CERITA ini berawal dari benda mati, benda mati yang tidak
begitu diperhatikan tetapi ketiadaannya menjadi pusat perhatian, benda mati
yang tidak bisa berbicara tetapi ku buat ia mampu bernyawa layaknya manusia
dengan segala suka dukanya, benda mati ini hidup karena memori yang dibangun
dari pengalaman paling melankolis manusia, manusia yang pernah duduk di
bawahnya kemudian menghilang begitu saja lantaran terbunuhnya suatu kisah di
sana, terbunuh tepat di bawah sinarnya yang malu, ya ini cerita tentang Lampu
Taman yang masih memandang remang dan hidup di bawah belaian kata-kata. Lampu
Taman itu telah mengalami banyak hal, dia menyaksikan dan menerawang sesukanya,
tidak ada kegiatan yang begitu menguras emosi dari benda mati selain
aktifitasnya yang membunuh sunyi dan menikam zaman.
Sinarku yang
pertamakali, kepada teman pertamaku
AKU menyala malam itu, aku melihat, menerka, merasakan pun
juga malam itu, menyentuh bagian-bagian tersulit dari kontur-kontur benda
tempatku hidup hari itu, menurutku ini tempat yang bagus, dan cukup tenang, temanku
satu-satunya adalah Bangku Taman,ia berada tepat di bawah sinarku, ia tampak
bisu dan tidak tau menau prihal apa saja, aku terjebak di antara kematian atau
kehidupan yang sesungguhnya, bahkan Bangku Taman itu enggan bercakap denganku,
mungkin perbedaan kami yang sangat mencolok, aku bisa melihat luas dari atas
sini sedangkan ia hanya mampu menatap dari bawah sana.
Suatu saat aku memberanikan diri untuk menyapanya,
“Maaf, aku tidak terbiasa menyapa, tapi bisakah kau
menegurku sedikit saja kawan ?”
“aku tidak menyapamu, bukan berarti aku tidak bisa
merasakanmu”, jawab Bangku Taman,
“sama sekali aku tidak beranggapan kau tidak bisa berbicara”,
tegurku
“aku pikir kau sama saja seperti lelaki itu, ia datang
menangis dan menggores tulisan yang sebelumnya pernah tertulis di tempat
sandaran yang dikhususkan untuknya dan kekasihnya, sehingga membentuk goresan
yang sangat perih”, ungkap langsung Bangku Taman
“ apa yang terjadi padanya ?”, tanyaku, Bangku Taman mulai
bercerita kepadaku, menceritakan kisah yang telah dialami seorang lelaki itu, dulu
ada sepasang kekasih yang selalu datang menghampirinya, duduk bersandar layaknya
sepasang sejoli, membunuh waktu dan menguras banyak manisnya cinta, kalimat terakhir
yang diucapkan oleh pasangan itu adalah mereka tidak akan berpisah apapun yang
terjadi, dan menggores tulisan pengikat janji pada sandaran Bangku Taman yang
bertuliskan “kau saksi, kau yang
mendengar kami berjanji”, Bangku Taman merasa keberatan menerima amanah
sepihak itu, bahkan dirinya belum sempat mengatakan apakah dia setuju atau
tidak atas keputusan itu, sehingga dirinya juga membuat keputusan “Jangan duduk
tanpa dia”, tetapi lelaki itu tidak mendengar keputusannya dan berlalu begitu
saja
Suatu saat lelaki itu
datang menangis dan menduduki Bangku Taman, tentu saja Bangku Taman sangat
marah karena keputusannya tidak dipenuhi, lelaki itu hanya datang sendiri tanpa
kekasihnya, tapi apalah daya Bangku Taman yang tidak bisa mengungkapkan secara
langsung emosinya, hanya mampu marah dan memaki dalam kebisuannya, tidak lama
kemudian lelaki itu berbicara, “aku tau kau melarangku mendudukimu tanpanya,
aku sangat merasakan kemarahanmu, aku berharap kali ini kau mau mendengar
penjelasanku, wanita itu juga menduduki Bangku lainnya dan menulis janji yang
sama di sana, entah kita adalah makhluk keberapa yang sudah bergantung di
hatinya yang paling penuh rahasia, dia berkhianat kepada kita kawan kita sudah
lukai hatinya, jangan marah kawan kita hanya patut menangis dan menyesali
langkah kita, aku harap kau sepaham denganku, maaf sudah mencoreti sandaranmu
kawan, aku menyesal, sugguh!”.
Bangku Taman merasa terluka hatinya, seketika dirinya
merasakan kecemburuan yang sangat sepi, kecemburuan yang sangat sunyi, dia
menggigil dan ingin membunuh apa saja yang bisa ia akhiri hidupnya, kemudian
lelaki itu duduk dalam lamunannya dan mendengar langsung keinginan Bangku
Taman, ia berkata “Goreslah janji itu sebelumnya, biarkan menjadi simbol kehancuranku”,
lelaki itu kaget dan merasa ada yang memberatkan hatinya untuk menggores janji
yang sudah tercipta itu, “aku tau kesakitanmu lebih dari kesakitanku, maafkan
aku kawan, maafkan!”. Seketika Lelaki itu menggores dan menghilangkan tulisan
janjinya dengan kekasihnya, sehingga hanya tampak goresan yang berbekas luka
yang sangat dalam dan perlahan rapuh dan memudar termakan cuaca nantinya.
Permintaan Bangku
Taman
“hey kawan, bolehkah aku meminta sesuatu ?”, Tanya Bangku
Taman
“Boleh, apa saja”, kataku
“Tolong kau sinari aku, buat aku mencolok, agar janji baru yang
menghiasiku, tidak se Fana kemarin”.
Sampai sekarang dan seterusnya aku menyala untuk
meneranginya, sampai suatu saat datang lelaki yang menulis cerita ini, tanpa dihiasi janji dan tanpa menggores ia tetap datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar