Minggu, 18 September 2016

Pemeran Sesungguhnya

  Dia selalu menarik perhatianku, semenjak pertama kali aku duduk di kelas ini, orang yang paling mencuri perhatianku adalah dia, dia ada banyak dia bukan hanya satu, aku lebih suka menggunakan kata ‘dia’ dibanding ‘mereka’, bagiku dia-dia ini memiliki sifatnya masing-masing, berbeda ketika aku menggunakan ‘mereka’ seperti merujuk kepada sekumpulan makhluk yang memiliki sifat yang sama, padahal dia-dia disini memiliki sifat yang berbeda satu sama lain, sekurang-sekurangnya itu menurut pendapatku, aku pikir ketika aku berurusan dengan pikiranku sendiri aku bisa bebas memaknai apa saja.

   Aku adalah seorang penyendiri, sejak pertama kali berkuliah di Universitas Mulawarman ini, aku sudah merasa sendiri, aku merasa orang-orang tidak ingin berteman denganku, mereka seperti tidak merasakan hawa keberadaanku, aku sudah menyerah untuk berusaha menunjukkan diriku kepada mereka semua,  mereka adalah teman-teman Mahasiswa sama sepertiku, ini aneh dan tentu saja aku memilih untuk menyerah akan semua kesia-siaan ini. Sampai pada ketika aku bertemu dia yang pertama.

  Dia yang pertama adalah sosok yang sama sepertiku, tidak terlalu banyak bicara, selalu menyendiri, pertama kali aku melihatnya ketika Ospek Kampus FIB di lapangan Tennis Kampus kami dikumpulkan, semua nama disebutkan dan satu per satu seluruh Mahasiswa mengacungkan tangan ketika nama mereka disebutkan, tetapi aku dan dia yang pertama yang tersisa nama kami tidak disebutkan sama sekali, aku mencoba untuk berteriak dan mereka tidak mendengar sama sekali, satu-satunya yang memerhatikanku saat itu hanya dia yang pertama, aku balas melihatnya tapi tidak berapa lama, ia sudah memalingkan wajahnya dan menatap kedepan.

  Aku mencoba mendekati dia yang pertama, ia sedang duduk di Gazebo Kampus, aku duduk didepannya,
“hay”, tegurku mencoba akrab, tetapi ia hanya melihatku dan kembali menatap ke arah yang lain, “apa aku mengganggumu?”, aku mencoba menegurnya kembali dan hasilnya sama saja ia tetap terdiam dan menatap ke arah yang lain. Sampai ketika dia yang kedua muncul.

“dia memang seperti itu kawan, hahaha”, aku terkejut, pada akhirnya ada yang menegurku.

“dia temanmu?”, aku coba bertanya

“teman?, bisa dibilang seperti itu, lebih tepatnya dia sebelum aku”

“sebelum kamu?, apa maksudnya?”

“ceritanya rumit dan sedikit tidak masuk akal bagimu, tapi bagi kami pasti masuk akal”

“aku tidak mengerti”

“oh, kamu tidak mengerti, coba ikut aku”
Dia yang kedua mencoba mengajakku ke suatu tempat awalnya aku tidak ingin mengikutinya, tapi aku juga penasaran, dan hanya mereka berdua yang menegurku, tidak ada salahnya untuk mengikutinya pikirku,  aku mencoba mengikutinya dan ternyata Dia yang pertama juga ikut tanpa basa-basi dan lebih anehnya lagi, orang-orang tidak memerhatikan kami sama sekali, untuk sekedar melihat kami dan menyapa saja tidak ada, ah mereka benar-benar membuatku bingung, kenapa sebenarnya mereka. aku merasa hanya aku saja yang merasakan keanehan ini, mereka tampak biasa saja, atau mungkin mereka tidak dapat merasakan kami?, ah, itu tidak mungkin.

“kenapa?, merasa asing?”, tegur dia yang kedua

“iyaa, memang tapi sudah biasa”

“akhirnya kamu terbiasa juga, hahaha”

“maksudnya?”

“aku dan si bodoh ini sama sepertimu ko’”

“nah, sekarang kenapa mereka seperti itu ke kita?”, tanyaku penasaran

“nanti kamu tahu sendiri, ikut aja”
Ini semakin menambah rasa penasaranku, ia mengajakku ke lapangan tennis FIB dan menuju ke bangunan tua di samping Gedung, Gedung itu sudah berada di sana sejak lama kata dia yang kedua, ternyata kami kesana untuk menemui seseorang dan aku menyebutnya dia yang ketiga.

“nah, ini dia, dia sama seperti kita”, tegur dia yang kedua

“hey!, kau membawanya!”, tegur dia yang ketiga

“iya, ini dia, namanya Insania”

“kenapa kamu bisa tahu namaku!?”, tegurku kaget

“tidak usah kaget begitu, pastilah kami tahu namamu, kau sama seperti kami”, dia yang ketiga menjelaskan.

  Ini semakin membuatku bingung dan pada akhirnya aku mulai tahu siapa nama masing-masing mereka, dia yang pertama bernama Teo, dia yang kedua bernama Meta, dan dia yang ketiga bernama Posit. Masing-masing mereka memiliki sifat yang berbeda-beda, Teo adalah orang yang pendiam tetapi ia penurut, si Meta adalah orang yang banyak bicara dan sangat aktif dan menurutku dia agak payah dalam menjelaskan sesuatu, dan si Posit ia adalah orang yang unik dia juga banyak berbicara tapi ia sedikit lebih cerdas dibanding si Meta.

“dengan bergabungnya kamu bersama kami, akhirnya kita menjadi lengkap!”, tegur Posit

“iya, akhirnya kita bisa menjalankan tujuan kita dengan sempurna!”, lanjut Meta dan Teo hanya mengangguk

“maaf, aku tidak mengerti maksud kalian sama sekali dan ada satu hal yang mengganjal dipikiranku, kenapa hanya kalian saja yang bisa sadar dengan keberadaanku?, dan kenapa Mahasiswa-mahasiwa yang lain seperti tidak menyadari kita sama sekali?”

“Mahasiswa-mahasiswa itu?, bagaimana ya, biarkan si Posit saja yang menjelaskan, dia yang tahu lebih banyak”

“kau selalu begitu Met!”

“sudah jelaskan saja ah!”

“begini, Insania yang baik, sebelumnya aku ingin bertanya, apakah kamu punya keluarga atau teman?”, tanya Posit

“emm, kalau keluarga kurasa tidak, tapi teman aku rasa kalianlah teman-temanku saat ini”

“tentu saja kau tidak punya keluarga atau teman kecuali kami, kita berempat lahir di sini, dengan kata lain kita berempat lahir dari pikiran-pikiran mahasiswa itu, si Teo dia lahir dari pemikiran Mahasiswa-mahasiswa yang hanya manut-manut saja kerjanya, atau nama lain dari Teo adalah Teologis. Sedangkan si Meta ini, lahir dari pikiran Mahasiswa-mahasiswa yang tidak suka manut-manut lagi, tapi dia sendiri bingung apa yang sedang dia lakukan, atau nama lainnya adalah Metafisik”

“Sedangkan kamu sendiri?”

“aku lahir dari pikiran Mahasiswa-mahasiswa yang menggunakan logikanya, aku lahir dari Mahasiswa-mahasiswa yang sudah menggunakan dasar intelektualnya yang diperoleh langsung dari penalaran dan pengamatannya, dengan kata lain aku bentuk akhir dari Teo dan Meta,nama lainku Positifistik, tapi itu belum sempurna, masih kurang”

“masih kurang?, kenapa?”

“ya, masih kurang tanpa kamu, namamu Insani, atau Insan yaitu Manusia itu sendiri, kamu adalah orang terakhir yang kami tunggu, kamu penyempurnaan dari kami bertiga, tanpa dirimu, Teologis, Metafisik, dan Positifistik dari pikiran Mahasiswa tidak ada artinya tanpa adanya nilai kemanusiaan itu sendiri”
Pada akhirnya aku mengerti, kenapa orang-orang itu tidak merasakan keberadaanku, karena mereka tidak merasakanku sama sekali, ralat, mereka tidak merasakan kami sama sekali!.
Kelas perkuliahan akhirnya akan segera dimulai.

“siap untuk menjalankan misi teman-teman?, jangan sampai kalian tidak siap sama sekali, itu akan sangat mengacau”, tegur Posit

“Siap!!!”, jawab Teo, Meta, dan Aku
Aku mulai mengerti siapa aku, akulah kemanusiaan itu sendiri, akulah peran terpenting dari pikiran Mahasiswa!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar