Jumat, 18 Mei 2018

Menghadapi Hawa Yang Marah

Tidak ada sore yang jatuh, atau angin semilir menerpa rambutmu, tidak ada embun yang menguap, hanya amarahmu yang menguap, pada angin malam kau titipkan rasa marah sambil mengendap-endap mengetuk pintu rumahku.

Aku bangun dengan rambut acak-acakan dan kau tidak akan menyukainya, kau tarik tanganku membawaku tepat di bawah lampu jalan kemuning dan keluarlah kebun binatang di mulutmu.

Ada satu hal yang kupelajari dari perempuan yang sedang marah: dia sedang mencintaimu dengan ragu-ragu, dengan rindu-rindu, dan sedikit malu malu, tentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar