Sabtu, 28 November 2015

Lampu Malam Itu, Tampak Malu



     Aku terbiasa dengan pemandangan malam hari, di malam hari semua tampak sangat luar biasa, akan banyak hal-hal yang tidak akan kamu temukan di siang hari karena dia hanya ada di Malam hari, misalnya saja Bintang yang kerlap-kerlip di Langit, biasan cahaya dari kendaraan di Jalan, dan yang terpenting kita bisa mencintai malam dengan tulus karena Malam hari kita belajar untuk berpikir apa yang sedang kita lakukan hari ini.

        Yang buat aku terpesona dengan malam hari adalah kebisingan itu, kemeriahan itu, canda, tawa, tangis, bahagia, dan kenangan di balik itu. Malam juga terasa indah waktu itu, waktu aku mencoba mengintip senyummu lewat pintu itu, kau persis dibaliknya sedang bersiap-siap untuk penampilanmu, aku merasa tidak semestinya menatapmu waktu itu, karena waktu itu kau sangat cantik dengan gaun Hitam, percayalah aku jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya denganmu waktu itu, aku memilih terduduk di samping pintu tadi dan kau datang menyapa dengan senyum manismu, jangan khawatir waktu itu aku sedang kagum aku belum jatuh cinta sama sekali, tapi kamu sudah menarik aku untuk jatuh cinta.

        Penampilanmu tiba juga, aku sudah mencari tempat yang sangat pantas untuk aku tempati, yang menurutku tempat itu sangat tepat untuk menatap wajah seriusmu memainkan alat musikmu, percayalah waktu itu hanya wajahmu yang paling terang terasa, permainanmu sangat menarik, seakan-akan menambah kepercayaan diriku untuk tersenyum kepada hatimu dan berkata “Aku pemilikmu”, tapi tidak secepat itu, aku hanya memandang kebaikanmu, bukan keburukanmu.
Aku mencari kerburukanmu bukan untuk menjauhimu, tapi untuk melengkapi pencarianku, kau seperti lampu dikelap-kelip Malam, terasa bahwa lampu itu menyala untukku tapi ternyata lampu itu menyala karena dinyalakan oleh orang lain, aku tidak peduli, yang terpenting adalah menatap cahaya yang membuat mataku tergoda.

       Tulisan ini untukmu, bukan untuk terus kau baca dan menyadari tapi untuk mengetahui sebarapa dalam aku memerhatikanmu dan seberapa sering aku mengumpulkan kata-kata indah untuk mendeskripsikan dirimu.

      Tulisan ini, ada karena waktu itu, penampilan biolamu malam itu, malam dimana pertama kali aku mengantarkanmu kembali kerumahmu, tulisan ini tercipta ketika aku pulang dengan rasa takut karena gelapnya jalan meninggalkanmu, waktu itu dingin, tapi entah rasa terimakasihmu menghangatkan es yang padat.

       Apa kamu tau kenapa malam itu sangat gelisah mengajakmu pulang ?, aku terasa seperti punya tanggung jawab besar mengantarkan tuan putri untuk pulang ke istana, untuk membalas kebaikan sang Raja yang sudah mengijinkan putrinya untuk ku bawa keluar menembus padatnya lingkungan luar, satu-satunya yang membuat aku selalu ingin menjagamu waktu itiu karena senyummu yang selalu menarikku untuk terus selalu menjagamu.

       Walaupun sekarang sudah tidak seperti itu, tapi percayalah yang paling indah dari hubungan adalah kenangannya, kalau semisal muncul rindu, maka harus ku beranikan untuk mendengar selalu bisikan rindu itu, yang kubutuhkan hanya selalu tau kabarmu seperti apa walaupun tidak sepantasnya aku selalu mengganggumu dengan orang yang lebih dulu sudah menjadi milikmu, semua masih terasa sama buatku yang berubah hanya intensitasnya saja, oh iya waktu kau membaca ini apa kau baik-baik saja ?, ya aku harap kamu baik-baik saja, jangan selalu merasa bersalah, kau tidak sepenuhnya salah, yang salah adalah waktu kita sudah benar, tapi waktu juga yang akan memaksaku untuk berhenti, tapi aku tidak sepenuhnya berhenti, aku masih terus berharap ada masa dimana kau kembali tersenyum dengan tulu di depanku, entah waktu itu aku akan berubah, entah aku akan tidak lagi memperdulikanmu, tapi tulisan ini saksinya, saksi bahwa saat aku menulis ini aku masih menyimpan sayang yang masih besar untuk kamu.

      Satu-satunya yang membuat aku khawatir adalah aku sudah berhenti memerhatikanmu, akan ada waktu dimana aku akan berhenti memerhatikanmu dan perhatianku dicuri oleh orang lain yang sudah mengalihkanku, tapi tulisan ini akan terus ada aku percaya itu. oh iya, Voice Note kita di Line masih ku simpan aku sering mendengarkan sebelum tidur, supaya suaramu mengantarkanku ke mimpi yang disana kita bersama-sama dan tidak ada penghlang, kepercayaan kita yang berbeda tidak menghalangi, kau tidak menjadi kepemilikan orang lain dan aku sudah pernah kesana, jujur aku iri dengan mereka, tapi tidak apa setidaknya aku sudah menyaksikan sendiri bagaiamana kita di sana sedang bersama-sama.

     Aku semakin takut, menjalin hubungan dengan orang lain lagi, yang ku tau orang akan datang dan pergi, untuk sementara aku berhenti memiliki lagi karena pasti tidak akan abadi, tapi satu-satunya yang aku miliki adalah kenangan, terimakasih kak.


      Semester itu …

Jumat, 27 November 2015

awalnya dari gesekan itu

Menurutku, tidak ada yang lebih romantis dari suara gesekan biola dari tangan kecil itu. Tampak berani dengan kepastian nadanya, meyakinkan suara yang terlahir pasti sebuah keindahan, siapa yang tau ?
Aku tidak terlalu terpesona dengan suara gesekan yang indah, aku terpesona dengan gesekan yang kasar dan penuh keinginan untuk terus mempelajari, begitulah dia. Malam itu tidak hening, malam sangat ramai dengan sorak-sorai orang bertepuk tangan, mereka sedang di posisi terbaik untuk menikmati alunan suara dan pertunjukan panggung sandiwara. Tidak terkecuali aku dengan keterbatasanku mencoba duduk ditengah sorak sorai , mencoba sedikit demi sedikit menentang suara apapun selain suara yang ingin kudengar.
Itu dia gadis manis disana, dengan semangatnya menggesek dengan semampunya, tidak terlalu buruk dia memang sedang di masanya, setelah itu dia mencoba bernyanyi  dan suaran biola itu kalah dengan indahnya suaranya, diperindah dengan baju yang berwarna merah rok feminisnya berwarna hitam, gadis itu cantik sekali malam itu.

Ku ikuti dia diakhir panggung sandiwaranya, dibawah lampu yang sangat terang dia rela wajahnya diterangi sinar tidak alami dari pengambil gambar dan banyaknya pengagum yang mencuri kecantikannya dalam terang, sedangkan aku ? berdiri dengan manis di balik sinar remang sambil terpesona dengan gadis itu, aku mulai tidak normal dan aku terbang tenggelam.
Layaknya waktu, dia memainkan perannya untuk memberiku waktu, tidak dengan mencuri wajah cantiknya dan tidak dengan bermain dengan keremangan denganya, tapi dengan suatu cara alami sang maha member, aku mengenalnya dan aku jatuh di dalamnya, aku diperangkap malaikat dengan cupidnya.

Semenjak itu aku tidak tebal, aku menggesek keyakinanku hingga sangat tipis karena aku percaya aku dihalangi waktu dan sebilah perasaan, usahaku sangat ku banggakan dan pada akhirnya aku sadarkan hanya aku yang berusaha terlepas dari waktu dan memainkan sebilah perasaan.
Aku memenjarakan waktu dan menghinakan sebilah perasaan, aku terbang tenggelam dan kemudian tidak berniat mengapung.


Dia adalah waktu dan perasaan yang lain.

Kamis, 26 November 2015

Jaket dan Bunga

    Jaket adalah pakaian wajib untukku pribadi, jaket bukan cuma untuk bergaya. Bagiku jaket itu penting untuk melindungiku kalau misalnya lagi kedinginan, tentunya membuat aku selalu hangat pas lagi dipakai di badan. Aku tidak terlalu mementingkan bagaimana model jaket yang biasa aku pakai. Yang biasa saja dan tidak terlalu ribet sudah cukup untukku, yang utama tadi kenyamanan.
Aku pernah meminjam jaket temanku karena keperluan mendadak sampai aku tidak sempat untuk pakai jaketku yang lain. Waktu itu turun hujan dan aku lagi di kos temanku tadi, aku bingung bagaimana caranya pulang dengan keadaan begini, terpaksa sambil menunggu hujan redah. Setelah hujan redah aku pamit ke temanku untuk pulang ke kosku. Karena kedinginan aku langsung bicara seperti ini ke temanku

“Aku bisa pinjam jaket kah ?”, kataku
“Boleh, ambil yang warna biru aja”, kata temenku.
“Aku pinjem dulu ya buat beberapa hari, aku cuci pas mau dibalikin”, kataku.

  Aku pulang memakai jaket pinjaman tadi, sastu sisi aku berpikir dikeadaan dingin saja kita tidak tahan sampai memakai jaket, bagaimana perasaan jaket ini kalau misal dia berperasaan seperi umunya manusia.

  Karena keasikan pakai jaket temenku, jadi aku kemana-mana selalu pakai jaket itu, pernah juga sampai ketiduranpun aku pakai, berangkat kuliah, jalan-jalan, makan-makan, sampai olahraga. Berasa jaket itu sudah menjadi bagian dari aku sampai muncul kata “terbiasa” dan ujungnya pasti “kebiasaan”
Pada suatu hari, aku berniat mengembalikan jaket yang sudah kupakai itu ke temanku

“Makasih yo, ini jaketnya sori agak lamaa pakainya”, kataku.
“Santai aja, kamu lebih butuh haha”, kata temenku.

  Jaket itu sudah kembali. Sampai disini mungkin cerita ini cukup biasa, tapi ada yang harus aku sampaikan, sesuatu kepemilikan orang kalau kita coba untuk memilikinya juga pasti bakal sulit dan sewaktu-waktu pasti akan kembali juga sekeras apapun usaha kita untuk selalu nyaman. Sampai muncul kemungkinan “terbiasa”, kita boleh terbiasa dengan sesuatu, tapi yakini saja, sesuatu yang kita miliki pasti akan pergi dengan sendirinya entah sengaja atau juga tidak sengaja, entah dia ketempat asalnya dia berada atau dia menyendiri, dan yang paling menyakitkan dia pergi karena batas waktunya sudah selesai.

  Menurutku tidak ada yang abadi dan selamanya akan kita miliki, mereka bisa seenaknya datang dan pergi, tapi pergi dengan tidak meninggalkan sesuatu, biasanyaaa mereka meninggalkan sesuatu yang tidak bisa sembunyikan contohnya perasaan, kebiasaan, dan kenangan. Ketiga contoh itu akan menjadi punya kita akan selamanya kita tanggung sendiri, sedangkan mereka kembali ke asalnya dimana awal dia berada. Tidak masalah, ini siklus kita bisa dewasa karenanya. Ini alasan yang buat aku selalu takut punya siapa-siapa karena nantinya bakal jadi bukan siapa-siapa. Untuk aku yang malang, jangan memupuk sengsara, karena bunga akan selalu tumbuh selama ada tanah. Selamat malam bunga yang kembali ke tanah asalnya, aku masih mencoba menumbuhkan bunga baru.