Sewaktu kecil aku pernah berpikir
apakah Cuma aku di dunia ini yang merasakan keberadaanku sendiri?, apakah semua
yang kulihat di dunia ini adalah ilusi?, atau mereka dibuat untuk menjadi ujian
tersendiri untukku?, salah satu hal yang memperkuat pertanyaan-pertanyaanku
waktu itu adalah karena setiap saat aku selalu termenung memperhatikan
sekitarku, aku merasakan sesuatu yang sama mereka rasakan aku merasakn sakit
ketika terjatuh, aku merasakan kesedihan yang sama mereka rasakan. Tetapi lagi-lagi
itu semua kembali kepada apa mereka semua merasakan hal yang sama, atau aku
saja yang merasakan itu semua?, lalu dari mana ? dan siapa yang telah membuatku
merasakan itu semua?.
Aku beragama Islam dan sewaktu
kecil aku sudah dikenalkan oleh orang tuaku mengenai konsep ketuhanan, bahwa
tuhan adalah pencipta kita sebagai manusia, dan tuhan jugalah yang menentukan
hidup dan matinya seseorang, dan aku sempat berpikir bagaimana rupa tuhan?,
dari mana asalnya tuhan?, tetapi seiring bertambahnya usia bahkan
pertanyaan-pertanyaan itu terbantahkan, di agamaku mempertanyakan eksistensi
Tuhan sama saja dengan meragukannya, dan itu adalah perbuata dosa!.
Semenjak itu berhenti untuk
mempertanyakan Tuhan, kemudian aku mulai terpikirkan oleh rasa penasaranku, bahwa
apakah aku merasakan hidu seorang diri, apakah orang-orang yang berada di
sekitarku adalah ilusi sementara?. Aku pernah mempertanyakan hal ini kepada
teman-temanku dan sebagian besar mereka pernah bertanya seperti itu, hal ini
membuktikan bahwa pertanyaanku sudah terjawab sebagian yaitu, semua manusia
merasakan hal yang sama dan bukan diriku sendiri yang memikirkan hal itu. Yang menjadi
pertanyaan besarnya sekarang, apakah semua orang benar-benar meraskan hal
tersebut?.
Menginjak bangku kuliah aku
mengenal mata kuliah filsafat tentang eksistensialisme paham yang beranggapan
bahwa manusia ditentukan oleh eksistensinya atau keberadaannya, dan paham ini
dipopulerkan oleh filsuf bernama Jean Paul Sartre. Aku tidak akan mengaitkan
konsep berpikirnya dengan cara berpikirku, aku sebisa mungkin tidak akan
menjadi antithesis atau pengembang konsep berpikirnya.
Berbicara tentang keberadaan kita
sebagai manusia di muka bumi ini adalah misteri tersendiri bagi diri sendiri,
contoh kecilnya aku terlahir di Negara Indonesia sebagai suku bugis dan banyak
mendapatkan cara didikan orang Indonesia dan didikan dari suku Bugis, dan
ketika aku memerhatikan teman-temanku yang berasal dari Negara yang sama yaitu
Indonesia tetapi berasal dari suku yang berbeda maka berbeda pula didikan yang
diterima, kemudian muncul lagi pertanyaan utama darimana semua konsep didikan
itu berasal?, sebenarnya didikan terbaik dan yang paling utama itu dari
mana?,dan untuk apa?.
Belajar filsafat sedikit membuka
mataku tentang pertanyaan-pertanyaanku, filsafat selalu mengungkap bahwa
sesungguhnya seluruh aturan dan nilai-nilai yang ada adalah sebuah konstruksi
sosial yang dibuat oleh manusia itu sendiri, kemudian dianut dan dipraktikkan
dalam kehidupannya. Lalu, bagaimana apabila aku membuat konstruksi sosial
sendiri? Apakah akan baik-baik saja, dan apabila dipikir secara logika hal ini
justru akan menjadi masalah di masyarakat, aku akan dicap sebagai pembangkang
dan tidak taat aturan, lalu bagaimana?, aku membuat aturan dan nilaiku sendiri,
aku sama sekali tidak melakukan kesalahan, lihatlah bagaimana manusia telah
buta dengan keadaan.
Pendapatku secara pribadi
menganggap bahwa menuruti segala aturan dan menjadi seorang manusia yang
manut-manut saja dengan segala perintah adalah membuat hakikat sebagai manusia
menjadi ternodai, manusia dilahirkan dan dianugerahi kemampuan berpikir, lalu
bagaimana semisal manusia itu memanfaakan cara berpikirnya itu untuk menentukan
jalan hidupnya sendiri, apakah itu dilarang?, mungkin jawabannya bukan
dilarang, tetapi kita harus menuruti tatanan yang sudah ada karena itu sudah
terbukti efektif dan banyak yang menuruti.
Satu hal yang aku sadari adalah
aturan yang utama dan pertama adalah peraturan dari agama, dari sana dapat kita
tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya agamama pun tidak memberikan ruang bebas
bagi kita untuk berpikir dan menentukan jalan hidup.
Hal ini hanyalah bentuk rasa
penasaranku dan rasa gelishku, aku berharap setelah ini aku akan menemukan
jalanku dan memuaskan diriku sendiri atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku bukan
manusia yang tidak menerima agamaku, ketahuilah aku percaya dengan agamaku, dan
menghormati tuhanku. Tapi aku berharap suatu saat nanti aku bisa menemukan
hakikat hidup yang sebenar-benarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar