Sabtu, 22 Oktober 2016

Malam Hujan

Malam hujan
Ada sesuatu yang akan tersampaikan
Lewat tetes demi tetes yang jatuh ke permukaan
Dia adalah tanah yang basah dan berbekas

Malam ia terduduk
Memeluk kedua kakinya, isyarat dingin memakinya
Menyelimuti setiap pori-pori tubuhnya
Menggigit bibirnya sedari pucat menjadi terciprat darah-darah kesalnya

Hiruk pikuk kota bukan lagi dirinya
Ia adalah sisa-sisa yang ia banggakan
Tentang keramaian yang ia cipta
Kemudian menghilang setelahnya

Ada cahaya di ujung matanya
Cahaya yang begitu basah
Ia tidak merasakannya,
Karena perih di jiwanya lebih basah dan lebih gelisah

Ia adalah yang terbuang
Dari lingkungan caci maki, iri dengki, dan arogansi
Sudah, aku tidak ingin lagi membuatnya menjadi puisi
Karena aku tau dia sedang mengungsi dari wajah palsunya yang bukan miliknya

Bontang, Minggu 23 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar