INI tentang dia, tentang segala sesuatu yang membuatku selalu jatuh cinta, pada tatapan matanya, caranya tersenyum dan caranya marah, dan caranya memperingati. tatapan matanya yang tajam seperti mengisyaratkan banyak makna tersirat. seorang wanita yang menyita perhatianku hampir setiap hari, tentang dia yang selalu mengajarkan tentang apa arti naluri seorang lelaki untuk mencinta. ini terasa agak berlebihan, tetapi apakah ini akan terkesan berlebihan apabila kita sudah merasa jatuh cinta?, aku rasa tidak berlebihan.
Ada sebagian orang menganggap bahwa jatuh cinta adalah pekerjaan yang menyita banyak waktu karena pikiran dan waktu bisa habis begitu saja karena memikirkan bagaimana untuk terus dapat menjadi pusat perhatiannya. kadang muncul pertanyaan yang agak menggelikan, bagaimana sewaktu-waktu ia menghilang dengan jejak atau tanpa jejak?, apakah kita akan terus jatuh cinta atau memilih untuk menjatuhkan cinta kita begitu saja. adapula yang berkata bahwa jatuh cinta adalah anugerah, tapi kadang muncul lagi pertanyaan yang sangatlah menggelikan, apakah jatuh cinta itu seremeh temeh anugerah?, atau ada yang lebih bermakna dari itu semua?, atau bahkan sebenarnya itu tidak memiliki makna sama sekali.
Cinta memiliki caranya sendiri untuk mengasihi, dan punya caranya sendiri untuk mengintimidasi. tapi semua itu adalah perspektif orang-orang yang bebas mengutarakan pendapatnya.
Akhir-akhir ini aku seperti terjebak ilusi, ilusi yang cukup membuatku berpikir lebih dari dua kali. tentang apakah semua yang kulakukan sudah benar?, atau mungkin aku saja yang membenarkan semuanya?. tetapi seketika pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu itu hilang begitu saja ketika aku melihat tatapan matanya, dan aku tersadarkan perasaan ini sungguh nyata!.
Wanita itu adalah wanita telah tersakiti, oleh cinta lamanya yang membuatnya hampir bernostalgia di setiap malam, tentang harapan-harapan yang runtuh begitu saja seperti hujan yang mendadak turun di langit yang begitu panas. kemudian aku muncul di tengah-tengah itu semua, seperti pelangi, ini kataku, jujur saja aku tidak tahu bagaimana katanya atau sekurang-kurangnya perasaannya.
Wanita itu selalu memperingatiku, bahwa apabila aku tetap melakukan hal ini secara terus menerus pasti ujung-ujungnya aku akan seperti orang yang sedang melakukan percobaan bunuh diri, terus mendekatinya memberi perhatian berlebih dan tidak berharap apa-apa kecuali ia tetap senang. aku beranggapan bahwa sebenarnya aku tidak mengharapkan apa-apa ketika melakukan itu semua. aku hanya berharap satu hal, yaitu dia tetap bisa tersenyum bahagia dan berangsur-angsur melupakan hal-hal yang membuatnya semakin tersiksa. setiap orang berhak untuk bahagia, dan tentu saja setiap orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dari seseorang.
Aku pernah menyatakan perasaanku kepadanya, dengan harapan kami akan menjadi sepasang merpati, tapi sepertinya harapanku terlalu tinggi, waktu itu ia adalah bagian dari hati yang lain, tentu saja hati yang saat ini berusaha ia lupakan. Sejauh ini aku tidak dapat menyimpulkan, apakah aku sudah berhasil membuatnya melupakan semua hal-hal yang telah membuatnya terjebak dalam keterpurukan. tetapi masa bodoh, aku tetap berharap usahaku membuahkan hasil, hasil yang cukup sederhana yaitu membuatnya bahagia.
Apabila muncul pertanyaan, apakah aku mencintainya?, sudahlah pasti jawabannya iya aku mencintainya. tapi, kalau muncul pertanyaan selanjutnya, apakah dia mencintaiku?, jawabanku selalu itu urusannya, bukan urusanku.
Aku banyak mendeskripsikannya lewat puisi-puisi yang aku buat, semata-mata menulis kata-kata melalui perasaan-perasaan.
Kedepannya terserah, apakah dia tidak bersamaku lagi atau mungkin bersamaku, satu hal yang akan selalu aku usahakan, membuatnya tersenyum bahagia.
Terus, bagaimana denganku ?
Sudah kubilang itu urusanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar