Di tempat yang sunyi ini
Aku berbaring pada alas-alas sepi
Kurasakan dingin memeluk hati yang sangat lama telah menanti musim-musim keramaian
Kudengar radio di tengah-tengah suara jangkrik di luar sana
Seketika, suaranya menyerupai paduan suara yang tidak bernyanyi, menertawakanku yang sedari tadi merasa sendiri
Kurindukan pelukan-pelukanmu malam itu sayang, setelah kita berpelukan dan bercinta sepanjang malam kita bercerita tentang dongeng-dongeng yang ada pada imajinasi otak kita
Dan kau pergi meninggalkanku bersama dengan dongengmu itu, kau tau sayang? Kerap kali aku mencoba menceritakan ulang dongeng itu, tapi aku selalu gagal untuk mengakhirinya, karena cerita akhirnya membuatku seperti bercermin pada sisa puing-puing kenangan kita, tentang seorang wanita muda yang pulang membawa kekecewaannya karena dibunuhnya impiannya oleh kekasihnya yang menginginkannya tetap tinggal dan menangis tersedu-sedu.
Hidup memang kadang memaksa kita untuk berimprovisasi tentang skenario perjalanan, padahal kita sudah mengatur jalan cerita sendiri.
Aku tidak ingin terlalu melankolis lagi, yang kuiginkan hanya sederhana: pulanglah, bawa kembali dongengmu yang tidak bisa ku akhiri itu.
16 Februari 2015
Herman Mansa & Dongeng tanpa akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar