Sabtu, 18 Juni 2016

Sebenarnya Jatuh Cinta itu Bagaimana?

Ada seseorang pernah berkata begini, “cinta itu original dan cinta itu abadi. Yang membuatnya tidak original dan tidak abadi adalah orang yang sedang menjalankan cinta itu sediri”. Sebagian kita pasti akan setuju dengan kalimat ini, dan sebagian lagi pasti tidak akan setuju begitu saja terhadap kalimat ini, kali ini aku akan menguji secara langsung apa benar statement ini benar atau tidak, tentu saja aku akan mengujinya dengan pengalaman empirisku secara pribadi dan kutekankan sekali lagi ini adalah sudut pandangku.

Banyak orang yang datang di kehidupan kita tentu saja banyak juga yang pergi dalam hidup kita, ini adalah fenomena yang wajar, hidup ini seperti roda dan roda selalu berputar, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan kedatangan seseorang yang spesial menurut kita dan orang itu juga pastinya akan pergi begitu saja, tidak menurut kemauan kita.

Berbicara tentang cinta, banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa cinta itu begini dan cinta itu begitu, sebenarnya apa pernah kita benar-benar merasa jatuh cinta?, apa tidak sempat terpikir oleh kita bahwa sebenarnya cinta itu adalah produk perasaan rekayasa manusia itu sendiri?, memang rumit, sekurang-kurangnya kita pernah mengalami hal ini.

Ketika ada seseorang yang datang di kehidupan kita tanpa kita inginkan, dan tanpa kita inginkan juga orang ini mulai merembet masuk ke dalam sela-sela kehidupan kita, membuat kita merasa nyaman, membuat kita merasa aman, dan bahkan berangsur-angsur membuat kita tidak dapat terlepas olehnya begitu saja, apakah ini dapat dikategorikan sebagai cinta?, mungkin sebagian dari kita akan mengatakan bahwa hal ini adalah cinta, bisa juga sebagian kita mengatakan hal ini adalah hal biasa dan sering terjadi. Aku tertarik membahas yang terakhir yaitu, “hal itu biasa dan sering terjadi”, aku sangat yakin banyak orang yang menjadikan kalimat itu sebagai kalimat pembelaan dan menggunakan kalimat itu sebagai kalimat untuk membuat diri merasa terhibur dikala kehilangan sebuah cinta.

Satu-satunya masalah dari kalimat barusan adalah, kalau kita merasa hal itu biasa terjadi, kenapa kita sering mengalaminya berulang-ulang kali?, mungkin sebagian pernah dan sebagian lagi tidak, tapi aku lebih tertarik untuk membahas dari yang sebagian pernah mengalaminya.

Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai entah bagaimana caranya, entah orang yang kita cintai merasa bosan, entah orang yang kita cintai merasa kita sudah tidak berguna baginya, entah apapun itu, di sinilah cinta menjadi sesuatu yang bernilai ‘jahat’. Semua hal akan menjadi penjahat pada waktunya, tidak terkecuali cinta itu sendiri.

Kapan cinta itu menjadi menyenangkan?

Jawabannya adalah ketika cinta itu memberikan apa yang kita inginkan, lebih tepatnya ketika cinta memberikan kita suatu ketergantungan dan kita merasa ketergantungan ini sangat membahagiakan. Kita mengenal seseorang dan seseorang ini menjadi begitu spesial, kita akan merasakan kebahagiaan dari produk cinta apabila seseorang ini membalas cinta kita. Dan ketahuilah semua orang bisa berubah, suatu saat orang itu akan meninggalkan kita begitu saja, begitu mudahnya tanpa rasa bersalah, dan secara tiba-tiba kita akan berubah menjadi orang yang sangat egois, kita tidak merelakan kepergiannya, kita marah, kita ingin berontak, dan kita merasakan keinginan yang sangat kuat untuk mempertahankan seseorang itu tanpa memikirkan perasaannya kepada kita, apakah kita sadar?, pelan-pelan kita sudah menjadi penjahat. Yang awalnya kita merasa bahwa penjahat yang sebenarnya adalah dia yang meinggalkan kita dan kita adalah korban dari kejahatannya, kemudian secara tiba-tiba kita memiliki hasrat untuk mempertahankannya. Ketahuilah, apabila hasrat itu kita teruskan maka kita sudah menjadi penjahat yang sesungguhnya, bahkan bisa menjadi penjahat yang lebih jahat dari orang yang awalnya meninggalkan kita.

Aku

Aku pernah jatuh cinta kepada seseorang, usianya lebih tua dariku, tapi itu bukan hal yang menghalangi sebuah cinta, cinta itu buta. Kami sama-sama berusaha saling membahagiakan, kami sama-sama mencoba untuk melengkapi satu sama lain, sampai kami lupa ternyata diantara kami sedang terikat pada sesuatu yang lain, lebih jelasnya salah satu dari kami terikat oleh cinta yang lain, dan hasrat berkata “kita juga memiliki cinta yang lain”, yang lain disini adalah cinta antara aku dan dia saat itu juga. Ironis.

Pertanyaan terbesarnya adalah : apakah cinta memiliki batasan untuk mencinta?. Sebagian orang akan berpikir apabila kita dicintai oleh seseorang, maka orang itu sepenuhnya adalah milik kita, jadi bagaimana kalau kita juga mencintai orang lain selain dia?, apakah masih bisakah kita dikatakan memiliki hak sepenuhnya terhadap orang yang awalnya kita cinta sebelum kita mencintai orang lain?, lihat!, batapa egoisnya kita memainkan cinta.

Melepas, merelakan, meninggalkan, mengubur dalam-dalam adalah hasil dari cinta yang egois, cinta yang menggunakan hasrat utama dalam memulainya.

Aku belajar sesuatu yang penting, setiap kita pasti memiliki cinta dan perasaan kepada satu orang saja dan selamanya adalah orang itu saja, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan mencoba membuka hati kepada orang-orang yang datang di kehidupan kita, bagaiamana dengan orang yang benar-benar kita cinta di awal tadi?, aku menjadikannya sebuah tujuan, memang jahat, tapi tidak selamanya jahat apabila kita mengatasnamakan itu sebagai proses menuju bahagia.

Cinta adalah reaksi, cinta adalah candu, kita adalah yang bereaksi dan kita yang menjadi pecandu.

Yang cinta ketahui hanyalah : dia murni, dan dia suci.

Yang cinta ketahui tentang kita adalah : kita manusia, kita manusiawi, kita dengan gampang dapat meminjam konsep cinta, tapi seenaknya dapat menodai kemurnian cinta itu sendiri.

Kita adalah penjahat yang sebenarnya, kit adalah masalah yang sebenarnya. Kita bebas memiliki cinta, tapi apakah kita berdosa telah menghilangkan kemurnian cinta itu sendiri?. Jawabannya tentu ada di diri kalian sendiri.

Open your mind and fix your heart.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar