Bagaimana aku benar-benar bisa merindu sepotong kue bolu yang kau buat dan kita memilah-memilih cangkir yang mana yang akan kita kecup?, tidak ada yang menolak mati atau sudah mati, hanya saja perasaan kita sekarang menggantung pada bulir-bulir ketidakpercayaan pada nasib, seperti itulah aku berucap di depan wajahmu, bibirmu tidak bergerak dan tidak mengeluarkan satu atau dua patah kata, tapi itu sudah menjawab semuanya. Pada dasarnya pagi, siang, sore, malam aku akan merasakan sekujur tubuhku ingin menggenggam apapun yang kusebut dirimu, aku sebenarnya tidak merindukanmu aku hanya sedikit menginginkanmu, mungkin itu sedikit naif atau sedikit mirip dengan lagu yang sering kau nyanyikan? . Kita tidak pernah berdansa, atau menghabiskan malam dengan berpelukan setelahnya, kita memang unik atau kita sebenarnya berada di situasi yang pelik, berita-berita di televisi menayangkan tragedi Bom di Surabaya dan matamu seketika berubah, kau teringat pada sesuatu yang jauh di sana, aku tidak khawatir, sungguh tidak khawatir, hanya saja semua berubah, suasana kamar itu, jendela yang selalu kau buka di pagi hari dan suara kesibukanmu di dapur kini seperti halusinasi, semua pergi dan kekhawatiranmu sudah menjelma menjadi kebencianmu, padaku tidak? Pada sesama yang kita sebut manusia, dua hari yang lalu aku bertanya pada perabotan kesukaanmu; "aku merindukannya, sungguh".