Minggu, 12 Juni 2016

Tim Sukses Dadakan!

Hari ini aku kehabisan duit, kalau anak muda jaman sekarang yang masih belum bekerja pasti minta duit ke orang tua, hal ini sangat berbeda dengan aku pribadi, kalau bisa hal-hal yang seperti itu akan aku hindari, karena apa?, karena kalau minta duit ke orang tua apa jawabannya?, jawabannya akan kira-kira seperti ini, “anak laki-laki kan?, bisa cari duit sendiri kan?”, oke jawaban ini sebenarnya jawaban yang sangat-sangat bisa menjawab semua keresahanku sebagai anak laki-laki yang sedang berjuang untuk kuliah, bukan bekerja!. Karena harapan minta duit ke orang tua kemungkinanya adalah 0,00% mau tidak mau aku harus memutar otak, buat kamu yang tidak megerti maksudnya memutar otak itu apa, sini aku kasi tau, memutar otak itu artinya “mencari jalan lain”, nah jalan lain apa yang aku cari?, nah begini, aku punya saudara perempuan dia lebih tua dari aku, kenapa bisa lebih tua?, Tanya sendiri ke orangnya kenapa bisa lebih tua, secara biologis dia keluar dari rahim emak lebih dulu dari aku, makanya dia lebih tua. Namanya sebut saja Irma (walaupun memang namanya ya itu), ya tidak apa-apa biar panjang aja paragrafnya. Saudara perempuanku yang bernama Irma ini berjenis kelamin perempuan dan sudah punya suami serta sudah punya anak laki-laki, besarnya kira-kira segini, ya segini, kamu kira-kira aja sendiri. Kebetulan hari ini suaminya gajian nah aku berencana kerumahnya dan minta duit, sebenarnya sifat orang tuaku agak mirip dengan saudara perempuanku ini, mereka sama-sama agak sedikit susah kalau dimintain duit, tapi bedanya saudara perempuanku ini kalau dimintain duit harus ada mukadimahnya dulu baru dikasi duit, nah kalau kamu tidak tahu lagi apa itu mukadimah kamu keterlaluan!.

Mukadimah itu kuanggap sebagai pembukaan, lebih kasarnya bertele-bertele, nah, saudara perempuanku ini orangnya begitu, suka bertele-tele, kalau dimintain duit pasti banyak ceramahnya, tapi ujung-ujungnya dikasi duit juga. Menurutku, orang yang suka bertele-tele seperti saudara perempuanku ini adalah tipe orang yang sangat-sangat tidak efektif, ya sederhana sebenarnya, kalau ujung-ujungnya ngasi duit kenapa perlu bertele-tele dulu?, tapi sifat orang pasti beda-beda, termasuk orang tuaku dan saudara perempuanku ini, memang sifatnya agak sedikit sama kalau masalah keuangan, tapi mereka punya cara yang berbeda-beda.
Hari itu sedang sore, kira-kira warna langit sedang jingga, gatau kenapa, dari dulu sih gitu kalau sore warnanya jingga, pernah aku komplain kenapa warnanya jingga, dan aku komplainnya ke penjual bakso yang sering lewat depan rumah, mau tau apa jawabannya waktu aku komplain ke penjual bakso itu? Jawabannya gini, “ya kalau hitam berarti malam mas”, ya betul juga, semua orang berhak memberikan pendapatnya, tinggal kita saja yang kuat-kuatan menerima pendapat mereka. Aku menuju kontrakan saudara perempuanku, pakai motorku, kira-kira kecepatanku waktu naik motor itu 40 km/jam, lambat yah?, tidak apa-apa biar dramatis saja. Nah, sampailah aku di depan pintu kontrakan saudara perempuanku, aku ketuk pintunya sambil ngomong gini, “assalamualaikum!”, kemudian terdengar dari dalam ada suara, begini suaranya, “ga ada duit, datang besok aja!”, eh buset, bener kata orang-orang namanya ikatan persaudaraan itu memang kuat, aku belum menyampaikan maksud kedatanganku dia sudah tau maksudku, aku engga mau kalah, aku nyahut lagi, “tidak ko, ini ada berita”, terus dijawabnya, “berita apa?”, ku jawab lagi, “sekarang Jokowi jadi presiden!”, di jawab lagi, “sudah tau!”, ku jawab lagi, “ini beda, sekarang wakilnya Jusuf kalla”, kedengaran lagi suara dari dalam, “memang dia dari kemaren!”, tidak kehabisan akal ku jawab lagi,

“tapi dia ini beda, buka pintu napa!”

“apanya lagi yang beda!”

“beda ini, Jusuf Kalla yang ini dulunya partai Golkar!”

“memang dari dulu Golkar!”

“tapi ini Golkarnya, warnanya Hijau!”

“warnanya dari dulu kuning!”

Karena menyerah, aku langsung masuk ke tujuan utamaku datang kesana,

“ir, aku minta duit!”

“sudah kubilang, ga ada duit!”

“ini penting Ir!”

“penting apa lagi?”

“penting ir, aku butuh duit jadi Tim sukses Jusuf Kalla”, sambil tetap di tutupin pintu
“tim sukses itu di kasi duit, bukan minta duit!”

Karena hampir menyerah, tiba-tiba aku punya akal lagi, aku ambil HP di kantongku dan pura-pura nelpon,

“Haloo !, maaf pak Jusuf, saya tidak bisa dapat duit sekarang ini! // karena yang punya duit tidak kasi duit pak // apa pak?, tembak mati yang tidak kasi duit pak? // waduh saya tidak bisa pak! // ya karena dia saudara saya satu-satunya pak, saya sayang dia, dia adalah satu-satunya malaikat penolong saya! // aku harap bapak paham! // dia adalah darah daging emak dan bapak yang melahirkan saya dan …., tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata saudara perempuanku muncul dari dalam dan merebut HPku, terus dia ngomongnya gini,

“halo pak jusuf // iya pak ini saya saudaranya dia // begini pak // saya mau bertanya, kalau ada saudara mengunjungi rumah kalau ada maunya saja di apakan pak? // apa bunuh !? // iya pak sebentar saya ngomong dulu ke dia orang”,

“pak Jusuf suruh aku bunuh kamu nih”

“matiin saja telponnya ir, dia mungkin setress ngurusin Negara, kan yang ngurus dia tuh setauku”

“oke kalau gitu”, kemudian saudaraku ngomong lagi ke HP

“Maaf pak Jusuf!, saya tidak tega membunuh saudara saya, dia miskin belum bekerja dan juga masih kuliah pak !”, kurebut Hpku dan bertanya ke saudaraku.

“gimana? Dia bilang apa?”

“aman katanya tidak apa-apa”

Aku coba buat ngomong lagi sama Pak Jusuf di HP

“yasudah pak, bapak tenang saja yang disini biar saya saja urus!”, sambil mematikan HP.
Kemudian aku melirik saudaraku,

“jadi bagaimana ir?”

“INI DUIT!”, sambil menyerahkan duit dan raut wajahnya nampak terpaksa sekali, sangat terpaksa!

“semoga amal ibadah Ibu, diterima di sisi Allah SWT, karena sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang seperti ibu ini”, sambil menggombal
“kamu pulang atau  ! ……”
“atau apa?”
“kutelpon Jokowi !”
“ogah, pamit aku ah, Assalamualaikum!”
“waalaikum salam!”, dia jawab.

Begitulah repotnya kalau minta duit ke saudara perempuanku, sampai bawa-bawa pemimpin Negara, aku yakin pemimpin Negara juga mana peduli aku punya duit apa tidak, yakali!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar