Rabu, 24 Februari 2016

Lampu Taman



CERITA ini berawal dari benda mati, benda mati yang tidak begitu diperhatikan tetapi ketiadaannya menjadi pusat perhatian, benda mati yang tidak bisa berbicara tetapi ku buat ia mampu bernyawa layaknya manusia dengan segala suka dukanya, benda mati ini hidup karena memori yang dibangun dari pengalaman paling melankolis manusia, manusia yang pernah duduk di bawahnya kemudian menghilang begitu saja lantaran terbunuhnya suatu kisah di sana, terbunuh tepat di bawah sinarnya yang malu, ya ini cerita tentang Lampu Taman yang masih memandang remang dan hidup di bawah belaian kata-kata. Lampu Taman itu telah mengalami banyak hal, dia menyaksikan dan menerawang sesukanya, tidak ada kegiatan yang begitu menguras emosi dari benda mati selain aktifitasnya yang membunuh sunyi dan menikam zaman.

Sinarku yang pertamakali, kepada  teman pertamaku

AKU menyala malam itu, aku melihat, menerka, merasakan pun juga malam itu, menyentuh bagian-bagian tersulit dari kontur-kontur benda tempatku hidup hari itu, menurutku ini tempat yang bagus, dan cukup tenang, temanku satu-satunya adalah Bangku Taman,ia berada tepat di bawah sinarku, ia tampak bisu dan tidak tau menau prihal apa saja, aku terjebak di antara kematian atau kehidupan yang sesungguhnya, bahkan Bangku Taman itu enggan bercakap denganku, mungkin perbedaan kami yang sangat mencolok, aku bisa melihat luas dari atas sini sedangkan ia hanya mampu menatap dari bawah sana.

Suatu saat aku memberanikan diri untuk menyapanya,
“Maaf, aku tidak terbiasa menyapa, tapi bisakah kau menegurku sedikit saja kawan ?”
“aku tidak menyapamu, bukan berarti aku tidak bisa merasakanmu”, jawab Bangku Taman,
“sama sekali aku tidak beranggapan kau tidak bisa berbicara”, tegurku
“aku pikir kau sama saja seperti lelaki itu, ia datang menangis dan menggores tulisan yang sebelumnya pernah tertulis di tempat sandaran yang dikhususkan untuknya dan kekasihnya, sehingga membentuk goresan yang sangat perih”, ungkap langsung Bangku Taman
“ apa yang terjadi padanya ?”, tanyaku, Bangku Taman mulai bercerita kepadaku, menceritakan kisah yang telah dialami seorang lelaki itu, dulu ada sepasang kekasih yang selalu datang menghampirinya, duduk bersandar layaknya sepasang sejoli, membunuh waktu dan menguras banyak manisnya cinta, kalimat terakhir yang diucapkan oleh pasangan itu adalah mereka tidak akan berpisah apapun yang terjadi, dan menggores tulisan pengikat janji pada sandaran Bangku Taman yang bertuliskan “kau saksi, kau yang mendengar kami berjanji”, Bangku Taman merasa keberatan menerima amanah sepihak itu, bahkan dirinya belum sempat mengatakan apakah dia setuju atau tidak atas keputusan itu, sehingga dirinya juga membuat keputusan “Jangan duduk tanpa dia”, tetapi lelaki itu tidak mendengar keputusannya dan berlalu begitu saja
  
Suatu saat lelaki itu datang menangis dan menduduki Bangku Taman, tentu saja Bangku Taman sangat marah karena keputusannya tidak dipenuhi, lelaki itu hanya datang sendiri tanpa kekasihnya, tapi apalah daya Bangku Taman yang tidak bisa mengungkapkan secara langsung emosinya, hanya mampu marah dan memaki dalam kebisuannya, tidak lama kemudian lelaki itu berbicara, “aku tau kau melarangku mendudukimu tanpanya, aku sangat merasakan kemarahanmu, aku berharap kali ini kau mau mendengar penjelasanku, wanita itu juga menduduki Bangku lainnya dan menulis janji yang sama di sana, entah kita adalah makhluk keberapa yang sudah bergantung di hatinya yang paling penuh rahasia, dia berkhianat kepada kita kawan kita sudah lukai hatinya, jangan marah kawan kita hanya patut menangis dan menyesali langkah kita, aku harap kau sepaham denganku, maaf sudah mencoreti sandaranmu kawan, aku menyesal, sugguh!”.

Bangku Taman merasa terluka hatinya, seketika dirinya merasakan kecemburuan yang sangat sepi, kecemburuan yang sangat sunyi, dia menggigil dan ingin membunuh apa saja yang bisa ia akhiri hidupnya, kemudian lelaki itu duduk dalam lamunannya dan mendengar langsung keinginan Bangku Taman, ia berkata “Goreslah janji itu sebelumnya, biarkan menjadi simbol kehancuranku”, lelaki itu kaget dan merasa ada yang memberatkan hatinya untuk menggores janji yang sudah tercipta itu, “aku tau kesakitanmu lebih dari kesakitanku, maafkan aku kawan, maafkan!”. Seketika Lelaki itu menggores dan menghilangkan tulisan janjinya dengan kekasihnya, sehingga hanya tampak goresan yang berbekas luka yang sangat dalam dan perlahan rapuh dan memudar termakan cuaca nantinya.

Permintaan Bangku Taman

“hey kawan, bolehkah aku meminta sesuatu ?”, Tanya Bangku Taman
“Boleh, apa saja”, kataku
“Tolong kau sinari aku, buat aku mencolok, agar janji baru yang menghiasiku, tidak se Fana kemarin”.

Sampai sekarang dan seterusnya aku menyala untuk meneranginya, sampai suatu saat datang lelaki yang menulis cerita ini, tanpa dihiasi janji dan tanpa menggores ia tetap datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar