Di bawah remang-remang lampu jalan cahaya-cahaya kendaraaan menjadi teman yang hangat menemani kami berempat untuk duduk di samping jalan sambil menikmati segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok akhirnya kami berkumpul kembali, anak-anak yang mengantongi pengalamannya masing-masing, pengalaman yang sengaja kami kemas menjadi sebuah cerita yang manarik untuk mereka suguhkan menjadi pelengkap kopi, rokok dan keramaian jalan.
Dulunya kami anak-anak yang menempuh sekolah menengah atas di kota kecil ini, kota Bontang namanya sebuah kota industri yang cukup ramai ketika jam kerja saja, ketika malam hari juga tidak kalah ramai, para warga-warga kota menjelma menjadi pasukan-pasukan pengincar kenikmatan malam dengan duduk bersantai di sebuah angkringan hanya untuk bertukar cerita di sana, kami berada pada suasana itu.
Ini adalah agenda rutin kami, biasanya kami memanfaatkan waktu liburan dengan bertemu satu sama lain, secara kebetulan kami adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di luar kota, aku pribadi menempuh kuliah di Samarinda, mereka adalah Fafa, Taqin, dan sebenarnya masih banyak lagi, tetapi secara kebetulan mereka belum bisa bergabung malam itu karena mereka masih memiliki urusan di kota rantauan mereka masing-masing, tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk menciptakan momen pertemuan dan saling tukar cerita.
Fafa adalah teman seangkatanku waktu SMA dan sekarang ia menempuh kuliah di Kota Balikpapan, dan Taqin adalah teman yang satu tingkat di bawah aku dan Fafa, Taqin juga menempuh kuliah di Balikpapan. Malam itu hanya aku sendiri yang berkuliah di Samarinda, jarak antara kota Samarinda dan Balikpapan kira-kira 3 jam perjalanan menggunakan transportasi umum ataupun pribadi.
Malam ini kami bertukar cerita, mulai dari aku, aku menceritakan pengalamanku di Kampusku, mulai dari aku aktif di suatu kegiatan Teater dan kegiatan-kegiatan yang telah aku laksanakan selama perkuliahan, aku juga bercerita tentang kegiatanku yang suka menulis cerita-cerita, apapun itu, asalkan aku bisa melampiaskan kegelisahanku melalui cerita, dan tentu saja mereka mendengarkan dengan seksama, karena kami mulai terbiasa bercerita ketika SMA, menurut kami cerita itu mahal, dengan adanya orang yang bercerita maka itu adalah suatu hal yang tidak boleh terlewatkan sama sekali, mumpung gratis.
Kemudian giliran Fafa yang bercerita, ia bercerita seputaran kegiatannya di kampusnya, ia aktif pada kegiatan-kegiatan di kampusnya, khususnya ia selalu menjadi bagian dari tim dokumentasi acara-acara kegiatan, ia bercerita tentang proyek-proyek yang sedang ia kerjakan, dan bahkan ada proyek yang sangat terpaksa ia harus bawa pulang ke Bontang untuk dikerjakan, baginya itu tidak masalah karena ia menyukainya, ia tipe orang yang sangat menyukai dunia yang berhubungan dengan multimedia, dan uniknya karena hobinya membuat video, ia sering ditunjuk untuk membuat suatu proyek video dokumentasi setiap kampunya mengadakan acara, menutuku ia cukup sibuk tetapi aku yakin ia sangat menyukai itu, aku mengenalnya dari SMA, memang kegiatan-kegiatan seperti itu yang menjadi makanannya.
Terakhir adalah Taqin, karena ia yang paling muda di antara kami, tentu saja ia juga mempunyai pengalaman yang tidak kalah seru, selain bercerita tentang pengalaman pertamanya mengenal dunia perkuliahan, ia juga bercerita bahwa kini ia aktif di sebuah proyek bengkel di kampusnya, dan aku rasa ia sangat menikmati hal itu, tidak pula aku lewatkan pertanyaan-pertanyaan tentang otomotif dan semua hal yang berkenaan tentang kendaraan bermotor.
Setelah bertukar pengalaman tentang dunia kampus dari masing-masing kami, kami beralih kee topic yang lain, tapi entah mengapa pengalihan topik ini sungguh tidak sengaja, kami beralih pada topik tentang problematika dan suka duka ketika kami berkegiatan di masing-masing kampus kami, pertama-pertama aku bercerita bahwa kampusku adalah kampus yang sangat muda, usianya belum mencapai sepuluh tahun, masih berjalan enam tahun, dan kampusku mulai ramai dipadati oleh kegiatan-kegiatan organisasi, begitu juga dengan Fafa dan Taqin, kampus mereka sama-sama kampus yang juga baru-baru berdiri, dan kampus mereka masih dalam tahap perkembangan dan secara kebetulan suka duka kampus kami masing-masing memiliki kemiripan, yaitu sama-sama masih tahap peerkembangan dan juga seringnya terjadi sentiment-sentimen dari masing-masing organisasi serta sentiment-sentimen masing-masing mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jati diri masing-masing.
Aku sampai dapat menarik kesimpulan sederhana, sepertinya kami sebagai anak-anak yang menyandang status sebagai mahasiswa cukup di untungkan karena sedari dini, kami sudah dihadapkan pada masalah-masalah dan dijauhkan pada zona nyaman, dan kami sangat sepakat bahwa hal inilah nantinya akan menjadi pemicu kami untuk berkembang, pada momen-momen seperti ini, kami selalu terjun pada percakapan-percakapan serius, hal ini sangat bermanfaatkan menurutku, setidaknya, kami telah menyesuaikan usia kami sekarang ini, kini kami bukanlah seorang siswa SMA lagi yang masih suka dengan bersantai dan tidak serius menanggapi dunia luar, kini, kami pelan-pelan terbuka, bahwa di luar sana, ada banyak sekali pengalaman-pengalaman yang menunggu untuk kami cicipi, aku sangat berharap kami akan menjadi manusia-manusia yang dapat menempatkan diri di era manusia modern ini, kami sebisa mungkin sangat menjunjung tinggi apa arti sebuah makhluk sosial, karena pada jaman kekinian ini, sangat jarang sekali kami menemukan komunikasi-komunikasi verbal antar manusia satu dengan yang lainnya yang berjalan secara langsung, kini, komunikasi-komunikasi verbal telah berganti media menggunakan sosial media. Sebisa mungkin kami menghindari hal-hal itu, jaman boleh berubah tetapi, cerita tetaplah cerita tidak asik sekiranya cerita hanya disampaikan melalu media sosial.
Kami mempunyai kebiasaan unik, setiap kami berkumpul sebisa mungkin kami menyimpan gadget-gadget kami, sangat dilarang keras berkumpul dan sesekali melirik gadget kami. Setidaknya mereka belum berubah, merka masih dan akan selalu menjadi teman-teman yang tetap menjunjung tinggi ap arti makhluk sosial yang sebenarnya.
Teruntuk teman-temanku yang masih memiliki urusan di kota rantauan kalian masing-masing, segerakan diri untuk pulang, karena cerita kalian sangat kami nanti, cerita kalian bernilai mahal, kami sangat membutuhkannya.
Hati-hati sampai kerumah sobat!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar