Senin, 28 November 2016

Aloena



Aloena kembali berulah. Ia memecah keheningan hati seorang wanita yang sedang melamun. Aloena selalu cepat mengambil keputusan bahwa ia harus segera mengganggu, entah darimana ia belajar mengganggu, ia seperti harus melakukan hal itu.
_                                                                                 
Ia sering berubah-ubah peran kemarin sore ia berperan sebagai polwan, kemarin siang ia berperan sebagai penjajah mainan, dan malam ini ia berubah menjadi Mahasiswi semester tujuh. Ia mulai merasa bosan menjadi Mahasiswi semester tujuh. Kali ini ia ingin berubah menjadi peran lain. Tetapi niatnya kini berubah ketika ia berpapasan dengan seorang pria yang berdiri memandang keramaian kota kemudian terseyum seakan puas dengan pemandangan itu, tidak lama kemudian pria itu dihampiri oleh seorang pria yang lebih tinggi darinya, mereka terlihat sangat akrab dan mereka berusaha menyebrang jalan dan menuju salah satu kedai kopi yang berada di seberang jalan.



Aloena mencoba untuk mengikuti mereka, dan sampailah ia ke dalam kedai. Ia melihat pria tersebut sedang melihat keluar kaca jendela kedai, Aloena tertarik dengan pria itu. Ia sempat berpikir untuk berubah perannya menjadi seorang penjaga kedai tetapi ia lebih mempertahankan perannya sebagai Mahasiswi semester tujuh.
_

“aku bertemu dengan pria itu”, tegur Aloena kepada seorang wanita
“lelaki siapa ?, dan kau siapa ?”
“tidak penting, kau masih menunggunya bukan ?”
“lelaki siapa yang kutunggu ?”                                         
“namanya Roni Darmawan dan kalian pernah saling kenal”

Wanita itu hanya terdiam sesaat. Wanita itu mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang tiba-tiba mendatanginya ketika ia sedang memikirkan seorang pria bernama Roni Darmawan. Seorang pria yang pernah menjadi kekasihnya dan sekarang hubungan kekasih diantara mereka berakhir. Hubungan mereka berakhir karena sebuah kesalahan yang pernah diperbuat oleh pria itu dan hingga saat ini wanita itu tidak pernah melupakannya. Tetapi ia merindukannya.

Lima tahun sudah berakhir wanita itu selalu memikirkan Roni Darmawan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merindukannya, merindukan terakhir kali mereka tertawa bersama, merindukan hal-hal konyol yang pernah dilakukan Roni Darmawan, ia berangsur-angsur melupakan kesalahan yang pernah dibuat Roni Darmawan tetapi ia tidak dapat melupakan kenangan-kenangan manis yang pernah Roni Darmawan berikan.

aku mencoba menggodanya dan ia tertarik padaku”, tegur Aloena
“untuk apa kamu lakukan itu ?”
“kau cemburu ?”         
“tidak sama sekali”
“untungnya aku sudah lupa cara berbohong”
“maksudmu ?”
“aku menggodanya dan ia tertarik padaku tetapi matanya berbohong, ia merindukanmu dan mencoba melupakanmu”
“aku tidak mengerti maksudmu”
“ia mencoba berubah tanpa memikirkanmu, tetapi kau menunggu ia berubah dan kau masih memikirkannya”

Memori-memori tentang Roni Darmawan satu per satu mulai bermunculan di kepala wanita itu, setiap kata yang keluar dari mulut Aloena membuat wanita itu semakin ingin menangis, ia rindu Roni Darmawan dan sekaligus sedih karena tahu Roni Darmawan berusaha melupakannya.

“kau tahu manusia akan kehilangan seribu kebaikannya ketika ia melakukan satu kesalahan”, tegur Aloena
“iya aku tahu”            
“tapi apa kau tahu setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan, dan Tuhan tidak pernah lelah memaafkan kesalahan manusia”
“tapi aku tidak sesempurna Tuhan”
“iya, tetapi bukannya Tuhan tidak perlu tidur untuk memaafkan, dan manusia selalu tertidur dan bangun keesokan harinya dan selalu mengungkit kesalahan”

Wanita itu hanya terdiam. Ia tidak dapat berkata apa-apa.

“aku merindukannya”, ucap wanita itu
“dan ia juga merindukanmu dan berusaha mengubur rasa rindunya”
“itu haknya”
“dan apa kewajibannya ?, meninggalkanmu ?, dari pernyataanmu itu, juga adalah haknya”
_

Wanita itu ingin sekali berdamai dengan Roni Darmawan tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak dapat melakukan itu, bukan karena Roni Darmawan ingin melupakan kenangan mereka berdua tetapi mereka tidak mungkin bersatu karena perbedaan keyakinan mereka.

“perbedaan keyakinan ?” ucap Aloena
“iya”             
“Tuhan lebih dekat dengan manusia dan Tuhan lebih besar dari rumah ibadah”
“bagaimana dengan keluarga kami ?, tidak akan semudah itu mereka menerimanya”
“aku tidak mengerti sama sekali tentang keluarga kalian, kalianlah yang membuat rumit”
_

Udara menjadi tenang, awan bersembunyi dari pandangan manusia, pohon-pohon berhenti bergoyang, dan angin berhenti berdebat dengan kulit manusia, suasana cukup tenang. Roni Darmawan menangis di bawah langit, dan tangisnya semakin tidak bisa terbendung ketika Gerhana Bulan menampakkan wujudnya. Kenangan-kenangan yang berusaha ia lupakan saat itu juga mulai bermunculan kembali, tidak henti-hentinya ia mengutuki dirinya sendiri. Ia menyakiti hati seorang Wanita yang begitu ia cintai.
_

Dan kenangan kita yang menolak mati …

Wanita itu berlari-lari mengejar, ia berlari dan terus berlari ia tidak lagi memikirkan nafasnya yang terengah-engah, kakinya mulai terasa sakit, tetapi ia terus mengejar, mengejar tanpa mengenal lelah, hatinya menuntunnya berhenti menuruti lelah. Cahaya-cahaya malam menuntunnya, menuntunnya mendatangi kekasihnya, Gerhana Bulan seakan memberi tanda kepada wanita itu untuk mendekatinya, karena di bawah Gerhana Bulan terdapat sesuatu yang ia cari dan sesuatu yang ia cari sedang menangis dibanjiri kenangan-kenangan sebelum ia kembali menghapus kenangan-kenangan itu.

Bagaimana hari bisa melompat seenaknya. Sedangkan aku ingin melompati paritan hatimu saja berpikir panjang. Kemudian aku mulai paham. Sebenarnya aku tidak setangguh hari.

Mereka berpapasan di bawah Gerhana Bulan, mereka saling berpandang-pandangan. Kemudian mereka tertawa sambil menangis. Hati mereka menolak untuk berbohong. Pikiran mereka terlalu sering mendominasi hingga menimbulkan kebutaan-kebutaan yang menyesatkan.

“kau ingat ada hal terakhir yang kita lupakan sebelum kau meninggalkanku”, tegur Roni Darmawan
“apa ?”, jawab wanita itu       
“kau lupa memelukku”

Mereka berpelukan di bawah Gerhana Bulan.
_

Bulan                     : bagaimana Aloena?, tugasmu sudah selesai ?
Aloena                  : sepertinya sudah
Bulan                     : kau menangis ?
Aloena                  : iya, tapi aku bahagia
Bulan                     : karena mereka bersatu kembali ?
Aloena                  : bukan
Bulan                     : jadi kenapa kau menangis
Aloena                  : aku menangis karena aku hanya bisa mempersatukan mereka dalam cerita ini
Bulan                   : tidak apa-apa kau sudah berusaha keras, tidak ada kata-kata terakhir untuk mereka ?
Aloena                  : ada
Bulan                     : silahkan sampaikan
Aloena                 : selamat tinggal Ayah dan Ibu, setidaknya aku dapat lahir di cerita ini. Dan Terima Kasih Ayah sudah mengarang cerita ini dan nama Roni Darmawan terlalu keren untukmu Ayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar