Kayu tidak pernah mau patah di dahannya
Tua pun tidak memaksanya roboh terlalu jauh
Dia mencinta segenap nafsunya
Juga cinta pada daun keringnya
Anak manusia bersandar pada batangnya
Mengingat-ingat kebodohan hari ini
Tersenyum sebaris dengan bibirnya, sepertinya dia menangis
Raut wajahnya pilu, karena berkata senang ketika ditinggal pergi bahagianya
Embun pun malu jatuh di pipinya
Karena dia sedang berbohong, embun itu murni tidak menyentuh keruh hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar