Rabu, 08 Juni 2016

Kisah Kopi dan Permen

Biasanya malam hari itu aku selalu tidak ada kerjaan, mau kerja tapi kerja apa malam-malam, mungkin nanti ketika aku sudah lulus kuliah baru aku bisa ada kerjaan, tapi aku juga punya teman yang sudah kerja sambil kuliah, tapi ribet menurutku, aku tipe orang yang harus fokus dengan satu kerjaan yaitu kuliah, eh ternyata aku sudah punya kerjaan, yasudah syukurin aja.

Karena malam hari aku sering tidak ada kerjaan, jadi malam hari itu aku sering pakai waktuku untuk tulis cerita, apa saja ceritanya yang penting itu, dia berbentuk cerita. Malam itu, aku sempatkan jalan keluar dulu buat beli kopi, kopi sachet tapi, bukan kopi yang langsung dari bijinya, nanti ribet aku buatnya, coba kamu pikirkan, misal aku malam-malam berangkat pergi beli kopi yang bijian, terus aku berangkat lagi pergi ke pabrik penggilingan biji kopi supaya jadi bubuk kopi, nah kebayang kan ribetnya?, karena itu aku sangat suka dengan konsep manusia modern sekarang yang menciptakan kopi yang bentuknya sachetan, ya, karena enak aja nanti habis beli, bayar, kemudian aku pulang terus aku buat, terus selesai aku buat aku minum, nah lebih simpel. Eh, sampai mana tadi?, oh iya kamu tidak usah kasi  tau, aku sudah ingat aku berangkat pergi beli kopi, pertama aku ambil kunci kamar dulu, setelah itu aku kunci kamarku, setelah aku kunci kamarku, aku keluar kost untuk berangkat beli kopi sachet, eh dan ternyata setelah sampai di tempat parkiran kos-kosan, aku lupa bawa kunci motor, jadi aku berniat untuk ambil kunci motor, aku tidak usah ceritakan prosesku untuk kembali ke kamar untuk mengambil kunci motor, nanti kamu jenuh.

Setelah aku kembali ke parkiran kos-kosan dengan kunci motor di tangan kananku, akhirnya aku berangkat ke warung depan gang untuk beli kopi sachetan. Akhirnya sampai juga di warung depan gang, yang jualan di warung itu orang tua, mukanya serem, tapi tidak punya tato, tapi itu ide bagus untuk menanyakan langsung ke yang punya warung begini, “pak, mukanya serem tapi ko gapunya tato?”, tapi aku tidak sampai hati begitukan orang tua, karena aku takut nanti yang punya warung salah paham, soalnya dia orang tua dan kamu tau sendiri kalau orang tua itu pasti suka salah paham, jadi kalau kamu punya teman terus dia suka salah paham, mungkin dia itu orang tua, atau mungkin dia sedang menuju masa penuaan. Bisa jadi!.

Kira-kira dialogku sama yang punya warung itu begini, “pak, saya mau beli kopi uang saya ada enam ribu rupiah, kira-kira dapat berapa?”, sebelumnya aku sudah tau kalau harga kopi sachetannya itu dua ribu-an satu sachet, tapi tidak apa-apa namanya penjual ya harus siap untuk ditanya-tanya, siapa suruh jualan!.  Kemudian yang punya warung jawab, “kalau lima ribu dapat dua bungkus angsul seribu”, langsung ku jawab begini, “saya ambil kalau begitu pak”, terus dia Tanya, “dua bungkus?”, ku jawab lagi, “kalau bapak mau kasi saya satu lagi tidak apa-apa”, di jawab lagi sama bapaknya, “tidak usah, jadi dua aja”, waktu yang punya warung ngomong gitu, aku bilang gini, “emangnya yang mau beli tiga siapa?”, tapi dalam hati, takut tidak sopan kalau bicaranya di luar hati. Tidak lama kemudia yang punya warung kasi dua bungkus kopi sachet, aku tidak langsung pulang soalnya yang punya warung belum kasi duit angsulannya seribu, dan tidak lama kemudian yang punya warung kasi sesuatu, tapi bukan uang seribu, malah permen, langsung aku bilang gini, “pak, saya tidak beli permen, saya Cuma beli kopi”, kemudian bapaknya jawab, “itu permen harganya sama dengan seribu, sama aja”, kemudian kujawab, “jadi sama aja?, oh baru tau, peraturan dari pemerintah kah pak?”, dijawab sama bapaknya, “bukan!, ya peraturan saya”, tanpa basa-basi aku terima permennya tapi tidak aku makan, soalnya aku Cuma mau minum kopi bukan makan permen!.

Aku pulang ke kosan, aku simpan kopi di atas meja kamar, kemudian permen yang diberikan oleh yang punya warung aku kantongin, aku ambil uang di dompet senilai tiga ribu rupiah, kemudian aku keluar kosan lagi aku menuju warung yang berbeda, warung yang sekarang yang jualan ibu-ibu, “bu, beli permen tiga ribu”, tidak lama kemudian ibu itu memberikan permen cukup banyak dan aku kantongin, kemudian aku kayuh motorku, eh maaf, maksudku aku gas motorku ke warung tempatku beli kopi tadi. Sesampainya di warung itu, aku turun dari motor, datangin si penjual, “pak, saya beli kopi lagi, beli dua”, kemudian yang punya warung kulihat sibuk menggunting kopi sachetnya, “semuanya empat ribu”, kata yang punya warung, kemudia aku berikan yang punya warung permen yang aku beli di warung sebelumnya dengan tambahan angsulan permen yang di berikan bapaknya tadi, “ini pak, ini harga semuanya empat ribu, cukup dua bungkus kopi sachetan”, kemudian kamu tau apa yang terjadi?, marah dia. aneh, menurutku. Terus dia bilang begini, “engga bisa, beli ko bayarnya permen!”, karena kaget langsung kujawab begini, “loh, tadi bapak angsulin saya permen harganya seribu!, ini coba dihitung permennya pak, semua harganya empar ribu pas!”, jawabku sambil menjelaskan. Terus apa kata bapaknya?, dia bilang begini, “mana permen yang saya kasikan tadi!”, kemudian aku berikan permen yang nilanya seribu rupiah tadi, dan di ambilnya, mukanya seperti marah-marah, tapi aku tidak peduli, karena sejauh ini aku benar. Kemudian dia jalan, dia perintahkan aku untuk menunggu, sambil raut mukanya kesal, tidak lama kemudian dia kembali dan memberikan saya uang seribu rupiah, “ini kembalianmu yang tadi!”, nah, tambah kaget aku, kenapa dari tadi tidak dikasikan uang seribu rupiah?.

Kemudian aku pergi meninggalkan bapak itu sambil bilang begini, “terima kasih pak!”, dan dijawabnya begini, “iya!, sama-sama!”, mukanya nampak kesal, tapi aku tidak peduli, sekurang-kurangnya aku benar.

Besok-besoknya, teman satu kosanku habis beli sesuatu di warung depan gang, katanya begini, “aku heran sama bapak yang jualan di warung depan”, ku jawab, “lah, kenapa?”, dia lanjut begini, “duitku lima ribu, terus aku beli permen tiga ribu, terus di angsulin kopi sachet sebiji, senang aku!, ha ha ha”, nah, tambah kaget aku!. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar