Minggu, 22 Mei 2016

Dinding Bicara

Lelaki itu, lelaki yang selalu menghiasi keramaian Kampusku, Fakultas Ilmu Budaya unmul yang letaknya terbilang strategis di tengah-tengah kota Samarinda. Semenjak aku menempuh perkuliahan di Kampus ini, lelaki itu selalu  saja menjadi pemandangan yang menghiasi kampus, sosok lelaki ini bukan Mahasiswa maupun dosen apalagi seorang yang ditugaskan pihak Kampus untuk membersihkan kampus ketika seluruh kegiatan perkuliahan akan usai seperti biasanya.

Lelaki ini memiliki gangguan kejiwaan, bisa dibilang sebagai orang gila, tetapi sepertinya tidak gila, mungkin setres atau mungkin apapun itu yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan, kupikir lelaki ini hanya datang sesekali di Kampusku tapi ternyata cukup sering!, lelaki ini tidak mengganggu, kegiatannya hanya duduk dan tertidur di samping ruangan kelas, pernah sesekali aku melihat seseorang memberikannya uang, kupikir lelaki ini akan mempergunakannya untuk membeli kebutuhannya, ternyata tidak! Aku sempat melihatnya duduk sambil menguliti uang, uang yang tadinya sangat berguna digunakan sebagai alat pembayaran kini uang itu hanya selembar kertas biasa yang telah dirobek-robek, untuk menjadi pengganjal lemari saja tidak akan bisa, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah, kenapa!?, ya kupikir pertanyaanku barusan adalah pertanyaan yang bodoh, orang yang memiliki gangguan kejiwaan mana mungkin akan berpikir sampai kesitu.

Pernah aku menanyakan ke senior-senior di Kampusku, tentang latar belakang lelaki itu, jawabannya berbeda-beda ada yang berkata lelaki itu dulunya adalah mahasiswa yang gagal di ujian skripsi kemudian menjadi tidak waras dan juga ada juga yang berkata lelaki itu dulunya adalah lelaki yang ditolak cintanya oleh seorang gadis kemudian menjadi seperti itu, menjadi orang yang memiliki gangguan kejiwaan.

Aku pernah berpikir menanyakan hal itu langsung ke lelaki itu, aku memang orang yang sangat kurang kerjaan, tapi rasa penasaran sering menggangguku. Akhirnya aku menemukan kesempatan yang sangat pas untuk bertanya,

“pak, sedang apa ?”, tanyaku basa basi

“saya bisa main gitar, mau lihat saya main gitar ?”, jawabnya dengan tenang.

Aku salah, aku sangat salah bertanya kepada lelaki yang memiliki gangguan jiwa, aku khawatir setelah aku bertanya lagi aku pelan-pelan akan menjadi manusia dengan gangguan kejiwaan juga!, tapi aku penasaran, kadang aku berpikir sifat penasaran yang kumiliki sewaktu-waktu pasti akan mencelakakanku, tapi aku tidak peduli, aku mencoba bertanya kembali

“sudah berapa lama tinggal disini ?”, bertanya lagi dengan sabar

“lebih lama dari pohon kelapa itu, disini kotor, banyak sampah, mereka seenaknya, aku kemarin bicara sama dinding kelas katanya dia sedih”, jawabnya dengan penuh perhatian

Baiklah, kali ini jawaban yang kuterima cukup memuaskanku karena pertanyaanku terjawab dengan benar, tapi ada yang mengganjal pikiranku, bagaiamana lelaki ini bisa berbicara dengan dinding dan bahkan melakukan percakapan!, ah, benar-benar kalau saja aku masih melanjutkan pertanyaanku mungkin aku juga akan ikut-ikutan jadi gangguan jiwa, karena aku merasa akan sia-sia apabila terus bertanya, maka aku memilih untuk meninggalkannya,

“pak saya pergi dulu”, dengan nada yang sopan akhirnya aku pergi

“kenapa tidak dari tadi”, jawabnya sambil tertawa

Sial!, ternyata dari tadi lelaki ini mengharapkan aku pergi,” tenang pak aku akan pergi dan ini mungkin kali terakhir aku berbicara dengan bapak”, sambil menggerutu dalam hati.

Masuk ke dalam kelas aku masih saja kepikiran dengan jawaban lelaki itu “dinding sedih”, ucapku secara tidak sengaja, apa iya dinding itu merasa sedih, tapikan dinding itu benda mati, mana mungkin!, oke aku khawatir sepertinya aku akan mulai gila.

Keesokan harinya

Hari ini perkuliahan dimulai agak pagi, dengan wajah yang masih mengantuk aku datang ke kampus, tapi ada pemandangan yang aneh sekali pagi itu, tepat di samping kelas ada sesuatu yang kurang, dan benar lelaki dengan gangguan kejiwaan itu, kemana dia?, baru hari itu aku tidak melihatnya, biasanya dia akan duduk sambil menguliti uang-uang pemberian orang-orang yang merasa iba dengannya, paling tidak dia akan tertidur di samping kelas dengan santainya seperti tidur di kamar sendiri, walaupun hal ini kuanggap tidak cukup penting, tapi ini aneh, atau lelaki itu diusir!, ah, tidak mungki, lelaki itu tidak pernah mengganggu, bahkan dia sesekali membersihkan sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh mahasiswa-mahasiwa yang tidak tahu sama sekali makna slogan “Jagalah kebersihan sekitar”.

Tetap saja hal ini menjadi pemandangan yang aneh, tiba-tiba aku berpikiran positif mungkin lelaki itu pergi menjelajah entah kemana dan kemudian merasa nyama dengan tempat yang ia jelajahi sekarang, paling-paling dia akan kembali kemari duduk dan tertidur di tempat favoritnya itu.

Aku masuk ke dalam kelas, perkuliahan menurutku sangat tidak menarik, kadang-kadang aku megutuk jadwal kuliah pagi yang seenaknya ini dan disitulah aku kadang-kadang iri dengan teman-teman kelas lain yang mendapat giliran kuliah siang hari. Hari itu aku tidak fokus, semua kalimat-kalimat yang terucap di mulut dosenku seperti berita radioa yang sangat membosankan.

Perkuliahan selesai

Akhirnya perkuliahan selesai tepat pukul 10.00 WITA, ketika aku ingin pulang tiba-tiba teman sekelasku bernama Ennu menegurku,

“mau kemana?, jangan pulang dulu, ayo ke akademik, ada film monoton tapi seru”, ajaknya dengan tidak sabar

“apaan?, monoton mana ada yang seru”, jawabku dengan heran

“sudah, ikut aja”, ajaknya dengan sedikit memaksa

Mau tidak mau aku ikut, ya minimal aku bisa cepat tahu apa yang ia maksud dengan “film monoton tapi seru!”. Sesampainya di akademik tiba-tiba rasanya aku ingin tertawa keras-keras tapi aku menahannya karena tentu saja tidak nyaman tertawa keras-keras di ruang akademik dengan keramaian mahasiswa seperti itu, ternyata yang ia maksud dengan “film monoton tapi seru!” itu adalah rekaman CCTV kampus yang benar-benar menampilkan adegan-adegan monoton sepanjang masa, mahasiswa datang kemudian berkaca dan kemudian pergi entah kemana.

Tapi ada yang aneh, rekaman CCTV di samping kelas persis si Lelaki gangguan jiwa itu sering duduk dan tertidur, sekilas hanya biasa saja, lelaki itu duduk dan bersantai, tapi tiba-tiba datang seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dan buang air kecil ke dinding!, dalam rekaman itu Lelaki gangguan jiwa itu tiba-tiba marah dan terjadi perkelahian, lelaki itu terlihat melawan dengan sekuat tenaga, tetap menghalangi pria yang tiba-tiba datang dan buang air kecil tadi, aku sempat kaget, kenapa dia berani sekali, bagaimana kalau dia celaka!?, dan benar lelaki gangguan jiwa itu celaka, dia babak belur demi melindungi gedung kampus agar tidak di kotori oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Semenjak saat itu aku sadar, lelaki itu pasti sedang kesakitan atau mungkin dia sekarat!, aku sangat menyesal mengabaikannya, padahal dia mempunyai niat baik, dia hanya ingin kampus kami tetap bersih!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar