Jaket adalah pakaian wajib untukku pribadi, jaket bukan cuma untuk
bergaya. Bagiku jaket itu penting untuk melindungiku kalau misalnya lagi
kedinginan, tentunya membuat aku selalu hangat pas lagi dipakai di
badan. Aku tidak terlalu mementingkan bagaimana model jaket yang biasa
aku pakai. Yang biasa saja dan tidak terlalu ribet sudah cukup untukku,
yang utama tadi kenyamanan.
Aku pernah meminjam jaket temanku karena keperluan mendadak sampai
aku tidak sempat untuk pakai jaketku yang lain. Waktu itu turun hujan
dan aku lagi di kos temanku tadi, aku bingung bagaimana caranya pulang
dengan keadaan begini, terpaksa sambil menunggu hujan redah. Setelah
hujan redah aku pamit ke temanku untuk pulang ke kosku. Karena
kedinginan aku langsung bicara seperti ini ke temanku
“Aku bisa pinjam jaket kah ?”, kataku
“Boleh, ambil yang warna biru aja”, kata temenku.
“Aku pinjem dulu ya buat beberapa hari, aku cuci pas mau dibalikin”, kataku.
Aku pulang memakai jaket pinjaman tadi, sastu sisi aku berpikir
dikeadaan dingin saja kita tidak tahan sampai memakai jaket, bagaimana
perasaan jaket ini kalau misal dia berperasaan seperi umunya manusia.
Karena keasikan pakai jaket temenku, jadi aku kemana-mana selalu
pakai jaket itu, pernah juga sampai ketiduranpun aku pakai, berangkat
kuliah, jalan-jalan, makan-makan, sampai olahraga. Berasa jaket itu
sudah menjadi bagian dari aku sampai muncul kata “terbiasa” dan ujungnya
pasti “kebiasaan”
Pada suatu hari, aku berniat mengembalikan jaket yang sudah kupakai itu ke temanku
“Makasih yo, ini jaketnya sori agak lamaa pakainya”, kataku.
“Santai aja, kamu lebih butuh haha”, kata temenku.
Jaket itu sudah kembali. Sampai disini mungkin cerita ini
cukup biasa, tapi ada yang harus aku sampaikan, sesuatu kepemilikan
orang kalau kita coba untuk memilikinya juga pasti bakal sulit dan
sewaktu-waktu pasti akan kembali juga sekeras apapun usaha kita untuk
selalu nyaman. Sampai muncul kemungkinan “terbiasa”, kita boleh terbiasa
dengan sesuatu, tapi yakini saja, sesuatu yang kita miliki pasti akan
pergi dengan sendirinya entah sengaja atau juga tidak sengaja, entah dia
ketempat asalnya dia berada atau dia menyendiri, dan yang paling
menyakitkan dia pergi karena batas waktunya sudah selesai.
Menurutku tidak ada yang abadi dan selamanya akan kita miliki, mereka
bisa seenaknya datang dan pergi, tapi pergi dengan tidak meninggalkan
sesuatu, biasanyaaa mereka meninggalkan sesuatu yang tidak bisa
sembunyikan contohnya perasaan, kebiasaan, dan kenangan. Ketiga contoh
itu akan menjadi punya kita akan selamanya kita tanggung sendiri,
sedangkan mereka kembali ke asalnya dimana awal dia berada.
Tidak masalah, ini siklus kita bisa dewasa karenanya. Ini alasan yang
buat aku selalu takut punya siapa-siapa karena nantinya bakal jadi bukan
siapa-siapa.
Untuk aku yang malang, jangan memupuk sengsara, karena bunga akan selalu
tumbuh selama ada tanah.
Selamat malam bunga yang kembali ke tanah asalnya, aku masih mencoba
menumbuhkan bunga baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar