Minggu, 20 November 2016

Syarat Nikah Seorang Bilal

“siapa pun yang dapat menghafal al-qur’an akan kunikahkan dengan putriku”. Seketika kabar yang menyatakan bahwa pak Sutomo ingin menikahkan putri kesayangannya Aisye kepada siapa saja pemuda  yang dapat menghafal al-qur’an. Tentu saja kabar ini seketika menyebar luas ke seluruh pelosok kampung seperti desiran angin dari entah berantah dan dirasakan langsung oleh setiap bulu kuduk pemuda-pemuda di kampung itu. Memang anak pak Sutomo terkenal dengan parasnya yang cantik jelita, pemuda-pemuda yang sengaja nongkrong di warung kerap kali bertemu dengan Aisye sepulang mengaji di Surau bersama teman-temannya dan mereka selalu menghentikan aktivitas mereka sejenak demi melihat pesona paras Aisye yang jelita.

Betapa terkejutnya pemuda-pemuda ini mendengar kabar tersebut sampai-sampai ada yang berkeinginan untuk menghafal al-qur’an dan ada pula yang secara tiba-tiba rajin sholat lima waktu dan berdoa untuk diberi kelancaran demi menghafal al-qur’an. Tidak kurang juga warga-warga kampung menganggap pak Sutomo sudah gila karena ia ngebet ingin menikahkan anaknya. Warga kampung mengenal pak Sutomo sebagai sosok pria dewasa yang rajin beribadah di masjid bahkan ia sangat keras terhadap putrinya dalam pembinaan agama, Pak Sutomo juga termasuk warga kampung yang sangat dihormati. Tetapi langsung saja ketika warga mendengar kabar tersebut secara tiba-tiba pak Sutomo beserta keluarganya menjadi buah bibir warga kampung. Banyak warga kampung berpendapat bahwa kenapa Aisye putri tunggalnya ingin ia nikahkan kepada pemuda yang syaratnya hanya dapat menghafal al-qur’an ?, mereka beranggapan bahwa kalau saja menghafal al-qur’an semua orang pasti bisa kalau sekedar menghafal tapi bagaimana dengan akhlaknya ?.

Sampai suatu ketika kabar bahwa keluarga pak Sutomo menjadi buah bibir sampai juga ke telinga pak Sutomo melalui istrinya. Istri pak Sutomo sangat khawatir dengan hal tersebut ditambah lagi

kekhawatirannya terhadap suaminya ketika ia menceritakan kabar tersebut kepada suaminya dan ternyata pak Sutomo hanya berkata, “menurut saja pada suami”. Tentu saja istri pak Sutomo tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah suaminya berkata demikian. Selayaknya anak yang penurut dan mematuhi segala perintah ayahnya, Aisye hanya mengangguk dan menerima apapun yang dikatakan ayahnya, Aisye berpikir biarpun ia kalangan pemuda dari latar belakang yang seperti apapun ketika ia berusaha menghafal al-qur’an pasti ia akan berubah menjadi pemuda yang sholeh, masalah akhlak ia akan berjuang bersama pemuda yang kelak akan menjadi suaminya itu.
_

Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda dari warga kampung tersebut mengajukan diri sebagai calon suami Aisye dan ia bertemu langsung dengan pak Sutomo di Surau biasa pak Sutomo  menjadi imam dan sekaligus tempat Aisye mengaji bersama teman-temannya.

Pemuda itu bernama Bilal, warga kampung mengenal Bilal sebagai pemuda yang rajin beribadah dan anak jebolan pesantren terkemuka. “apakah kamu yakin ingin menikahi anak saya?” tanya Pak Sutomo.

“yakin pak kebetulan saya menghafal al-qur’an secara fasih dan paham akan makna-maknanya”.

Pak Sutomo tertawa terbahak-bahak sampai-sampai suaranya terdengar sampai ke luar Surau, Bilal terkejut dengan tawa Pak Sutomo sekaligus juga bingung dengan maksud tawa dari pria yang ada di depannya tersebut, apakah pria itu meremehkannya atau justru bangga kepadanya.

“saya bisa memulai menyampaikan hafalan saya kalau bapak bersedia” kata Bilal

“tidak perlu anak muda, justru aku akan kembali memberimu tugas baru”

“tugas baru ?, tugas apakah itu pak ?”

“karena kau telah menghafal al-qur’an beserta makna-maknanya, aku ingin kau menghafal kitab injil”

“kitab injil !?”

“ya, kenapa ?, kau terkejut ?, aku tidak memaksamu, kau bisa saja mengundurkan diri, itu tidak jadi masalah untukku”

Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan syarat selanjutnya akhirnya Bilal menyanggupi permintaan Pak Sutomo, ia akan mencoba untuk menghafal kitab injil dan kembali mendatangi pak Sutomo di Surau.
_

Akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarinya menghafal kitab Injil sekaligus memahaminya, awalnya ia ragu untuk melanjutkan niatnya untuk menghafal kitab injil karena ia seorang muslim tetapi ia kembali berpikir apa salahnya menghafal dan paham makna kitab injil ?, tetapi ia tetaplah seorang Muslim. Ia bertemu seorang Pendeta dan ternyata Pendeta itu bersedia untuk mengajarinya. Pada mulanya Bilal beranggapan ini akan sulit karena ia bukanlah umat kristiani, tetapi berkat kemurahan hati Pendeta itu akhirnya Bilal diberikan izin untuk menghafal kitab injil dan memaknainya. Setiap hari selepas sholat isya Bilal selalu mengunjungi rumah Pendeta itu.

Pendeta itu selalu menyambutnya dengan sangat baik dan memberikan pelayanan yang baik pula.

“sebelumnya aku ingin bertanya anak muda, kenapakah kau ingin menghafal kitab injil ?” tanya Pendeta itu

“maafkan aku sebelumnya pak, sebenarnya ini adalah syarat yang diberikan oleh seseorang sebelum aku menikahi anak gadisnya”

“apakah orang itu seorang kristiani ?”

“bukan pak, ia muslim begitu pun anak gadisnya”

“unik sekali orang itu”

“ya begitulah pak”

“tapi tidak menjadi masalah, aku akan menepati janjiku kepadamu, tapi dengan satu syarat”

“apakah itu pak?”

“setelah kau berhasil menghafal kitab Injil dan paham akan maknanya, aku ingin kau menghafal dan paham makna-makna dari kitab Weda”

Lagi-lagi Bilal berpikir lama sekali, ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tetapi mau tidak mau harus melakukan syarat itu demi menikahi Aisye anak pak Sutomo.

“baik pak saya bersedia”.
_

Beberapa bulan kemudian akhirnya Bilal hafal kitab Injil dan makna-maknanya, selanjutnya ia akan mencari seorang guru yang dapat mengajarkannya dan menghafal kitab Weda.

Tidak berapa lama akhirnya Bilal bertemu dengan seorang guru yang dapat mengajarkannya kitab Weda. Ia kembali memulai pengalamannya untuk mencapai tujuannya. Seperti sebelumnya seseorang yang bersedia mengajarkannya kitab Weda pun terkejut mendengar latar belakangnya ingin menghafal dan mempelajari makna kitab Weda, entah mengapa seorang guru itu pun memerintahkan Bilal setelah menghafal dan memahami isi kitab Weda untuk melanjutkan menghafal dan memaknai kitab Tripitaka. Betapa terkejutnya Bilal kenapa semua guru yang ia temui memerintahkannya untuk memahami semua kitab-kitab yang berbeda, Bilal sempat merasa goyah dan mengurungkan niatnya, tetapi lagi-lagi ia berpegang teguh bahwa ia hanya menghafal dan memaknai tidak lebih, ia tetaplah seorang Muslim.
_

Bilal melanjutkan perjalanannya untuk mencari seseorang yang dapat mengajarkannya kitab Tripitaka setelah ia paham akan kitab Weda. Ia sempat mempersiapkan dirinya ketika seseorang yang mengajarinya nanti akan memerintahkannya untuk mempelajari kitab-kitab yang lainnya lagi.

Bilal bertemu dengan seseorang yang dapat mengajarinya kitab Tripitaka dan lagi-lagi menceritakan latar belakangnya, dan ternyata seorang guru itu tidak memberi syarat apapun, dan betapa terkejutnya Bilal dengan itu.
Akhirnya Bilal mulai mempelajari kitab Tripitaka, satu hal yang dapat ia simpulkan setiap kitab mengajarkan kebenaran semua berasal dari Tuhan dengan bentuk Tuhan yang berbeda-beda akan tetapi intinya tetap sama yaitu membina korelasi dengan Tuhan, siapapun yang dituhankan akan tetapi tetap merujuk pada pedoman hidup semuanya merujuk pada mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-larangannya.

Bilal menyelesaikan pelajarannya mengenai kitab Tripitaka, dan Bilal menanyakan apa tidak ada syarat lagi setelah mempelajari kitab Tripitaka dan seseorang itu tidak meminta syarat apapun kecuali meminta Bilal untuk ikhlas.
_

Bilal kembali menemui Pak Sutomo dan menceritakan pengalaman-pengalamannya selama mempelajari Kitab injil dan ia sampai mempelajari kitab-kitab yang lainnya. Sangat mengejutkan sekali, akhirnya Pak Sutomo mengizinkan Bilal untuk menikahi anak gadisnya. Tentu saja Bilal merasa senang akan hal itu, tetapi Bilal mencoba untuk bertanya kembali kepada Pak Sutomo,

“maaf pak, apa boleh saya bertanya ?”

“boleh, tanyakan saja”

“kenapa bapak memerintahkanku untuk menghafal dan memahami makna kitab Injil ?, sampai-sampai aku mendapat syarat untuk menghafal dan memaknai kitab weda dan Tripitaka, apakah itu ada hubungannya dengan putri bapak ?”

“aku ingin kau menikahi anakku dengan sadar bahwa bukan kau saja yang memiliki agama di muka bumi ini dan ….”, seketika pak Sutomo terdiam dan menimbulkan rasa penasaran terhadap Bilal

“dan apa pak ?”

“ikhlas”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar