Malam ini dingin menusuk pelan-pelan
Seolah sengaja karena ia jengkel
Sedangkan aku yang pelan-pelan terbaring
Di bawah selimut malam, yang sedari tadi telah mencoba menulis puisi di pangkuan langit
Aku merindukan hangat, dari seseorang di seberang sana yang kusebut kekasih,
Mungkin ia sekarang sangat sedih mungkin ia sekarang sangat senang
Sungguh, aku tidak peduli dengan rasa-rasanya malam ini
Di bawah selimut malam dan dingin yang menusuk pelan ini, aku mengirim maaf dari tenggorokanku yang mengering ke bibir yang menggigil dan di antarkannya ke udara, biarkan tuhan bekerja dan menyuruh reaksi ini mengubahnya menjadi sebuah kata sederhana yang menghiasi gelisah malam ini
Inilah rindu, suatu zat yang tidak bisa dilihat mata, dirasa kulit, dan dicium wanginya
Inilah aku, suatu zat yang tidak bisa bertahan atas kemauan-kemauanmu
Semua semu sayang, hanya ada rasa dan rindu yang memaksakan dirinya menjadi nyata
Biar kupikir-kupikir lagi, pasti kau mengucapkan selamat malam dan selamat tidur untukku
Baiklah, selamat malam dan selamat tidur juga sayang, semoga hujan esok, lusa, atau malam ini menghapus perasaan kita masing-masing, biar jarum jam yang sedari dulu berdetak itu mencapai tujuannya,
Untuk mengubah rindu kita menjadi acuh.
Untuk seseorang yang dulu kekasih
Samarinda, 23 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar