Sabtu, 26 November 2016

Kopi Hitam, Espresso, dan Kenangan



Aku selalu mendatangi kedai kopi itu, kedai kopi yang terletak di pinggiran jalan raya, suasana kota selalu membuatku terkagum-kagum, kerlap-kerlip cahaya kendaraan di malam hari dan kebisingannya beserta suara-suara manusia yang saling bercengkrama satu sama lain, mereka tampak sibuk sekali, inilah kota, satu-satunya tempat yang membuatku puas memperhatikan semuanya-adalah di Kedai kopi ini, kedai yang memberiku kenangan manis sekaligus kenangan pahit. Seperti kopi saja pikirku tersedia rasa pahit dan manis, terserah kita memilih yang mana asal lidah kita mampu mengecap tanpa memuntahkannya.




Aku selalu mendatangi kedai kopi itu dan memesan kopi hitam andalanku, memakai atribut seperlunya, t-shir putih dengan celana jeans biru, identitas yang tidak bisa lepas dariku, yah, inilah aku Roni Darmawan seorang penikmat keramaian dan sekaligus penikmat kopi hitam. Aku mulai menyukai keramaian sejak kepindahanku dari desa ketika kecil menuju kota yang selalu ramai dibicarakan orang desa, tentang mimpi dan pengharapan semua ada di sana. Dan aku menyukai kopi hitam karena almarhum ayah yang selalu menyuruh ibu untuk membuatkannya kopi hitam ketika ia sedang bersantai, sudah selayaknya aku melanjutkan tradisi meminum kopi hitam dengan bersantai memandang keramaian kota dari balik kaca jendela kedai.
                                                                                                       _                                             

Aku pertamakali menginjakkan kaki ke kedai kopi ini ketika seorang teman mengajakku untuk menghabiskan akhir pekan, aku menurut saja kebetulan aku suka kopi. Tempat yang begitu ramai tapi tidak terlalu ramai karena orang-orang begitu tenang menikmati kopi mereka. Sampai ketika perhatianku tertuju kepada seorang wanita berambut panjang dan senyumnya yang manis sambil meminum kopi espresso yang sangat kecil, pikirku gelas kopi itu cukup adil dengan ukuran bibirnya yang tipis dan mungil. Sampai pada akhirnya kami berkenalan, namanya Aloena seorang mahasiswa semester 7 di Universitas Mulawarman jurusan Sastra.

Semenjak saat itu kami sering berbalas pesan singkat, bertukar cerita tentang pengalaman kami masing-masing. Tapi ada satu hal yang sangat aku jaga darinya, bahwa aku adalah seorang penulis, karena aku memiliki anggapan wanita akan merasa dirinya sengaja dimanfaatkan ketika berkenalan oleh pria asing karena kebutuhannya akan ide tulisan.

Kami sering bertemu di Kedai kopi, aku memesan kopi hitam dan ia memesan espresso. Sampai-sampai kami sangat hafal dengan kesukaan kami masing-masing.
_

“kenapa kamu suka keramaian kota ?”, tegur Aloena kepadaku
“emm … kenapa ya?. Mungkin karena kamu adalah salah satu diantara keramaian itu”
“jawabanmu lumayan. Kenapa kamu tidak coba bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama”
“baiklah, kenapa kamu suka keramaian kota ?”
“apakah aku pernah bercerita kalau aku senang dengan keramaian kota ?”
“kamu curang”

Ia tertawa.

Semakin hari hubungan kami semakin dekat. Kupikir kedai kopi inilah yang mempersatukan kami hingga dapat sedekat ini. Kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tetapi aku terus menjaga agar pembicaraan kami kita tidak menjurus pada privasi. Karena aku tidak mungkin memasuki wilayah sensitive seperti itu. Sampai akhirnya ia bertanya,

“sudah punya pacar ?”
“pacar ?”
“iya, baiklah mari kusederhanakan. Sudah punya kekasih ?, orang spesial ?”
“ ha ha ha … aku paham. Belum”
“oh ya ?, kamu tidak mau menanyakan pertanyaan yang sama ?”
“baiklah, kali ini jawab dengan serius. Apakah kamu sudah punya pacar ?”
“apakah dengan aku menjawab, dan jawabanku iya kamu akan menjauh ?, dan kalau aku menjawab tidak punya kamu akan terus seperti ini ?”
“hey, kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, itu tidak sopan nona”
“ ha ha ha …, baiklah. Aku belum punya pacar. Sekarang apa tindakanmu ?”
“tindakanku ?, lihat ini”
Aku meminum kopi hitamku kemudian mengangkat gelasku ke arahnya,
“lihat tindakanku adalah menunjukkan kopi hitam ini padamu”
“untuk apa ?”
“untuk aku tunjukkan kalau kita itu sama”
“ ha ha ha … kau orang aneh!”

Kemudian kami tertawa kembali. Itu adalah kopi manisku bersama Aloena.
_

Kedekatan kami terus berlanjut, sampai ketika Aloena mulai membicarakan hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya,

“kenapa kita tidak pacaran saja ?”. aku terkejut, dan kopi yang sedang kuminum hampir tumpah.
“kenapa?, apakah itu ide buruk ?”, tanya Aloena
“tidak, baiklah aku bertanya, kenapa kau ingin menjadi pacarku ?”
“karena aku suka kamu”
“itu alasan sederhana”
“apakah butuh alasan lain yang dibuat-buat dan terkesan tidak jujur?”
“bukan begitu, tapi aku tidak bisa”
“karena apa ?”
“aku masih mencintai seseorang di luar sana”
“oh, sori”

Aku sangat yakin aku telah melukai hati Aloena, tidak semestinya aku mengatakan bahwa aku masih mencintai orang lain walaupun begitulah adanya. Tetapi sebaiknya aku berbohong saja kepadanya, dengan mencari alasan lain untuk menolaknya.

“aku harus pulang Ron”
“secepat ini ?, kopi kita belum habis”
“aku ada urusan Ron, sampai ketemu lagi”

Akhirna ia meninggalkanku sendiri di kedai kopi itu. Aku baru saja merasa telah menghancurkan hati seorang wanita. Tetapi, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku bahwa aku masih mencintai seseorang di luar sana, seseorang yang telah memberikan kenangan manis sekaligus kenangan pahit karena ia memilih meninggalkanku.
_

“aku benci sama kamu, benci banget, aku mau ulang waktu dimana aku belum kenal kamu, tapi aku tidak bisa dan itu buat aku lebih benci lagi sama kamu”

Kalimat itu masih terngiang sampai sekarang, ketika wanita yang sangat kucintai memilih untuk memutuskan hubungan kami, karena kesalahan yang kuperbuat kepadanya, kesalahan yang aku sendiri menyesalinya sampai sekarang, kesalahan yang sampai sekarang aku mengutuk diriku sendiri. Berkali-kali aku meminta untuk meminta kesempatan sekali lagi, ia tetap bersikeras untuk menolak karena semakin aku meminta ia akan semakin membenciku dan aku tidak inginkan itu. Pada akhirnya kami berpisah. Aku meminum kopi pahit malam itu.
_

“semenjak itu aku selalu menulis puisi dan cerpen untuknya, untuk sekadar mengenang”
“apakah sampai sekarang kau menulis untuknya?”, tanya Aloena
“iya, tapi tidak terlalu sering”
“kenapa ?”
“aku sendiri bingung”
“aku tau sebabnya”
“apa sebabnya ?”
“kau sudah lelah memenuhi kepalamu dengan kenanganmu bersama dia”
“mungkin begitu”.

Apa yang dikatakan Aloena ada benarnya, sepertinya aku sudah lelah mengingat kenangan-kenangan, ia terlalu membanjiri pikiranku selama lima tahun belakangan ini. Lihatlah, betapa lama aku memenjarakan diriku karena kenangan yang bahkan aku tidak tahu ia masih mengingatnya atau tidak.

“apakah kau tahu kabar wanita itu sekarang ?”
“sayang sekali tidak”
“apakah dia suka dengan kopi hitam ?”
“ha ha ha tidak, dia suka Green Tea”
“bahkan kau masih mengingat kesukaannya”
“iya, apa itu masalah ?”
“bukan, hanya saja …”
“hanya saja apa ?”

Aloena terdiam sangat lama, wajahnya berpaling memandang ke luar kedai. Tatapannya kosong, aku terus mendesaknya untuk melanjutkan kalimatnya, sampai ketika ia menatapku dan menghabiskan espressonya.
 
“hanya saja, ia masih menunggumu untuk berubah dan kau berubah tanpa menunggunya".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar