Senin, 26 Desember 2016

Sudah Kubilang Itu Urusanku

    INI tentang dia, tentang segala sesuatu yang membuatku selalu jatuh cinta, pada tatapan matanya, caranya tersenyum dan caranya marah, dan caranya memperingati. tatapan matanya yang tajam seperti mengisyaratkan banyak makna tersirat. seorang wanita yang menyita perhatianku hampir setiap hari, tentang dia yang selalu mengajarkan tentang apa arti naluri seorang lelaki untuk mencinta. ini terasa agak berlebihan, tetapi apakah ini akan terkesan berlebihan apabila kita sudah merasa jatuh cinta?, aku rasa tidak berlebihan. 

   Ada sebagian orang menganggap bahwa jatuh cinta adalah pekerjaan yang menyita banyak waktu karena pikiran dan waktu bisa habis begitu saja karena memikirkan bagaimana untuk terus dapat menjadi pusat perhatiannya. kadang muncul pertanyaan yang agak menggelikan, bagaimana sewaktu-waktu ia menghilang dengan jejak atau tanpa jejak?, apakah kita akan terus jatuh cinta atau memilih untuk menjatuhkan cinta kita begitu saja. adapula yang berkata bahwa jatuh cinta adalah anugerah, tapi kadang muncul lagi pertanyaan yang sangatlah menggelikan, apakah jatuh cinta itu seremeh temeh anugerah?, atau ada yang lebih bermakna dari itu semua?, atau bahkan sebenarnya itu tidak memiliki makna sama sekali.

   





    Cinta memiliki caranya sendiri untuk mengasihi, dan punya caranya sendiri untuk mengintimidasi. tapi semua itu adalah perspektif orang-orang yang bebas mengutarakan pendapatnya. 

   Akhir-akhir ini aku seperti terjebak ilusi, ilusi yang cukup membuatku berpikir lebih dari dua kali. tentang apakah semua yang kulakukan sudah benar?, atau mungkin aku saja yang membenarkan semuanya?. tetapi seketika pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu itu hilang begitu saja ketika aku melihat tatapan matanya, dan aku tersadarkan perasaan ini sungguh nyata!.

   Wanita itu adalah wanita telah tersakiti, oleh cinta lamanya yang membuatnya hampir bernostalgia di setiap malam, tentang harapan-harapan yang runtuh begitu saja seperti hujan yang mendadak turun di langit yang begitu panas. kemudian aku muncul di tengah-tengah itu semua, seperti pelangi, ini kataku, jujur saja aku tidak tahu bagaimana katanya atau sekurang-kurangnya perasaannya. 

   Wanita itu selalu memperingatiku, bahwa apabila aku tetap melakukan hal ini secara terus menerus pasti ujung-ujungnya aku akan seperti orang yang sedang melakukan percobaan bunuh diri, terus mendekatinya memberi perhatian berlebih dan tidak berharap apa-apa kecuali ia tetap senang. aku beranggapan bahwa sebenarnya aku tidak mengharapkan apa-apa ketika melakukan itu semua. aku hanya berharap satu hal, yaitu dia tetap bisa tersenyum bahagia dan berangsur-angsur melupakan hal-hal yang membuatnya semakin tersiksa. setiap orang berhak untuk bahagia, dan tentu saja setiap orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dari seseorang. 

   Aku pernah menyatakan perasaanku kepadanya, dengan harapan kami akan menjadi sepasang merpati, tapi sepertinya harapanku terlalu tinggi, waktu itu ia adalah bagian dari hati yang lain, tentu saja hati yang saat ini berusaha ia lupakan. Sejauh ini aku tidak dapat menyimpulkan, apakah aku sudah berhasil membuatnya melupakan semua hal-hal yang telah membuatnya terjebak dalam keterpurukan. tetapi masa bodoh, aku tetap berharap usahaku membuahkan hasil, hasil yang cukup sederhana yaitu membuatnya bahagia.

   Apabila muncul pertanyaan, apakah aku mencintainya?, sudahlah pasti jawabannya iya aku mencintainya. tapi, kalau muncul pertanyaan selanjutnya, apakah dia mencintaiku?, jawabanku selalu itu urusannya, bukan urusanku. 

   Aku banyak mendeskripsikannya lewat puisi-puisi yang aku buat, semata-mata menulis kata-kata melalui perasaan-perasaan. 

   Kedepannya terserah, apakah dia tidak bersamaku lagi atau mungkin bersamaku, satu hal yang akan selalu aku usahakan, membuatnya tersenyum bahagia.

Terus, bagaimana denganku ?

Sudah kubilang itu urusanku.

Jumat, 09 Desember 2016

Meminum Gelas Kosong

“aku lebih memilih mencuri dompet dari pada mencuri pikiran-pikiran kamu yang kolot itu, mir”, ucap Wowor pada anak muridnya

“maafkan saya bapak, maafkan saya yang kurang berpengalaman ini”

“sekarang kau ambilkan aku gelas kosong”

“baik bapak”.

Tidak lama kemudian murid yang kurang berpengalaman itu mengambilkan gurunya gelas kosong yang diminta dan meletakkannya di tengah-tengah mereka yang berduduk sila, tampak-tampaknya mereka seperti sedang berdiskusi, tapi sebenarnya mereka sedang berdiskusi betul-betul. Hanya saja mereka bukan orang akademisi, mereka adalah guru maling dan muridnya yang kurang berpengalaman untuk menjadi maling.

“sekarang apa yang harus saya lakukan bapak?”

“minumlah”

“minum dengan gelas kosong?”

“kau meragukanku!?”, bentak Wowor

“baik bapak”

Kemudian Amir mengangkat gelas kosong itu dan memperagakan adegan seakan-akan ia sedang minum, padahal gelas itu kosong!.

“apa yang kau rasakan mir?”

“maaf bapak, tidak ada rasa apa-apa”

“karena?”

“karena gelas ini kosong bapak”.

“sekarang, berikan gelas itu kepadaku”

Amir memberikan gelas kosong tersebut kepada gurunya. Wowor memperagakan adegan minum. Tampak ia sangat asik, seperti benar-benar gelas itu memiliki air di dalamnya.

“maaf bapak, boleh saya bertanya?”

“ini bukanlah presentasi orang-orang akademisi kampus kemudian dibatasi pertanyaannya hingga tiga pertanyaan”

“lalu, apa yang harus saya lakukan bapak?”

“ceritakanlah apa yang kamu lihat”

“baik bapak, saya melihat bapak mengangkat gelas kosong itu dan meminum air yang tidak ada, tetapi tampak seperti bapak benar-benar sedang meminum sesuatu dari gelas itu”

_

Langit mendung sore itu mengiringi kepergian Wowor selaku guru besar perguruan Maling. Semua murid-muridnya menangis dengan gayanya masing-masing, ada yang menangis menghadap ke atas, ada yang menangis menghadap ke bawah, ada yang meniru-niru gaya menangis mereka. Sedang si Amir sibuk sendiri menangis dengan gaya pemain sandiwara. Dibuat-buat!.

“apakah tangismu itu benar-benar tangis yang tulus, mir?”, tanya salah satu temannya

“ini adalah tangis yang diajarkan bapak kepadaku”

“iyakah?, baik aku akan meniru tangis itu”

Semua mendengar percakapan antara Amir dan temannya, kemudian mereka mencontoh tangis Amir secara bersama-sama, sehingga pemakaman itu seperti sedang berada pada adegan drama.

“sudah-sudah, sekarang hentikan tangis kalian. Sekarang kita harus mengencingi makam bapak”, perintah Amir

“kenapa kita harus mengencingi makam guru kita?”

“ini pesan bapak, dia berpesan kalau-kalau dia dimakamkan kita harus mengencingi makamnya”

“baik … baik”

Kemudian mereka bersama-sama mengitari makam guru mereka dan mengencingi makamnya, air kencing mereka membasahi makam guru Wowor, sehingga menimbulkan bau tidak sedap di udara, bahkan burung-burung gagak yang menyaksikan mereka semua sedari awal pun pergi meninggalkan makam karena terganggu dengan bau pessing air kencing mereka.

“sekarang mir, apa yang harus kita lakukan?”

“mari kita pulang dan mencuri, tapi sebelumnya kalian harus minum gelas kosong”

“baik mir, mari kita pulang”

_

Pagi itu mereka melancarkan aksi mereka dengan mencuri di pasar pagi, ada yang dengan sangat mudah mendapatkan dompet seorang ibu-ibu, adan yang mesti dikejar-kejar oleh orang-orang pasar, dan bahkan ada yang bonyok dikeroyok tukang ojek di pasar pagi.

Mereka berkumpul di markas mereka biasa berkumpul dan mengeluarkan hasil malingan mereka.

“Budi?, berapa kau dapat?”, tanya Amir

“700 ribu beserta kartu ATM ada tiga”

“bagus, Anto berapa kau dapat?”

“800 ribu beserta nota-nota yang menunjukkan tanda bukti sewa kamar”

Setelah Amir menanyakan hasil pendapatan hasil maling teman-temannya, sampailah Amir menanyakan Bacuk, salah satu siswa perguruan maling yang paling bontot dan paling muda.

“Bacuk, berapa kau dapat?”

Mereka semua melirik-lirik ke sana kemari tetapi tidak melihat Bacuk berada di antara mereka

“mana bacuk?”, tanya Amir

“terakhir aku melihatnya dikeroyok di pasar”

“siapa yang tega megeroyok maling junior itu?”

“saya lihat mereka adalah tukang ojek”

“tukang ojek!?, ini pasti ulah Nurjaman kepala ojek pasar pagi sialan itu!, aku akan mendatanginya, kalian tetap di sini berlatih”

“baik Mir!”

_

Amir tidak bisa berbuat apa-apa, sekujur tubuhnya babak belur dan menyisakan luka-luka yang memilukan, rupanya sudah tidak rupa manusia, lebih mirip seperti kotoran sapi yang ditetesi darah. Tukang ojek yang dipimpin oleh Nurjaman tidak memberi ampun kepada Amir ia tetap saja dipukuli tanpa ampun!

“masih mau kau melawanku Amir bodoh!”, ucap Nurjaman

Para tukang ojek tetap saja memukuli Amir

“sudah cukup, dia sudah bonyok, biarkan dia membusuk di lapangan ini, paling-paling nanti burung-burung pemakan bangkai itu datang membereskan bekasnya”

Para tukang ojek meninggalkan Amir yang terbujur lemah di tanah, Amir menatap langit sore dengan sangat tidak wajar, ia seperti diajak melayang ke langit, ia mati rasa dan tiba-tiba saja ia bertemu dengan guru Wowor dan melotot melihat Amir, “apa yang kau lakukan di sini anak bodoh!?, segeralah pulang dan minum gelas kosong!”.

Pelan-pelan Amir bangkit dan berusaha sekuat tenaga mengembalikan kesadarannya. Burung-burung pemakan bangkai pun satu-satu mendekati Amir, secara tiba-tiba Amir menangkap burung pemakan bangkai itu dan sempat terlibat perlawanan dengan burung itu tetapi Amir berhasil menaklukkan burung itu dan menggigit burung itu mentah-mentah tanpa ampun.

“sekarang, siapa yang memakanmu burung bodoh!, seenaknya saja kau ingin memakan bangkaiku, aku ini manusia, rasakan itu! Dimakan hidup-hidup!”

_

Amir sampai ke markas dengan tergopoh-gopoh, teman-temannya mendatanginya dan menopang tubuhnya yang sangat lemah dan membawanya duduk di Kursi sofa yang mulai bobrok

“apa yang terjadi, Mir?”

“tidak usah banyak tanya, apakah kalian sudah meminum gelas kosong?”

“sudah … sudah … kami semua telah meminum gelas kosong, bagaimana denganmu?, apakah kau akan mati?, apakah kau nanti dimakamkan kami harus mengencingi makammu?”

“aku tidak akan mati!, aku tidak boleh mati!, kalau aku mati, siapa yang akan menjadi pemimpin kalian?”

“si Badaruddin mungkin?, dia yang paling tua di antara kita semua”

“tua bukan berarti pantas menjadi pemimpin!, yang muda tapi kaya akan pengalaman hidup itu lebih bagus”

“tapi banyak juga yang muda tapi tidak mengerti cara hidup”

“itu urusan lain, masih bisa dilatih!”

“baik Mir!”

_

“bukan jawaban itu yang aku butuhkan Amir bodoh!”, gertak Wowor

“Maaf bapak, jadi apa?, saya bingung”

“bingung itu bukan sebuah alasan yang baik, bingung hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak menyadari ia punya otak, kau mau begitu?”

“tidak bapak, tidak sama sekali”

Guru Wowor mulai berdiri dan mentap ke luar jendela, Amir masih terduduk memerhatikan tindakan gurunya itu,

“Amir, kenapa aku menyuruhmu meminum gelas kosong?”

“maaf bapak saya tidak tahu”

“karena kita terlalu mudah  merasakan yang enak-enak tapi lupa mempersiapkan diri ketika merasakan yang tidak enak”

Amir hanya terdiam mendengarkan perkataan gurunya, ia menemukan esensi sesunggunya dari gelas kosong

“Amir, ketika aku dimakamkan nanti aku minta kau dan anak-anak menangis dengan gaya masing-masing, tetapi kau harus menangis dengan dibuat-buat dan pada akhirnya mereka akan mengikutimu”

“kenapa begitu bapak?”

“supaya kalian tidak seperti orang-orang yang bersandiwara setengah-setengah di pemakaman, dan juga ketika kalian sudah selesai menangis kencingi makamku”

“lah !?, untuk apa bapak?”

“biar makamku tidak diurus oleh petugas kebersihan  pemakaman, nanti dia malah memaki-maki di atas makamku karena seharian ia kelelahan mengurus kebersihan kuburan-kuburan yang lain”.

Mereka tertawa bersama-sama sampai-sampai suara mereka terdengar sampai ke telinga orang waras

“bapak?, kapan bapak meninggal?”

“nanti, habis maghrib”.

Senin, 28 November 2016

Aloena



Aloena kembali berulah. Ia memecah keheningan hati seorang wanita yang sedang melamun. Aloena selalu cepat mengambil keputusan bahwa ia harus segera mengganggu, entah darimana ia belajar mengganggu, ia seperti harus melakukan hal itu.
_                                                                                 
Ia sering berubah-ubah peran kemarin sore ia berperan sebagai polwan, kemarin siang ia berperan sebagai penjajah mainan, dan malam ini ia berubah menjadi Mahasiswi semester tujuh. Ia mulai merasa bosan menjadi Mahasiswi semester tujuh. Kali ini ia ingin berubah menjadi peran lain. Tetapi niatnya kini berubah ketika ia berpapasan dengan seorang pria yang berdiri memandang keramaian kota kemudian terseyum seakan puas dengan pemandangan itu, tidak lama kemudian pria itu dihampiri oleh seorang pria yang lebih tinggi darinya, mereka terlihat sangat akrab dan mereka berusaha menyebrang jalan dan menuju salah satu kedai kopi yang berada di seberang jalan.



Aloena mencoba untuk mengikuti mereka, dan sampailah ia ke dalam kedai. Ia melihat pria tersebut sedang melihat keluar kaca jendela kedai, Aloena tertarik dengan pria itu. Ia sempat berpikir untuk berubah perannya menjadi seorang penjaga kedai tetapi ia lebih mempertahankan perannya sebagai Mahasiswi semester tujuh.
_

“aku bertemu dengan pria itu”, tegur Aloena kepada seorang wanita
“lelaki siapa ?, dan kau siapa ?”
“tidak penting, kau masih menunggunya bukan ?”
“lelaki siapa yang kutunggu ?”                                         
“namanya Roni Darmawan dan kalian pernah saling kenal”

Wanita itu hanya terdiam sesaat. Wanita itu mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang tiba-tiba mendatanginya ketika ia sedang memikirkan seorang pria bernama Roni Darmawan. Seorang pria yang pernah menjadi kekasihnya dan sekarang hubungan kekasih diantara mereka berakhir. Hubungan mereka berakhir karena sebuah kesalahan yang pernah diperbuat oleh pria itu dan hingga saat ini wanita itu tidak pernah melupakannya. Tetapi ia merindukannya.

Lima tahun sudah berakhir wanita itu selalu memikirkan Roni Darmawan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merindukannya, merindukan terakhir kali mereka tertawa bersama, merindukan hal-hal konyol yang pernah dilakukan Roni Darmawan, ia berangsur-angsur melupakan kesalahan yang pernah dibuat Roni Darmawan tetapi ia tidak dapat melupakan kenangan-kenangan manis yang pernah Roni Darmawan berikan.

aku mencoba menggodanya dan ia tertarik padaku”, tegur Aloena
“untuk apa kamu lakukan itu ?”
“kau cemburu ?”         
“tidak sama sekali”
“untungnya aku sudah lupa cara berbohong”
“maksudmu ?”
“aku menggodanya dan ia tertarik padaku tetapi matanya berbohong, ia merindukanmu dan mencoba melupakanmu”
“aku tidak mengerti maksudmu”
“ia mencoba berubah tanpa memikirkanmu, tetapi kau menunggu ia berubah dan kau masih memikirkannya”

Memori-memori tentang Roni Darmawan satu per satu mulai bermunculan di kepala wanita itu, setiap kata yang keluar dari mulut Aloena membuat wanita itu semakin ingin menangis, ia rindu Roni Darmawan dan sekaligus sedih karena tahu Roni Darmawan berusaha melupakannya.

“kau tahu manusia akan kehilangan seribu kebaikannya ketika ia melakukan satu kesalahan”, tegur Aloena
“iya aku tahu”            
“tapi apa kau tahu setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan, dan Tuhan tidak pernah lelah memaafkan kesalahan manusia”
“tapi aku tidak sesempurna Tuhan”
“iya, tetapi bukannya Tuhan tidak perlu tidur untuk memaafkan, dan manusia selalu tertidur dan bangun keesokan harinya dan selalu mengungkit kesalahan”

Wanita itu hanya terdiam. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

“aku merindukannya”, ucap wanita itu
“dan ia juga merindukanmu dan berusaha mengubur rasa rindunya”
“itu haknya”
“dan apa kewajibannya ?, meninggalkanmu ?, dari pernyataanmu itu, juga adalah haknya”
_

Wanita itu ingin sekali berdamai dengan Roni Darmawan tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak dapat melakukan itu, bukan karena Roni Darmawan ingin melupakan kenangan mereka berdua tetapi mereka tidak mungkin bersatu karena perbedaan keyakinan mereka.

“perbedaan keyakinan ?” ucap Aloena
“iya”             
“Tuhan lebih dekat dengan manusia dan Tuhan lebih besar dari rumah ibadah”
“bagaimana dengan keluarga kami ?, tidak akan semudah itu mereka menerimanya”
“aku tidak mengerti sama sekali tentang keluarga kalian, kalianlah yang membuat rumit”
_

Udara menjadi tenang, awan bersembunyi dari pandangan manusia, pohon-pohon berhenti bergoyang, dan angin berhenti berdebat dengan kulit manusia, suasana cukup tenang. Roni Darmawan menangis di bawah langit, dan tangisnya semakin tidak bisa terbendung ketika Gerhana Bulan menampakkan wujudnya. Kenangan-kenangan yang berusaha ia lupakan saat itu juga mulai bermunculan kembali, tidak henti-hentinya ia mengutuki dirinya sendiri. Ia menyakiti hati seorang Wanita yang begitu ia cintai.
_

Dan kenangan kita yang menolak mati …

Wanita itu berlari-lari mengejar, ia berlari dan terus berlari ia tidak lagi memikirkan nafasnya yang terengah-engah, kakinya mulai terasa sakit, tetapi ia terus mengejar, mengejar tanpa mengenal lelah, hatinya menuntunnya berhenti menuruti lelah. Cahaya-cahaya malam menuntunnya, menuntunnya mendatangi kekasihnya, Gerhana Bulan seakan memberi tanda kepada wanita itu untuk mendekatinya, karena di bawah Gerhana Bulan terdapat sesuatu yang ia cari dan sesuatu yang ia cari sedang menangis dibanjiri kenangan-kenangan sebelum ia kembali menghapus kenangan-kenangan itu.

Bagaimana hari bisa melompat seenaknya. Sedangkan aku ingin melompati paritan hatimu saja berpikir panjang. Kemudian aku mulai paham. Sebenarnya aku tidak setangguh hari.

Mereka berpapasan di bawah Gerhana Bulan, mereka saling berpandang-pandangan. Kemudian mereka tertawa sambil menangis. Hati mereka menolak untuk berbohong. Pikiran mereka terlalu sering mendominasi hingga menimbulkan kebutaan-kebutaan yang menyesatkan.

“kau ingat ada hal terakhir yang kita lupakan sebelum kau meninggalkanku”, tegur Roni Darmawan
“apa ?”, jawab wanita itu       
“kau lupa memelukku”

Mereka berpelukan di bawah Gerhana Bulan.
_

Bulan                     : bagaimana Aloena?, tugasmu sudah selesai ?
Aloena                  : sepertinya sudah
Bulan                     : kau menangis ?
Aloena                  : iya, tapi aku bahagia
Bulan                     : karena mereka bersatu kembali ?
Aloena                  : bukan
Bulan                     : jadi kenapa kau menangis
Aloena                  : aku menangis karena aku hanya bisa mempersatukan mereka dalam cerita ini
Bulan                   : tidak apa-apa kau sudah berusaha keras, tidak ada kata-kata terakhir untuk mereka ?
Aloena                  : ada
Bulan                     : silahkan sampaikan
Aloena                 : selamat tinggal Ayah dan Ibu, setidaknya aku dapat lahir di cerita ini. Dan Terima Kasih Ayah sudah mengarang cerita ini dan nama Roni Darmawan terlalu keren untukmu Ayah.

Sabtu, 26 November 2016

Luapan Rindu Demi Rindu

Butir demi butir air jatuh ke tanah
Tanah demi tanah mulai basah
Diserapnya air itu oleh tanah yang menerimanya
Melayang ia ke atas karena matahari

Sempatkah kita bercengkrama tanpa membebani diri kita akan luka masa silam yang tertanam
Aku tidak sabar menanti dengan gelisah
Tutup matamu dan resapi makna perpisahan yang berbuah rindu

Daun segar bisa layu dan ranting kokoh bisa rapuh, tapi ia akan tumbuh kembali dan menaruh harapan indah pada tubuhnya

Bibirmu yang bertemu dengan bibirku
Terpejam dan berkelana mengasingkan diri kita dari kabut-kabut pengganggu
Kau singkat tapi ada selalu
Menemani masa mudaku, entah menjadi apakah aku di semesta itu
Tapi aku masih menggenggam perasaan dan rindu yang menggebu hingga hatiku ikut mengkerut

Aku ingin merasakan bau tubuhmu sekali lagi, hingga aku benar-benar melupakan bau itu karena otakku sibuk memikirkan masa depan

Ku dewasa nanti akan kugenggam Gerhana Bulan agar ia tidak berganti, bersama dirimu yang telah berganti dan kenangan kita yang menolak mati.

27 November 2016
Minggu sore dan menunggu dirimu kembali

Kopi Hitam, Espresso, dan Kenangan



Aku selalu mendatangi kedai kopi itu, kedai kopi yang terletak di pinggiran jalan raya, suasana kota selalu membuatku terkagum-kagum, kerlap-kerlip cahaya kendaraan di malam hari dan kebisingannya beserta suara-suara manusia yang saling bercengkrama satu sama lain, mereka tampak sibuk sekali, inilah kota, satu-satunya tempat yang membuatku puas memperhatikan semuanya-adalah di Kedai kopi ini, kedai yang memberiku kenangan manis sekaligus kenangan pahit. Seperti kopi saja pikirku tersedia rasa pahit dan manis, terserah kita memilih yang mana asal lidah kita mampu mengecap tanpa memuntahkannya.




Aku selalu mendatangi kedai kopi itu dan memesan kopi hitam andalanku, memakai atribut seperlunya, t-shir putih dengan celana jeans biru, identitas yang tidak bisa lepas dariku, yah, inilah aku Roni Darmawan seorang penikmat keramaian dan sekaligus penikmat kopi hitam. Aku mulai menyukai keramaian sejak kepindahanku dari desa ketika kecil menuju kota yang selalu ramai dibicarakan orang desa, tentang mimpi dan pengharapan semua ada di sana. Dan aku menyukai kopi hitam karena almarhum ayah yang selalu menyuruh ibu untuk membuatkannya kopi hitam ketika ia sedang bersantai, sudah selayaknya aku melanjutkan tradisi meminum kopi hitam dengan bersantai memandang keramaian kota dari balik kaca jendela kedai.
                                                                                                       _                                             

Aku pertamakali menginjakkan kaki ke kedai kopi ini ketika seorang teman mengajakku untuk menghabiskan akhir pekan, aku menurut saja kebetulan aku suka kopi. Tempat yang begitu ramai tapi tidak terlalu ramai karena orang-orang begitu tenang menikmati kopi mereka. Sampai ketika perhatianku tertuju kepada seorang wanita berambut panjang dan senyumnya yang manis sambil meminum kopi espresso yang sangat kecil, pikirku gelas kopi itu cukup adil dengan ukuran bibirnya yang tipis dan mungil. Sampai pada akhirnya kami berkenalan, namanya Aloena seorang mahasiswa semester 7 di Universitas Mulawarman jurusan Sastra.

Semenjak saat itu kami sering berbalas pesan singkat, bertukar cerita tentang pengalaman kami masing-masing. Tapi ada satu hal yang sangat aku jaga darinya, bahwa aku adalah seorang penulis, karena aku memiliki anggapan wanita akan merasa dirinya sengaja dimanfaatkan ketika berkenalan oleh pria asing karena kebutuhannya akan ide tulisan.

Kami sering bertemu di Kedai kopi, aku memesan kopi hitam dan ia memesan espresso. Sampai-sampai kami sangat hafal dengan kesukaan kami masing-masing.
_

“kenapa kamu suka keramaian kota ?”, tegur Aloena kepadaku
“emm … kenapa ya?. Mungkin karena kamu adalah salah satu diantara keramaian itu”
“jawabanmu lumayan. Kenapa kamu tidak coba bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama”
“baiklah, kenapa kamu suka keramaian kota ?”
“apakah aku pernah bercerita kalau aku senang dengan keramaian kota ?”
“kamu curang”

Ia tertawa.

Semakin hari hubungan kami semakin dekat. Kupikir kedai kopi inilah yang mempersatukan kami hingga dapat sedekat ini. Kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tetapi aku terus menjaga agar pembicaraan kami kita tidak menjurus pada privasi. Karena aku tidak mungkin memasuki wilayah sensitive seperti itu. Sampai akhirnya ia bertanya,

“sudah punya pacar ?”
“pacar ?”
“iya, baiklah mari kusederhanakan. Sudah punya kekasih ?, orang spesial ?”
“ ha ha ha … aku paham. Belum”
“oh ya ?, kamu tidak mau menanyakan pertanyaan yang sama ?”
“baiklah, kali ini jawab dengan serius. Apakah kamu sudah punya pacar ?”
“apakah dengan aku menjawab, dan jawabanku iya kamu akan menjauh ?, dan kalau aku menjawab tidak punya kamu akan terus seperti ini ?”
“hey, kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, itu tidak sopan nona”
“ ha ha ha …, baiklah. Aku belum punya pacar. Sekarang apa tindakanmu ?”
“tindakanku ?, lihat ini”
Aku meminum kopi hitamku kemudian mengangkat gelasku ke arahnya,
“lihat tindakanku adalah menunjukkan kopi hitam ini padamu”
“untuk apa ?”
“untuk aku tunjukkan kalau kita itu sama”
“ ha ha ha … kau orang aneh!”

Kemudian kami tertawa kembali. Itu adalah kopi manisku bersama Aloena.
_

Kedekatan kami terus berlanjut, sampai ketika Aloena mulai membicarakan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya,

“kenapa kita tidak pacaran saja ?”. aku terkejut, dan kopi yang sedang kuminum hampir tumpah.
“kenapa?, apakah itu ide buruk ?”, tanya Aloena
“tidak, baiklah aku bertanya, kenapa kau ingin menjadi pacarku ?”
“karena aku suka kamu”
“itu alasan sederhana”
“apakah butuh alasan lain yang dibuat-buat dan terkesan tidak jujur?”
“bukan begitu, tapi aku tidak bisa”
“karena apa ?”
“aku masih mencintai seseorang di luar sana”
“oh, sori”

Aku sangat yakin aku telah melukai hati Aloena, tidak semestinya aku mengatakan bahwa aku masih mencintai orang lain walaupun begitulah adanya. Tetapi sebaiknya aku berbohong saja kepadanya, dengan mencari alasan lain untuk menolaknya.

“aku harus pulang Ron”
“secepat ini ?, kopi kita belum habis”
“aku ada urusan Ron, sampai ketemu lagi”

Akhirna ia meninggalkanku sendiri di kedai kopi itu. Aku baru saja merasa telah menghancurkan hati seorang wanita. Tetapi, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku bahwa aku masih mencintai seseorang di luar sana, seseorang yang telah memberikan kenangan manis sekaligus kenangan pahit karena ia memilih meninggalkanku.
_

“aku benci sama kamu, benci banget, aku mau ulang waktu dimana aku belum kenal kamu, tapi aku tidak bisa dan itu buat aku lebih benci lagi sama kamu”

Kalimat itu masih terngiang sampai sekarang, ketika wanita yang sangat kucintai memilih untuk memutuskan hubungan kami, karena kesalahan yang kuperbuat kepadanya, kesalahan yang aku sendiri menyesalinya sampai sekarang, kesalahan yang sampai sekarang aku mengutuk diriku sendiri. Berkali-kali aku meminta untuk meminta kesempatan sekali lagi, ia tetap bersikeras untuk menolak karena semakin aku meminta ia akan semakin membenciku dan aku tidak inginkan itu. Pada akhirnya kami berpisah. Aku meminum kopi pahit malam itu.
_

“semenjak itu aku selalu menulis puisi dan cerpen untuknya, untuk sekadar mengenang”
“apakah sampai sekarang kau menulis untuknya?”, tanya Aloena
“iya, tapi tidak terlalu sering”
“kenapa ?”
“aku sendiri bingung”
“aku tau sebabnya”
“apa sebabnya ?”
“kau sudah lelah memenuhi kepalamu dengan kenanganmu bersama dia”
“mungkin begitu”.

Apa yang dikatakan Aloena ada benarnya, sepertinya aku sudah lelah mengingat kenangan-kenangan, ia terlalu membanjiri pikiranku selama lima tahun belakangan ini. Lihatlah, betapa lama aku memenjarakan diriku karena kenangan yang bahkan aku tidak tahu ia masih mengingatnya atau tidak.

“apakah kau tahu kabar wanita itu sekarang ?”
“sayang sekali tidak”
“apakah dia suka dengan kopi hitam ?”
“ha ha ha tidak, dia suka Green Tea”
“bahkan kau masih mengingat kesukaannya”
“iya, apa itu masalah ?”
“bukan, hanya saja …”
“hanya saja apa ?”

Aloena terdiam sangat lama, wajahnya berpaling memandang ke luar kedai. Tatapannya kosong, aku terus mendesaknya untuk melanjutkan kalimatnya, sampai ketika ia menatapku dan menghabiskan espressonya.
 
“hanya saja, ia masih menunggumu untuk berubah dan kau berubah tanpa menunggunya".

Cerita tentang Mata Hari, Adalah Cerita Tentang Kita

Tidak ada lagi pikiran
Aku sudah menapaki sepi sedari dulu
Tidak ada lagi kenangan
Aku sudah memaki sepi sedari dulu

Dari aku yang menyiksa
Kurang dari ini, aku adalah nestapa hitam
Terkurung dalam tatapan matamu
Berharap bebas tetapi kuingin tetap

Kau bilang padaku hari sudah senja
Aku bilang bukan, hari memang sengaja
Kau bilang padaku malam sebentar lagi datang
Aku bilang bukan, malam hanya gelap sementara
Kau bilang padaku kau ingin pergi
Aku bilang baiklah, hari sudah malam dan senja sudah berlalu

Aku malu-malu menitip pesan pada matahari, bila ia berpapasan dengan bulan cobalah menanyakannya apakah ia masih mencinta sedari awal ?.
Kalau saja jawabannya iya, jaga dia.
Kalau saja jawabannya tidak, pergilah.

Aku ingin tenggelam di matamu, sekarang atau kapan lagi ?
Esok, kita tidak bersama lagi bukan ?
Bulan sudah bosan menegur matahari.
Ia sangat panas.

26 November 2016
Sabtu

Jumat, 25 November 2016

Selamat Menyambut Hari-Hari Penuh Rindu

Kita di ambang akhir
Mencium harum aroma tubuhmu di pelukan yang paling hangat dan mengalir
Tidak kusangka air mata adalah penutup
Seperti membasahi hausnya kebodohanku sebagai kekasihmu

Aku kehilangan hal yang kusukai
Tatapan matamu yang memancar memberi makna; tidak ada yang lebih hangat dari pelukanku yang memberimu posisi tertinggi

Sore datang begitu cepat
Begitu singkat hingga aku tak sanggup berkata-kata,
Berkata untuk berucap selamat tinggal.

Selamat datang hari-hari penuh rindu.

26 November 2016
Samarinda

Minggu, 20 November 2016

Syarat Nikah Seorang Bilal

“siapa pun yang dapat menghafal al-qur’an akan kunikahkan dengan putriku”. Seketika kabar yang menyatakan bahwa pak Sutomo ingin menikahkan putri kesayangannya Aisye kepada siapa saja pemuda  yang dapat menghafal al-qur’an. Tentu saja kabar ini seketika menyebar luas ke seluruh pelosok kampung seperti desiran angin dari entah berantah dan dirasakan langsung oleh setiap bulu kuduk pemuda-pemuda di kampung itu. Memang anak pak Sutomo terkenal dengan parasnya yang cantik jelita, pemuda-pemuda yang sengaja nongkrong di warung kerap kali bertemu dengan Aisye sepulang mengaji di Surau bersama teman-temannya dan mereka selalu menghentikan aktivitas mereka sejenak demi melihat pesona paras Aisye yang jelita.

Betapa terkejutnya pemuda-pemuda ini mendengar kabar tersebut sampai-sampai ada yang berkeinginan untuk menghafal al-qur’an dan ada pula yang secara tiba-tiba rajin sholat lima waktu dan berdoa untuk diberi kelancaran demi menghafal al-qur’an. Tidak kurang juga warga-warga kampung menganggap pak Sutomo sudah gila karena ia ngebet ingin menikahkan anaknya. Warga kampung mengenal pak Sutomo sebagai sosok pria dewasa yang rajin beribadah di masjid bahkan ia sangat keras terhadap putrinya dalam pembinaan agama, Pak Sutomo juga termasuk warga kampung yang sangat dihormati. Tetapi langsung saja ketika warga mendengar kabar tersebut secara tiba-tiba pak Sutomo beserta keluarganya menjadi buah bibir warga kampung. Banyak warga kampung berpendapat bahwa kenapa Aisye putri tunggalnya ingin ia nikahkan kepada pemuda yang syaratnya hanya dapat menghafal al-qur’an ?, mereka beranggapan bahwa kalau saja menghafal al-qur’an semua orang pasti bisa kalau sekedar menghafal tapi bagaimana dengan akhlaknya ?.

Sampai suatu ketika kabar bahwa keluarga pak Sutomo menjadi buah bibir sampai juga ke telinga pak Sutomo melalui istrinya. Istri pak Sutomo sangat khawatir dengan hal tersebut ditambah lagi

kekhawatirannya terhadap suaminya ketika ia menceritakan kabar tersebut kepada suaminya dan ternyata pak Sutomo hanya berkata, “menurut saja pada suami”. Tentu saja istri pak Sutomo tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah suaminya berkata demikian. Selayaknya anak yang penurut dan mematuhi segala perintah ayahnya, Aisye hanya mengangguk dan menerima apapun yang dikatakan ayahnya, Aisye berpikir biarpun ia kalangan pemuda dari latar belakang yang seperti apapun ketika ia berusaha menghafal al-qur’an pasti ia akan berubah menjadi pemuda yang sholeh, masalah akhlak ia akan berjuang bersama pemuda yang kelak akan menjadi suaminya itu.
_

Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda dari warga kampung tersebut mengajukan diri sebagai calon suami Aisye dan ia bertemu langsung dengan pak Sutomo di Surau biasa pak Sutomo  menjadi imam dan sekaligus tempat Aisye mengaji bersama teman-temannya.

Pemuda itu bernama Bilal, warga kampung mengenal Bilal sebagai pemuda yang rajin beribadah dan anak jebolan pesantren terkemuka. “apakah kamu yakin ingin menikahi anak saya?” tanya Pak Sutomo.

“yakin pak kebetulan saya menghafal al-qur’an secara fasih dan paham akan makna-maknanya”.

Pak Sutomo tertawa terbahak-bahak sampai-sampai suaranya terdengar sampai ke luar Surau, Bilal terkejut dengan tawa Pak Sutomo sekaligus juga bingung dengan maksud tawa dari pria yang ada di depannya tersebut, apakah pria itu meremehkannya atau justru bangga kepadanya.

“saya bisa memulai menyampaikan hafalan saya kalau bapak bersedia” kata Bilal

“tidak perlu anak muda, justru aku akan kembali memberimu tugas baru”

“tugas baru ?, tugas apakah itu pak ?”

“karena kau telah menghafal al-qur’an beserta makna-maknanya, aku ingin kau menghafal kitab injil”

“kitab injil !?”

“ya, kenapa ?, kau terkejut ?, aku tidak memaksamu, kau bisa saja mengundurkan diri, itu tidak jadi masalah untukku”

Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan syarat selanjutnya akhirnya Bilal menyanggupi permintaan Pak Sutomo, ia akan mencoba untuk menghafal kitab injil dan kembali mendatangi pak Sutomo di Surau.
_

Akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarinya menghafal kitab Injil sekaligus memahaminya, awalnya ia ragu untuk melanjutkan niatnya untuk menghafal kitab injil karena ia seorang muslim tetapi ia kembali berpikir apa salahnya menghafal dan paham makna kitab injil ?, tetapi ia tetaplah seorang Muslim. Ia bertemu seorang Pendeta dan ternyata Pendeta itu bersedia untuk mengajarinya. Pada mulanya Bilal beranggapan ini akan sulit karena ia bukanlah umat kristiani, tetapi berkat kemurahan hati Pendeta itu akhirnya Bilal diberikan izin untuk menghafal kitab injil dan memaknainya. Setiap hari selepas sholat isya Bilal selalu mengunjungi rumah Pendeta itu.

Pendeta itu selalu menyambutnya dengan sangat baik dan memberikan pelayanan yang baik pula.

“sebelumnya aku ingin bertanya anak muda, kenapakah kau ingin menghafal kitab injil ?” tanya Pendeta itu

“maafkan aku sebelumnya pak, sebenarnya ini adalah syarat yang diberikan oleh seseorang sebelum aku menikahi anak gadisnya”

“apakah orang itu seorang kristiani ?”

“bukan pak, ia muslim begitu pun anak gadisnya”

“unik sekali orang itu”

“ya begitulah pak”

“tapi tidak menjadi masalah, aku akan menepati janjiku kepadamu, tapi dengan satu syarat”

“apakah itu pak?”

“setelah kau berhasil menghafal kitab Injil dan paham akan maknanya, aku ingin kau menghafal dan paham makna-makna dari kitab Weda”

Lagi-lagi Bilal berpikir lama sekali, ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tetapi mau tidak mau harus melakukan syarat itu demi menikahi Aisye anak pak Sutomo.

“baik pak saya bersedia”.
_

Beberapa bulan kemudian akhirnya Bilal hafal kitab Injil dan makna-maknanya, selanjutnya ia akan mencari seorang guru yang dapat mengajarkannya dan menghafal kitab Weda.

Tidak berapa lama akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarkannya kitab Weda. Ia kembali memulai pengalamannya untuk mencapai tujuannya. Seperti sebelumnya seseorang yang bersedia mengajarkannya kitab Weda pun terkejut mendengar latar belakangnya ingin menghafal dan mempelajari makna kitab Weda, entah mengapa seorang guru itu pun memerintahkan Bilal setelah menghafal dan memahami isi kitab Weda untuk melanjutkan menghafal dan memaknai kitab Tripitaka. Betapa terkejutnya Bilal kenapa semua guru yang ia temui memerintahkannya untuk memahami semua kitab-kitab yang berbeda, Bilal sempat merasa goyah dan mengurungkan niatnya, tetapi lagi-lagi ia berpegang teguh bahwa ia hanya menghafal dan memaknai tidak lebih, ia tetaplah seorang Muslim.
_

Bilal melanjutkan perjalanannya untuk mencari seseorang yang dapat mengajarkannya kitab Tripitaka setelah ia paham akan kitab Weda. Ia sempat mempersiapkan dirinya ketika seseorang yang mengajarinya nanti akan memerintahkannya untuk mempelajari kitab-kitab yang lainnya lagi.

Bilal bertemu dengan seseorang yang dapat mengajarinya kitab Tripitaka dan lagi-lagi menceritakan latar belakangnya, dan ternyata seorang guru itu tidak memberi syarat apapun, dan betapa terkejutnya Bilal dengan itu.
Akhirnya Bilal mulai mempelajari kitab Tripitaka, satu hal yang dapat ia simpulkan setiap kitab mengajarkan kebenaran semua berasal dari Tuhan dengan bentuk Tuhan yang berbeda-beda akan tetapi intinya tetap sama yaitu membina korelasi dengan Tuhan, siapapun yang dituhankan akan tetapi tetap merujuk pada pedoman hidup semuanya merujuk pada mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-larangannya.

Bilal menyelesaikan pelajarannya mengenai kitab Tripitaka, dan Bilal menanyakan apa tidak ada syarat lagi setelah mempelajari kitab Tripitaka dan seseorang itu tidak meminta syarat apapun kecuali meminta Bilal untuk ikhlas.
_

Bilal kembali menemui Pak Sutomo dan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mempelajari Kitab injil dan ia sampai mempelajari kitab-kitab yang lainnya. Sangat mengejutkan sekali, akhirnya Pak Sutomo mengizinkan Bilal untuk menikahi anak gadisnya. Tentu saja Bilal merasa senang akan hal itu, tetapi Bilal mencoba untuk bertanya kembali kepada Pak Sutomo,

“maaf pak, apa boleh saya bertanya ?”

“boleh, tanyakan saja”

“kenapa bapak memerintahkanku untuk menghafal dan memahami makna kitab Injil ?, sampai-sampai aku mendapat syarat untuk menghafal dan memaknai kitab weda dan Tripitaka, apakah itu ada hubungannya dengan putri bapak ?”

“aku ingin kau menikahi anakku dengan sadar bahwa bukan kau saja yang memiliki agama di muka bumi ini dan ….”, seketika pak Sutomo terdiam dan menimbulkan rasa penasaran terhadap Bilal

“dan apa pak ?”

“ikhlas”