Pernah ku dengar anak tangga itu meringis
bersamaan dengan suara pintu pun ikut meringis
kudapati wajah lelah itu, raut jelas tampak gelisahnya
tidak ku dapati bahagia akan hari ini kepadanya
dia yang katanya tidak mengenal lelahnya hari
tadi sumpah, aku melihatnya menangis
bukan karena hatinya pelan di gores
tapi karena hatinya iba dengan nasibnya
sekitarnya mana tahu tentang derita, apalagi deritanya
Tuhan pun kutemui sedang menonton permainannya
"sebentar, akhirnya belum kubentuk maaf ya"
mati rasa, yang mencipta sedang bermain dengannya
aku masih merangkak waktu itu
kalimat yang terucap cuma deretan tangis
kadang aku merasa berdosa
ku kira tangisku mengalihkan perhatiannya, tidak dia ikutan menangis
malam itu aku tidak mau tau
lebih baik menguras air mati bersama
daripada kulihat dia menangis sendiri
aku kesal waktu itu
sangat kesal ...
"Untuk Ayah yang meninggalkan kami"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar