Sabtu, 01 September 2018

September

September jatuh seperti tanpa suara ia menjadi penentu yang tidak diperhatikan oleh waktu, menggerayangi setiap perilaku akan tetapi tetap menjadi kaku, siapapun akan menjadi satu dalam september dan tidak ada yang ingin tahu, seperti angin lalu dan semua seperti serpihan rindu-rindu yang hilang ingatan.

Aku ingat dengan jelas waktu itu hujan dan kurencanakan diri ini akan berjalan sekadar merasakan dingin dan juga keinginan-keinginan yang tidak sempat kita miliki karena pikiran yang melayang-layang setengah tiang atau apapun itu, aku tidak terlalu memperdulikan hujan di kota ini, kota tanpa pendirian, bukan keinginannya tapi keinginan Tuhan, ada kalanya kau meminum kopi untuk menghangatkan diri tapi seketika kau seperti salah strategi karena yang kau inginkan sebenarnya adalah jus mangga yang dingin, semua sudah diatur, memang pada dasarnya kota ini adalah kota tanpa pendirian itu.

Sebuah kesalahpahaman apabila kau juga ikut-ikutan menjadi tidak berpendirian, yang tidak berpendirian adalah kota ini bukan kau yang ada di dalamnya kau adalah pemanis, sesuatu yang selamanya akan menjadi matahari setelah hujan atau hujan setelah terik, apapun itu yang membuatmu sedikit lebih dinanti, sedikit.

Aku tidak sempat menghitung berapa banyak waktu kita habiskan untuk bersendagurau atau waktu yang kita habiskan untuk sedikit berjauhan, semua terjadi seiring keinginan skenario Tuhan, gelap atau terang yang terjadi adalah tetap pertemuan, sesuatu yang berpisah hanya menjauh dari dasar-dasar logika kita, tidak semuanya.

Kemarin kau masih menyukai suara gesekan alas kakiku di aspal kini semua hal-hal tentang diriku sudah melebur bersama ketidaksukaanmu, semua terasa seperti tidak bependirian, karena memang pada dasarnya semua tidaklah berpendirian, aku mempersilakanmu untuk pergi sangat ringan tanpa hambatan, tapi kini semuanya seperti merindu kembali makanya sesuatu yang kita tapaki sekarang sesungguhnya tidak berpendirian, selamanya tidak akan punya pendirian.

Kita padahal sudah tidak punya kaki untuk saling berdiri.

Jumat, 08 Juni 2018

Memoar

Bagaimana aku benar-benar bisa merindu sepotong kue bolu yang kau buat dan kita memilah-memilih cangkir yang mana yang akan kita kecup?, tidak ada yang menolak mati atau sudah mati, hanya saja perasaan kita sekarang menggantung pada bulir-bulir ketidakpercayaan pada nasib, seperti itulah aku berucap di depan wajahmu, bibirmu tidak bergerak dan tidak mengeluarkan satu atau dua patah kata, tapi itu sudah menjawab semuanya. Pada dasarnya pagi, siang, sore, malam aku akan merasakan sekujur tubuhku ingin menggenggam apapun yang kusebut dirimu, aku sebenarnya tidak merindukanmu aku hanya sedikit menginginkanmu, mungkin itu sedikit naif atau sedikit mirip dengan lagu yang sering kau nyanyikan? . Kita tidak pernah berdansa, atau menghabiskan malam dengan berpelukan setelahnya, kita memang unik atau kita sebenarnya berada di situasi yang pelik, berita-berita di televisi menayangkan tragedi Bom di Surabaya dan matamu seketika berubah, kau teringat pada sesuatu yang jauh di sana, aku tidak khawatir, sungguh tidak khawatir, hanya saja semua berubah, suasana kamar itu, jendela yang selalu kau buka di pagi hari dan suara kesibukanmu di dapur kini seperti halusinasi, semua pergi dan kekhawatiranmu sudah menjelma menjadi kebencianmu, padaku tidak? Pada sesama yang kita sebut manusia, dua hari yang lalu aku bertanya pada perabotan kesukaanmu; "aku merindukannya, sungguh".

Senin, 21 Mei 2018

Kotamu Yaitu Kepalamu

Jalan menuju kotamu yang kusebut kepalamu kulalui dengan langkah mantap tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, aku hadapi semak-semak tak bersahabat seperti menghadapi anak laki-laki yang menghadangku ketika aku menolak memberikannya uang jajan dari Ibu.

Yang kutakutkan bukan isi kepalamu (sebenarnya), hanya saja mulutmu sudah berbaur dengan aroma penolakan, terhadap kenangan dan hujan, sedikitnya kutemui diriku dengan rantai yang kau rakit dengan isi kepalamu yang kusut, aku takluk dan tidak bisa apa-apa (sepertinya).

Aku teringat kisah anak perempuan yang tenggelam dalam tidur yang diceritakan oleh Ibu, dan aku tidak percaya waktu itu bahwa cerita itu adalah karangan Ibu yang sangat pintar, Ibu bukan pemarah atau pembenci dia hanya tidak suka anaknya mencicipi masakan paling rumit yaitu penderitaan.

Tapi sekarang, aku berada pada penderitaan yang membahagiakan, yaitu menuju kotamu yaitu kepalamu, kau adalah anak perempuan yang diceritakan Ibu atau bukan, yang kutahu kau adalah anak perempuan yang ditemui Ibu dalam setiap lagu-laguku di kamar mandi, atau yang muntah dalam tidurku dalam bentuk kata-kata, dan Ibu sadar anaknya sudah jatuh cinta, dengan keterbatasan dan nafsu yang sewaktu-waktu menjadi ratu atau candu.

Keesokannya harinya Ibu melarangku mencicipi obat-obatan, minuman keras, dan tidur larut, tapi tidak melarangku menuju kotamu yaitu kepalamu, mungkin Ibu sedang merangkai cerita barunya, bukan untukku, bukan untukmu, untuk cucunya mungkin, ya mungkin.

Jumat, 18 Mei 2018

Menghadapi Hawa Yang Marah

Tidak ada sore yang jatuh, atau angin semilir menerpa rambutmu, tidak ada embun yang menguap, hanya amarahmu yang menguap, pada angin malam kau titipkan rasa marah sambil mengendap-endap mengetuk pintu rumahku.

Aku bangun dengan rambut acak-acakan dan kau tidak akan menyukainya, kau tarik tanganku membawaku tepat di bawah lampu jalan kemuning dan keluarlah kebun binatang di mulutmu.

Ada satu hal yang kupelajari dari perempuan yang sedang marah: dia sedang mencintaimu dengan ragu-ragu, dengan rindu-rindu, dan sedikit malu malu, tentu.

Kamis, 17 Mei 2018

Puisi Kepada Amoral Terkasih

Jatuh cinta pada kesunyian
Adalah menjadi ufuk barat
Tenggelam seperti menyelam
Temaram dan terjadi malam

Menggigil aku dalam sentuhan tangan mudamu yang gerimis, dalam hatimu yang teriris. dalam gelap kau gadis kecil yang mengendap-endap sangat manis

Yang paling sunyi di sini; matamu
Yang paling senyap di sini; suaramu
Setelah itu diriku tertiup di wajahmu menjadi sebuah gelas minuman yang tak berteman.

Jatuh cinta pada kesunyian adalah mereka yang kehilangan keberanian, tapi tetap berkeinginan. Jatuh cinta pada kemauan adalah kekalahan pada kemaluan.

Rabu, 03 Januari 2018

Kepada Perempuan

Berdiri di atas kaki adalah luka
Menapaki jalan setapak juga derita
Kulihat kau tidur dalam keremangan
Dengan buku Simon Beauvoir dalam pelukan

Kau bermimpi menjadi cantik jelita
Tak kurang sepatah dua kata pada pujian
Pangeran akan datang
Mengendap lalu menculikmu pada petang
Membawamu bahagia seketika
Tanpa kehilangan, tanpa kekurangan

Kepada Perempuan yang menepis hujan
Jangan menderita karena basah
Kau bebas menangis tanpa hujatan
Dunia sudah benar-benar gelisah

Kepada perempuan penampung air mata
Biarkan memenuhi ruangan kedap suara
Sebab, banjir akan memenuhi angkasa
Dan Tuhan akan berbicara
Menjawab segenap doa, dan mengabulkan keinginan demi keinginan

Biarkan dosa melumuri raga
Ada gelisah yang berbuah cinta
Dari mereka yang tidak berhenti bergumam
Dan bercinta dalam sajadah basah.

2018

Selasa, 21 November 2017

Di bawah sebuah sore yang malu, kubawa diri bersama kopi yang diseduh bersama ketiadaan, matahari mengganti sift, dan aku menjadi penyaksi di antaranya.

Puisi selalu menjadi teman yang berbelit-belit, membawa diriku terbaring setelah menuliskannya, diriku lagi-lagi menjadi pecundang kelas paling atas.

Bekerja untuk kata-kata adalah bekerja untuk menjadi orang yang melata, aku ingin pergi ke negeri entah berantah, bersama dirimu dan mengubur diri bila sudah tua.

Banyak hal yang kuinginkan, tapi tanganku tidak berhenti mengepal dan gemetar, titik jenuh akan selalu mengeluh, dan musim hujan akan cepat berlalu.

Samarinda