan menangis
Ada hujan yang berkomunikasi
Memaksa butir demi butir emosi
Mengais-ngais memori

Perempuan menangis

Ketika perempuan menangis
Siapa yag harus disalahkan?
"Aku lebih memilih hatinya"

Begitulah para pelindung menuding.

Selasa, 11 Oktober 2016

Kenangan pun Beterbangan

Persis waktu itu aku di depanmu
Menatapmu kesulitan mengikat tali sepatumu
Terburu-terburu seperti dikejar-kejar hari
Padahal tidak ada yang datang mengejar kemari

Kuhela nafasku dalam-dalam
Tidak ingin aku dan rona-rona wajahmu tertinggal
Aku terkejut pada rasaku yang paling kentara
Oh, aku jatuh cinta

Ingin aku menceritakan kepadamu saat ini
Tentang aku yang begitu memerhatikan setiap detik pertemuan itu
Tidak usah kau kagum
Tidak usah kau bersimpati

Seperti sekarang kenangan itu beterbangan
Dan mengincar kepalaku ketika aku sedang duduk santai meminum kopi
Kemudian aku pun terbang dibawanya

Engkau dimana?, aku sangat tau kau sedang biasa-biasa saja

Untuk NFU (masa-masa SMA)

Senin, 10 Oktober 2016

Si Bakal dan Tambang Emas

Ada sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang bodoh bahkan semua rakyat yang dipimpinnya pun juga bodoh, kebodohan adalah kebanggaan yang sangat dijunjung tinggi di negeri itu, tidak terlalu jelas bagaimana asal-usul negeri itu, akan tetapi dibalik kebodohan Raja dan penduduknya wilayah kerajaan itu terkenal akan tambang emas yang mereka miliki, akan tetapi karena terlalu bodoh mereka tidak dapat memanfaatkannya, jangankan memanfaatkan konon mereka tidak sadar akan hal itu.

Terdengarlah kabar itu oleh kerajaan tetangga yang dipimpin oleh seorang Raja yang sangat cerdas dan rakyat-rakyatnya pun adalah orang-orang yang cerdas, akan tetapi wilayah kerajaannya tidak memiliki apapun yang dapat dimanfaatkan, mereka bertahan hidup melalui kecerdasan Raja dan Rakyatnya, mereka kerap memanfaatkan apapun yang dapat dimanfaatkan sehingga mereka dapat bertahan hidup, akan tetapi kerajaan yang cerdas ini menemui titik puncaknya, mereka harus menghasilkan sesuatu untuk dijual demi mempertahankan kerajaannya, muncullah ide dari sang Raja untuk mengutus orang pilihannya untuk tinggal di kerajaan yang terkenal bodoh itu untuk memanfaatkan tambang emas mereka.

_

Kemudian Raja yang cerdas itu mengutus orang pilihannya untuk menetap di kerajaan yang bodoh itu, orang itu adalah si Bakal. Si Bakal menemui Raja yang bodoh itu untuk meminta ijin dari sang Raja untuk menjadi salah satu penduduk dari kerajaan yang dipimpinnya, akan tetapi alangkah terkejutnya si Bakal karena ia sama sekali tidak dihiraukan oleh sang Raja, sang Raja hanya manut-manut saja dan tidak ada pengawasan yang terlalu ketat di kerajaan tersebut.

_

Lambat laun akhirnya si Bakal menjadi salah satu Rakyat dari kerajaan bodoh itu, si Bakal mulai menjalankan misinya untuk menggali tambang emas yang mereka miliki, si Bakal pun menghadap langsung ke Raja dan memohon izin untuk memanfaatkan hasil emasnya,

“Mohon ampun paduka Raja, bolehkah saya mengajukan permintaan saya?”, si Bakal mencoba mengajukan permohonannya.

“apakah permohonanmu itu?”

“Hamba berencana untuk memanfaatkan tambang emas yang ada di wilayah kerajaan ini untuk dimanfaatkan, itu pun bila paduka bersedia”

“manfaatkan sesukamu yang ada di kerajaan ini, selama kau mengerti”

Betapa terkejutnya si Bakal mendengar jawaban dari sang Raja, bahkan Raja saja tidak memperdulikan Tambang emas yang sangat berguna itu, kemudian si Bakal memutuskan untuk membangun tempat tinggalnya yang baru di kawasan Tambang Emas itu, tidak lama kemudian si Bakal mampu membuat tambangnya sendiri.

Ketika sedang asik-asiknya menambang emas, tiba-tiba si Bakal bertemu seorang gadis, gadis itu menegur si Bakal,

“hey, apa yang sedang kamu lakukan?”, tegur gadis itu

si Bakal terkejut karena merasa dicurigai, tapi kemudian si Bakal berpikir kembali walaupun ia menjelaskan maksudnya untuk menggali Tambang emas itu gadis itu juga tidak akan mengerti,

“aku sedang menggali emas”, jawab si Bakal

“untuk apa?”

“ya tentu saja untuk Raja, agar Raja dan semua Rakyat mendapat keuntungan dari emas yang aku gali ini”

“aku rasa itu tidak perlu”

“kenapa tidak perlu?”

“Raja tidak meginginkan emas”

“iya aku tahu, tapi setelah aku memperlihatkan apa manfaat emas ini, maka Raja akan merasa senang”

“Raja tidak akan senang dengan emas”

“apa maksudmu?”

Gadi itu pergi meninggalkan si Bakal sambil tersenyum, si Bakal benar-benar dibuat heran, si Bakal berpikir mungkin karena kerajaan itu terkenal dengan kebodohan maka dari itu mereka sampai-sampai tidak memikirkan manfaat dari emas itu.

_

Keesokan harinya si Bakal terbangun kemudian melanjutkan penggaliannya, ketika hari sudah petang tiba-tiba gadis itu datang lagi,

“kau masih saja menggali, apa kau tidak mengerti?”, tanya gadis itu

“aku rasa kau yang tidak mengerti”, jawab si Bakal

“aku sangat mengerti”

“kau berani bertaruh, coba kau lihat emas-emas ini warnanya berkilauan,  apabila aku olah menjadi emas-emas batangan maka ini akan sangat bernilai tinggi dan menghasilkan banyak keuntungan!”

“apa kau orang baru di sini?, dari mana asalmu ?”

Seketika si Bakal merasa terkejut atas pertanyaan gadis itu, tetapi si Bakal tidak merasa terganggu karena dia yakin gadis itu hanyalah gadi bodoh yang serumit apapun ia menjelaskan maka ia tidak akan paham sama sekali atas penjelasannya, si bakal pun menjawab,

“apakah itu penting?”

“mungkin tidak penting, tapi sadarkah kau?, tingkahmu yang paling aneh di sini”

“mungkin karena kau baru bertemu denganku, justru kalian semua yang paling aneh karena tidak memanfaatkan Tambang emas ini, dan aku akan menjadi orang yang sangat dibangga-banggakan oleh Raja”

“sudah kubilang Raja tidak suka dengan emas dan dia tidak akan bangga”

“terserah kau saja!”

Kemudian gadis itu kembali meniggalkannya dengan tersenyum dan si Bakal melanjutkan pekerjaannya: menggali tambang emas.

_

Suatu hari si Bakal menghadap ke Raja yang cerdas dan melaporkan bagaimana perkembangan misinya, Raja yang cerdas itu sangat senang dengan laporan si Bakal, kemudian sang Raja memerintahkan si Bakal untuk mengirim emas-emas yang berhasil ia gali ke kerajaannya sebanyak seribu Ton dalam waktu semalam, si Bakal sangat terkejut mendengar hal tersebut, si Bakal merasa tidak akan mampu untuk menggali seribu Ton dalam waktu semalam, satu sisi si Bakal tidak berani untuk menolak permintaan sang Raja karena takut dihukum oleh sang Raja, akhirnya si Bakal kembali ke kerajaan bodoh itu untuk melaksanakan tugasnya.

Si Bakal bekerja sangat keras untuk menambang emas berdasarkan permintaan Sang Raja yang cerdas itu, ketika sedang asik-asiknya menambang emas gadis itu muncul kembali dan menegur si Bakal,

“kelihatannya kau menggali sangat keras hari ini, boleh aku tahu kenapa?”

Si Bakal sering merasa terganggu oleh gadis itu karena ia selalu datang ketika si Bakal sedang menggali emas,

“apa urusanmu?, ini urusanku sendiri”, jawab si Bakal

“ternyata kau tidak bersahabat, itu membedakan kau dengan orang-orang yang hidup di kerajaan ini”

“apa maksudmu?”

“aku tahu pasti kau berpikir Raja dan Rakyat-rakyat di kerjaan ini sangat bodoh, kau mau tahu kenapa?, karena Raja tidak peduli dengan harta kekayaan, bagi Raja harta kekayaan hanya akan menimbulkan masalah, perlahan-lahan kita akan menjadi tamak dan sombong dan suka mengeksploitasi secara berlebihan, maka dari itu kami tidak memperdulikan perkembangan-perkembangan yang ada di luar dan menjadi bodoh, kerajaan kami tidak pernah berperang dan juga kerajaan kami tidak pernah memperdulikan kekayaan karena kami sudah merasa berkecukupan dengan semua yang ada, kami pandai bersyukur”

_

Si Bakal kembali menghadap ke Raja yang cerdas itu untuk menyampaikan hasil dari perintahnya,

“mana emas itu?”, tegur Raja

“maafkan saya Raja, saya tidak membawa emas satu pun”

“apa kau sudah gila!?”

“aku rasa Raja yang gila”.  

Selasa, 04 Oktober 2016

Si Anjing

Anak orang miskin itu lagi-lagi menjadi seekor anjing, berjalan-jalan di tengah keramaian pasar yang riuh dengan omongan-omongan.

Seekor anjing itu mencoba mengonggong tapi sial tetaplah sial, tidak ada satu pun yang menghiraukan, si anak anjing mulai berpikir keras bagaimana caranya supaya orang-orang dapat memerhatikan gonggongannya, ia menggigit kaki seorang pedagang yang sedang menimbang barang dagangannya, sontak pedagang itu kaget dan menendang anjing itu "dasar asu!, tidak tau kodrat!".

Seekor Anjing itu mencoba mencari akal lagi, akhirnya ia menggonggong kembali tetapi kali ini berbeda, ia menggonggong di hadapan seorang anak kecil yang tersesat di pasar itu, si anak kecil pun menangis lantas ketakutan, tiba-tiba datang ayah dari anak kecil itu dan menendang si Anjing, "dasar asu!".

Karena putus asa, seekor anjing itu pulang kerumahnya dan bertemu dengan Ibunya, "nak menjadilah manusia lagi dan ceritakan ada apa?", tegur ibunya, seekor anjing itu berubah menjadi manusia kembali, "ibu kenapa mereka menendangku?", tanya seekor anjing yang berubah menjadi manusia itu, si Ibu pun menjawab, "karena kau kecil dan suka menggonggong".

Tamat