Selasa, 24 Januari 2017

Keberadaan & Pertanyaan-Pertanyaan Yang Mengikutinya

Sewaktu kecil aku pernah berpikir apakah Cuma aku di dunia ini yang merasakan keberadaanku sendiri?, apakah semua yang kulihat di dunia ini adalah ilusi?, atau mereka dibuat untuk menjadi ujian tersendiri untukku?, salah satu hal yang memperkuat pertanyaan-pertanyaanku waktu itu adalah karena setiap saat aku selalu termenung memperhatikan sekitarku, aku merasakan sesuatu yang sama mereka rasakan aku merasakn sakit ketika terjatuh, aku merasakan kesedihan yang sama mereka rasakan. Tetapi lagi-lagi itu semua kembali kepada apa mereka semua merasakan hal yang sama, atau aku saja yang merasakan itu semua?, lalu dari mana ? dan siapa yang telah membuatku merasakan itu semua?.

Aku beragama Islam dan sewaktu kecil aku sudah dikenalkan oleh orang tuaku mengenai konsep ketuhanan, bahwa tuhan adalah pencipta kita sebagai manusia, dan tuhan jugalah yang menentukan hidup dan matinya seseorang, dan aku sempat berpikir bagaimana rupa tuhan?, dari mana asalnya tuhan?, tetapi seiring bertambahnya usia bahkan pertanyaan-pertanyaan itu terbantahkan, di agamaku mempertanyakan eksistensi Tuhan sama saja dengan meragukannya, dan itu adalah perbuata dosa!.
Semenjak itu berhenti untuk mempertanyakan Tuhan, kemudian aku mulai terpikirkan oleh rasa penasaranku, bahwa apakah aku merasakan hidu seorang diri, apakah orang-orang yang berada di sekitarku adalah ilusi sementara?. Aku pernah mempertanyakan hal ini kepada teman-temanku dan sebagian besar mereka pernah bertanya seperti itu, hal ini membuktikan bahwa pertanyaanku sudah terjawab sebagian yaitu, semua manusia merasakan hal yang sama dan bukan diriku sendiri yang memikirkan hal itu. Yang menjadi pertanyaan besarnya sekarang, apakah semua orang benar-benar meraskan hal tersebut?.

Menginjak bangku kuliah aku mengenal mata kuliah filsafat tentang eksistensialisme paham yang beranggapan bahwa manusia ditentukan oleh eksistensinya atau keberadaannya, dan paham ini dipopulerkan oleh filsuf bernama Jean Paul Sartre. Aku tidak akan mengaitkan konsep berpikirnya dengan cara berpikirku, aku sebisa mungkin tidak akan menjadi antithesis atau pengembang konsep berpikirnya.

Berbicara tentang keberadaan kita sebagai manusia di muka bumi ini adalah misteri tersendiri bagi diri sendiri, contoh kecilnya aku terlahir di Negara Indonesia sebagai suku bugis dan banyak mendapatkan cara didikan orang Indonesia dan didikan dari suku Bugis, dan ketika aku memerhatikan teman-temanku yang berasal dari Negara yang sama yaitu Indonesia tetapi berasal dari suku yang berbeda maka berbeda pula didikan yang diterima, kemudian muncul lagi pertanyaan utama darimana semua konsep didikan itu berasal?, sebenarnya didikan terbaik dan yang paling utama itu dari mana?,dan untuk apa?.

Belajar filsafat sedikit membuka mataku tentang pertanyaan-pertanyaanku, filsafat selalu mengungkap bahwa sesungguhnya seluruh aturan dan nilai-nilai yang ada adalah sebuah konstruksi sosial yang dibuat oleh manusia itu sendiri, kemudian dianut dan dipraktikkan dalam kehidupannya. Lalu, bagaimana apabila aku membuat konstruksi sosial sendiri? Apakah akan baik-baik saja, dan apabila dipikir secara logika hal ini justru akan menjadi masalah di masyarakat, aku akan dicap sebagai pembangkang dan tidak taat aturan, lalu bagaimana?, aku membuat aturan dan nilaiku sendiri, aku sama sekali tidak melakukan kesalahan, lihatlah bagaimana manusia telah buta dengan keadaan.

Pendapatku secara pribadi menganggap bahwa menuruti segala aturan dan menjadi seorang manusia yang manut-manut saja dengan segala perintah adalah membuat hakikat sebagai manusia menjadi ternodai, manusia dilahirkan dan dianugerahi kemampuan berpikir, lalu bagaimana semisal manusia itu memanfaakan cara berpikirnya itu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, apakah itu dilarang?, mungkin jawabannya bukan dilarang, tetapi kita harus menuruti tatanan yang sudah ada karena itu sudah terbukti efektif dan banyak yang menuruti.

Satu hal yang aku sadari adalah aturan yang utama dan pertama adalah peraturan dari agama, dari sana dapat kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya agamama pun tidak memberikan ruang bebas bagi kita untuk berpikir dan menentukan jalan hidup.


Hal ini hanyalah bentuk rasa penasaranku dan rasa gelishku, aku berharap setelah ini aku akan menemukan jalanku dan memuaskan diriku sendiri atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku bukan manusia yang tidak menerima agamaku, ketahuilah aku percaya dengan agamaku, dan menghormati tuhanku. Tapi aku berharap suatu saat nanti aku bisa menemukan hakikat hidup yang sebenar-benarnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar