Sabtu, 25 Juni 2016

Untuk Wanita Yang Kusebut Emak.

Aku dan emak sedari pagi berdebat tentang masa depan, aku bilang semua sudah di atur dan sudah dibukakan jalan oleh gusti allah, tapi emak berkata kalau kita hidup santai tanpa usaha hanya berharap dengan jalan gusti allah sama saja kita bermain-main dengan takdir.

Aku dan emak selalu berbeda pendapat, pendapatnya kadang bagus, tapi perlawananku tidak kalah bagus.

Mak, aku sangat paham kita sedang berada pada garis kesulitan, aku sangat paham akulah si anak laki-lakimu yang kau banggakan, pasti kau tidak menyangka aku memilih jalan yang menurutmu aneh, jalan menjadi seorang sarjana sastra.

Kita sering berdebat masalah masa depanku, kupikir semua ada jalan, tapi kau selalu memberi banyak alasan di setiap pembelaanku.

Satu hal yang aku pahami, di balik semua gelisahmu di hari senja, akan menjadi kebahagiaanmu di hari senja. Sayangnya, aku belum menyentuh senja mak, aku masih dini hari, aku masih ingin melihat-lihat dunia.

Semenjak laki-laki yang akrab ku panggil bapak meninggalkan kita, aku belajar untuk tidak sebajingan dia, dengan meninggalkanmu seperti ini.

Aku laki-laki dan dia juga laki-laki, di darahku mengalir darahnya, tapi jangan lupa di darahku juga ada darahmu. Darahmu yang akan terus mendominasi, selamanya akan terus begitu. Kau cukup memberikan kasih sayangmu, maka hal itu yang akan mendorongku untuk memberikan hal serupa kepadamu.

Aku tidak tahu kapan inti hidupmu redup, setidaknya kau harus tahu mak, kau sudah berhasil karena aku menulis ini untuk kita, sekurang-kurangnya aku sudah memikirkan kita.

Dari anakmu yang membingungkanmu

Minggu, 26 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar