Tepian Buah selalu pada kerinduan
Berjalan kaki dan tertawa
Pada suatu sore melebihi sore
Anak-anak masuk ke rumah
Menceritakan hari pada mereka
Dan menangis ketika hati tersakiti oleh hal remeh temeh
Aku menyimpan rindu. Pada kopi dan diskusi berujung tawa, aku rindu pada siang terik yang menyengat. Aku rindu pada bayanganku sendiri.
Kubangun pada suatu pagi
Melihat-lihat kemudian kutidur lagi.
Kita sudah dewasa, tapi rumah itu masih melihat kita sebagai anak-anak yang menangis.
Sarapan yang disiapkan ibu tidak kita habiskan, mulut mengecap alasan penolakan mencipta kenangan, berharap sebuah kebenaran.
Kita kembali menjadi dewasa, masih menangis dan memanggil kenangan merangkai lamunan.
2017
Merindukan Kampung Tepian Buah & tawa di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar