Pagi diusir Siang
Siang diusir Sore
Sore diusir Malam
Tapi tetap, lubang itu menyala
Jamanmu bilang, lubang itu dewa
Jamanku bilang, lubang itu fenomena
Jamanku jamanmu, kapan ?
Oh, beda sangat jauh
Tapi ini puisi bukan puisi pamer jaman
Puisi ini keselarasan jaman
Lubangku, lubang langit
Lubangmu, lubang langit
Sepertinya, kita sedang diamati lubang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar