Bagi sebagian orang Gerhana Bulan adalah hal yang biasa, tetapi tidak menutup kemungkinan ada juga sebagian orang yang sangat antusias terhadap kedatangan momentum langkah ini. Dari sisi lain, ada yang sangat menyukai Gerhana Bulan, mereka mengartikan Gerhana Bulan itu berbeda dari artian yang lain, fenomena alam yang sangat menakjubkan dan mereka berada di sana, menunggu dan menunggu.
“Apa tidak terlalu kekanakan kita berdua berada di lapangan ini menunggu gerhana bulan?”. Pertanyaan yang seketika muncul dari mulut Pandep. Pertanyaan itu ditujukan langsung kepada seorang lelaki yang sudah lama ia kenal, lelaki itu sudah menunggu lama momentum langkah tersebut, ia sampai rela meninggalkan kafe Book n’ Coffee yang ia kelola dan masih dalam jam kerja. “aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu turuti saja mauku”. Pandep hanya manut-manut saja, ia sangat mengenal orang yang ada di hadapannya itu adalah lelaki yang berbeda dari yang lainnya, ia tidak suka berkomentar banyak ketika itu tidak perlu, bagi Pandep ia sangat misterius dan air mukanya seperti menyimpan banyak rahasia, Pandep hanya mampu menebaknya tetapi tidak pernah ada keinginan untuk menanyakannya. “baiklah, mari kita tunggu Gerhana Bulan sialan itu”.
Tempat mereka menunggu Gerhana Bulan sangat ramai, banyak orang-orang yang sedari tadi berdiri dan mempersiapkan kamera dan Hanphone mereka masing-masing hanya untuk mengabadikan moment langkah tersebut. Berbeda dengan Pandep dan temannya, mereka berdua hanya berdiri dan menunggu dan tidak ada tanda-tanda mempersiapkan satu alat pun untuk mendokumentasikan moment tersebut.
Pandep mencoba untuk memecah keheningan dan bertanya kepada temannya,
“setelah Gerhana Bulan itu muncul apa yang akan kau lakukan?”
“tidak ada, aku hanya ingin melihatnya, ada yang ingin aku pastikan”
“seberapa penting Gerhana Bulan itu untukmu?”
“kenapa memangnya?”
“bukan maksudku untuk merememehkanmu, tetapi aku merasakan maksud tersembunyi”
“oh iya?”
Pandep tahu akan sia-sia menanyakan apapun kepada temannya, rasa penasaran tetaplah rasa penasaran, selamanya akan menghasilkan rasa heran yang berkepanjangan. Tidak lama kemudian tiupan angin tidak terasa, cuaca begitu tenang dan bahkan pohon-pohon yang berada ditempat itu tidak menari-nari, awan menyingkir seolah-seolah sedang mempersilahkan sesuatu yang menakjubkan untuk muncul. benar, tidak lama kemudian Gerhana Bulan terjadi, Bulan terasa begitu terang, Bulan sedang memamerkan keagungannya, tepat di atas kepala manusia-manusia penasaran itu Bulan sedang cantik-cantiknya.
Semua orang menatap takjub akan kedatangan Gerhana Bulan itu, Pandep seperti dipertontonkan suatu pertunjukan yang sangat luar biasa, berbeda persis ketika ia menonton konser Cold Play membawakan lagu yang berjudul Fix You yang merupakan juga lagu kesukaan orang yang sedang bersamanya menatap Gerhana bulan, yaitu temannya yang tidak kalah terpesona dengan kemunculan Gerhana Bulan di atasnya.
“menakjubkan bukan?”, tanya lelaki itu ke Pandep
“memang sangat menakjubkan!”
“sudah kubilang kan?”
“tetapi tunggu, apakah kau tadi bertanya?”, sambil menatap ke atas
“iya”
“hahaha, tumben!”
_
Teman Pandep itu bernama Man, ia memiliki kenangan yang tidak bisa ia lupakan berhubungan dengan Gerhana Bulan, ia tidak bisa melupakan pertemuannya dengan seorang wanita pada saat Gerhana Bulan di waktu yang sama ketika Pandep dan Mansa terpesona dengan Gerhana Bulan yang barusan terjadi.
Gerhana Bulan mengantarkannya pada suatu perkenalan yang tidak bisa ia lupakan sampai saat ini, wanita itu bernama Nom, seorang wanita yang tiba-tiba muncul dikehidupannya yang biasa-biasa saja hingga mampu merubah hidupnya menjadi sangat luar biasa.
Ia sangat mengingat kejadian itu, setelah ia melihat Gerhana Bulan tidak lama kemudian Hanphone yang berada di kantong celananya berdering, ia sangat hafal dering Handphone itu berasal dari Handphonenya sendiri, dan ternyata benar seorang wanita bernama Nom tertera disana, tertera pesan singkat disana,
“Masih indah kamu daripada Gerhana Bulan malam ini”
Berawal dari pesan singkat itu, akhirnya mereka menjadi dekat satu sama lain, tetapi tidak terikat oleh hubungan sepasang kekasih, bagi Mansa hal itu tidak menjadi masalah. Seiring perjalanan waktu kedekatan mereka sudah melebihi dari hubungan sepasang kekasih, ini adalah suatu kebetulan yang memang benar-benar betul terjadi.
Ia tidak pernah berpikir hubungan yang terjadi tanpa sengaja dan dapat memberinya semangat di setiap hari itu akan berakhir. Tetapi dibalik pertemuan pasti ada perpisahan seperti Gerhana Bulan. Ada kalanya Bulan dan Matahari dapat sejajar dan ada kalanya mereka akan terpisah sangat jauh. pada dasarnya mereka memang berbeda, tetapi bukannya perbedaan adalah syarat utama untuk menyatukan sedikit demi sedikit hingga menjadi sama dalam satu perasaan?. Berbeda ketika hal yang membedakannya kali ini adalah perbedaan kepercayaan, dan ini adalah haru hal baru bagi mereka berdua.
Semakin mereka melanjutkan semakin mereka merasa khawatir bagaimana nantinya ketika benar-benar mereka menemukan jalan buntu, bagaimana ketika mereka dihadapkan pada dampak yang lebih besar, ketika sebagian orang menganggap bahwa hubungan jarak jauh adalah hubungan yang sangat berat, tetapi ada hal yang lebih berat ketika hubungan diberi jarak oleh kepercayaan.
_
Malam sebelum mereka sepakat untuk berpisah, mereka sepakat untuk bertemu. Banyak hal yang mereka sampaikan, mulai dari larangan-larangan, saling menjaga diri, sampai Man membacakan puisi perpisahan,
Dialog Subuh
Dialog subuh ini tidak lagi seramai kemarin Nom,
Tidak ada lagi embun yang jatuh menunggu ucapan selamat pagimu
Tidak ada lagi burung-burung yang siap sedia bernyanyi setelah aku terbangun
Semua sepi
Semua sibuk sendiri-sendiri
Siapa yang harus disalahkan kalau sudah begini?
Tidak ada, bahkan aku ingin menyalahkan waktu yang mempertemukan kita dan kemudian memisahkan kita, tapi waktu juga ada benarnya.
Hari-hari kedepan akan terasa hambar Nom, kau tau kenapa? Karena kita akan mulai berpura-pura seolah-olah tidak pernah ada sesuatu sebelumnya terjadi diantara kita.
Padahal kita sedang dalam rindu-rindunya.
Kemudian mereka menangis, menangisi ketidakberdayaan menghadapi nasib percintaan mereka yang begitu naas. Mereka beradu tatap, mata mereka sama-sama memandang kedalam perasaan mereka masing-masing, “maafkan aku, ini yang terakhir”, kata Nom kepada Man dan mereka terjatuh dalam suasana haru dan saling berpelukan, mereka berpelukan sangat erat satu sama lain, bibir mereka bertemu dalam tangis, waktu berjalan lambat dan mereka tersadar inilah ciuman terakhir yang bisa mereka lakukan.
Nom bergegas untuk pergi, dan Man tiba-tiba menarik tangannya dan menegurnya, “jika suatu saat nanti kau melihat Gerhana Bulan, sempatkan untuk menatapnya, aku tidak tahu dimana kita nanti, dengan siapa kita saat itu, bagaimana kehidupan kita, tapi percayalah aku ada di sana tersenyum dan memikirkanmu, aku berjanji”. Lagi-lagi mereka berpelukan dan terjebak dalam tangis.
_
“apakah kau barusan menangis?”, tegur Pandep
“apakah ada larangan pria untuk menangis?”
Pandep hanya diam.
Mereka beranjak menuju Kafe, sesampainya di kafe tiba-tiba seorang pegawai kafe menegur mereka, “maaf mas Man, ada perempuan yang mencari mas sudah dari tadi menunggu, dia ada di lantai dua”. Secara tiba-tiba Man berlari menuju lantai dua, firasatnya berkata Nom di sana. Sesampainya di lantai dua seorang wanita dengan senyuman yang sangat akrab itu menegurnya,
“Gerhana datang lagi, dan aku masih di sini, kau kemana saja?”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar